Bab Dua Puluh Sembilan: Mengaktifkan Kemampuan
Ang-nuo segera maju untuk membantu Tian-bao berdiri, namun gadis kecil itu sudah lebih dulu bangkit dari lantai.
"Apa kau terluka?!" Ang-nuo meraih tangan Tian-bao dengan cemas.
"Tidak, tidak apa-apa." Tian-bao menepuk-nepuk tangannya, lalu mengarahkan pandangan ke area jungkat-jungkit, "Kakak, Kakak, ayo kita main itu."
Namun, Ang-nuo justru menarik Tian-bao mundur dan menyembunyikannya di balik punggungnya. Ia mengerutkan kening menatap dua anak laki-laki yang menghalangi jalan mereka.
"Minta maaf," ucapnya tegas.
Bax dan Di-luo bersedekap, menatap kakak beradik itu dengan ekspresi serupa.
"Minta maaf? Dia sendiri yang menabrak kami," ujar Di-luo sambil mengangkat dagu ke arah Ang-nuo.
Bax menatap bocah kecil yang mengintip dari balik punggung Ang-nuo, lalu berkata, "Kami bisa minta maaf, tapi suruh dia keluar. Kami menabrak dia, bukan kau."
Ang-nuo tidak akan membiarkan adiknya dilihat oleh mereka, tetapi rasa kesal membuncah di dalam hatinya karena mereka tidak mau meminta maaf.
"Kalian sengaja, kan," kata Ang-nuo. Berdasarkan pengalaman dan konflik masa lalu dengan si kembar, ia menduga mereka memang sudah menunggu di sana.
Di-luo yang mewarisi sifat ayahnya bersikeras tidak mau mengaku, "Siapa bilang kami sengaja? Memangnya hanya kalian yang boleh datang ke sini?"
Bax juga mengikuti ajaran ayahnya, "Kami sering datang ke restoran ini, hanya kebetulan bertemu kalian."
Ang-nuo yang cerdas tidak percaya begitu saja, "Kalian membuntuti kami?" Jika tadi pagi mereka bertemu di tempat parkir rumah sakit mungkin itu kebetulan, tapi sekarang ia tidak mempercayainya sama sekali.
"Siapa yang membuntuti kalian!" Di-luo mengangkat dagunya seperti ayam jago kecil, "Sudah dibilang kebetulan, kau tahu arti kebetulan tidak?"
Ang-nuo tidak ingin membuang waktu berdebat, ia menegangkan wajahnya dan berkata, "Minta maaf pada adikku."
Si kembar merasa iri saat mendengar sebutan "adikku".
"Dia benar-benar adikmu?" Di-luo maju ingin menarik Tian-bao untuk melihatnya lebih jelas, namun Ang-nuo mendorongnya, "Jangan sentuh dia."
Bax menimpali, "Melihat saja tidak boleh, jangan-jangan dia bukan adikmu?"
Tian-bao bersuara lantang, "Aku adalah adik Kakak!"
Mendengar itu, kemarahan di mata Ang-nuo sedikit mereda. Ia berkata pada si kembar, "Kalau tidak minta maaf padanya, besok aku akan menghajar kalian di sekolah."
Ang-nuo tidak ingin berkelahi di sini karena ada Tian-bao, ia khawatir adiknya akan terluka. Si kembar langsung menyingsingkan lengan baju mereka. Sejak hari pertama masuk taman kanak-kanak, mereka sudah sering berkelahi dengan Ang-nuo. Selama dua tahun ini, mereka bersama Lu Yun-yi sudah tak terhitung berapa kali bertarung dengannya.
"Memangnya kami takut? Ayo!" Di-luo menatap Tian-bao di belakang Ang-nuo, "Kalau kami menang, jangan jadi adiknya. Jadilah adik kami."
Tian-bao menatap mereka dengan mata bulatnya, lalu menatap Ang-nuo. Ia memeluk lengan kakaknya dan menggeleng, "Aku mau Kakak, aku tidak mau jadi adik kalian. Kalian tidak boleh menindas kakakku!"
Di-luo mengerucutkan bibir dengan kesal, "Apa bagusnya dia? Saat dia berubah wujud, dia sangat menakutkan. Hati-hati, nanti kau malah digigitnya."
Bax menambahkan, "Jadilah adik kami, kami akan memperlakukanmu lebih baik darinya."
Dua pelayan yang berjaga di dekat sana merasa serba salah melihat anak-anak itu berebut adik, namun karena takut mereka benar-benar berkelahi, mereka segera mengaktifkan terminal untuk menghubungi staf lain agar memberitahu para orang tua.
