Jilid Pertama Bab 6 Krisis
Sambil menenteng pedang panjang yang berlumuran darah, Ye Yang kembali ke lorong. Berbekal pengalaman sebelumnya, kali ini ia mengerahkan seluruh tenaga dalam setiap ayunan, satu tebasan untuk satu kepala.
"Meski menguras stamina, harus kuakui ini sungguh memuaskan," ujar Ye Yang dengan napas terengah-engah.
Tak lama kemudian, Ye Yang tiba di ruang kelas tempat Zheng Yanhao mendorongnya tadi. Ruangan itu kini berantakan, penuh dengan darah dan mayat, persis seperti neraka. Melihat pemandangan tersebut, Ye Yang mengurungkan niat untuk masuk karena merasa sangat mual.
Saat mengamati kekacauan di dalam kelas, Ye Yang tidak menemukan tubuh gemuk Zheng Yanhao. Dengan nada penuh kebencian, ia bergumam, "Sepertinya ada yang bermutasi setelah mereka bersembunyi di dalam. Zheng Yanhao, aku harus berterima kasih padamu. Tanpamu, mungkin aku sudah melewatkan kesempatan emas ini. Jangan sampai kau mati dulu."
Setelah memberikan "doa" tulus untuk Zheng Yanhao, Ye Yang membersihkan zombi di lantai empat sebelum perlahan turun ke lantai tiga. Ia terpaku oleh pemandangan di depannya. Lantai tiga itu dipenuhi oleh kawanan zombi yang sangat rapat, bahkan tidak ada celah untuk melangkah.
"Sial, sebanyak ini? Mau sampai mati pun aku tidak akan sanggup menghabisi semuanya." Lantai empat gedung itu memang tidak digunakan, namun tiga lantai di bawahnya aktif. Ditambah lagi, wabah zombi terjadi saat jam pelajaran, sehingga lorong-lorong kini dipenuhi ratusan zombi.
Ye Yang melangkah dengan sangat hati-hati. Bukan karena takut, tetapi karena situasi ini mustahil untuk dilawan. Sekalipun ia tidak takut mati, ia tidak mungkin bisa lolos jika terkepung oleh begitu banyak zombi.
Setelah berhasil mencapai lantai satu dengan susah payah, ia mendapati jumlah zombi di sana tidak sebanyak di lantai atas dan posisinya lebih renggang.
"Aku harus cepat. Sambil jalan, aku cari beberapa zombi yang terpisah untuk menyelesaikan misi!"
Sambil menoleh ke belakang dengan perasaan waswas, Ye Yang segera berlari sekencang mungkin untuk menghindari masalah yang tidak perlu. Sembari bergegas menuju kantin, ia menyempatkan diri membunuh zombi-zombi yang terpisah. Dalam sepuluh menit, ia sudah melumpuhkan puluhan zombi.
"Hosh... hosh... hosh... pedang ini terlalu tumpul. Kalau begini terus, bukannya mati digigit zombi, aku justru kelelahan sampai mati lebih dulu." Ye Yang duduk di pinggir jalan, mengatur napasnya. Pedang di tangannya kini penuh dengan gumpil, terlihat lebih mirip gergaji daripada pedang.
Melihat dua kemampuan baru yang muncul di kolom statusnya—Ketahanan +0,4 dan Pemulihan Stamina +0,1—Ye Yang merasa sakit sekaligus senang. Tiba-tiba, terdengar derap langkah kaki dari kejauhan. Sekelompok besar orang berlari dari arah asrama, tampaknya mereka juga menuju ke kantin.
Ye Yang berdiri dan menunggu di pinggir jalan, berniat bergabung dengan mereka agar bisa saling menjaga. Namun, begitu melihat Ye Yang, orang-orang itu tiba-tiba berhenti dan menatapnya dengan wajah ketakutan.
Ye Yang terkejut, mengira ada zombi di belakangnya, namun ia tidak melihat apa pun. "Tidak ada zombi, kenapa mereka begitu? Aku kira aku akan disergap."
