Bab 26: Identitas
Wen Man menyipitkan mata, perlahan mengembuskan kepulan asap dari mulutnya.
"Sudah kembali?"
Bibi Qiu mengangguk dengan gelisah. Meski telah mengurus Wen Man selama beberapa tahun, ia tetap tidak mampu memahami tabiat majikannya itu. Saat Lu He masih ada, Wen Man jauh lebih mudah diajak berkomunikasi, tidak seperti sekarang yang berubah-ubah suasana hatinya.
"Tuan Lu bilang, ada urusan yang ingin dibicarakan dengan Anda."
Suara Bibi Qiu tidak terlalu keras, namun cukup jelas terdengar oleh orang-orang di dalam ruangan. Rong Cheng menoleh dengan sedikit terkejut. Lu He benar-benar berinisiatif untuk kembali? Mungkinkah dia ingin memperbaiki hubungan dengan Wen Man? Rong Cheng dengan tenang menyesap minumannya, menunggu Wen Man mengambil keputusan.
Di antara teman-temannya, tidak sedikit yang memiliki temperamen meledak-ledak, seperti Shi Tuo. Mendengar ucapan Bibi Qiu, ia melemparkan kartu di tangannya ke atas meja dengan tidak sabar lalu meregangkan tubuh.
"Tuan Lu? Maksudnya si lintah yang terus menempel pada A-Man itu?"
"A-Man saja sebentar lagi akan menikah, untuk apa dia masih datang? Meminta A-Man memberinya status?"
Rong Cheng meletakkan gelasnya, lalu berkata dengan lembut, "Jangan bicara begitu, mungkin Lu He memang memiliki urusan mendesak sehingga mencari Wen Man."
Namun, Shi Tuo justru bangkit berdiri dengan santai, wajahnya dipenuhi rasa ingin tahu. "Aku akan menemuinya!"
Namun, sebelum ia sempat melangkah turun dari karpet, Wen Man memanggilnya.
"Shi Tou!"
Teman-teman akrab selalu punya nama panggilan, dan julukan Shi Tuo adalah Shi Tou (Batu). Ia mengangkat alisnya seraya menoleh. "Tidak boleh aku ke sana? Kenapa, jangan-jangan kamu merasa kasihan padanya?"
Su Xiaoxiao dan teman-teman lainnya serempak menatap Wen Man. Wen Man tidak bereaksi setelah mendengar pertanyaan itu, ia tetap duduk tenang dengan sikapnya yang masa bodoh.
"Di luar dingin, jangan ke sana."
Setelah berkata demikian, ia menoleh ke arah Bibi Qiu. "Biarkan Lu He menunggu. Kapan aku mengizinkannya masuk, baru dia boleh masuk."
Bibi Qiu ragu-ragu. "Tapi suhu di luar sekarang minus sepuluh derajat. Membiarkan Tuan Lu menunggu di sana, bukankah dia akan membeku?"
Wen Man menatap Bibi Qiu dengan dingin. Bibi Qiu tersentak kecil dan hanya bisa berkata, "Saya akan sampaikan pada Tuan Lu."
Bibi Qiu berbalik, baru kemudian suara Wen Man terdengar dari belakang. "Bukankah dia punya urusan? Jika ingin meminta tolong, apakah tidak perlu menunjukkan ketulusan?"
Bibi Qiu tidak bisa menjawab, ia hanya mempercepat langkahnya untuk memberi tahu Lu He yang berada di luar pintu. Dalam hati, ia berdoa agar Lu He tidak berpakaian terlalu tipis hari ini.
Satu pintu memisahkan dua dunia. Lu He telah mondar-mandir sepanjang malam ini tanpa sempat menyantap makan malam. Kehangatan yang sempat terbawa dari mobil telah sirih ditelan angin musim dingin. Beruntung ia mengenakan mantel tertebalnya, jika tidak, tangan dan kakinya pasti sudah sedingin es.
