055: Menerima Pekerjaan Sulam Atau Tidak
Perempuan paruh baya itu buru-buru menjelaskan, "Maafkan saya, Nona. Begini, saya adalah pemilik Toko Sulam Jinxiu. Saya melihat sulaman pada pakaian Nona sungguh hidup dan sangat indah, jadi saya ingin tahu siapa pembuatnya dan meminta tolong kepadanya untuk menyulam sekat ruangan."
Sambil berkata demikian, perempuan itu berbalik dan menunjuk ke sebuah toko yang berada tepat di seberang Rumah Makan Xiangfu, lalu berkata, "Nah, itu toko saya. Sekat ruangan itu dipesan oleh para pejabat tinggi dan bangsawan, dan persyaratannya sangat ketat. Jika karya itu memenangkan hati mereka, saya tidak perlu lagi khawatir tidak mendapat pesanan di masa depan. Tentu saja, saya tidak akan meminta bantuan secara cuma-cuma, saya akan membayarnya dengan perak."
Tak lama kemudian, sebuah mantra ia layangkan ke arah Jimat Teratai Hijau yang melayang di udara, dan permukaan jimat itu memancarkan bayangan cahaya berupa kuncup bunga teratai hijau.
Ugh! Kura-kura raksasa itu mengaum dan menerjang harimau raksasa. Kecepatannya tidak lambat, namun harimau raksasa itu sedikit lebih lambat sehingga terhempas oleh hantaman kura-kura raksasa tersebut.
Alis Xuan Yuan Tian Yue sedikit berkerut, la melirik sesaat ke arah sesosok makhluk rapuh di dalam dekapannya, yang di dalam matanya seolah terkumpul berbagai macam emosi.
Saint Loye menggigit Buah Tian Luo. Rasanya hambar, buah itu mengalir ke dalam perut bagaikan cairan, lalu berubah menjadi aliran udara yang bersirkulasi di dalam tubuh. Saint Loye dapat merasakan luka-lukanya perlahan-lahan pulih.
"Yin'er, kau baru saja sadar, beristirahatlah dengan baik," ucap Xue Yusheng seraya memimpin romongan keluar. Xue Huanyin berbaring di atas tempatan dengan pikiran yang berkecamuk, ia masih mengenang berbagai kejadian di masa lalu.
Rakyat yang terperanjat melihat seorang jenderal muda bertubuh tegap mengenakan zirah perak menarik kendali kudanya di bawah gerbang kota.
Namun, topik percakapan paling menarik selama Konferensi Pedang dan Golok bukanlah hal tersebut, melainkan dua diskusi tentang ilmu pedang yang diam-diam terjadi di dalam Kediaman Penguasa Kota.
Kali ini, kedua orang tua Xu Yang mengizinkannya untuk minum anggur, sungguh-sungguh mewujudkan sebuah harapan yang telah lama tersimpan di dalam lubuk hati Xu Yang.
Di dalam Gua Sejuta Hantu, energi ungu bergolak, tangisan hantu melengking, tanah hancur berhamburan, dan kawasan seluas seratus mil di sekitarnya ambles ke bawah, bagaikan naga gempa bumi yang sedang menggeliat.
Sebab belati terkutuk itu adalah pusaka turun-temurun keluarganya, kedahsyatan apa yang dimilikinya adalah hal yang paling ia ketahui, mustahil hal semacam itu bisa terjadi.
"Aku dengan tulus mengundangmu dan... siapa nama pria yang pergi bersamamu itu? Aku cukup menyukainya," kata Leng Aobai sambil tersenyum.
Qin Wanyan berbaring miring di atas ranjang tanpa bersuara, sepasang matanya yang berair menatap lekat-lekat ke kedua mata Ye Xun. Sesaat kemudian, tatapan itu tampak diselimuti oleh lapisan uap air.
Tepat pada saat ini, seseorang membocorkan kabar bahwa dalam waktu sepuluh menit, identitas sebenarnya di balik pendukung kuat Xu Jian akan diungkap kepada publik.
Sambil berbicara, Wei Wei berbalik dan langsung pergi. Li Yi, Zhao Li, dan yang lainnya saling bertukar pandang, lalu mengekor di belakangnya.
Ye Xun pun telah menduga akan muncul reaksi serupa. Jika ia hanya bertanya atas dasar rasa penasaran, ia mungkin akan diusir saat itu juga. Namun, ada beberapa pertanyaan yang harus diajukan, sekalipun hal itu mungkin mengungkit kembali luka orang lain yang masih terasa nyeri.
Di bawah pohon sakura, semua orang telah bersama-sama membentangkan selembar kain sutra yang sangat besar, lalu mengeluarkan berbagai benda dari dalam bungkusan besar itu.
"Masalahnya jauh lebih serius daripada masalahmu," mata Kepala Sekolah Chen menyipit. Sikap bicara Xu Que sempat membuatnya merasa seolah-olah ia tidak sedang menghadapi seorang anak kecil, melainkan seorang orang dewasa.
Di permukaan laut yang sebelumnya selalu diselimuti kabut tebal, kapal-kapal juga kerap kali muncul dari waktu ke waktu, bagaikan para utusan yang datang dari neraka kegelapan.
Luka-luka di tubuh Xu Jian sudah hampir diobati. Sebelumnya ia tidak merasakan apa-apa, tetapi sekarang begitu duduk di atas sofa, ia merasa sekujur tubuhnya terasa sakit. Jika bukan karena menunggu Xiao Yucheng, ia bahkan bisa langsung tertidur puluhan kali sambil duduk.
Pendatang baru itu juga seorang pemuda tampan, tetapi dibandingkan dengan Shen Qinghong, penampilan maupun auranya jauh tertinggal.
"Tenang saja, Pengacara Zhao, saya selalu menghargai waktu, dan saya tidak akan pernah mengingkari janji," ujar Lu Qingqing.
Namun, ia tidak boleh membiarkan Jiang Fuyu menyadari situasinya saat ini; ia harus menyembunyikan rencananya dari Jiang Fuyu.
Hu Pan sudah sangat lama tidak menghadiri perkumpulan *Infinite Love*. Pada awalnya ia merasa sedikit canggung dan khawatir orang-orang akan memandangnya dengan tatapan aneh. Belakangan ia menyadari bahwa semua orang tetap bersikap seperti biasa terhadapnya, kecuali Jiang Chengzi yang sedikit sinis, sehingga ia pun merasa jauh lebih tenang.
Jiang Fuyu tidak sepenuhnya menyetujui pemahaman Zhou Xiao. Ia tidak membantah, melainkan memeluk kedua lututnya sementara berbagai suara aneh terus berdengung di telinganya, dan rasa takut perlahan-lahan merayap memenuhi hatinya.