Bab 22 Menghindarinya
Miao Qingqing turun ke lantai satu dan mendapati seseorang sedang duduk di sofa. Ia sedikit mengernyit, "Ada perlu apa kau mencariku?"
"Bisakah kita bicara di luar?" Zhong Liyan bangkit berdiri dengan senyum tipis di sudut bibirnya.
Miao Qingqing mengerucutkan bibir. Ia pernah bertemu Zhong Liyan, namun hanya sebatas tahu wajah. Keduanya tidak memiliki hubungan akrab, jadi untuk apa dia datang mencarinya?
Sesampainya di halaman, Miao Qingqing berkata, "Cepat katakan apa maumu, aku sedang sibuk." Qing Ze masih membutuhkan perawatannya.
Dua hari sejak kembali ke pangkalan, Miao Qingqing banyak merenung. Ia menyadari bahwa rasa sukanya pada Xiao Mu mungkin hanya didasari oleh rasa tidak terima di masa lalu.
Sebagai pria pertama yang ia sukai di masa remaja, semakin sulit didapatkan, semakin besar keinginannya untuk memilikinya. Perasaan itu bahkan semakin kuat saat mengetahui Xiao Mu dijodohkan dengan Yu Tang oleh Algoritma Dewa Mesin.
Namun kini... Miao Qingqing menengadah menatap cahaya lampu berwarna kuning hangat yang menembus jendela lantai dua. Qing Ze benar-benar mencintainya, bahkan saat tahu ia menyukai Xiao Mu, pria itu dengan rendah hati memohon agar ia mau meliriknya sedikit saja.
Qing Ze mungkin tidak seberkilau Xiao Mu, tetapi saat ia diselamatkan olehnya dari jeratan tanaman mutan, di mata Miao Qingqing, Qing Ze adalah sosok yang paling mempesona.
Selain itu, mungkin Xiao Mu tidak sesempurna yang ia bayangkan selama ini. Barangkali karena ia telah memasang filter di hatinya, sehingga merasa Xiao Mu selalu tampak sempurna di segala sisi.
Miao Qingqing menghela napas panjang. Saat ini, ia benar-benar telah melepaskan perasaannya dan tidak lagi menyukai Xiao Mu. Yu Tang pun tidak bersalah; Algoritma Dewa Mesinlah yang menjodohkan Xiao Mu dengannya, bahkan keempat pasangan pria hebat di pangkalan itu pun diberikan kepadanya tanpa menanyakan kesediaannya.
Karena telah menerima banyak kebencian yang tidak adil, sepertinya ia harus mencari waktu untuk meminta maaf kepada Yu Tang.
"Aku tahu kau selalu menyukai Xiao Mu." Zhong Liyan melangkah maju, memperpendek jarak di antara mereka, lalu sedikit membungkuk dan berbisik di telinga Miao Qingqing, "Bagaimana kalau... kau bunuh saja dia saat menjalankan misi kali ini? Dengan begitu, Xiao Mu akan menjadi milikmu."
Miao Qingqing terkejut mendengarnya. Ia heran bagaimana Zhong Liyan bisa tahu perasaannya. Namun, saat mendengar ajakan untuk membunuh Yu Tang, ia melangkah mundur dengan mata terbelalak tidak percaya.
Apa dia pikir dirinya bodoh? Zhong Liyan jelas ingin menjadikannya pion. Dulu, ia memang sempat berpikiran picik dan ingin meminta Lan Yu membunuh Yu Tang, tetapi sekarang ia sudah tidak menyukai Xiao Mu lagi.
Wajah Miao Qingqing mendingin, "Aku tidak akan ikut misi kali ini, apalagi membunuh Yu Tang."
Zhong Liyan mengerutkan kening, "Apakah kau tega membiarkan Xiao Mu terus berada di sisi Yu Tang yang jelek, gemuk, dan pemalas itu?"
"Jika dia suka berada di sana, aku bisa apa?" Miao Qingqing mengangkat bahu, "Lagipula, aku sudah tidak menyukai Xiao Mu lagi."
Suara hampa di dalam benak Zhong Liyan segera memeriksa data dan mendapati bahwa Miao Qingqing, yang tiga menit lalu masih sangat menyukai Xiao Mu, kini menganggap Xiao Mu tidak ada bedanya dengan teman biasa.
Suara hampa itu segera mendesak dengan nada terburu-buru, "Cepat! Pegang lengannya yang terbuka, biarkan serangga dewa masuk ke dalam tubuhnya!"
Mendengar suara itu, Zhong Liyan mencengkeram tangan Miao Qingqing. "Apa yang kau lakukan?!" Miao Qingqing mengerutkan kening dan menepis tangan Zhong Liyan.
Detik berikutnya, tatapan mata Miao Qingqing menjadi kosong. Zhong Liyan terdiam sejenak, lalu mendekat ke telinga Miao Qingqing dan mengulangi apa yang dikatakan suara hampa itu.
"Kau menyukai Xiao Mu, menyukainya sampai rela melakukan segala cara, membunuh semua betina di sisinya, hanya demi mendapatkannya."
