Bab 79: Kami Semua Tak Pernah Lupa, Kami Menantimu
"Xiao Ling, berapa lama paling lama dia bisa tinggal di sini?"
Ling Yao Yao pernah bilang bahwa ruang dan waktu akan otomatis memperbaiki kesalahan, namun pasti membutuhkan waktu. Berapa lama waktu terlama itu, ia harus tahu.
"Tiga jam. Dalam rentang waktu itu, bisa saja kembali kapan saja."
Waktu yang ia sebutkan adalah perkiraan ideal. Sebenarnya kemungkinan terbesarnya adalah satu setengah jam, sedangkan setengah jam sisanya hanya memiliki kemungkinan sebesar nol koma nol nol satu persen.
Demi menjaga kestabilan ruang dan waktu, kesalahan tumpang tindih seperti ini akan dikoreksi secepat mungkin. Bagaimanapun juga, ini menyangkut dua ruang waktu yang berbeda. Jika terlalu lama dibiarkan, bukankah seluruh ruang dan waktu akan kacau balau.
"Tiga jam, ya? Tidak apa-apa, itu sudah cukup baik. Kalian semua pergilah beristirahat dulu, aku ingin bersama dia sendirian sebentar."
Meskipun waktunya sedikit singkat, namun waktu yang sedikit ini pun sudah sangat langka, bukan? Kalau bukan karena kejadian tak terduga ini, mungkin mereka baru bisa bertemu setelah waktu yang sangat lama, atau mungkin tidak akan pernah bertemu lagi.
"Baiklah, kalau begitu, A Yue, kami akan beristirahat dulu. Kalian ngobrollah sepuasnya."
Si gendut menepuk bahu Wu Xie, lalu menariknya ke atas. Kakak kecil itu menatap Zhang Yue dalam-dalam, kemudian berbalik naik ke atas, diikuti oleh Ling Yao Yao.
Zhang Yue menarik Zhang Qi Ling ke sebuah tempat untuk duduk. Untuk sesaat, keduanya terdiam tanpa berkata sepatah kata pun. Zhang Yue menengadah menatap bulan purnama yang terang di langit, sementara Zhang Qi Ling hanya menatapnya dalam diam.
"Kau tahu tidak, waktu aku pertama kali datang ke ruang waktu ini, aku jatuh dari langit." Zhang Yue tiba-tiba membuka suara, menceritakan bagaimana ia sampai di sini.
"Waktu itu hatiku panik sekali, kupikir jatuh dari ketinggian begini, kalau tidak mati pasti luka parah. Tapi ternyata tidak terjadi apa-apa, kau yang menangkapku di sini." Zhang Yue tersenyum menatap Zhang Qi Ling, lalu melanjutkan, "Waktu pertama kali melihatmu, aku sangat gembira. Tapi kau yang di sini, juga Wu Xie dan yang lain, tidak mengenaliku sama sekali. Tatapan dan kata-kata asing dari kalian membuat hatiku terasa sangat dingin. Waktu itu aku berpikir, baru sepuluh tahun saja, kalian sudah melupakanku! Sakit hati dan kesal bercampur jadi satu."
"Tidak lupa. Aku, Wu Xie, Gendut, Si Buta, Xiao Hua, Xiu Xiu, A Ning, Yun Cai, dan banyak lagi, kami semua tidak lupa. Kami semua menunggumu."
Zhang Qi Ling membayangkan kejadian saat itu, hatinya terasa nyeri. Ia tahu betapa takutnya Zhang Yue akan dilupakan. Pasti saat itu ia sangat sedih.
"Aku tahu kok, kalian adalah orang-orang terdekatku, mana mungkin kalian melupakanku. Setelah aku tahu keadaan sebenarnya, aku tidak marah lagi, hanya ingin mencari tahu situasi, lalu berpikir bagaimana caranya kembali. Sekarang aku juga sudah tahu caranya pulang. Meski kau tidak datang kali ini, tidak lama lagi aku pasti akan kembali."
Nada Zhang Yue ringan dan jenaka saat menceritakan keadaannya di sini. Dia tidak mengatakan bahwa keadaannya di ruang waktu ini sangat berbahaya, tidak juga menceritakan penderitaan yang ia alami demi melindungi mereka yang ada di sini, apalagi memberitahu bahwa untuk bisa pulang ia harus menghadapi risiko nyawa.
Semua itu tidak penting. Meski diungkapkan, apa gunanya? Hanya akan membuatnya cemas dan sedih. Nanti setelah ia kembali, masih banyak waktu untuk bercerita soal keluh kesahnya. Sekarang, cukup berkata-kata yang bisa menenangkannya saja...
Zhang Qi Ling juga menceritakan sedikit keadaannya, "Sudah lama aku tidak pulang ke rumah kecil itu. Aku terus berada di jalan mencarimu. Sudah banyak tempat yang aku datangi, tapi tetap tak menemukanmu."
"Sudah beda ruang waktu, mana mungkin bisa ketemu. Selama ini pasti kau tidak makan dan tidur dengan baik, lihat saja wajahmu yang lelah, tubuhmu juga makin kurus. Nanti setelah pulang, makanlah yang benar, tidur yang cukup, tunggu aku pulang dengan sabar, dengar, ya?"
"Iya."
"Sudah begitu lama kau tidak pulang, pasti rumah kecil itu sudah penuh rumput liar. Meja pun pasti sudah berdebu. Ayam yang kau pelihara gimana? Diberikan ke orang atau sudah mati kelaparan?"
"Nanti aku akan bereskan kalau pulang. Ayam-ayamku sudah aku titipkan ke Wu Xie dan Gendut."
"Wu Xie kan punya anjing! Kau tidak takut ayam peliharaanmu dimakan sama anjingnya?"
"Gendut akan menjaga mereka."
...
Seharusnya sudah kembali ke kamar, Kakak Kecil kini berdiri di sudut lorong, tubuhnya tersembunyi dalam kegelapan, sepasang matanya yang dalam menatap diam-diam ke arah mereka berdua di bawah cahaya lampu temaram.
Saat itu, dia benar-benar mirip seorang pengintai, mengintip kebahagiaan milik orang lain.
Tapi bukankah mereka sebenarnya adalah orang yang sama? Anggap saja ia juga pernah diperlakukan seperti itu...