Bab Dua Puluh Lima: Jiwa yang Terbang dan Raga yang Hancur
Bayi hantu itu berada di tangan pria bertopeng wajah setan itu. Jika ia membuat bayi hantu itu menderita, sang ibu hantu akan menjadi gila. Dan saat ibu hantu mengamuk, ia akan menyerang Mo Feng demi melindungi anaknya.
Ketika hawa seram yang dikeluarkan ibu hantu menghantam Mo Feng, bahkan Mo Feng pun tidak berani lengah. Ia bisa merasakan bahwa serangan ini begitu kuat, sudah melebihi kekuatan yang biasanya dimiliki oleh hantu dendam.
Mo Feng segera mengerahkan hawa mayat untuk menahan serangan tersebut. Kedua kekuatan itu bertubrukan, dan Mo Feng tanpa sadar mundur selangkah. Sementara ibu hantu terpental lebih jauh, namun dengan cepat kembali menyerang Mo Feng.
Kali ini, ibu hantu benar-benar nekat, seperti seseorang yang siap mati demi sesuatu. Ia tahu, jika tak bisa menghalangi Mo Feng, anaknya pasti binasa.
Mo Feng merasa enggan melukai seorang ibu, tetapi ia pun tak punya pilihan lain. Ia menggertakkan gigi dan mengumpulkan hawa mayat merah yang sangat kuat. Inilah kekuatan terbesar yang bisa ia keluarkan saat ini, dan ia tahu betul betapa dahsyatnya kekuatan itu. Ia bahkan khawatir, serangan ini akan membuat ibu hantu lenyap tanpa jejak.
Namun anehnya, aura ibu hantu juga semakin kuat. Kedua matanya yang putih kini berubah menjadi hitam legam, laksana dua lubang kosong.
“Ia... membakar kekuatan jiwanya! Ia memaksa keluar kekuatan terbesarnya! Jika semua kekuatan jiwanya terbakar, ia akan langsung musnah selamanya...” seru Si Gendut dengan kaget.
Mendengar itu, Mo Feng tertegun. Membakar kekuatan jiwanya sendiri, rela lenyap demi melindungi anaknya? Mo Feng jadi ragu untuk menyerang. Ia hanya bisa menatap ibu hantu itu.
Namun kekuatan ibu hantu makin menguat. Detik berikutnya, ia melesat ke arah Mo Feng, membawa kekuatan yang menakutkan. Melihat itu, Mo Feng terpaksa mengerahkan hawa mayat yang telah ia kumpulkan, menahan serangan ibu hantu yang meluncur ke arahnya.
Perempuan hantu itu benar-benar beringas. Serangannya memaksa Mo Feng mundur terus-menerus.
Sementara itu, pria bertopeng yang berdiri di kejauhan tertawa terbahak-bahak, berkata, “Bagus sekali, ibu hantu. Ternyata aku tidak salah menilaimu. Keluarkan semua kekuatanmu! Hahaha... Asal kau berhasil menyingkirkan bocah itu, aku akan membebaskan anakmu.
“Sungguh menarik. Besok malam, saat bulan purnama, aku akan memanggil Api Neraka Sembilan Lapisan, membakar seluruh sekolah ini, membiarkan semua orang mati terbakar!”
Ucapannya yang terakhir, terdengar sangat menyeramkan dan jahat, membuat Si Gendut pucat pasi.
“Api Neraka Sembilan Lapisan? Itu adalah api mengerikan yang bisa membakar semua makhluk hidup! Orang ini benar-benar ingin membawa api neraka ke dunia manusia. Jika sampai berhasil, seluruh sekolah, baik manusia maupun hantu, akan lenyap tanpa bekas...” ujar Si Gendut.
Mo Feng pun menyadari betapa genting situasinya. Ternyata itu rencana pria bertopeng itu. Ia tak boleh membiarkannya berhasil!
Dengan tekad bulat, Mo Feng menghimpun hawa mayatnya, lalu meledakkan kekuatan mengerikan dari telapak tangannya. Ibu hantu itu terpental keras dan jatuh ke tanah, terluka parah hingga nyaris tak bisa bangkit.
Pria bertopeng itu mendengus, “Hebat juga. Malam ini benar-benar di luar dugaanku. Tapi, sudah kukatakan, tak ada yang bisa menghentikanku!”
Selesai berkata, tubuhnya tiba-tiba menghilang, membawa bayi hantu bersamanya.