Saat ia sedang bingung, beberapa orang di barisan depan mendekat dengan membawa berbagai senjata. Pemimpin mereka adalah sosok yang dikenal semua orang di sekolah: Ji Shi, primadona kampus sekaligus ketua klub bela diri. Saat ini, Ji Shi tengah memegang tongkat bisbol dan memimpin beberapa pria bertubuh besar menuju arah Ye Yang dengan tatapan garang.
Meski merasakan suasana yang janggal, Ye Yang tetap menyapa dengan sopan, "Halo, Kak Ji. Bolehkah saya bergabung dengan kalian?"
Langkah Ji Shi terhenti. Ia menatap Ye Yang dengan tidak percaya dan berseru, "Orang hidup?"
Ye Yang merasa sedikit kesal. "Kak, apa maksudmu? Meski zombi ada di mana-mana, apa kau tidak bisa membedakan mana orang hidup dan mana zombi?"
"Ehm, agak sulit. Kau yakin tidak terinfeksi?" tanya Ji Shi dengan ekspresi aneh. Sulit membayangkan bagaimana seseorang bisa terlihat sekucel itu.
"Apa aku terlihat seperti orang terinfeksi yang masih bisa melompat-lompat seperti ini?" Ye Yang memahami kewaspadaan Ji Shi, jadi ia sengaja melompat dua kali untuk membuktikan kondisinya.
"Baiklah, ayo kita pergi bersama. Kau juga mau ke kantin, kan?"
"Betul sekali. Kak, jangan khawatir, aku tidak akan menjadi beban. Jika ada zombi di jalan, serahkan saja padaku."
Ji Shi melirik pedang berlumuran darah di tangan Ye Yang lalu mengangguk singkat. Akhirnya, Ye Yang bergabung dengan belasan orang yang dibawa Ji Shi. Sepanjang jalan, orang-orang itu menatap Ye Yang seperti melihat pembawa sial, yang membuatnya benar-benar bingung.
Dari percakapan di jalan, Ye Yang tahu bahwa orang-orang itu adalah mereka yang ditemui Ji Shi di perjalanan. Mengetahui ada bantuan di kantin, mereka memohon agar Ji Shi memimpin mereka. Ji Shi yang berhati lembut tidak tega meninggalkan mereka, sehingga ia setuju. Beberapa anggota klub bola basket sengaja bersikap berani demi pamer di depan Ji Shi, namun setiap kali bertemu zombi, mereka justru selalu bersembunyi di belakang gadis itu.
Berkat kemampuan bela diri dan intuisi tajam Ji Shi, mereka berhasil lolos dari bahaya berkali-kali, itulah sebabnya kelompok itu sangat patuh padanya.
Saat sedang berjalan, Ji Shi tiba-tiba berhenti. Orang-orang di sekitarnya pun menatap sekeliling dengan tegang; mereka tahu bahwa jika Ji Shi bersikap begitu, artinya ada bahaya di dekat mereka. Ye Yang merasa ragu, lalu bertanya dengan penasaran, "Ada apa? Kenapa berhenti? Kau merasakan bahaya lagi? Apa itu seperti indra laba-laba milik Spider-Man?"
Orang-orang di sekitar menatap Ye Yang dengan tajam, takut ia akan mengganggu konsentrasi Ji Shi. Ye Yang merasa bingung, "Ada apa sih? Tidak boleh bicara ya?"
Ji Shi memberi isyarat agar Ye Yang diam dan berbisik, "Ada sesuatu yang mengikuti kita."
Ye Yang mengamati sekeliling tetapi tidak melihat apa pun. Dengan santai ia berkata, "Aku tidak melihat apa-apa. Apa indra laba-labamu rusak? Sebaiknya kita cepat pergi sebelum terlambat."
Namun, melihat Ji Shi tetap berdiri mematung dalam posisi siaga, Ye Yang akhirnya terdiam. Jelas bukan karena takut pada tatapan tajam orang-orang di sekitarnya.
Saat Ye Yang mulai merasa tidak sabar, suara gemerisik terdengar dari semak-semak di belakang. Semua orang menoleh serentak. Seekor zombi mutasi yang merangkak dengan empat kaki perlahan keluar dari balik semak.
Zombi mutasi itu memiliki mata merah menyala, mulut yang robek hingga ke telinga dengan lidah panjang yang menjulur keluar, dan jemari yang telah berevolusi menjadi cakar tajam.