"Kau akan membunuh Yu Tang, dengan begitu, Xiao Mu akan menjadi pasanganmu."
"Ikuti kata-kataku—bunuh Yu Tang, Xiao Mu adalah milikku."
Miao Qingqing mengulangi kata demi kata, "Bunuh Yu Tang, Xiao Mu adalah milikku."
Zhong Liyan tersenyum puas. Saat berbalik untuk pergi, ia tak sengaja melihat seseorang berdiri di depan pintu. Jantungnya berdegup kencang, sorot panik melintas di matanya. Namun, ia segera menenangkan diri dan berkata dengan senyum kepada Miao Qingqing, "Kalau begitu, Qingqing, aku pergi dulu."
Miao Qingqing mengerjapkan mata, kesadarannya pulih, ia melambai pada Zhong Liyan, "Ya, hati-hati di jalan."
Melihat punggung Zhong Liyan yang menjauh, Lan Yu mengalihkan pandangan ke arah Miao Qingqing, memindai tubuhnya, namun tidak menemukan keanehan apa pun. Seluruh lantai tiga adalah milik Lan Yu. Tanpa izinnya, orang lain tidak akan berani naik ke sana.
Miao Qingqing pergi ke kamar Qing Ze di lantai dua, memanggil dua pasangan pria lainnya dan berkata, "Besok kita juga akan pergi ke Pangkalan 0173."
Lang Hao mengerutkan kening, "Bukankah sudah disepakati tidak akan pergi? Lagipula, luka Qing Ze belum sepenuhnya sembuh."
Miao Qingqing berkata, "Apa yang kukatakan adalah perintah. Besok semuanya harus ikut."
"Kau..." Lang Hao ingin memprotes, namun ditahan oleh Qing Ze yang terbaring di tempat tidur, "Sudahlah, karena dia ingin pergi, kita ikuti saja."
Miao Qingqing melirik Qing Ze dengan tatapan dingin, lalu berbalik pergi.
"Qing Ze!" Lang Hao menghela napas kesal, "Untuk apa kau melakukan ini? Dia sama sekali tidak menghargaimu! Jika lukamu tidak dirawat dengan baik, akan sulit bagimu untuk meningkatkan level kemampuanmu nanti."
"Aku tidak habis pikir, jelas-jelas tadi sudah sepakat tidak pergi, kenapa tiba-tiba berubah pikiran."
Qing Ze menunduk merenung, "Tadi kau bilang ada seseorang yang datang menemui Qingqing, siapa itu?"
Lang Hao menjawab, "Zhong Liyan." Ia berteman baik dengan salah satu pasangan pria Zhong Liyan, jadi ia tentu mengenalnya.
"Zhong Liyan?" Qing Ze mengernyit. Pasti wanita itu telah mengatakan sesuatu pada Qingqing, jika tidak, Qingqing tidak mungkin mengubah keputusannya.
Karena tidur lebih awal semalam, Yu Tang terbangun pagi-pagi sekali.
"Hmm~" Yu Tang menggeliat di tempat tidur, lalu duduk dan turun untuk membuka tirai. Tiba-tiba, ia melihat benda panjang berwarna hitam tergeletak di lantai.
Ia membungkuk untuk mengambilnya. Benda itu kering, berbau busuk, asam, dan amis.
"Uhuk!"
Baunya sangat menyengat. Benda aneh apa ini, kenapa bisa ada di kamarnya?
Merasa tangannya kini berbau tidak sedap, Yu Tang menjepit benda itu dengan dua jari, membuangnya ke tempat sampah, dan segera mengikat kantong sampah itu dengan rapat.
Ia memutuskan untuk mandi. Jika tidak mandi sekarang, entah kapan lagi ada kesempatan.
Setelah turun ke bawah, ternyata hari ini Mo Yao yang memasak. Yu Tang sedikit terkejut, saat mencicipinya, ternyata rasanya cukup enak.
Melihat Yu Tang makan dengan lahap, alis Mo Yao yang tadinya berkerut tegang kini melunak.
"Makanlah pelan-pelan, masih ada lagi." Ujarnya sembari mengambilkan lauk yang terus dimakan Yu Tang.
"Terima kasih, terima kasih." Yu Tang mengangkat mangkuknya dan melahap makanannya.
Mendengar Yu Tang berterima kasih padanya, Mo Yao merasa sedikit kesal. Ia merasa Yu Tang seolah sedang menghindarinya. Ia tidak yakin, jadi ia memutuskan untuk mengamatinya lebih lanjut.
Saat naik ke mobil, Su Bai yang menyetir. Kali ini Yu Tang tidak memilih kursi belakang, melainkan duduk di kursi penumpang depan.
Ia tersenyum berkata, "Kemarin duduk di belakang rasanya sudah bosan, kali ini ingin duduk di depan."
Namun saat tiba giliran Mo Yao yang menyetir, Yu Tang justru pindah ke kursi belakang. Ia beralasan, "Aduh, ternyata duduk di depan tidak seenak itu, tetap saja duduk di belakang yang paling nyaman."
"Heh." Mo Yao mendengus dingin di dalam hati. Sudah pasti, Yu Tang memang sedang menghindarinya!