Bab 18: Dia Sangat Patuh
Lingxiao sebenarnya sudah membuat rencana untuk masa depan Lingyuan. “A Yuan, kau sudah delapan belas tahun sekarang. Setelah ini, apa rencanamu?”
Lingyuan tertegun, duduk tegak. “Ayah, jangan-jangan Ayah ingin pensiun? Usia Ayah belum genap lima puluh tahun.”
Sejak ibu Lingyuan meninggal, Lingxiao selalu murung. Hanya putra semata wayangnya itulah yang bisa membuatnya tersenyum. Ia selalu menanti anaknya tumbuh dewasa, dan setelah genap delapan belas tahun, ia berniat secara perlahan menyerahkan urusan bisnis kepada Lingyuan, lalu membawa abu sang istri berkeliling dunia.
Lingxiao tidak membenarkan atau membantah, “Rumah ini cepat atau lambat harus kau urus. Mulai besok, ikutlah belajar denganku bagaimana mengelola usaha.”
“Ayah…”
Lingyuan masih ingin berbicara, tapi Lingxiao langsung memotong, “Sudah diputuskan. Malam ini tidurlah lebih awal.”
Setelah itu ia berbalik naik ke lantai atas.
Lingyuan menatap punggung ayahnya. Tulang punggung itu masih tegak, tetapi ia jelas melihat usia yang kian menua. Tangannya mengepal perlahan…
Hari ini ulang tahun Lingyuan, namun ia justru tidur lebih awal dari biasanya. Meski tubuhnya terbaring di ranjang, matanya hanya menatap langit-langit dengan hening.
Begitu memejamkan mata, suara bising, tajam, dan menusuk membanjiri telinganya. Ia tahu itu hanya halusinasi, namun rasanya begitu nyata, seolah meledak di telinganya.
Kemudian, kepalanya mulai nyeri, ia menekan pelipis, namun rasa sakit itu malah merambat ke seluruh kepala, seperti belati menusuk setiap pembuluh darah.
Bersamaan dengan itu, dalam benaknya melintas gambar-gambar seperti rangkaian slide, disertai suara tangis, teriakan minta tolong, dan jeritan, berbagai suara gaduh, lautan darah seolah mengamuk dan menenggelamkannya, membuatnya nyaris sesak napas.
Ia ingin membebaskan diri, ingin berteriak, namun sekujur tubuhnya seolah terbelenggu, tak mampu bergerak ataupun bersuara.
Napasnya makin berat dan memburu, rasa lemah dan putus asa menggerogoti segenap tubuhnya.
“Tian Jiu!!” Tiba-tiba suara tajam membelah ruang hening itu, seluruh halusinasi seketika menghilang. Ia terbangun dengan tubuh basah kuyup oleh keringat.
Dalam kebingungan, angin malam bertiup dari luar jendela, tirai berayun, sinar bulan menembus celah, seperti sebilah pedang membelah kegelapan malam.
Kepalanya masih terasa seperti baru saja melalui pertempuran sengit, jantungnya pun belum stabil. Ia terjaga tak bisa tidur, membalikkan badan, akhirnya mengambil jaket dan keluar rumah tanpa tujuan, hingga tanpa sadar sampai di depan vila keluarga Liang.
Lingyuan berhenti melangkah, ia pun tidak tahu kenapa bisa sampai ke sini.
Di lantai dua, satu kamar masih menyala. Ia tahu kamar mana milik Liang Zihao, namun lampu yang menyala itu dari sisi lain.
Sedang berpikir, di jendela muncul bayangan seseorang. Seorang gadis berdiri di depan jendela, menutup tirai. Tubuh ramping itu, pinggang semampai, selain Chi Yu, tak mungkin orang lain.
Lingyuan mengeluarkan ponsel, ingin mengirim pesan, tapi setelah mencari-cari, ia sadar ia bahkan tidak tahu nomor gadis itu.
Ia memasukkan ponsel ke saku, mengambil segumpal tanah liat kecil lalu melempar ke jendela lantai dua. “Duk!” suara itu terdengar nyaring di malam yang sunyi.
Chi Yu baru saja selesai mengerjakan PR dan mulai mengulang pelajaran kelas satu SMA. Beberapa hari lagi ujian, ia tak berani lengah, harus membuktikan kemampuannya sendiri.
Setelah selesai satu set soal, ia lihat ponsel, sudah hampir pukul dua belas. Ia bergegas menutup tirai, berniat belajar setengah jam lagi sebelum tidur. Belajar memang penting, tapi istirahat juga tak boleh kurang.
