Bab 14: Mutiara Kenangan yang Hilang
Zhang Yue tidak menghiraukan perdebatan mereka, ia mengeluarkan sebuah jaket biru tua bertudung dari ruang penyimpanannya dan menyerahkannya pada Zhang Qiling.
“Kakak, bajumu basah, cepat ganti,” ujarnya.
Aksi Zhang Yue itu sontak membuat semua anggota kelompok menoleh ke arah mereka.
Zhang Qiling menerima baju dari tangan Zhang Yue. Ia memandangi baju itu beberapa detik sebelum akhirnya melepas pakaian basahnya dan mengenakan yang baru dari Zhang Yue.
“Nih, cokelat, untuk tambah energi,” lanjut Zhang Yue.
Baru saja ia selesai berganti pakaian, di tangannya sudah ada sebatang cokelat. Zhang Qiling menatap Zhang Yue, namun ia hanya bersikap biasa saja, seolah sudah sering melakukan hal seperti itu.
Ia memasukkan cokelat ke mulut, dan dalam hitungan detik rasa manis yang lembut langsung meleleh di lidahnya.
“Manis sekali, aku suka,” ujar Zhang Qiling pelan, menatap mata Zhang Yue yang bening.
Mendengar itu, Zhang Yue tersenyum cerah, bahkan matanya memancarkan sedikit kebanggaan.
“Tentu saja, itu aku pilih dengan sangat hati-hati, pasti sesuai seleramu.”
“...Hmm,” sahut Zhang Qiling lirih setelah diam beberapa saat. Ia tidak memberitahu, bahwa sebelumnya ia belum pernah makan cokelat dan tak tahu mana yang jadi favoritnya. Zhang Yue-lah orang pertama yang memberinya cokelat.
“Eh, aroma cinta mereka sampai ke sini saja sudah terasa,” celetuk Wang Gemuk mendekat ke telinga Wu Xie dengan nada menyebalkan.
“Jangan asal bicara, mereka tak punya hubungan seperti itu,” Wu Xie buru-buru membantah sambil menatap Zhang Yue dan kakaknya.
“Itu bukan urusan kita untuk menentukan,” Wang Gemuk menyandarkan diri pada akar pohon yang menonjol, memandangi raut tak senang Wu Xie sembari bergumam pelan.
Zhang Yue mendengarkan suara hujan yang menimpa daun, memandangi tetesan air yang jatuh, api unggun yang menyala, dan orang-orang yang dikenalnya. Semua itu membuatnya merasa nyaman.
(Suasana seindah ini, harus kuabadikan.)
Zhang Yue baru saja berniat mengambil Mutiara Kenangan dari ruang penyimpanannya, ketika tiba-tiba ia teringat bahwa saat ia keluar dari Gerbang Perunggu, ia sempat ingin merekam momen Lingling menjemputnya pulang, namun belum sempat mengambil kembali, ia sudah terlempar ke sini!
Dengan harapan tipis, ia menutup mata dan memeriksa setiap sudut ruang penyimpanannya, namun hasilnya nihil!
Senyum di wajah Zhang Yue perlahan memudar, tergantikan kepanikan. Ia berdiri dengan tiba-tiba, mulai memeriksa saku-saku bajunya, tapi tetap tidak menemukan apa-apa…
(Kacau! Di mana Mutiara Kenanganku?! Hilang?! Hilangnya di mana? Apakah tertinggal di dunia asalku? Atau ikut terbawa ke sini? Kalau memang ikut ke dunia ini, kemungkinan besar jatuh di gurun itu. Tapi sudah beberapa hari berlalu, kalau benar jatuh ke pasir, pasti sudah tertimbun entah di mana!)
Zhang Yue kembali duduk, menggigit kuku ibu jarinya dengan cemas. Isi Mutiara Kenangan itu sangat penting baginya, dan sekarang semuanya lenyap, membuatnya gelisah.
Jie Yuhua sempat meraba tempat di mana biasanya Mutiara Kenangan berada. Ia mendengar kegelisahan batin Zhang Yue, sempat ragu, namun akhirnya memilih diam.
Zhang Qiling, Wu Xie, Wang Yueban, dan Si Buta, yang tahu di mana barang itu, semua menunduk tak berani menatap Zhang Yue.
“Nona Zhang, ada apa?” tanya Aning, melihat kecemasan yang jelas dari tubuh Zhang Yue.
“Ada barangku yang hilang,” suara Zhang Yue terdengar bergetar.
“Barang apa? Apa kau bisa memastikan kapan hilangnya?” tanya Aning, mulai bisa menebak pentingnya benda itu bagi Zhang Yue. Namun, sekalipun tahu di mana tertinggal, mereka juga tidak mungkin kembali ke sana. Paling Aning hanya bisa meminta bawahannya untuk membantu mencari.
