Bab 74: Dia Telah Menemukan Sesosok Leluhur untuk Dirinya Sendiri
Sebelum menutup telepon, Ling Yuan meminta Zhou Muyun untuk mengirimkan video di perkebunan itu padanya.
Zhou Muyun bergerak cepat, sepuluh menit kemudian video itu telah dikirimkan.
Setelah menonton video tersebut, Ling Yuan langsung menelepon Chi Yu lewat panggilan video WeChat.
Chi Yu saat itu sedang digoda oleh teman-teman perempuannya. Yan Qiwu memegang lengan Chi Yu yang ramping dan indah, tampak ketagihan, enggan melepaskannya.
Telepon berdering di atas meja teh. Wei Zi yang duduk paling dekat segera mengambilkannya untuk Chi Yu.
Tanpa sengaja, ia melirik nama penelepon yang hanya terdiri dari satu huruf. Matanya membelalak karena kaget dan menunjuk ke nama itu, “Ini... apakah ini Ling yang aku kenal?”
Chi Yu menerima telepon itu, mengucapkan terima kasih, lalu menambahkan, “Mungkin, sepertinya iya.”
Wei Zi mengenal Song Che dengan baik, seharusnya juga cukup akrab dengan Ling Yuan.
“Kalian sedekat itu? Sampai sudah bisa video call segala?”
Wei Zi dan Ling Yuan sudah saling kenal sejak kecil, tapi, bagaimana menjelaskannya? Sampai sekarang mereka paling hanya sebatas saling sapa, hubungan mereka hanya sedikit lebih dekat karena sepupu laki-laki Chi Yu.
Nomor Ling Yuan sudah lama ada di ponselnya, tapi belum pernah sekalipun dihubungi, benar-benar hanya sebagai pelengkap saja.
Di mata Wei Zi, Ling Yuan adalah sosok yang dingin dan tak berperasaan. Selain dingin dan angkuh, tak ada kata lain yang bisa menggambarkannya. Oh, satu lagi, ia sangat menjaga jarak dengan perempuan. Ia belum pernah melihat Ling Yuan berbicara dengan perempuan mana pun secara sukarela.
Selama bertahun-tahun mereka saling kenal, jumlah kata yang pernah mereka ucapkan mungkin bahkan kalah banyak dibanding percakapan sehari antara Wei Zi dan Song Che.
Wei Zi lebih memilih bertengkar dengan Song Che tiga hari tiga malam daripada bicara satu kalimat dengan Ling Yuan. Ia seperti gunung es berjalan yang bisa membekukan siapa saja.
Melihat Ling Yuan dengan inisiatif sendiri menelpon seorang perempuan—oh, lebih tepatnya Chi Yu—ia sempat menduga jangan-jangan Ling Yuan salah pencet nomor.
Namun, setelah Chi Yu mengangkat, suara lembut pemuda di seberang sana terdengar begitu hangat hingga Wei Zi merasa dunianya seperti berubah menjadi fantasi.
Ia merasa perlu mengenal gunung es yang satu ini sekali lagi.
Apartemen yang disewa Wei Zi terdiri dari tiga kamar, masing-masing memiliki kamar sendiri.
Chi Yu menerima video call dan langsung kembali ke kamarnya, tak mempedulikan tatapan terkejut dan polos Wei Zi.
“Kakak senior.”
Ling Yuan menjawab dengan suara rendah, tetapi tidak langsung berbicara. Ia hanya menatap Chi Yu, seolah mencari sesuatu di wajahnya.
Chi Yu merasa sedikit malu dipandangi seperti itu, tak tahan akhirnya bertanya, “Kakak, kenapa? Ada sesuatu di wajahku?”
“Ada,” jawab Ling Yuan sambil tersenyum, “Ada seorang gadis kecil yang sangat cantik.”
Tatapannya berhenti di wajahnya, mata hitamnya memancarkan kelembutan, seperti cahaya bulan yang hangat.
Chi Yu tak berani menatap matanya terlalu lama. Sepasang mata itu bagaikan kail yang menyeretnya masuk ke pusaran dalam. Ia khawatir akan tenggelam dan tak bisa keluar lagi.
Matanya lalu mengarah ke dagu sempurna Ling Yuan, ia berkata pelan, “Kakak sedang bicara apa sih?”
Ling Yuan juga tak ingin menekannya terlalu keras. Ia menahan diri, batuk pelan, dan mengembalikan nada bicara menjadi santai seperti biasa. “Ikan Kecil, kudengar malam ini kamu berkelahi?”
“Ya. Eh?” Chi Yu terkejut, menatapnya, “Kok kakak tahu? Siapa yang begitu cepat mengabarimu?”
Gadis itu membulatkan matanya, tampak seperti kucing polos, sangat menggemaskan.
“Kenapa? Tak mau aku tahu? Sayang sekali, sudah terlambat. Aku punya banyak mata-mata.”
“Oh, berarti pasti para kakak senior itu. Kakak Song dan Kakak Zi Hao masih di kantor polisi, jadi tinggal Kakak Zhou.”