Bibi Qiu membuka pintu dan dengan canggung menyampaikan pesan Wen Man. Di halaman, cahaya yang terpancar dari jendela kaca besar di dalam ruangan memungkinkan Bibi Qiu melihat ekspresi Lu He dengan jelas. Namun, ia melihat wajah pria itu tetap tenang.
"Saya mengerti, Bibi Qiu. Masuklah, saya akan menunggu di sini."
Bibi Qiu masih merasa khawatir. "Tuan Lu, biar saya ambilkan mantel untuk Anda. Di luar terlalu dingin! Jika Anda menunggu terlalu lama, tubuh Anda tidak akan kuat!"
Lu He menggeleng. Sebelum pergi, ia telah membuang semua barang miliknya dari tempat ini, apalagi mantel. Namun, ia tetap berterima kasih atas perhatian Bibi Qiu. "Tidak ada mantel saya di sini, Bibi Qiu. Saya tidak apa-apa, silakan masuklah."
Bibi Qiu tidak punya pilihan lain, ia hanya bisa berdoa dalam hati agar Wen Man tidak membuat Lu He menunggu terlalu lama. Harus diingat, terkadang dingin juga bisa membunuh seseorang!
Pintu kembali ditutup. Bibi Qiu bergegas memberi tahu Wen Man bahwa Lu He sudah menunggu di luar. Wen Man dan Su Xiaoxiao telah menyiapkan meja mahyong, ditambah Rong Cheng dan Shi Tuo, jumlahnya pas satu meja. Teman-teman lainnya bermain kartu di atas karpet dengan riang gembira.
Wen Man menekan tombol, dadu berputar di dalam kotak transparan. "Begitu ya, pergilah beristirahat!"
Bibi Qiu yang diusir oleh Wen Man hanya bisa kembali ke kamarnya. Pukul sembilan malam, Lu He telah benar-benar kedinginan oleh angin malam. Dari dalam hingga luar, tak ada bagian tubuhnya yang tidak terasa beku. Tempatnya berdiri tepat di posisi yang bisa melihat pemandangan di dalam ruang tamu melalui jendela kaca. Meski Wen Man hanya menampakkan satu lengannya, Lu He bisa memastikan bahwa itu adalah dia.
Privasi vila itu sangat terjaga, bahkan dari jarak sedekat ini, Lu He tidak mendengar suara apa pun. Namun, hanya dengan melihat gerakan lengan itu, ia bisa membayangkan ekspresi wajah Wen Man. Angin dingin berembus, membuat Lu He menggigil. Dingin sekali...
Pukul sepuluh, Bibi Qiu tidak tahan lagi dan mendatangi Wen Man sekali lagi. Wen Man telah kalah beberapa putaran dan mulai kehilangan minat. Bibi Qiu terlihat sangat cemas. "Nona, Tuan Lu sudah menunggu selama satu setengah jam. Cuaca seperti ini bisa membuat orang mati kedinginan!"
Wen Man meletakkan kartu "Hong Zhong" ke atas meja, seolah sedang memikirkan strategi kartu. Semua orang menunggu jawabannya. Su Xiaoxiao sebenarnya tidak peduli dengan hidup atau mati Lu He, namun ia merasa tindakan Wen Man hari ini agak berlebihan.
"A-Man, suruh masuk saja. Kalau sampai mati di depan pintu, bukankah itu pertanda buruk?"
Wen Man mengangkat alis, melirik Su Xiaoxiao. "Kamu cukup perhatian padanya?"
Su Xiaoxiao mengangkat tangan dengan raut wajah jijik. "Jangan salah paham, aku hanya merasa tidak suka ada orang mati di depan pintu!"
Wen Man menoleh ke arah kartunya, lalu berkata dengan santai kepada Bibi Qiu, "Suruh masuk saja!"