"Kakak sangat baik," sahut Tian-bao, "Kakak tidak akan menggigitku, dan aku tidak akan membiarkan Kakak berubah wujud."
Ang-nuo merasa haru sekaligus hangat karena Tian-bao terus membelanya. Kemarahannya pun mereda. Ia tidak ingin meladeni si kembar lagi, lalu menarik tangan Tian-bao untuk pergi, "Ayo kita cari jalan lain, jangan pedulikan mereka."
"Tidak boleh pergi!" Si kembar memang penasaran dengan adik yang tiba-tiba muncul ini. Salah satu dari mereka berlari menghalangi jalan, sementara yang lain menarik lengan Tian-bao.
Melihat Bax menarik Tian-bao, mata Ang-nuo berubah menjadi pupil vertikal. Ia mendorong Bax dengan kuat hingga bocah itu jatuh terduduk. Melihat Ang-nuo menyerang, Di-luo pun membalas dengan kepalan tangannya.
Si kembar juga memiliki gen perubahan wujud, dan semakin muda usia mereka, semakin sulit mengendalikan emosi. Para pelayan yang berjaga segera bertindak. Mereka tidak mencoba memisahkan, melainkan dengan sigap menggendong Tian-bao menjauh dari "medan perang" dan mengevakuasi anak-anak lain agar tidak terkena imbasnya.
Dalam sekejap, ketiga anak itu sudah saling baku hantam. Anak-anak lain yang menonton juga memiliki gen serupa dan sudah terbiasa dengan pemandangan perkelahian, sehingga mereka hanya menonton dengan antusias.
"Jangan pukul Kakak!" Tian-bao cemas melihat kakaknya diserang. Bunga kecil di atas kepalanya bergoyang, dan ia pun mengaktifkan kemampuan hipnosisnya.
Kemampuannya belum bisa ditargetkan pada satu orang saja; sekali diaktifkan, ia akan menghipnosis makhluk hidup dalam radius tertentu.
Baru saja si kembar berhasil menindih Ang-nuo, pandangan mereka mulai kabur. Kaki mereka terasa ringan, namun kepala mereka menjadi sangat berat. Ang-nuo dan anak-anak lain pun terkena efek yang sama.
Saat I-lair dan yang lainnya tiba, mereka mendapati anak-anak di area istirahat berjatuhan seperti kartu domino. Bahkan pelayan yang menggendong Tian-bao pun limbung dan mulai terhuyung-huyung. I-lair segera menangkap Tian-bao sebelum pelayan itu jatuh.
"Apa yang terjadi?" Kai-ao terbelalak melihat anak-anak yang tertidur di lantai.
"Habislah kau," gumam Zhou Yi melihat pemandangan itu. Ia tahu kemampuan Tian-bao; pasti gadis kecil itu merasa terancam sehingga mengaktifkan kekuatannya.
I-lair menatap si kembar yang tergeletak di samping Ang-nuo dan segera memahami situasinya. Ia menarik napas panjang dan melirik Kai-ao dengan dingin.
"Ayah, mereka menindas Kakak," Tian-bao memeluk leher I-lair, menyadari mungkin ia telah melakukan kesalahan, "Aku tidak mau mereka memukul Kakak, jadi aku membuat mereka tidur."
"Jangan takut," I-lair menenangkannya, lalu meminta Bruce dan Zhou Yi segera menangani situasi.
Tak sampai dua menit, orang tua anak-anak lain dan penanggung jawab restoran datang berlarian. Mereka bingung melihat anak-anak yang pingsan. Saat Bruce dan Zhou Yi hendak bertindak, anak-anak itu mulai terbangun satu per satu sambil menguap.
Zhou Yi menduga kemampuan Tian-bao kurang kuat sehingga anak-anak itu terbangun saat diguncang oleh orang tua mereka. Ia memberi kode pada Bruce. Bruce mengerti, ia segera mengangkat Ang-nuo dan menepuk debu di pakaiannya sambil berseru keras, "Anak siapa ini yang punya kemampuan? Apa tidak perlu dibawa untuk disuntik penawar?"
Zhou Yi menyenggol Kai-ao. Kai-ao sadar ia sedang disindir. Mau tidak mau, karena putranya yang memicu masalah, ia menggendong salah satu anak dan berkata, "Maaf, maaf, itu anak saya. Saya sedang berencana membawanya ke rumah sakit setelah makan."