“Benar, pintar sekali, analisamu tepat.”
Chi Yu: “...”
Ia merasa sedang diejek, tapi tak punya bukti.
Saat sedang berpikir, Ling Yuan kembali bicara, “Kudengar katanya kamu sudah tingkat tujuh dalam bela diri?”
“Ya.”
“Hebat sekali.”
Tadi saat bersama Zhou Muyun dan yang lain, Chi Yu tak merasa malu. Tapi begitu Ling Yuan menyorotinya, ia jadi sedikit canggung, “Nggak sehebat itu, cuma sedikit saja.”
Ia juga tahu berkelahi itu tidak baik, jadi sebelum Ling Yuan sempat bicara, ia sudah mengaku salah, “Kakak, jangan marahi aku. Aku tahu berkelahi itu tidak baik, lagipula malam ini aku tidak benar-benar memukul orang.”
Biasanya ia memang jarang sekali berkelahi, kecuali terpaksa. Gadis kecil yang anggun seperti dirinya, di Anshi pun tak banyak yang tahu ia bisa bela diri. Malam ini pun ia hanya turun tangan untuk membantu teman.
Setelah berkata, ia merasa ucapannya seperti anak kecil yang mengaku salah pada orang tua.
“Aku tidak berniat memarahimu. Aku sendiri lebih sering berkelahi darimu, mana mungkin aku pantas memarahi?”
“Ikan Kecil,” nada Ling Yuan berubah, satu kata demi kata ia berkata, “Apa kau tahu, malam ini sangat berbahaya bagimu?”
Chi Yu tidak terlalu peduli, ia sudah pernah mengalami yang lebih berbahaya, “Rasanya, ya, biasa saja...”
“Biasa saja?” Nada Ling Yuan lebih tegas dari biasanya. “Kali ini kamu selamat, tapi kalau lain kali lawanmu laki-laki yang sama-sama ahli bela diri? Tidak semua lawan selemah Jin Mao. Saat itu, apa kamu masih bisa melindungi diri sendiri?”
Tatapan mereka bertemu. Chi Yu yang biasanya agak lambat pun tahu bahwa Ling Yuan sedang marah.
Chi Yu tertegun, “Aku tadi melihat dia cuma petarung jalanan, makanya aku berani. Kalau lawanku memang ahli, aku pasti pakai cara lain.”
“Jadi kamu bangga ya?”
Ling Yuan hampir tertawa karena gemas, memang benar, orang yang punya keahlian tinggi jadi lebih berani.
“Tidak juga, aku cuma tahu cara menilai orang, oke?”
“Berarti aku harus memuji kamu, ya? Ikan Kecil.”
Chi Yu menjawab hati-hati, “Kalau kakak mau memuji, juga tidak masalah.”
Wajahnya memancarkan ekspresi “ayo puji aku”.
Ling Yuan: “...”
Ia menggigit pipi bagian dalam, menarik napas panjang. Sudahlah, untuk apa marah padanya? Bukan salahnya juga.
Sungguh, menghadapi Chi Yu ia benar-benar tak punya cara. Memukul? Tidak mungkin. Memarahi? Tak tega. Mengancam? Sepatah kata pun tak mampu ia ucapkan dengan keras.
Lalu harus bagaimana?
Pada akhirnya, jika Chi Yu berkelahi, ia yang menjaga. Jika Chi Yu membuat masalah, ia yang membereskan.
Ia sendiri yang mencari masalah, dan kini hanya bisa memanjakan Chi Yu sepuas-puasnya.
“Baiklah, kalau kamu memang mau berkelahi, boleh saja. Tapi aku punya satu syarat.”
Chi Yu mengedipkan mata indahnya, “Syaratnya apa?”
“Setiap kali sebelum bertindak, kamu harus melindungi dirimu dulu. Ikan Kecil, ingat ya? Jangan sampai aku khawatir.”
Saat Ling Yuan mengatakan ini, tatapannya begitu tajam, langsung menembus ke dalam dirinya, membuat Chi Yu merasa dirinya sangat berarti di mata pemuda itu.
Disaat itu, tatapan Ling Yuan membakar napasnya, jantungnya berdegup semakin cepat. Ia tiba-tiba teringat pada Song Che dan Wei Zi, muncul lagi perasaan aneh. Jika Ling Yuan bukan seorang gay, mungkinkah ia sedikit menyukai dirinya?
Jika bukan suka, ia kan bukan kakaknya, kenapa begitu peduli pada adik tiri seorang teman?
Pikiran itu melintas sekejap.
Ia berpikir, mungkin sebaiknya tunggu dan lihat saja.
Namun, begitu benih itu tumbuh di benaknya, ia tak lagi mampu menahan kemungkinan itu dan jantungnya semakin berdegup kencang.
Ia memalingkan wajah, memaksa dirinya untuk tenang.
“Baik, baik, Kakak, aku akan melindungi diriku sendiri.”
Namun Ling Yuan malah mengerutkan kening, “Kenapa tiba-tiba wajahmu memerah? Masuk angin? Malam ini anginnya kencang, kamu keluar pakai baju tipis?”