Bab 31 Pertemuan Tak Terduga Menjadi Dunia Berdua
Halaman (1/3)
“Tak usah, nanti hanya membuang uang,” elaknya.
“Justru harus! Kenapa tidak?” Qin Hao ikut menyemangati.
“Kau juga mau ditemani seorang gadis?” Melihat wajah Qin Hao yang begitu bersemangat, aku menambahkan, “Sebentar lagi sepertinya Meizi akan datang memeriksa.”
Seketika semangatnya mengempis.
Nyanyian Tuan Luo ternyata lumayan bagus. Ia berduet dengan si gadis kecil dengan penuh penghayatan, membuat Qin Hao yang duduk di samping hanya bisa melotot iri. Campuran iri, cemburu, dan kesal.
Telepon di sakuku bergetar. Aku membuka pintu dan berjalan ke ujung lorong untuk menjawabnya. Sambil sedikit menggeser kaki di tempat, aku berbalik—dan sesaat kulihat sosok yang kukenal melintas, lalu menghilang.
Orang itu agak mirip Luo Lin. Jangan-jangan dia juga sedang bernyanyi di sini?
Aku berpura-pura hendak pergi ke toilet, lalu berjalan perlahan ke depan. Dari kaca selebar telapak tangan yang terpasang di pintu, aku mengintip satu per satu ruangan karaoke. Benar saja, di salah satu ruangan kulihat seorang gadis yang sangat mirip Luo Lin, duduk sendirian.
Aku tak berani berhenti. Setelah berputar mengelilingi lorong, aku kembali dan mengintip ke dalam sekali lagi. Kali ini ia sedang menatap layar dengan penuh perhatian, sehingga wajahnya terlihat jelas. Di dalam ruangan itu hanya ada dia seorang.
Tak salah lagi, itu memang dia. Meski hanya sekilas, dalam cahaya temaram aku bisa melihat kesedihan di wajahnya.
Dengan siapa Luo Lin datang? Mengapa ekspresinya seperti itu?
Aku berdiri di lorong, menatap pintu ruangannya. Aku ingin tahu orang macam apa yang akan masuk ke sana.
Lebih dari sepuluh menit berlalu, tetapi tak seorang pun keluar-masuk.
Setelah berpikir sejenak, aku berbalik kembali ke ruangan kami. Aku membisikkan beberapa patah kata kepada Qin Hao, lalu pergi. Wajah Qin Hao langsung dipenuhi rasa ingin tahu dan senyum nakal.
Saat kembali melewati ruangan Luo Lin, ia masih sendirian. Aku mengangkat tangan dan mengetuk pintu.
Luo Lin menatapku dengan terkejut. Namun, mungkin karena ia sudah minum, tatapannya tidak setajam biasanya.
“Luo Lin. Ternyata benar kau!” seruku lebih dulu.
“Bagaimana kau bisa mengikutiku sampai ke sini?” Luo Lin mengerutkan kening.
“Nona Besar, kau terlalu banyak berpikir.” Aku tersenyum. “Tadi ketika pergi ke toilet, aku melihat seseorang yang mirip denganmu. Aku sendiri merasa agak tak percaya. Sekarang, saat keluar untuk menerima telepon, kulihat lagi—ternyata memang kau.”
Luo Lin tidak berkata apa-apa. Jelas sekali maksudnya: lalu?
Aku memperhatikan bahwa di sofa hanya tergeletak sebuah tas tangan wanita berwarna kuning tua. Tak ada tanda-tanda keberadaan orang lain.
“Kau sendirian?” tanyaku.
“Hmm. Memangnya kenapa?”
“Ada beberapa teman kami di ruangan sebelah. Mau bergabung agar suasananya sedikit lebih ramai?” tanyaku sengaja.
Halaman (1/3)
“Tidak.” Luo Lin mengerutkan kening.
Tanpa menunggu jawabannya lebih jauh, aku langsung duduk.
“Ketua Luo, melelahkan sekali terus-menerus bersikap waspada terhadapku,” kataku keras.
Luo Lin tidak menjawab.
Saat itu, musik dari lagu yang ia pilih mulai terdengar.
Itu lagu Liang Jingru berjudul “Sayang, Bukan Kau”.
Sayang, bukan kau
Yang menemaniku hingga akhir
Kita pernah berjalan bersama
Namun tersesat di persimpangan
Terima kasih, karena pernah
Kau genggam tanganku
Sehingga masih dapat kurasakan
Kelembutan itu
Luo Lin sepenuhnya larut dalam nyanyian.
Suara nyanyiannya lembut dan jernih. Ia membawakan lagu itu dengan lirih dan penuh perasaan, seperti seorang perempuan yang pernah terluka, memanggil kekasihnya dari lubuk hati. Seluruh ruangan dipenuhi kesedihan yang sarat kepahitan, duka yang mencengkeram hati, dan rasa sakit.
Di bawah cahaya yang berkabut, sepasang matanya yang bening diselimuti kabut tipis. Wajahnya tampak lembut dan rapuh, seperti bunga indah yang diterpa hujan dan badai. Setiap lelaki yang melihatnya pasti akan merasa iba, ingin menyentuh dan melindunginya. Aku pun tak terkecuali.
