Bab Dua Puluh Satu: Dia Sangat Menyukai Adik Perempuannya Ini
Halaman (1/3)
“Kakak cantik, apa Kakak juga sedang sedih?” Manis sangat peka terhadap perasaan orang lain. Ia menyodorkan permen susu yang hendak dimasukkannya ke mulut kepada Zhou Yi. “Kakak cantik, makan permen ini. Setelah makan permen, Kakak pasti senang.”
“Anak baik.” Mendengar Manis terus memanggilnya kakak cantik, Zhou Yi tersenyum. “Namaku Zhou Yi. Mulai sekarang, panggil saja aku Kak Zhou.”
Manis mengangguk. “Kak Zhou.”
Zhou Yi mencubit pipinya yang lembut dan tembam. “Anak pintar.”
Sebenarnya, Zhou Yi tidak terlalu menyukai anak-anak. Terlebih lagi, setelah beberapa tahun membantu Ilair mengurus Anno, ia semakin tidak menyukai mereka.
Namun, melihat Manis yang begitu penurut, ia tiba-tiba merasa bahwa anak-anak adalah makhluk paling menggemaskan di dunia.
Baru saja selesai mengagumi hal itu, Zhou Yi melihat Anno menatap permen yang diberikan Manis kepadanya. Ekspresinya seolah berkata bahwa kalau Zhou Yi berani memakannya, ia akan langsung membuat keributan.
Seketika itu juga, Zhou Yi merasa anak-anak sama sekali tidak menggemaskan.
Anno terutama.
Ia melirik Ilair yang sudah berjalan menjauh, lalu menjentik dahi Anno dengan jarinya. “Kalau adik perempuan memberimu sesuatu, terima. Kalau tidak, nanti dia tidak akan memberimu apa-apa lagi.”
Anno menutupi dahinya dan berkata kesal, “Sudah berapa kali kubilang, jangan menjentik dahiku.”
“Aku tidak menjentik. Cepat terima permen dari adikmu.” Zhou Yi menggendong Manis dan menggoyangkannya sedikit, lalu menakut-nakuti Anno, “Kalau kau tidak mau, adik ini akan menjadi adik keluarga lain, lho.”
Zhou Yi tahu identitas asli Manis. Ayah kandung Manis bukan hanya musuh bebuyutan sang bos besar, kakaknya, Lu Yunyi, juga merupakan musuh bebuyutan bos kecil itu.
Anno sering berkelahi dengan Lu Yunyi di taman kanak-kanak. Apa pun selalu ingin dibandingkan dengannya.
Zhou Yi berpikir, kalau Anno tahu bahwa adik ini sebenarnya adalah adik Lu Yunyi, ck ck ck... bocah sombong itu pasti akan bingung setengah mati.
Bos kecil ini memang berkepribadian mirip Ilair—dingin dan pendiam. Kalau tidak diam, sekali membuka mulut ia selalu membuat orang ingin menyumpal mulutnya. Namun, ia masih terlalu kecil untuk menyembunyikan perasaannya. Semua yang dipikirkannya terpampang jelas di wajah.
Siapa pun yang mengenalnya akan bisa melihat bahwa ia sangat menyukai adik ini.
Anno menatap Zhou Yi dengan kesal karena ia dipukul tetapi Zhou Yi tidak mau mengakuinya. “Ya sudah, kuterima.”
Ia mengulurkan tangan kepada Manis. “Berikan permennya kepadaku.”
Manis sudah memasukkan permen itu ke dalam mulutnya. Begitu melihat Anno menginginkannya, ia tidak berpikir panjang. Ia mengeluarkan permen itu dari mulutnya dan menyodorkannya kepada Anno.
Anno menatap permen susu yang basah di telapak tangannya.
“...”
Zhou Yi tidak kuasa menahan tawa. Melihat ekspresi Anno, ia bahkan tertawa sampai terpingkal-pingkal. “Manis, aduh... kau baik sekali kepada kakakmu ini.”
Anno memasukkan kembali permen itu ke tangan Manis. “Makan sendiri! Jangan berikan kepadaku sesuatu yang sudah kau makan. Menjijikkan!”
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
Zhou Yi berdecak. Dengan mulut seperti itu, kalau Anno adalah anaknya, ia pasti sudah menghajarnya.
“Tidak menjijikkan, kok.” Manis sama sekali tidak marah. Ia bahkan bertanya kepada Anno, “Kakak masih mau permen?”
Sambil berkata begitu, ia mengusap permen itu pada bajunya, lalu kembali menyodorkannya kepada Anno. “Kakak, sudah tidak ada air liurnya. Sudah Kakak bersihkan.”
Anno menatap tindakannya. Tenggorokannya terasa seperti tersumbat sesuatu. Untuk sesaat, ia tidak tahu harus berkata apa. Rasa bersalah perlahan muncul di dalam hatinya, dan ia mulai menyesali perkataannya tadi.
“Anak baik, jangan pedulikan dia. Makan sendiri saja.” Zhou Yi meraih tangan Manis dan memasukkan permen itu kembali ke mulutnya, sama sekali tidak merasa kasihan kepada Anno.
Manis merogoh sakunya dan mengeluarkan sebutir permen, lalu menyodorkannya kepada Anno. “Kakak, aku masih punya permen.”
Permen itu diselipkan Konni ke dalam sakunya sebelum mereka berangkat.
Kali ini Anno menerima permen itu dan berkata dengan muram, “Aku tidak bermaksud meremehkanmu.”
Zhou Yi agak terkejut mendengar penjelasannya.
