Bab 41 Jantungnya Sepertinya Benar-Benar Bermasalah...
“Lingling, kapan terakhir kali kamu periksa kesehatan? Apa kata dokternya?”
Zhang Qiling: ...
“Ada masalah di bagian tubuh mana? Jantungmu masih baik-baik saja, kan?”
Zhang Qiling: ................
“Lingling, walaupun kau masih tampak seperti pemuda berusia dua atau tiga puluhan, usia aslimu sudah lebih dari seratus tahun. Biasanya di usia itu sudah masuk kategori lansia panjang umur, jadi kalau ada masalah kesehatan itu wajar saja. Jangan sampai menutupi penyakit ya.”
Zhang Qiling: .......................................................
Zhang Yue masih terus menasihati dengan penuh perhatian, sama sekali tak menyadari bahwa keheningan Zhang Qiling sudah terasa sampai keluar layar. Tapi meski sadar pun, mungkin ia akan mengira bahwa Zhang Qiling sedang kesal karena tersinggung.
Wuxie di sampingnya menahan tawa, menikmati kejadian itu, sementara Aning juga tampak menonton dengan penuh minat. Ling Yao Yao memindai tubuh Zhang Qiling dari atas ke bawah, lalu menganalisis bagian jantungnya secara khusus.
“Jantung berdetak cepat sesaat. Kemungkinan penyakit adalah penyakit jantung, hipertiroid, anemia, atau demam. Dengan melihat kondisinya saat ini, yang paling mungkin adalah anemia.”
“Anemia ya, syukurlah, yang penting bukan sakit jantung.” Mendengar penjelasan Ling Yao Yao, Zhang Yue akhirnya merasa lega. Ia sempat khawatir ada sesuatu yang serius terjadi pada tubuh Zhang Qiling karena perubahan alur yang tak terduga.
“Bukankah aku sudah memberimu pil penambah darah? Sudah kau minum belum?”
Walaupun Zhang Yue salah memahami keadaannya, Zhang Qiling merasa itu tidak masalah. Setelah diam sejenak, ia mengangguk pelan.
“Sekarang minum satu lagi. Tubuhmu mengalami anemia karena terlalu sering kehilangan darah. Meski bisa dipulihkan dengan pil penambah darah, tapi tidak bisa sembuh dalam waktu singkat. Nanti setelah pulang, kau harus benar-benar merawat dirimu.” Zhang Yue mengerutkan dahi, wajahnya penuh kekhawatiran, merencanakan makanan apa yang akan diberikan untuk memulihkan kondisi tubuh Zhang Qiling dengan cepat.
Tiba-tiba teringat sesuatu, Zhang Yue meraih jaket Zhang Qiling, memasukkan tangannya ke dalam saku dan mengeluarkan tiga batang cokelat.
(Aku tadi sudah merasa sakunya agak menggembung, ternyata cokelat yang kuberikan belum dimakan! Atau, dia hanya makan satu, itu pun yang kubukakan kulitnya. Kalau tidak dibukakan, apa dia juga tak akan makan?)
“Kenapa tidak dimakan? Bukankah kau bilang suka?”
“Disimpan.” Zhang Qiling menundukkan pandangan, menghadapi pertanyaan Zhang Yue seperti anak kecil yang berbuat salah.
“Disimpan untuk apa? Makanan seperti ini banyak, nanti setelah keluar bisa beli lagi, tak perlu disimpan khusus. Lagi pula cokelat mudah meleleh, tidak cocok disimpan lama-lama di saku.”
Nada bicara Zhang Yue terdengar sedikit putus asa, tapi lebih banyak rasa sayang. Ia baru sadar kalau Lingling di dunia ini mungkin belum pernah mencoba cokelat sebelumnya, sehingga menganggapnya barang berharga yang jika dimakan sekali, akan habis selamanya.
Zhang Yue mengupas satu per satu cokelat yang sudah mulai lunak dan menyodorkannya pada Zhang Qiling, menyuruhnya makan saat itu juga, sambil tetap menasihati dengan penuh perhatian.
“Nanti setelah keluar, akan kubelikan beberapa batang cokelat untuk kau simpan di kamarmu. Kalau bepergian jauh, bawa beberapa di tasmu. Kalau sudah habis, aku akan...” Sepatah kata terhenti di bibir Zhang Yue, lalu ia mengubah ucapannya, “Kalau habis, suruh Wuxie dan Si Gendut yang menyiapkan. Mereka adalah teman terbaik dan paling bisa dipercaya. Kalau ada masalah, minta bantuan mereka, jangan diam-diam mencoba sendiri.”