Bibi Qiu seolah mendapat pengampunan, ia bergegas memanggil Lu He untuk masuk. Rong Cheng memperhatikan langkah kakinya yang terburu-buru, lalu tiba-tiba berkata, "Asisten rumah tanggamu cukup perhatian pada Lu He."
Wen Man mendongak. "Tidak suka? Kalau begitu besok aku akan menggantinya!"
Rong Cheng tidak membantah, ia terdiam menunggu giliran Su Xiaoxiao mengeluarkan kartu.
Tangan dan kaki Lu He sudah mati rasa karena kedinginan. Begitu masuk, wajahnya yang terkena udara panas terasa seperti tertutup kabut air. Ia mengusap wajahnya dengan tangan yang kaku, namun sesaat kemudian ia merasakan perih seperti ditusuk jarum. Begitulah efek perubahan suhu yang drastis.
Ia mengabaikan tatapan meremehkan dari orang lain dan berjalan langsung ke depan Wen Man.
"Direktur Wen, panti asuhan membutuhkan bantuan dari yayasan amal Wen Corp. Karena Direktur Wen (ayah Wen Man) sedang tidak ada, saya datang untuk meminta petunjuk Anda."
Direktur Wen, bagus sekali. Sudut bibir Wen Man terangkat membentuk senyuman. Ternyata urusan panti asuhan, pantas saja dia kembali mencarinya. Wen Man memutar-mutar kartu mahyong di tangannya tanpa perasaan apa pun. Yayasan amal Wen Corp memiliki staf khusus yang bertanggung jawab, meskipun beberapa dana bantuan memerlukan persetujuan jajaran pimpinan, jika tidak terlalu mendesak, staf tersebut bisa langsung menanganinya. Karena itu, urusan yang dibawa Lu He ini sebenarnya sulit untuk dikabulkan. Bahkan jika mudah pun, Wen Man berniat untuk membuatnya tetap sulit.
"Dua Tiao!"
Setelah mengeluarkan kartu, Wen Man menyilangkan kakinya yang jenjang tanpa melirik Lu He sedikit pun. "Sekarang adalah waktu pribadiku, aku tidak ingin membicarakan urusan pekerjaan."
Wajah Lu He tetap tenang. Saat ini tangan dan kakinya mulai pulih, meski rasa kaku belum sepenuhnya hilang. "Kalau begitu, besok saya akan melapor kembali kepada Anda."
Wen Man menyesap minumannya dengan tenang. "Besok aku ada perjalanan dinas, dan setelah itu akhir pekan."
Sebuah penolakan yang sangat lugas. Shi Tuo langsung tertawa terbahak-bahak. "Ha! Bukankah itu artinya tidak perlu dibahas lagi!"
Wen Man mengangkat alis. Tidak perlu dibahas, tapi jika sikap Lu He saat memohon padanya cukup baik, mungkin masih bisa dipertimbangkan.
Lu He mengembuskan napas panjang, lalu memutuskan untuk langsung mengutarakan tujuannya kepada Wen Man.
"Direktur Wen, ada seorang anak berusia lima tahun di panti asuhan yang menderita leukemia. Dia membutuhkan donor dan dana pengobatan. Apakah Anda bisa mempertimbangkan agar biaya medis ini ditanggung oleh Wen Corp?"
"Tentu saja, dana bantuan yang diberikan Wen Corp sehari-hari sudah sangat mencukupi, namun karena kejadian ini mendadak, saya datang untuk menanyakan keputusan Anda terlebih dahulu."
Lu He mengucapkannya dalam satu napas, setiap kata dipilih dengan hati-hati. Namun, tepat setelah ia selesai bicara, terdengar suara tawa sinis dari Wen Man.
"Lu He, setahuku kamu sudah lama meninggalkan Wen Corp."
"Lagipula, usiamu sudah jauh melewati batas usia asuh panti asuhan."
"Kamu berdiri di sini, atas dasar identitas apa kamu berbicara denganku?"