Bab 59: Digoda oleh Gadis Muda
Lu He belum tahu bahwa saat ini, jarak garis lurusnya dengan Wen Man tidak sampai lima ratus meter.
Namun, jika ia mengetahuinya, ia pasti akan berlari sekencang-kencangnya untuk melarikan diri dari galeri seni tersebut, lalu naik pesawat ke sudut dunia yang paling terpencil.
Sayangnya, saat ini ia sama sekali tidak menyadari hal itu.
Xie Hanzhu menggerakkan tangan dan kakinya, memastikan semuanya baik-baik saja, sebelum tersenyum cerah kepada Lu He.
Ia mengucapkan terima kasih dengan tulus.
"Tuan Lu, terima kasih, ini sudah ketiga kalinya Anda menyelamatkan saya."
Lu He tertawa kecil.
"Mana bisa? Paling banyak ini yang kedua kalinya."
"Yang di pesawat waktu itu, kaptenlah yang menyelamatkanmu. Dalam situasi saat itu, aku tidak bisa berpangku tangan melihatmu, itu paling-paling dianggap membantu."
Xie Hanzhu memiringkan kepalanya sejenak untuk berpikir.
"Baiklah, tapi saat berada di dalam pelukanmu tadi, aku merasa sangat aman."
Suaranya tidak besar, tetapi orang-orang di sekitar yang mendengarnya langsung memasang telinga.
Gossip—selalu jauh lebih menarik.
Lu He menyentuh hidungnya dengan sedikit rasa canggung.
Ia menarik Xie Hanzhu mendekat dan berbisik pelan.
"Sudahlah, tidak apa-apa, kamu tidak perlu memasukkannya ke dalam hati."
Jarak Xie Hanzhu dengan dirinya pun menjadi semakin dekat.
Tiba-tiba, sebuah pikiran melintas di benaknya, lalu ia langsung mendekatkan tubuhnya ke arah Lu He.
Lu He terkejut dan baru saja hendak mundur, tetapi lengannya sudah keburu ditarik oleh Xie Hanzhu.
Ia hanya merasakan tengkuknya terasa dingin, sementara sesuatu yang ringan jatuh di punggung tangannya.
——Rambut panjang Xie Hanzhu.
Memanfaatkan posisi tersebut, Xie Hanzhu mendekat ke leher Lu He dan mengendusnya dengan cermat, membuat bulu roma Lu He merinding seketika.
"Apa yang sedang kau lakukan?"
Ia merasa sedikit ketakutan, tetapi tidak bisa begitu saja mendorong Xie Hanzhu menjauh.
——Itu terlalu tidak sopan bagi seorang pria.
Setelah puas mengendus, Xie Hanzhu sedikit mundur satu langkah, mengangkat pandangannya untuk menatap mata Lu He.
Ia bertanya dengan sangat serius.
"Tuan Lu, saya punya satu pertanyaan."
Lu He menggosok-gosok lehernya dengan kuat.
"Pertanyaan apa, tanyakan saja dari sana, jangan tiba-tiba mendekat begitu."
Xie Hanzhu membentuk simbol benar dengan tangannya, lalu mengusap dagunya dengan gaya jantan.
"Produk apa yang kau pakai? Wangi di tubuhmu sangat enak."
Segar dan sejuk, membuat orang tidak bisa melupakannya begitu menciumnya.
Pertanyaan ini sedikit di luar dugaan Lu He.
Ia mengangkat bajunya sendiri dan menciumnya.
"Tidak ada bau apa-apa kok..."
Namun, ketika melihat gestur Xie Hanzhu, sebuah inspirasi tiba-tiba melintas di benaknya.
"Ah, benar, mungkin itu *aftershave*..."
Tepat saat jawaban itu meluncur dari mulut Lu He, Xie Hanzhu yang tadinya berdiri dengan patuh di tempatnya tiba-tiba menerjang maju lagi.
Lu He ingin mengulurkan tangan untuk menahannya, tetapi Xie Hanzhu rupanya salah paham dengan maksudnya.
Ia pun ikut mengulurkan tangan dan menggenggam tangan Lu He.
Jari-jari mereka saling bertautan, Lu He tertegun bodoh.
Xie Hanzhu menunjukkan senyuman penuh kemenangan bak seekor rubah kecil, lalu ia berjinjit dan mendekatkan ujung hidungnya ke dagu Lu He untuk mengendus.
"Benar, ini aromanya."
Setelah itu, ia menurunkan kakinya yang berjinjit, mundur satu langkah, dan perlahan melepaskan genggaman tangannya dari tangan Lu He.
Begitu tenang dan tanpa beban.
Kedua tangan Lu He membeku di tempat, ia benar-benar tercengang.
Gadis muda ini, terlalu berani.
Lu He menarik napas dalam-dalam, lalu berpura-pura menatap gadis di hadapannya dengan ekspresi kesal.
"Nona... entah siapa namamu ini, pria dan wanita yang tidak dikenal tidak pantas berdiri terlalu dekat seperti ini!"
Xie Hanzhu melontarkan "oh" dengan penuh makna.
"Kalau begitu, namaku Xie Hanzhu."
"Kau sudah tahu namaku sekarang."
"Jadi kita bukan lagi pria dan wanita asing."
Ia tersenyum licik dan kembali berjinjit maju.
"Jadi, bolehkah kita berdiri lebih dekat sekarang?"
Lu He benar-benar tidak tahu harus berkata apa lagi.
Ia merasa dirinya seolah-olah sedang digoda oleh gadis muda ini.
Atau mungkin, bukan sekadar "seolah-olah".
"Nona Xie, apakah kau seorang mahasiswi di kampus ini?"
Lu He berhasil mengendalikan nada suaranya kembali dan bertanya dengan tenang.