Zhang Qiling tahu maksud sebenarnya dari kalimat yang belum selesai itu. Namun meski paham, ia tak bisa mencegahnya. Ia tak ingin Zhang Yue pergi, tapi ia lebih tak ingin melihatnya mati.
Zhang Qiling merasa dadanya sesak, jantungnya seolah terjerat jaring yang terus mengencang, membuatnya sulit bernapas dan terasa nyeri. Mungkin benar, jantungnya memang bermasalah...
Si Buta berteriak memanggil Zhang Yue dan Zhang Qiling, “Hei, kalian berdua, jangan ngobrol terus! Lubangnya sudah terbuka, cepat kemari!”
Mendengar teriakan Si Buta, barulah Zhang Yue sadar entah sejak kapan Wuxie, Aning, dan Ling Yao Yao sudah lebih dulu ke dekat lubang. Kini hanya tinggal ia dan Zhang Qiling di area itu.
“Kami datang!” Zhang Yue menjawab, lalu menoleh kepada Zhang Qiling. “Ayo.”
“Ambil tali, aku dan Saudara Kecil akan turun memeriksa.” Wu Sansheng berkata pada Zhang Qiling yang baru saja mendekat.
Mendengar ucapan Wu Sansheng, Wuxie langsung menahan langkahnya.
Wu Sansheng menatap Wuxie dengan heran. “Ada apa?”
“Aku ikut kalian turun.”
Mendengar permintaan Wuxie, Wu Sansheng menunjukkkan raut tidak senang. “Kau bisa menelusuri jalan? Duduk manis saja di atas!”
“Baik, kau tak izinkan aku turun, berarti tak ada yang boleh turun.”
Si Buta menahan Wu Sansheng yang hendak berdebat dengan Wuxie dan menjelaskan, “Tuan San, keponakanmu itu tidak percaya padamu, khawatir kau kabur.”
Wu Sansheng mengatupkan bibir, lalu mengalah, “Kalau kau tetap mau turun, harus di belakang kami.”
“Aku juga mau turun,” kata Zhang Yue tepat waktu.
“Aku juga mau,” tambah Ling Yao Yao, tak mau berpisah dengan tuannya.
Wah, satu per satu ingin turun. Apa di bawah ada harta karun? Menelusuri jalan itu bukan urusan sepele! Mau mengandalkan banyak orang, ya?
“Si Buta dan aku saja yang turun. Saudara Kecil dan kalian lainnya tunggu di atas.”
Wu Sansheng tahu Zhang Yue ingin turun bersama Saudara Kecil, dan Ling Yao Yao pasti akan ikut Zhang Yue. Selama Saudara Kecil tak turun, jumlah yang ikut bisa berkurang dua orang.
Akhirnya, hanya Wu Sansheng, Si Buta, dan Wuxie yang turun menelusuri jalan. Mereka yang lain menunggu di atas. Tapi tak lama kemudian, terdengar sinyal untuk mereka ikut turun.
Melihat Zhang Qiling turun, Wuxie segera menariknya ke dinding batu yang diberi tanda. “Saudara Kecil, kami menemukan sinyal yang kau tinggalkan di sini. Kau pernah lewat sini?”
Zhang Qiling menatap tanda di dinding batu, merabanya, tapi setelah berpikir lama tetap tak ingat apa pun. Ia hanya bisa menggelengkan kepala dengan bingung.
Wuxie bertanya lagi, “Lalu, apa artinya tanda ini?”
Jawaban yang didapat tetap saja: tidak tahu.
“Yueyue, kau tahu arti simbol ini?” Jie Yuhua berdiri di samping Zhang Yue dan bertanya.
Zhang Yue melirik Jie Yuhua lalu tersenyum, seolah berkata, bagaimana bisa aku tahu kalau Lingling saja tidak tahu. “Lingling saja tak tahu, apalagi aku. Ini bukan tandaku.”
Jie Yuhua takut Zhang Yue menebak sesuatu, jadi ia berpura-pura menjelaskan santai, “Benar juga, aku terlalu jauh berpikir. Kupikir karena kau dan Saudara Kecil sama-sama keluarga Zhang, mungkin ini tanda khusus keluarga Zhang makanya kutanya padamu.”
Zhang Yue tak menanggapi lagi, hanya tersenyum tipis, matanya yang cerah menatap tanda itu lekat-lekat, dalam hati ia sudah punya dugaan.
(Mungkin ini tanda bahaya, tapi di depan memang ada jalan keluar. Mau tidak mau, kita harus melanjutkan.)