Tema Kompetisi 11
Tiba-tiba, ponsel di saku Fang Zheng bergetar. Ia segera mengeluarkannya dan melihat ternyata itu panggilan dari ketua kamar asramanya. Karena sedang berada di perpustakaan, ia tidak mengangkat teleponnya agar tidak mengganggu mahasiswa lain. Hal kecil seperti ini pun bisa mencerminkan karakter seseorang.
Setelah mengembalikan buku pinjaman, Fang Zheng keluar dari perpustakaan dan menelepon balik ketua kamar, Xi Yuwei. "Tadi aku di perpus..." Belum sempat Fang Zheng menyelesaikan kalimatnya, suara Xi Yuwei yang tergesa-gesa sudah terdengar, "Fang Zheng, cepatlah ke gedung olahraga multifungsi! Orang keamanan datang menantang! Sialan..."
Fang Zheng baru ingin bicara ketika telepon di seberang sudah diputus. Menghadapi situasi seperti ini, Fang Zheng tidak berani menunda, bagaimanapun ia adalah anggota kelas investigasi kriminal, rasa kebersamaan adalah sesuatu yang selalu ditanamkan para pembimbing dan dosen.
Jarak gedung olahraga dari perpustakaan tidak terlalu jauh, hanya dalam dua-tiga menit Fang Zheng sudah sampai. Begitu tiba, ia langsung disambut suasana panas yang menggema di dalam. Arena latihan bela diri dipenuhi lautan manusia, Fang Zheng curiga hampir seluruh mahasiswa universitas berkumpul di sini! Di sekitar ring tengah, dua kelompok berdiri jelas terpisah, yakni kelas investigasi kriminal tingkat 13 tempat Fang Zheng berada, dan kelas keamanan tingkat 13 yang datang mencari masalah.
Fang Zheng mengamati sejenak, tampaknya hampir semua anggota kedua kelas sudah berkumpul. Beberapa pengurus kelas berdiri di atas ring berhadapan dengan pengurus lawan, sementara mahasiswa lainnya berkumpul di bawah ring.
Fang Zheng menyelip di antara kerumunan hingga sampai di tengah teman-temannya. Begitu melihat Fang Zheng, mereka segera mendorongnya ke depan, sambil memberi penjelasan, "Anak-anak keamanan itu main curang, menjebak Qiu Hao dan Zhang Jie, kebetulan dilihat Xi Yuwei dari kamarmu, akhirnya berujung perkelahian. Sekarang diputuskan adu tanding, siapa kalah harus mengalah bila bertemu!"
"Oh?" Fang Zheng menghela napas dalam hati. Hal seperti ini memang hanya bisa terjadi di kalangan mahasiswa yang kelebihan energi. Seharian di kampus, selain kuliah hanya latihan, bukan cuma anak muda, para dosen pun bisa bosan! Tapi, karena sudah terjadi, sebagai bagian dari kelompok ini, Fang Zheng pun harus terlibat. Kalau soal bertarung, ia belum pernah gentar. Bahkan para dosen bela diri yang konon mantan polisi khusus pun tidak ia perhitungkan.
Fang Zheng didorong ke barisan depan, dekat dengan Qiu Hao dan Zhang Jie. Melihatnya, mata mereka pun langsung berbinar. Sebagai petarung terbaik di kelas investigasi, kehadiran Fang Zheng ibarat jaminan kemenangan!
"Fang Zheng, akhirnya kau datang juga!" Zhou Hao ikut mendekat, "Kali ini kami benar-benar butuh tenagamu!"
Fang Zheng tersenyum tipis, "Bagaimana aturannya?"
"Masih dalam pembahasan, belum diputuskan!" Zhou Hao dan Qiu Hao menggeleng, menandakan mereka pun belum tahu.
"Kami usul sistem bertanding beruntun, satu lawan satu sampai kalah, lalu diganti yang lain. Siapa yang paling banyak bertahan, dia menang!" Zhou Hao rupanya cukup update, mungkin karena terus menguping. "Anak keamanan itu nggak berani, jadi sedang ribut soal itu."
"Usul yang bagus!" Fang Zheng mengangguk. Soal bela diri, kemampuan kelas investigasi jelas lebih unggul. Dengan sistem seperti ini, keamanan tidak mungkin menang! Tak heran mereka menolak, hanya orang bodoh yang mau.
"Sebetulnya bagaimana pun caranya, kelas keamanan tetap tak mungkin menang!" Qiu Hao begitu yakin dengan kemampuan teman-temannya.
Fang Zheng hanya tersenyum dan memperhatikan para pengurus kelas di atas ring yang beradu argumen. Ketua kelas dan sekretaris inti menjadi juru bicara utama. Dari kelas investigasi, ketuanya Wang Gang, sekretarisnya Xi Yuwei. Sedangkan dari keamanan, ketuanya Fan Chengqiang, sekretarisnya Li Hong, seorang wanita.
