64 Terjebak di Kamar Mandi
Aku bukanlah orang yang kolot, jadi aku mengiyakan permintaan Sun Xi. Saat memasuki asrama putri di bawah tatapan tajam ibu penjaga, aku melangkah masuk dengan tenang. Saat itu, rasa kagum Sun Xi kepadaku tak terlukiskan. Ia terbata-bata berkata, “Kakak ipar, ilmu pengelabuanmu sungguh luar biasa. Penjaga asrama kita itu matanya tajam bak elang. Pernah ada laki-laki yang menyamar jadi perempuan dengan wig pun masih ketahuan olehnya, tapi di hadapanmu dia seolah-olah buta.”
Aku hanya tersenyum tipis. Ilmu pengelabuan adalah kemampuan dasar para arwah, tapi di hadapan manusia biasa terlihat begitu hebat. Dulu, saat Yu baru saja menjadi arwah perempuan, ia pernah berkata, ‘Manusia pada dasarnya jauh kalah dari arwah.’ Dalam beberapa hal, perkataan itu memang ada benarnya.
Kamar Sun Xi berada di lantai empat. Ia mengeluarkan kunci dan membuka pintu kamar 404. Aku mengikutinya masuk, lalu baru tersadar kalau menyelinap ke asrama putri begini sebenarnya sangat ceroboh. Saat itu sudah lewat pukul sembilan malam, waktu para penghuni habis mandi dan bersiap tidur, jadi para gadis di kamar 404 pun hanya mengenakan pakaian santai.
Ini adalah sekolah seni, meski tak semua muridnya secantik Sun Xi, setidaknya tak ada yang jelek. Ketiga teman sekamarnya adalah gadis-gadis muda yang sangat menawan, dan salah satunya sungguh mirip dengan Bingbing. Tapi baiklah, kemiripan itu bukan inti masalahnya. Yang penting adalah pakaian mereka.
Aku mengamati mereka satu per satu, dalam hati mengeluh: Mengapa gadis zaman sekarang begitu cuek soal penampilan saat di kamar? Sungguh keterlaluan! Bagaimana bisa berpakaian begini jika ada orang lain?
Yang paling mencolok adalah gadis yang mirip Bingbing itu sedang berlatih split. Tubuhnya ramping dan luwes, berdiri dengan satu kaki sementara kaki panjang satunya diangkat tinggi ke atas kepala. Namun ia hanya mengenakan celana dalam bermotif kartun. Bukankah ini terlalu berani?
Sun Xi pun menyadari situasinya kurang pantas. Ia menatap teman-temannya, lalu menoleh ke arahku, pria satu-satunya di ruangan itu, dan berdiri kikuk. Teman-teman sekamarnya menyapanya, “Xi, bukankah kamu bilang takut tidur di kamar? Kok balik lagi?”
Melihat ekspresi mereka tetap tenang, aku tahu ilmu pengelabuanku kembali berhasil. Sun Xi buru-buru menutupi mataku dan berteriak, “Kalian ini, cepat pakai baju! Meski di kamar, setidaknya kenakan piyama! Ini bukan kolam renang, jangan bergaya dengan bikini segala!”
Tentu saja, telapak tangan Sun Xi tak mungkin bisa menutupi mataku sepenuhnya. Dari sela-sela jarinya, aku melihat gadis yang sedang split itu berputar, lalu meletakkan kakinya di pundak Sun Xi sambil berkata, “Ah, di kamar tak ada laki-laki, telanjang pun tak masalah. Lagipula di kamar tak ada AC, makin banyak baju makin gerah.”
Sun Xi menggerakkan pundaknya, mencoba menyingkirkan kaki panjang itu, sambil berkata, “Fan-fan, perilakumu ini tidak sopan, tahu? Cepat turunkan kaki dan pakai baju.”
Gadis bernama Fan-fan itu mengangkat dagu Sun Xi dengan telunjuknya, lalu menggoda, “Xi kecil, ini bukan soal kesopanan, ini soal estetika. Kalau ada laki-laki berdiri di depanku, aku jamin dia pasti jatuh hati padaku dalam sekali pandang.”
Aku berdiri tepat di depannya, cukup dekat hingga satu jari saja bisa menyentuh bagian manapun dari tubuhnya. Tapi aku sudah terbiasa menghadapi hal-hal seperti ini. Tak usah bicara soal kemiripannya dengan Bingbing, bahkan jika Bingbing sendiri mengenakan pakaian dan berpose seperti itu di depanku, mungkin aku… baiklah! Kalau itu memang benar terjadi, mungkin aku akan jatuh cinta padanya. Tapi yang di depanku ini hanya peniru, jadi aku hanya bisa sedikit mengagumi keahlian split-nya saja.