“Sebuah mutiara biru kehijauan. Aku tak tahu hilangnya di mana, mungkin di gurun itu, mungkin juga di tempat lain…”
Mendengar penjelasan Zhang Yue, Aning mengernyit. Sebutir mutiara, hilang di gurun, dan waktu sudah berlalu lama. Itu sama saja mencari jarum dalam lautan pasir, apalagi belum pasti benar-benar hilang di gurun.
“Tak apa, Aning. Aku akan cari cara sendiri. Jika memang tak bisa ditemukan… ya sudahlah,” ucap Zhang Yue, menatap Zhang Qiling dengan sorot mata penuh penyesalan dan perasaan campur aduk.
“Jangan cemas, Yue. Suatu saat pasti ketemu,” hibur Wu Xie dengan suara serak.
“Hm.” Zhang Yue menatap Wu Xie dan mencoba tersenyum, meski terlihat dipaksakan.
(Bagaimana aku bisa menemukan Mutiara Kenangan itu?)
Berdasarkan pengalamannya sebelumnya, Zhang Yue bertanya dalam hati.
Namun, setelah menunggu lama, tak ada suara yang menjawab. Ia pun jadi kecewa.
(Kadang bisa, kadang tidak.)
Sebenarnya, begitu mendengar Zhang Yue bertanya dalam hati pada sosok misterius itu, Wu Xie dan yang lain jadi tegang. Namun ternyata, kali ini tidak ada jawaban. Mereka pun sedikit lega.
(Aku, Zhang Yue, rela menukar lima tahun umurku dengan satu pil Pemulih.)
Baru saja mereka bernapas lega, mereka dikejutkan oleh ucapan Zhang Yue yang tiba-tiba, hingga tak bisa menyembunyikan ekspresi kaget mereka. Namun, Zhang Yue yang tengah tenggelam dalam pikirannya sendiri tak menyadari hal itu. Malah Aning dan Pan Zi yang memandang heran pada orang-orang yang bereaksi aneh itu.
Niat Zhang Yue itu melintas begitu cepat, mereka pun tak sempat mencegah, hanya berusaha menahan diri agar tak menampakkan keanehan di hadapan Zhang Yue.
[Ding, transaksi berhasil, pil telah ditempatkan di ruang penyimpanan, silakan diambil.]
(Bagaimana aku bisa menemukan Mutiara Kenangan itu?)
Hening, lama sekali. Sinyal terasa seperti lamban sekali, sampai Zhang Yue hampir ingin mengumpat.
(Tidak bisa diandalkan. Lihat saja pilnya.)
Zhang Yue menutup mata, memeriksa ruang penyimpanan. Di rak tempat biasa ia menaruh pil, kini ada sebuah botol porselen biru kehijauan. Ia mengeluarkannya, membuka tutupnya, dan mencium aromanya. Persis seperti pil Pemulih yang pernah ia miliki dulu.
Setelah menutup kembali botol itu, Zhang Yue menyerahkannya kepada Si Buta.
“Obat ini bisa menyembuhkan matamu. Tapi mungkin akan sedikit menyakitkan. Nanti saja minumnya, setelah kita pulang.”
“Pengorbanan apa yang harus kubayar? Apa yang bisa kulakukan untukmu?” tanya Si Buta, kali ini dengan wajah serius.
“Ini hanya bantuan kecil. Kalau kau sungguh ingin membalas budi, nanti kau yang masak nasi goreng daging cabai hijau buatku.”
“Baik, seumur hidupku akan kubuatkan nasi goreng daging cabai hijau untukmu.”
Si Buta menggenggam erat botol porselen itu, lalu tersenyum tulus pada Zhang Yue.
“Seumur hidup, itu waktu yang lama, kau tak takut aku bikin kau bangkrut karena makan terus?”
Zhang Yue bercanda, menunjukkan senyum santai di wajahnya.
“Aku tak takut. Kalau sampai bangkrut, aku akan terus menempel padamu. Waktu itu, Yue, jangan usir aku, ya.”
“Tak akan, tak akan. Kalau aku masih punya sesuap nasi, kau akan selalu dapat bagian—tapi jangan lupa cuci mangkuk, ya. Dijamin tak akan kubiarkan kau menganggur.”
“Puhahahahaha!” Wu Xie akhirnya tak tahan lagi dan tertawa lepas.
“Tuan Buta, kau sudah menyiapkan pekerjaan buat diri sendiri, ya? Kalau tak bisa turun ke lapangan lagi, jadi tukang cuci piringnya Nona Yue saja, hahaha!” Wang Gemuk menimpali dengan nada mengejek, tawanya lepas tanpa beban.
Bahkan Zhang Qiling, Jie Yuhua, Aning, dan Pan Zi pun tak bisa menahan senyum di sudut bibir mereka.
(Nama-nama barang ini, kenapa aku kasih yang sederhana saja? Aku memang tak pandai memberi nama, begini saja cukup. Hehe…)