Walau Li Hong seorang perempuan, berdiri di tengah para lelaki ia sama sekali tidak gentar, bahkan berbicara penuh semangat, "Jangan-jangan kalian anak investigasi takut? Hanya tiga babak saja, bela diri, menembak, dan hacker!"
Wang Gang segera membantah, "Semua yang enak kalian ambil, masa semua harus nurut kalian?" Tentu saja ia menolak usulan itu, bela diri jelas keunggulan mereka, tapi menembak pun tuntutan tinggi di keamanan, sementara hacker jelas kekuatan utama mereka. Ucapan Wang Gang itu malah terkesan merendahkan kelas investigasi, hingga Xi Yuwei di sampingnya pun mengerutkan kening.
"Kalau kalian ngotot dengan aturan itu, boleh saja!" Xi Yuwei segera menimpali untuk memperbaiki suasana, "Tapi menembak harus ada bongkar-pasang senjata, cabut senjata, dan menembak bergerak! Ditambah lagi keahlian mengemudi dan pertempuran jarak dekat."
Mendengar itu, kelas keamanan pun keberatan! Kombinasi bongkar-pasang senjata, cabut senjata dan menembak bergerak jelas membuat mereka sulit menang; keahlian mengemudi masih bisa diadu; pertempuran jarak dekat, walau sama-sama dipelajari, tapi siapa yang lebih ahli masih belum bisa dipastikan.
"Hei, kalian anak keamanan masih laki-laki nggak sih? Punya nyali nggak?" Zhou Hao tak tahan lagi berteriak di bawah ring, mulutnya memang tajam, "Masih laki-laki nggak? Banyak alasan, bikin malu..." Ucapannya yang nyeleneh justru membuat semua anak investigasi bersorak mendukung. Anak keamanan pun jadi serba salah, tak setuju pun akan kehilangan muka.
Akhirnya, ketua kelas keamanan Fan Chengqiang menggertakkan gigi, setelah bertukar pandang dengan sekretaris Li Hong, akhirnya menyetujui, "Tapi kalau begitu, kita harus atur ulang peserta. Hari ini kita pulang dulu, besok pastikan nama peserta, lalu atur jadwal tanding. Setuju?"
"Baik, sepakat!" Xi Yuwei langsung mengambil alih peran ketua, mengangguk mantap.
Awalnya hanya perselisihan segelintir mahasiswa, tak disangka berkembang menjadi adu gengsi antar dua kelas, di luar dugaan semua orang. Para 'penonton' yang tadinya berharap bisa melihat pertarungan seru, kini kecewa dan bersorak menuntut duel dadakan, namun tidak ada yang menggubris.
Anak-anak investigasi dan keamanan pun segera bubar, kembali ke kelas masing-masing untuk menentukan peserta pertandingan.
Karena kejadian ini melebar, sudah pasti sampai ke telinga para pembimbing masing-masing. Apalagi ini sudah menyangkut kehormatan kelas, maka setelah berdiskusi, Wang Gang dan beberapa pengurus kelas pun langsung menelepon dan melapor kepada pembimbing mereka, He Chengxuan.
He Chengxuan yang jarang mendapat libur akhir pekan, sesungguhnya baru saja pulang ke rumah untuk menjenguk ibunya. Begitu menerima telepon dari Wang Gang, ia hanya bisa menghela napas. Ia tidak benar-benar marah, karena persaingan antar kelas seperti ini memang kadang terjadi.
Karena sudah terlanjur, He Chengxuan pun pamit kepada ibunya yang berat hati melepas, lalu segera kembali ke kampus.
"Selamat siang, Bu Guru!" Begitu He Chengxuan masuk kelas, para mahasiswa langsung berdiri dengan hormat dan serempak menyapa. Pada dosen pembimbing yang selalu tampak dingin namun rupawan ini, tak seorang pun berani kurang ajar. Mereka sudah pernah merasakan kerasnya tangan 'Ratu Es' ini, dan cukup dibuat jera.
"Selamat siang, semuanya." Meski tidak bermaksud tinggi hati, He Chengxuan tetap menampilkan wibawa yang seakan membuat semua orang hanya bisa menatap kagum. Pesonanya begitu kuat, seolah pusat perhatian di mana pun ia berada.
Fang Zheng yang berdiri di antara teman-temannya, menatap He Chengxuan di depan kelas dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Ada tipe orang yang sejak lahir memang diciptakan untuk menjadi pusat perhatian, pesona dan aura menguasainya begitu kuat, hingga orang lain serasa kehilangan warna di sekitarnya.
Seolah menyadari tatapan Fang Zheng, wajah He Chengxuan pun bersemu merah tanpa sadar. Sorot matanya yang melihat ke arah Fang Zheng pun berubah lembut. Ia memang wanita yang tegas, namun setelah menyerahkan diri pada Fang Zheng, setiap kali menatap pria itu, ia akan berubah selembut air, semua sisi keperempuanan dalam dirinya muncul tanpa tersisa. Ia benar-benar menjadi wanita kecil miliknya.