Sun Xi tampaknya sudah menyerah, melepaskan tangan yang menutupi mataku dan berkata dengan nada geram, “Kalau begitu, jangan salahkan aku. Biar kau puas dipandangi laki-laki.”
Fan-fan menoleh ke sekeliling, “Laki-laki? Mana ada laki-laki di sini? Kalau Xi kecil bisa munculin laki-laki, aku rela dilihat sepuasnya.”
Masih ada dua gadis lagi di kamar itu. Satu sibuk main komputer, yang lain membaca buku. Gadis yang membaca tertawa, “Xi kecil, ayo sulap laki-laki, Fan-fan sudah ngebet ingin lihat laki-laki.”
Fan-fan melepaskan Sun Xi dan mulai bertengkar, “Jinwa, kamu sendiri yang ngebet ingin laki-laki! Aku sudah bersumpah tak akan mikirin lelaki sebelum terkenal!”
Jinwa membalas, “Sumpahmu itu pasti sulit ditepati. Jadi terkenal itu lama, gimana kalau hati Fan-fan keburu berbunga-bunga?”
Fan-fan mendorong Jinwa ke ranjang dan pura-pura menggertak, “Kalau gitu aku tak mau laki-laki, mau perempuan saja. Malam ini aku akan menaklukkan si cantik ini!”
Jinwa berteriak, “Tolong! Xi kecil, Bei, tolong aku! Fan-fan, ampun! Jangan buka bajuku, aku tak pakai apa-apa di dalamnya!”
Saat itu, Bei yang sedang main komputer pun ikut-ikutan, bukannya menolong, malah bergabung mengacak-acak Jinwa dan Fan-fan. Tiga gadis itu pun saling berkelahi dengan caranya masing-masing.
Sun Xi menutup wajahnya dengan kedua tangan, aku pun melongo tak percaya. Ternyata gadis-gadis juga sebegitu hebohnya saat di kamar? Meski agak tak pantas, tapi suasananya begitu hidup. Tiba-tiba telingaku dijewer oleh Sun Xi, ia berbisik, “Kakak ipar, jangan mengintip, kamu sudah punya kakakku, tak boleh lihat-lihat.”
Sungguh adik ipar yang cerewet. Aku mengangguk dan berkata, “Ayo kita ke kamar mandi.”
Aku sadar, sudah saatnya mengurus urusan utama. Aku melirik ke sekitar, tak menemukan jejak arwah perempuan. Liu Xinyi bilang aura dingin di kamar mandi cukup kuat, jadi aku pun mengusulkan ke sana.
Sun Xi membuka pintu kamar mandi dengan sedikit takut, lalu kembali menggandeng lenganku. Tempat inilah yang semalam membuatnya melihat arwah perempuan, wajar saja ia begitu ketakutan. Ia begitu tegang, bahkan tanpa sadar tubuhnya yang lembut menempel erat di lenganku.
Aku menggeleng dalam hati. Ini kan adik ipar sendiri, tak boleh timbul pikiran aneh-aneh. Aku masuk ke kamar mandi tanpa ragu. Menghadapi arwah perempuan, aku sama sekali tak takut. Bahkan arwah sehebat Yu pun sudah pernah kutaklukkan, apalagi cuma arwah mantan gadis populer sekolah. Kalau memang dia ada di sini, akan langsung kutangkap.
Aku perlahan melepaskan lenganku dari pelukan Sun Xi, memberi isyarat agar ia menunggu di luar. Kalau dia memang takut, tak usah ikut masuk.
Aku masuk sendirian ke kamar mandi. Ruangannya sempit, mungkin hanya dua atau tiga meter persegi. Di dalamnya ada kloset, pemanas air, dan sebuah cermin kecil sekitar setengah meter terpasang di belakang pintu, tepat di seberang kloset. Meski sederhana, untuk ukuran asrama sekolah ini sudah lumayan.
Sayang, tak ada arwah perempuan di dalam. Namun Liu Xinyi menemukan sisa-sisa aura dingin di permukaan cermin. Jelas, semalam memang ada arwah perempuan yang memakai cermin untuk menakut-nakuti Sun Xi. Manusia yang belum membuka mata batinnya memang tak bisa melihat arwah, namun lewat cermin sebagai media, itu bisa terjadi. Gambar dalam cermin pada dasarnya ilusi, sehingga arwah dengan sedikit kekuatan saja bisa masuk ke dalam bayangan itu. Karena itulah orang tua dulu sering berpesan agar anak muda tak bercermin malam-malam, ternyata memang ada alasannya.