Bab Sepuluh: Api Sejati Samadhi Nezha
"Kalau begitu, aku akan menerjang dan melenyapkan mereka semua sekarang!"
Semangat Wen Miao berkobar hebat. Tanpa ragu, ia menggenggam erat Tombak Api di tangannya. Mendengar ucapannya, Nezha yang berada di atas kepalanya tertawa terbahak-bahak, memancarkan sikap remaja yang bebas dan penuh percaya diri.
"Hahaha, kau hebat!"
"Biarkan orang-orang yang ingin merebut Selendang Langit milikku ini merasakan betapa kuatnya kita!"
"Baik!" Wen Miao menyunggingkan senyum, lalu melompat dengan lincah. Berkat bantuan Selendang Langit yang menopang tubuhnya, ia melayang sejenak di udara sebelum menukik tajam ke tengah kerumunan. Ujung tombaknya memuntahkan Api Samadhi, sementara Selendang Langit bersiap untuk beraksi.
Wen Miao langsung menyerang para peserta ujian yang memimpin provokasi. Sesaat kemudian, hawa panas menyapu area tersebut!
Tusukan ke kiri! Terjangan ke kanan! Serangan tepat sasaran! Api Samadhi yang menyembur dari Tombak Api membuat para peserta di sekitarnya kocar-kacir.
"Aaaah!"
"Api apa ini? Benar-benar aneh!"
"Qi Yue! Bukankah kau adalah orang yang membangkitkan kekuatan Dewa Air? Cepat padamkan api itu!"
"Hmph, api kecil pemberian dewa rendahan seperti ini, mudah saja untuk dipadamkan!"
Di tengah kerumunan, seorang peserta bernama Qi Yue mengangkat tangannya dengan angkuh, melepaskan seekor naga air yang megah untuk memadamkan Api Samadhi.
"Lihat saja!"
Semua orang menahan napas, menatap Qi Yue dengan penuh semangat, seolah sudah melihat Wen Miao tewas di bawah naga airnya. Namun, detik berikutnya, mereka justru melihat naga air yang perkasa itu menguap seketika, dilalap oleh secercah Api Samadhi yang hanya seukuran telapak tangan.
Pemandangan itu sungguh di luar nalar. Seluruh arena terdiam dalam keheningan yang mencekam selama dua detik. Sial, bagaimana mungkin?! Wen Miao bahkan bisa mendengar suara gemeretak gigi beberapa peserta.
"Tidak mungkin! Naga air yang kubentuk tidak mungkin dikeringkan oleh api biasa dari dewa rendahan yang tidak dikenal!" Qi Yue membelalakkan mata, suaranya pecah karena panik. "Ini pasti tipuan! Jangan percaya! Bagaimana mungkin Wen Miao menjadi sehebat ini hanya dalam semalam!"
Api biasa?
"Dasar kurang wawasan, ini namanya Api Samadhi!" Wen Miao mencibir. Dengan satu hentakan Tombak Api yang diselimuti kobaran Api Samadhi, ia langsung menghempaskan Qi Yue keluar dari arena ujian.
Pada saat yang sama, sekelompok peserta di belakang mencoba menyergapnya saat ia lengah. Namun, Selendang Langit melindungi Wen Miao dengan sangat rapat.
"Boom—!"
Berbagai kekuatan ilahi beradu dengan Selendang Langit, menciptakan dentuman keras. Semua kekuatan dan senjata yang dilepaskan para peserta terpental, sementara Wen Miao tidak terluka sedikit pun. Kini, pandangan banyak orang terhadap Selendang Langit pun berubah. Siapa pun bisa melihatnya dengan jelas: dibandingkan dengan perisai cahaya emas milik Gu Qingying, kain merah panjang di hadapan mereka ini adalah pertahanan yang jauh lebih tangguh!
Wen Miao menggerakkan pergelangan tangannya, berbalik, dan menatap para peserta yang menyergapnya dengan senyum manis. "Jangan terburu-buru, giliran kalian sekarang."
Mendengar itu, kaki para peserta yang menyergapnya lemas hingga nyaris jatuh. Rasa dingin merambat di punggung mereka. Wen Miao benar-benar telah menjadi kuat…
Ia memiliki Tombak Api untuk menyerang dan Selendang Langit untuk bertahan. Ditambah lagi, ada Dewa Agung *Santanhaihui* yang melindunginya dari balik bayang-bayang. Wen Miao bertarung tanpa beban. Para peserta yang hadir kian terdesak dan terus mundur. Dalam sekejap, dari tiga puluh dua peserta yang mengepungnya, kini hanya tersisa delapan orang.
—
Segala tindakan Wen Miao terpampang jelas di layar pemantau. Ruang pengawas sunyi senyap. Poin dari para peserta yang 'dilenyapkan' oleh Wen Miao telah masuk ke dalam akunnya. Peringkat Wen Miao terus merangkak naik, bahkan mulai menembus sepuluh besar!
