Jilid Satu Bab 3 Menyantap Kue Buatannya
"Memangnya kenapa? Bukankah dia ada di departemen sumber daya manusia kalian? Sudahlah, itu bukan poin utamanya. Poinnya adalah, apakah kau mendengar apa yang baru saja kukatakan?"
Lin Zhixu merasa lega. Selama ini dia mengira promosinya adalah hasil intervensi langsung dari Feng Lincuan. Sepertinya, pria itu masih belum tahu bahwa wanita yang bersamanya malam itu adalah dirinya. Baginya, hubungan mereka murni sebatas atasan dan bawahan. Dengan begitu, dia tidak perlu terlalu berhati-hati lagi ke depannya, bukan?
"Bu, kurangi membaca novel tentang CEO yang mendominasi itu. Aku mau tidur," ujar Lin Zhixu sambil meletakkan piring buah dan bergegas kembali ke kamarnya.
Keesokan harinya, Lin Zhixu terbangun karena alarm dan mendapati hari sudah cukup terang. Melihat waktu sudah menunjukkan pukul delapan, dia langsung melompat dari tempat tidur. Setelah merias wajah tipis-tipis dan mengenakan setelan busana ala pekerja kantoran, dia bergegas keluar.
Xu Yanshan sudah menyiapkan sarapan. Saat melihat Lin Zhixu keluar, dia memanggilnya untuk makan, "Sayang, ayo makan martabak telur ini dulu."
"Bu, sudah tidak sempat. Aku bungkus saja untuk dimakan di jalan."
"Itu tidak sehat, Nak."
"Kalau terlambat, aku bisa kena masalah."
Dia dengan cepat meraih kantong plastik, membungkus martabak telur tersebut, dan buru-buru membuka pintu. Begitu keluar, dia hampir menabrak Lin Zhengqing yang baru saja pulang kerja sif malam. Bukannya menghindar, Lin Zhixu justru memeluk ayahnya, "Ayah, aku berangkat kerja dulu."
"Sudah sarapan belum?" tanya Lin Zhengqing khawatir.
Lin Zhixu menggoyangkan kantong plastik di tangannya, "Sudah bawa."
"Kenapa tidak dimakan di rumah saja?"
"Sudah tidak sempat." Dia lalu melesat masuk ke dalam lift.
Lin Zhengqing menggelengkan kepala, "Anak itu!"
Xu Yanshan keluar dan mengambil tas suaminya, lalu berkata, "Orang bilang generasi muda saat ini ingin mengubah budaya kerja dan tidak mau lagi jadi budak korporat, tapi anak kesayangan kita ini malah terobsesi dengan pekerjaan. Entah menurun dari siapa."
Lin Zhengqing menimpali, "Anak itu sudah lama mencari kerja tapi tidak kunjung dapat, sekarang setelah ada kesempatan untuk berjuang, wajar jika dia menghargainya. Mari kita dukung saja."
"Ya, hanya itu yang bisa kita lakukan."
Lin Zhixu berjalan cepat keluar dari kompleks perumahan sambil menenteng sarapannya. Meski sulit mencari taksi di jam sibuk, dia bisa naik kereta bawah tanah. Saat sedang berjalan dengan kaki yang agak pincang menuju stasiun, tiba-tiba seseorang memanggilnya, "Sekretaris Xiaoxu!"
Lin Zhixu mengenali suara itu; itu suara Fang Shuai. Saat berbalik, dia benar melihat pria itu. Lin Zhixu selalu merasa Fang Shuai adalah sosok yang ajaib di Grup Feng, karena dia hanya bekerja untuk Feng Lincuan seorang.
Seharusnya orang seperti dia mencerminkan citra Feng Lincuan dan tampil rapi dengan setelan jas, namun dia selalu terlihat berantakan dan santai. Seperti hari ini, dia hanya mengenakan kemeja dan jaket, dipadukan dengan celana jin, serta rambut yang belum dipotong meski sudah panjang.
Dia berjalan mendekat dengan tangan di saku, "Sekretaris Xiaoxu, kau tinggal di dekat sini juga?"
"..." Lin Zhixu malas mengoreksi panggilannya, lagipula ibunya memang bermarga Xu. "Ya, aku tinggal di kompleks di belakang itu," jawabnya sambil menunjuk gerbang kompleks.
"Kebetulan sekali, aku juga tinggal di sini. Kau di blok berapa?"
"Blok sepuluh, kau?"
"Aku di blok sembilan. Kau mau berangkat kerja?" tanya Fang Shuai.
Lin Zhixu menjawab, "Tentu, kau juga?"
"Aku punya mobil, biar kuantar saja," tawar Fang Shuai.
"Tidak perlu repot-repot, aku naik kereta bawah tanah saja."
Fang Shuai berkata dengan santai, "Satu perusahaan, tidak perlu sungkan. Kereta di jam segini belum tentu bisa dinaiki. Lebih baik naik mobilku. Pak Feng paling benci karyawan yang terlambat. Lagipula, kau lupa hari ini ada rapat pagi? Tidakkah kau harus bersiap lebih awal?"
"Kalau begitu... baiklah." Lin Zhixu merasa tidak enak jika terus menolak.
Namun, setelah masuk ke dalam mobil, Lin Zhixu menyadari arah mobil Fang Shuai tidak menuju kantor. "Asisten Fang, bukankah seharusnya kita lewat jalan layang untuk ke kantor?" tanya Lin Zhixu.