Mo Feng hendak mengejar, tapi ibu hantu itu tiba-tiba berusaha bangkit. Tubuhnya sudah tampak samar, namun ia tetap mengerahkan kekuatan, menyerang Mo Feng dengan gigih sehingga Mo Feng terpaksa menahan lagi.
Saat Mo Feng akhirnya memukul mundur semua hawa hantu itu, pria bertopeng sudah menghilang. Sekali lagi ibu hantu itu terlempar dan tubuhnya makin lemah, semakin tipis, nyaris menghilang.
Jelas sekali, seluruh kekuatan jiwanya telah habis. Ia bagaikan pelita yang kehabisan minyak.
Mo Feng menghela napas dan berkata pada ibu hantu yang tergeletak di tanah, “Dia tidak akan pernah membebaskan anakmu. Untuk apa kau berkorban sejauh ini?”
“Tapi... aku juga... tak sanggup melihat anakku... disiksa olehnya...” jawab ibu hantu dengan suara lemah.
Saat itu, Si Gendut dan Youyou mendekat. Youyou menatap ibu hantu di lantai lalu bertanya pada Mo Feng, “Mo Feng, kasihan sekali dia. Bisakah kau menolongnya?”
Mo Feng menggeleng, “Aku tak mampu...”
Itulah kenyataannya. Mo Feng baru menjadi zombie selama sebulan lebih, meski ia sudah bisa mengendalikan kekuatan, masih banyak hal yang belum ia pahami. Menolong hantu yang membakar seluruh kekuatan jiwanya hingga nyaris musnah, itu di luar kemampuannya.
Youyou menoleh pada Si Gendut, tapi ia pun menggeleng, “Aku juga tak bisa. Mungkin hanya guruku yang mampu, tapi melihat keadaannya, ia pasti tak akan bertahan lama.”
Saat itu, ibu hantu perlahan berkata, “Aku... aku musnah tak apa... Tapi kumohon... tolong anakku... Walau ia hantu, ia masih sangat kecil...”
Ibu hantu itu menangis. Meski hantu tak punya air mata, ia tetap menangis. “Anakku... ia mengikutiku seumur hidupnya, bahkan sebelum lahir sudah mati dalam kandunganku.
Aku telah mengecewakannya... Selama bertahun-tahun, ia hidup sebagai bayi hantu dan terus menderita bersamaku. Sekarang... satu-satunya harapanku, ada yang bisa menolongnya, membantunya tenang, mengirimnya kembali ke siklus reinkarnasi... agar ia bisa terlahir kembali... menjadi manusia...”
Saat berkata demikian, tubuh ibu hantu mulai berubah menjadi titik-titik cahaya dan menghilang. Wajahnya yang pucat masih menyimpan rasa bersalah pada anaknya.
Mo Feng mengepalkan tangan, perlahan berjongkok di samping ibu hantu yang mulai menghilang dan berkata, “Aku berjanji, aku pasti akan menyelamatkan anakmu dari tangan orang itu, menolongnya agar bisa lahir kembali sebagai manusia!”
“Te...rimakasih...” bisik ibu hantu.
Akhirnya, tubuhnya berubah sepenuhnya menjadi hawa hantu dan lenyap di udara.
Ibu hantu itu telah musnah, namun suaranya seolah masih menggema di telinga mereka. Ia memang hantu, tetapi juga seorang ibu yang agung. Rela musnah demi anaknya, tak sanggup melihat anaknya menderita. Bahkan di saat-saat terakhirnya, ia masih mengkhawatirkan anak yang ia tinggalkan.
“Tak kusangka, hantu pun bisa memiliki cinta seorang ibu...” Youyou mengusap air matanya.
Mo Feng menghela napas, “Benar...”
Ia menoleh pada Si Gendut, dan ternyata lelaki itu menangis sesenggukan, sambil berkata, “Sungguh mengharukan. Aku jadi ingat ibuku... Andai ibuku juga menyayangiku seperti itu, pasti ia tidak akan selalu berkata aku anak pungut dari tempat sampah...”
Suasana haru itu mendadak rusak karena ulah Si Gendut.
Mo Feng hanya bisa memutar bola matanya, lalu mengernyit. “Siapa sebenarnya pria bertopeng itu? Kenapa ia ingin membakar semua orang di sekolah dengan api neraka?”
“Dan, apa yang terjadi di ruang kelas di lantai paling atas? Kenapa di dalamnya penuh dengan hantu murid? Dan ada guru perempuan juga...” Mo Feng tampak bingung.
Tiba-tiba, Youyou seperti mendapatkan ilham, “Kebakaran? Aku tahu jawabannya!”