Baru saja duduk dan meneguk air hangat, suara benturan di kaca membuatnya terkejut.
Larut malam begini, jangan-jangan ada pencuri?
Chi Yu ingin menelepon Bai Yang, tapi ia ragu. Kalau ternyata bukan, bukankah hanya mengganggu orang?
Ia pun mendekat ke jendela, mengintip ke bawah, samar-samar melihat bayangan seseorang berdiri di sana.
Benar ada pencuri!
Chi Yu buru-buru mundur, jantungnya berdebar keras. Apa yang harus ia lakukan? Ini pertama kalinya ia menghadapi pencuri.
Apa yang harus dilakukan pertama kali? Benar, lapor polisi, panggil 110.
Chi Yu sudah hendak menekan nomor darurat, namun suara ketukan di kaca terdengar lagi. Ia merasa aneh, pencuri macam apa ini? Tahu-tahu sudah ketahuan, masih berani terang-terangan.
Dengan memberanikan diri, ia membuka jendela dan mengintip ke bawah. Bayangan itu memanggil pelan, “Chi Yu~”
Hah? Suaranya agak familiar.
Lalu suara itu menahan suaranya, “Ini aku.”
Kali ini Chi Yu mengenalinya, itu Lingyuan.
Larut malam begini, ada urusan apa dengannya?
Teringat Lingyuan mengantarnya pulang malam ini, secara logika ia tak sampai hati mengabaikan.
Chi Yu mengambil jaket, membawa ponsel, lalu keluar kamar.
Bai Yang, Liang Zihao, dan yang lain sudah tidur. Rumah begitu hening. Chi Yu berjalan pelan menuruni tangga, membuka pintu, dan mengintip ke luar.
“Kakak senior, malam-malam begini, ada apa mencariku?”
Lingyuan sendiri pun tak tahu harus berkata apa. Di jam seperti ini, sebenarnya ia harusnya berbalik pulang, tapi entah kenapa tangannya malah iseng melempar lumpur ke jendela gadis itu, memaksanya turun.
Sejak kapan ia jadi sekekanak-kanakan ini?
Namun saat melihat kepala kecil yang mengintip keluar, hatinya tiba-tiba jadi lunak.
Gadis itu sangat cantik, kulit putih bersinar di bawah lampu kuning, wajah bersih, fitur-fitur yang indah seperti boneka porselen di lemari nenek.
Saat ini, ia menatapnya dengan penuh tanda tanya.
Mata bening itu berkilauan seperti permata di malam hari.
Lingyuan bukan tak pernah melihat gadis yang lebih cantik darinya. Dengan latar belakang keluarganya, ia sudah sering bertemu wanita beraneka rupa, tinggi, pendek, gemuk, kurus, tapi tak ada satu pun yang membuatnya… bagaimana menggambarkannya?
Ia tak bisa memalingkan pandangan.
“Kemaralah,” Lingyuan melambaikan tangan.
Chi Yu ragu melangkah, mendongak menatapnya. “Ada apa sih?”
Suaranya berbeda dengan tadi di gang, kini terdengar manis, seperti dilapisi madu.
Lingyuan hampir sesak napas terkena manisnya suara itu, tangannya yang memegang ponsel mengepal, ia menunduk, lalu berkata, “Kau ini tidak hati-hati sama sekali, aku suruh turun, langsung turun ya?”
Chi Yu hanya setinggi seratus enam puluh dua sentimeter, Lingyuan lebih tinggi sekepala lebih, berdiri di depannya terlihat begitu mungil.
Mendengar ucapan Lingyuan, ia terdiam, lalu menjawab polos, “Karena aku tahu itu kakak, kalau orang lain pasti aku tak akan turun, tadi bahkan hampir menelepon polisi.”
Manis sekali~
Lingyuan merasa seluruh tubuhnya seperti mengembang, segalanya terasa nyaman, senyumnya tak bisa disembunyikan, setelah beberapa saat ia memuji, “Cukup waspada juga.”
“Ya.”
Keduanya sempat terdiam, lalu Lingyuan bersuara duluan, “Bisa temani aku jalan sebentar?”
Chi Yu melirik jam, agak ragu, “Sudah larut…”
Barusan siapa yang mengingatkannya?
“Sebentar saja.”
“Baiklah~”
Ekspresi Lingyuan tidak banyak berubah, tapi Chi Yu tahu, perasaannya malam ini berbeda dari sore tadi.
Chi Yu pun tak lagi menolak.