Manis berkata, “Aku tahu Kakak tidak akan meremehkanku.”
Alis Anno yang semula berkerut pun mengendur. Ia memasukkan permen itu ke dalam saku.
Saat itu, Ilair sedang membawa laporan pemeriksaan Manis ke meja depan untuk melakukan pendaftaran.
Perawat di meja depan menerima laporan yang disodorkan Ilair dan membolak-balik beberapa halaman itu dengan cepat. “Anak yang diadopsi dari pusat kesejahteraan... Manis... tiga tahun...”
Sambil membaca, perawat itu memasukkan data ke layar terminal. Ia mengangkat kepala dan bertanya, “Apakah sebelumnya sudah membuat janji?”
Ilair menjawab, “Sudah.”
Perawat itu melirik Ilair, lalu kembali menunduk untuk bekerja. Tiba-tiba gerakannya terhenti. Ia kembali memandang Ilair dengan mata sedikit membesar, tetapi segera menundukkan kepala ketika tatapan Ilair menyapu ke arahnya.
Rekan perawat di sebelahnya juga menunjukkan ekspresi yang sama.
Setelah saling bertukar pandangan penuh gosip, keduanya segera kembali serius mengerjakan tugas masing-masing. Mereka tidak berani bergosip selama jam kerja.
Selama seseorang menggunakan internet, tidak mungkin ia tidak mengenal Ilair.
Bagaimanapun, ia adalah tokoh yang sangat terkenal. Terutama dalam beberapa tahun terakhir, ia kerap muncul di berbagai kanal militer dan sejumlah acara komentar yang cukup berani. Ia adalah sosok yang akan dihindari orang-orang ketika terlihat terang-terangan, tetapi ramai dibicarakan secara diam-diam.
Ia juga sering membawa putranya ke rumah sakit anak ini, sehingga para dokter dan perawat yang telah lama bekerja di sana sudah mengenalnya. Itu bukan hal yang aneh.
Namun, laporan yang diserahkan Ilair kali ini memuat informasi tentang anak lain.
“Anda wali anak ini?” Perawat itu memandangi laporan dari pusat kesejahteraan anak di tangannya, lalu bertanya kepada Ilair. Tanpa sadar, suaranya terdengar hormat dan sedikit gugup.
Ilair mengangguk tipis.
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
Mendengar jawaban itu, kedua perawat diam-diam terkejut. Ilair ternyata mengadopsi anak lagi?
Jaksa yang di internet dijuluki Raja Iblis ini tampaknya bukan orang yang menyukai anak-anak.
“Permisi, apakah anak ini sudah memiliki nama resmi?” Perawat itu memandangi kolom nama anak pada formulir pendaftaran, lalu kembali bertanya kepada Ilair.
Manis jelas merupakan nama panggilan, dan nama panggilan seperti itu sangat umum.
Ilair terdiam sejenak. “Untuk sementara, dia belum memiliki nama. Aku juga belum menjadi wali resminya.”
Perawat itu tidak kuasa menahan diri untuk bertanya lebih jauh, “Sebelumnya, dia juga tidak memiliki nama resmi?”
Ilair menjawab, “Tidak. Apakah nama panggilan tidak boleh didaftarkan?”
Mendengar nada dinginnya, hati perawat itu menegang. “Boleh, tentu saja boleh. Hanya saja, kami perlu memeriksa riwayat medis anak ini. Dengan adanya catatan medis, kami bisa lebih memahami kondisinya dan melakukan pemeriksaan dengan lebih baik. Jika ini adalah kunjungan pertamanya ke rumah sakit, nama resmi juga akan memudahkan kami membuat rekam medis.”
Setelah mendengarnya, Ilair berkata, “Dia tidak memiliki riwayat medis.” Ia sudah lebih dahulu mencari nama Manis semalam.
Perawat itu berkata, “Kalau begitu, untuk sementara kami akan membuat rekam medisnya dengan nama Manis. Nantinya Anda bisa mengganti nama anak ini, hanya saja prosesnya akan sedikit lebih merepotkan.”
Ilair mengangguk. “Aku mengerti.”
“Baik, Anda sudah bisa membawa anak itu masuk untuk diperiksa.” Perawat tersebut menyerahkan selembar formulir pemeriksaan kepada Ilair, lalu berdiri. “Silakan ikut saya.”
Ilair membawa formulir pemeriksaan itu, lalu memanggil Zhou Yi dan Anno.
Zhou Yi melirik daftar pemeriksaan yang panjang di tangannya. “Wah, harus menjalani sebanyak ini?”
Meskipun selama beberapa tahun ia membantu sang bos mengurus anak, setiap kali datang ke rumah sakit, ia selalu langsung membawa Anno ke departemen perubahan wujud untuk mendapatkan suntikan penekan.
Selain itu, Anno hampir tidak pernah mendatangi departemen lain di rumah sakit. Hanya satu atau dua kali, ketika ia berkelahi terlalu sengit dan dicakar anak lain yang mengalami mutasi, Zhou Yi membawanya ke rumah sakit untuk mendapat beberapa jahitan.
Ini pertama kalinya Zhou Yi melihat seorang anak harus menjalani pemeriksaan sebanyak itu.
Mendengar perkataannya, perawat tersebut menjelaskan, “Anak-anak dari pusat kesejahteraan, terutama yang baru saja diselamatkan, berbeda dari anak-anak lain yang sejak kecil dirawat oleh orang tua mereka. Mereka membutuhkan beberapa pemeriksaan khusus.”
Halaman (3/3)