Xie Hanzhu mengangguk dan menunjuk ke arah patung tanah liat yang tinggi di samping mereka berdua.
"Lihat itu, itu adalah karya ku."
Lu He mengikuti arah jari Xie Hanzhu, lalu melihat seonggok tanah liat yang bentuknya tidak jelas.
"Pantas saja."
Ternyata berkecimpung di dunia seni, pantas saja perilakunya agak aneh.
Xie Hanzhu menoleh dan bertanya.
"Pantas saja apa?"
Lu He langsung menggelengkan kepalanya.
"Bukan apa-apa."
Xie Hanzhu tidak ambil pusing, ia mendekat ke sisi Lu He.
"Kau datang untuk melihat pameran ya?"
"Kebetulan sekali, aku akan mengajakmu berkeliling! Aku tahu karya mana saja yang terbaik di sini!"
Belum sempat Lu He menolak.
Xie Hanzhu sudah menarik lengan Lu He dan melompat-lompat kecil menuju ruang pameran lainnya.
Hanya berselang lima menit sejak kepergian mereka.
Wen Man dan Rong Cheng tiba di ruang pameran tersebut.
"Wah! Aman, lihat patung tanah liat ini!"
Mata Rong Cheng berbinar-binar.
"Patung tanah liat ini memiliki gaya post-modern yang kuat. Lihat, bentuk keseluruhannya tidak beraturan, namun mampu mengekspresikan pekikan harapan dari dalam hati..."
Ia menoleh untuk melihat Wen Man, tetapi mendapati Wen Man sedang menatap kosong ke arah sebuah koridor lorong.
"Aman?"
Rong Cheng sudah tidak peduli lagi dengan seni post-modern. Ia melangkah maju, dengan lembut memegang kedua lengan Wen Man, dan bertanya dengan suara prihatin.
"Kau baik-baik saja? Apakah badanmu kurang sehat? Ingin istirahat sebentar?"
Wen Man menggelengkan kepalanya.
Ia tersenyum sinis pada dirinya sendiri.
"Tidak apa-apa, tadi sepertinya aku baru saja berhalusinasi."
Aneh, apa dia sudah gila karena terlalu merindukan Lu He?
Baru saja, ia melihat seseorang yang sangat mirip dengan Lu He pergi ke ruang pameran lain, dan ada seorang gadis yang mendampinginya di sisi.
Mungkinkah ia mengalami histeria?
Ucapannya yang terlontar begitu saja membuat Rong Cheng langsung siaga penuh seolah menghadapi musuh besar.
Bercanda, kegagalan hipnosis yang terakhir kali saja membuat Wen Man menghindarinya selama seminggu penuh.
Jika kali ini ditambah dengan gejala sisa berupa halusinasi, bisa-bisa suatu hari nanti Wen Man benar-benar akan membawanya dengan pisau.
Seketika itu juga, ekspresi wajah Rong Cheng menjadi suram.
"Tidak bisa dibiarkan, Aman, kau butuh istirahat sekarang, aku akan membawamu pergi untuk istirahat!"
Mengabaikan penolakan Wen Man, Rong Cheng langsung menariknya menuju taman di luar ruangan.
Bagaimanapun, tempat itu memiliki area yang luas, jika Wen Man benar-benar mengamuk, ia masih punya tempat untuk lari.
Di ruang pameran yang lain.
Lu He berdiri di depan sebuah proyeksi siluet dinding. Dikatakan siluet, sebenarnya itu adalah banyak kertas yang ditempelkan di dinding, membentuk bayangan sosok manusia melalui pantulan lampu.
Kertas-kertas tersebut berlapis-lapis, dan jenis kertas yang digunakan pun bermacam-macam.
Alasan Lu He memilih berdiri di sini murni karena ia melihat kertas toilet berwarna merah muda yang biasa ia gunakan semasa kecil di antara tumpukan kertas tersebut.
Ia masih ingat tekstur kertas itu, terasa seperti kertas amplas.
Xie Hanzhu tentu saja tidak tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Lu He, tetapi ia sangat mengagumi keputusan Lu He yang berdiri di sana.
"Tuan Lu, tidak disangka selera mu ternyata cukup bagus."
Kalimat macam apa itu!
Lu He mengangkat alisnya.
"Kenapa? Karya ini punya latar belakang yang hebat?"
Xie Hanzhu memasang ekspresi agak bangga dan menjelaskannya satu per satu bagaikan seorang ahli sejarah seni.
"Karya ini berjudul *Bayangan Kasih*, dibuat oleh salah satu dosen di departemen seni kami, konon dibuat untuk mengenang kekasihnya."
"Karya ini menggunakan hampir tiga belas ribu lembar kertas, dan setiap lembarnya berbeda-beda, menyimbolkan bahwa bayangan sang kekasih dirajut dan disatukan dari dalam kepingan kenangan."
Lu He melirik tulisan pengantar karya tersebut.
"Kau membacanya dari sinopsis ya?"
Wajah Xie Hanzhu memerah sesaat, namun ia segera mengangkat dagunya lagi.
"Lalu kenapa, itu artinya penglihatanku bagus!"
Penglihatannya memang bagus, kalau tidak bagus mana mungkin bisa melihat letak sinopsis itu di mana.
"Tuan Lu, apa menurutmu ini sangat romantis?"
Xie Hanzhu melipat tangannya di dada, jelas-jelas merasa kagum setengah mati pada karya tersebut.
Lu He tentu saja tidak berpikiran seperti itu. Ia mengusap hidungnya.
Entah mengapa, ia merasa proyeksi siluet ini sangat mirip dengan seseorang yang dikenalnya.
Alih-alih merasa romantis, ia justru merasa sangat risih melihatnya.