Untuk sesaat, ruangan itu hanya dipenuhi oleh suara notifikasi papan peringkat yang terus diperbarui. Suara itu terdengar seperti ejekan bagi kepala pengawas. Setiap bunyi *bip* yang terdengar seolah menampar wajahnya. Baru saja, ia yakin Wen Miao akan tewas di tangan Gu Qingying. Namun detik berikutnya, Wen Miao justru melenyapkan Gu Qingying dari ujian. Kini, ia bahkan menghancurkan rekan-rekan Gu Qingying berkeping-keping.
Bagaimana mungkin tidak ada satu pun dari sekian banyak peserta yang mampu menekannya? Padahal, beberapa hari yang lalu, Wen Miao hanyalah seorang pecundang yang tidak bisa membangkitkan kekuatan dewa! Sang kepala pengawas bernapas pendek, sepasang matanya yang memerah menatap tajam ke arah Wen Miao. Bukan hanya dia, para pengawas lain juga menatap gadis di layar itu dengan mulut ternganga.
Hanya dengan satu tombak besi dan selembar kain merah, ia meluluhlantakkan tiga puluh peserta. Sungguh tidak masuk akal!
Di seluruh ruang pengawas, hanya Jiang Yu yang menepuk pahanya, tak mampu membendung kegembiraannya. "Keren sekali! Aku tahu kekuatan dewa yang dibangkitkan Wen Miao sangat hebat!" Sambil berbicara, Jiang Yu mengeluarkan alat komunikasinya dan merekam kejadian itu.
Jiang Lin tidak peduli dengan Jiang Yu. Ia mendekati layar monitor dengan ekspresi serius, meremas formulir pendaftaran Wen Miao dalam diam, perasaannya berkecamuk hebat. Jadi, dia adalah Nezha…
—
"Tinggal satu lagi!"
Wen Miao terengah-engah, sebagian besar berat tubuhnya ditopang oleh Selendang Langit. Tidak ada pilihan lain. Sekalipun ia memiliki Tombak Api dan Selendang Langit milik Nezha, kondisi fisiknya sendiri sangat buruk. Jika tidak, ia pasti bisa bertarung dengan lebih leluasa.
Peserta terakhir itu sudah tidak lagi sombong; rambutnya yang basah kuyup oleh keringat menempel di dahinya, membuatnya tampak sangat menyedihkan. Ia berlutut di tanah, memohon dengan suara gemetar.
"Wen, Wen Miao, kumohon… jangan lenyapkan aku, aku tidak ingin keluar!"
Wen Miao menyunggingkan sudut bibirnya, tetap tak bergeming. Tadi, setiap serangannya begitu mematikan. Sekarang, setelah tahu ia kalah, ia baru meminta ampun? Wen Miao bukanlah seorang santo yang akan memaafkan seseorang hanya karena permintaan maaf yang dangkal.
Maka, Wen Miao tersenyum tipis. "Sudah terlambat."
Selendang Langit yang melilit tubuhnya seketika menegang, menjelma menjadi cambuk merah panjang yang menyambar peserta terakhir itu dengan kecepatan tinggi.
"Pia—!"
Kilatan kelicikan melintas di mata peserta terakhir itu sebelum tubuhnya berubah menjadi serpihan data dan meninggalkan arena lebih awal. Ternyata, jika kecepatannya cukup tinggi, kain yang paling lembut pun bisa meledakkan serangan yang sangat dahsyat.
Selendang Langit kembali melingkar di depan Wen Miao, terbang berputar-putar dengan riang. Saat ini, ia kembali pada sifatnya yang lincah dan lembut, memancarkan aura surgawi. Wen Miao menghela napas lega dan memuji dengan tawa kecil.
"Selendang Langit benar-benar hebat! Pantas saja ia menjadi senjata kesayangan Dewa Nezha."
Mendengar itu, Selendang Langit menjadi semakin girang; ia menggulung diri, mendekati teratai merah di atas kepala Wen Miao, dan berputar-putar di sekitar Nezha. Gerakannya yang meliuk-liuk tampak seolah sedang menantikan pujian dari tuannya.
Teratai merah di atas kepala Wen Miao mendengus pelan. "Lumayanlah, begitu juga dengan Tombak Api."
Usai berkata demikian, Selendang Langit menempel dengan manja pada Nezha. Bahkan Tombak Api di tangan Wen Miao pun ikut bergetar kegirangan.
"Dan kau juga," ucap Nezha dengan nada tinggi dan sedikit angkuh. "Wen Miao, kau tidak mempermalukanku."
Wen Miao tidak tahu harus tertawa atau menangis. Nezha benar-benar aneh, bahkan cara memujinya pun begitu canggung.
Tepat saat itu, suara pertarungan sengit terdengar dari kejauhan. Di tengah guncangan tanah, air laut perlahan terbelah, dan kekuatan yang sangat kuat mulai menyebar. Seluruh makhluk jahat di arena ujian gemetar, mengeluarkan raungan keras, seolah sedang menyambut kedatangan sosok besar yang baru saja bangkit.
"Apa yang terjadi?"
Napas Wen Miao seketika tertahan. Ia melihat seekor burung api jahat berwarna hitam-merah terbang membumbung tinggi dari dasar laut.
"Kriiik!"
Di ruang pengawas, Jiang Lin berdiri dengan kaget dan berseru, "Bagaimana mungkin dia terbangun!"