Mungkin inilah Luo Lin yang sebenarnya—Luo Lin yang membuat orang merasa iba. Selama ini, yang ia tunjukkan hanyalah cangkangnya.
Yang ia dambakan hanyalah sepasang telapak tangan hangat milik kekasihnya, pelukan, dan ciuman.
Luo Lin yang duduk di hadapanku membuat pikiranku sedikit menerawang. Seolah-olah yang sedang duduk di depanku dan memanggil namaku saat ini adalah Xiyue, yang memikatku agar memeluknya erat-erat, memberinya bahu untuk bersandar dan pelukan yang aman.
Musik perlahan berakhir, dan mataku terasa panas.
Luo Lin meraih botol arak dan menenggaknya. Aku segera mengulurkan tangan dan merebutnya.
“Minumlah pelan-pelan,” kataku lembut.
Ia tetap membisu. Aku pun mengambil sebotol arak untuk menemaninya minum.
Sepertinya, hanya dalam waktu sesingkat itu, aku telah mengintip kehidupan pribadi dan rahasianya. Pemahamanku terhadap perempuan ini pun menjadi jauh lebih dalam.
Lagu-lagu yang dipilih Luo Lin semakin menyedihkan. Ia juga minum semakin banyak dan bernyanyi dengan hati yang kian hancur. Pada akhirnya, aku menekan tombol jeda.
“Di sini terlalu pengap. Mari kita keluar berjalan-jalan.”
Halaman (2/3)
Ia tidak mengatakan setuju ataupun menolak. Ia hanya meraih tasnya dan bangkit berdiri.
“Araknya.” Ia menatap botol-botol yang belum dibuka di atas meja.
“Akan kubawa,” kataku.
Jumlah orang di jalanan sudah berkurang, tetapi kendaraan masih berlalu-lalang. Udara membawa sedikit rasa pengap, bercampur bau gas buang kendaraan.
“Aku akan membawamu ke tempat yang tenang. Bagaimana?” tiba-tiba aku menoleh kepadanya.
“Baik.”
Kuduga, saat ini ia juga tidak ingin pulang.
Aku memanggil taksi dan membawa kami ke Xiaomeisha.
Di pantai pada tengah malam, orang-orang sudah sangat sedikit. Angin sejuk yang membawa kelembapan menerpa wajah, bercampur aroma asin laut yang samar. Di permukaan laut, cahaya bulan menebarkan sinar bening keperakan yang berkilauan mengikuti gerak ombak.
Kami menjinjing sepatu masing-masing, lalu berjalan perlahan menuju bagian pantai yang lebih jauh, mengikuti tepian yang diterpa pasang. Jejak kaki kami yang dalam dan dangkal segera tersapu air laut.
Di sebuah bukit kecil yang hampir tak terlihat dari tempat orang-orang berada, kami menemukan sebongkah batu karang dan duduk di sana. Aku menata botol-botol arak.
“Ayo, kita minum sampai mabuk.”
“Baik.” Luo Lin dengan riang menyentuhkan botolnya ke botolku.
Suara benturan kaca terdengar sangat jernih di malam yang sunyi. Hamparan luas di hadapan kami membuat hati terasa lapang.
Di tempat ini, tak ada lagi suasana muram yang menekan. Tak ada pula nuansa samar yang lahir dari cahaya redup dan rahasia yang dibagi bersama. Di bawah sinar bulan, wajah Luo Lin tampak jernih; rasa pedih yang begitu berat tak lagi terlihat, meski secercah kesedihan masih tertinggal.
“Kau tahu,” katanya pelan, “hari ini seharusnya menjadi hari pertunangan kami, sesuai rencana. Sejak pagi, dia terus-menerus… bisa dibilang memohon.”
Luo Lin kembali meneguk araknya. Aku memandangnya tanpa berkata apa-apa.
“Melihat keadaannya, aku merasa sangat sedih. Yang menyedihkan adalah, dia tidak melepaskanku karena mencintaiku, melainkan demi jalan pintas dalam hidupnya sendiri, dengan mengorbankan harga dirinya.” Ia menatap laut di kejauhan. Sudut bibirnya terangkat dalam senyum mencela diri. “Menurutmu, apakah hidup benar-benar memiliki jalan pintas?”
“Tentu saja ada,” jawabku dengan sungguh-sungguh.
“Benarkah? Kau juga berpikir begitu?” Ia memiringkan kepala, menatapku. Kekecewaan yang dalam terpancar dari matanya.
“Ya, tetapi itu hanya di permukaan. Sebenarnya…” Aku berhenti sejenak sebelum melanjutkan, “jalan pintas yang kita pilih mungkin memang bisa memberi kita sesuatu, tetapi pasti harus dibayar dengan kehilangan sesuatu yang jauh lebih besar. Dengan kata lain, pada akhirnya kita akan lebih banyak kehilangan daripada memperoleh.”
Halaman (3/3)