Fang Shuai tetap menyetir tanpa menoleh, "Kita harus menjemput Pak Feng dulu."
Lin Zhixu terkejut, "Ah? Kalau begitu, kenapa kau mengajakku? Apa tidak apa-apa?"
Fang Shuai tetap dengan gaya santainya, "Apa masalahnya? Bukankah semalam dia juga mengantarmu pulang?"
"..." Lin Zhixu terdiam, namun dia merasa ada yang janggal. Dia baru saja bekerja, tapi sudah sering menumpang mobil direktur atau asistennya. Jika Jiang Qian melihatnya, dia pasti akan dianggap menggunakan jalur orang dalam.
Fang Shuai yang tadi fokus menyetir mungkin merasakan kegelisahannya, lalu menoleh dan berkata, "Pak Feng orangnya baik, kau akan tahu setelah lama bekerja dengannya."
Lin Zhixu hanya tersenyum getir. Ini bukan kencan, jadi apa urusannya dengan dia apakah pria itu baik atau tidak?
Setelah sepuluh menit berkendara, Fang Shuai memarkirkan mobil di depan sebuah hotel mewah. "Pak Feng tinggal di hotel?" tanya Lin Zhixu heran.
"Ya, hotel lebih tenang."
*Pasti supaya gampang berkencan dengan wanita,* pikir Lin Zhixu. *Dia mungkin benar-benar pria hidung belang.*
Tak lama kemudian, Feng Lincuan keluar. Fang Shuai turun untuk membukakan pintu belakang, dan Lin Zhixu merasa harus ikut turun untuk memberi hormat, jadi dia keluar dari kursi penumpang depan.
"Selamat pagi, Pak Feng!" sapa Lin Zhixu dengan hormat layaknya murid sekolah.
Feng Lincuan meliriknya, membuat Lin Zhixu merasa sangat canggung. Sebagai sekretaris kecil, dia berani satu mobil dengan direktur! Orang yang tidak tahu pasti akan mengira dia sedang mencoba mendekati orang berkuasa.
Fang Shuai menjelaskan untuknya, "Saya kebetulan tinggal di kompleks yang sama dengan Sekretaris Xiaoxu, jadi saya mengajaknya saat melihatnya di jalan. Pak Feng tidak keberatan, kan?"
Tatapan Feng Lincuan masih tertuju pada Lin Zhixu, lalu ia menjawab datar, "Tidak keberatan." Setelah itu, ia duduk di kursi belakang.
Lin Zhixu melihat siluet pria itu yang tinggi dan tegap dari kaca spion, dia merasa lega dan kembali duduk di kursi depan. Mobil kembali melaju. Awalnya tidak ada yang bicara, sampai kemudian Fang Shuai bertanya, "Sekretaris Xiaoxu, kau sudah sarapan?"
"Belum... tapi aku membawa martabak telur buatan ibuku."
"Wah, pantas saja, dari tadi aku mencium aroma sedap."
Lin Zhixu segera berkata, "Kalau begitu, kau mau memakannya? Anggap saja sebagai tanda terima kasih karena telah mengantarku."
"Apa tidak apa-apa?" kata Fang Shuai. "Nanti kau jadi tidak sarapan?"
"Aku punya roti di kantor, makan sedikit sudah cukup," jawab Lin Zhixu.
"Baiklah, nanti saat turun..." Sebelum Fang Shuai selesai bicara, Feng Lincuan di kursi belakang menyela.
"Martabak telur? Aku ingin mencicipinya!"
Lin Zhixu: ...
*Feng Lincuan benar-benar ingin memakan martabak telurnya?!*
Dia terpaksa mengeluarkan martabak telur itu dari tas dan memberikannya ke arah kursi belakang. Feng Lincuan benar-benar memakannya langsung dari kantong plastik, dan aroma martabak telur pun memenuhi mobil.
Lin Zhixu menoleh diam-diam dan melihat pria dengan setelan jas itu sedang memakan martabak telur dengan elegan, seolah-olah martabak itu jauh lebih lezat daripada steik Australia. Dia teringat kembali pada momen-momen bersama pria itu di hutan malam itu. Dia merasa dirinya seperti martabak telur di tangan pria itu, dilahap suap demi suap.
Saat aksinya mengintip ketahuan, Feng Lincuan menggoyangkan martabak di tangannya dan berkata datar, "Rasanya sangat enak."
Wajah Lin Zhixu memerah, dia segera mengalihkan pandangan dan berkata, "S-senang mendengarnya, Pak!"
Fang Shuai menggerutu kesal, "Pak Feng, Anda pelit sekali. Padahal tadinya untuk saya, malah Anda ambil di tengah jalan!"
Feng Lincuan memerintahkan dengan tenang, "Fokus menyetir!"
"Anda membuat saya dan Xiaoxu kelaparan."
"Beli lagi saja nanti saat sampai di kantor."
Sesampainya di kantor, Lin Zhixu langsung sibuk seperti gasing. Mengumpulkan kepala departemen untuk rapat, menyiapkan perlengkapan rapat... Ada empat sekretaris di kantor direksi, dan karena dia yang paling junior, dia hanya bertugas membantu dan berlarian ke sana kemari.
Melihat rapat akan dimulai dalam setengah jam, Fang Shuai tiba-tiba menariknya ke ruang pantry khusus direksi.
"Eh, Asisten Fang, aku sedang sibuk, ada apa?" tanya Lin Zhixu.