Bab 78: Detektif Hebat dengan Ingatan yang Telah Diubah (10/26)
Detektif Hebat Hattori adalah seorang detektif keturunan Asia yang berasal dari Inggris. Namanya cukup terkenal di negeri itu. Namun, belakangan ini hidupnya tak berjalan mulus, sebab ada seorang anak laki-laki berusia enam atau tujuh tahun yang tiba-tiba muncul di Kota Berkabut.
Anak itu dijuluki sebagai Malaikat Maut Cilik yang berjalan. Di mana pun ia berada, kematian selalu menyusul. Ia selalu menjadi orang pertama yang menemukan lokasi kejadian perkara, lalu menganalisis sendiri siapa pelakunya.
Yang paling membuat frustasi, anak itu selalu lebih cepat dari yang lain, bahkan mengumumkan hasil penyelidikan sebelum detektif hebat itu sempat memecahkan kasusnya.
Akibat kehadiran anak itu, Hattori sudah lama tidak mendapat pemasukan. Karena itulah, ia meninggalkan Kota Berkabut dan datang ke Kota Baru Negara Lampu Menara, berharap bisa menghindari Malaikat Maut Cilik yang sering berpindah-pindah itu.
Namun, belum lama tiba di Kota Baru, ia sudah tertimpa masalah. Sejak kemarin pagi, ia terus sibuk hingga melupakan waktu.
Menatap sepasang pria dan wanita yang berdiri di depannya, Hattori merasa mereka tampak familiar, namun tak juga ingat di mana pernah bertemu. Ia terus-menerus berkedip, berusaha keras menggali ingatannya.
“Detektif yang mudah lupa seperti Anda, pasti sulit mendapat pekerjaan,” ujar pria di hadapan Hattori.
Mendengar itu, Hattori buru-buru membela diri, “Bukan aku pelupa, hanya saja ada yang terasa janggal. Tunggu sebentar.”
Sambil berkata demikian, Hattori mengeluarkan buku catatannya. Beberapa lembar memang sudah tercabut, tapi ia tak memperdulikannya dan terus membolak-balik halaman. Mata Hattori semakin berbinar, namun wajahnya juga semakin suram.
Akhirnya, ia berkata kepada pria dan wanita itu, “Sepertinya namaku bukan Hattori. Aku hanya seorang detektif. Ingatanku telah diubah seseorang. Benar begitu, Tuan Bus?”
“Semua petunjuk itu kau catat sendiri, hanya kau yang bisa memahaminya,” jawab sosok yang kini menduduki tubuh Bus, yakni Ou Xiaolu. Ia sendiri tidak butuh waktu lama untuk menemukan detektif hebat yang diproyeksikan ke sini. Hanya saja, ia tak menyangka detektif itu langsung mengalami perubahan ingatan, bahkan identitasnya pun dilengkapi.
Sang detektif mengangguk serius, lalu kembali mencari petunjuk di buku catatannya. Tak lama, ia menengadah dan berkata pada Ou Xiaolu, “Aku ingat sesuatu. Sepertinya aku pernah menemukan informasi yang luar biasa penting. Tapi kemudian datang sekelompok orang bersenjata tongkat kayu kecil. Begitu mereka muncul, semua ingatanku lenyap.
Aku tak bisa memastikan yang lainnya, tapi yang jelas mereka punya cara mengutak-atik ingatan.”
“Apakah ada salinan data yang kau temukan sebelumnya?” tanya Ou Xiaolu langsung.
“Tentu saja ada. Aku bukan orang bodoh ber-IQ rendah. Mana mungkin aku tak menyisakan jejak? Tunggu biar kuingat, aku pasti meninggalkan petunjuk untuk diriku sendiri.”
Sambil bicara, Hattori mulai mencari sesuatu di kamarnya. Tak lama, ia menemukan beberapa angka. Berdasarkan kebiasaannya, ia pun menganalisis dan akhirnya mengeluarkan beberapa berkas.
Hattori tak membuka berkas itu, melainkan langsung menyerahkannya kepada Ou Xiaolu.
“Aku tak akan membacanya. Kau saja yang lihat isinya.”
“Kenapa tidak kau baca sendiri?” tanya Ou Xiaolu penasaran sambil menerima berkas itu. “Apa kau tak ingin tahu apa yang telah dihapus dari ingatanmu?”
“Ingatan itu rumit.” Hattori menggeleng. “Sekarang aku tahu ingatanku diubah, maka segalanya harus kucurigai. Kecuali aku bisa membuktikan itu benar-benar ingatanku sendiri, aku tak akan mempercayai apa pun.”
“Tapi bagaimana kau tahu ingatan yang kembali itu asli atau palsu?” tanya Ou Xiaolu.
“Itu soal kecerdasan. Aku selalu meninggalkan petunjuk yang hanya bisa kupahami sendiri. Orang yang tak terbiasa berpikir logis, meski menemukan petunjuk itu, tetap tak akan tahu apa maknanya.”
“Oh ya, kau bisa mempercayai berkas-berkas ini. Setidaknya, mereka belum pernah menemukannya.”
Ou Xiaolu meneliti berkas itu dengan saksama. Di dalamnya, Hattori tidak menyebut dirinya sebagai proyeksi, hanya menuliskan bahwa ia detektif hebat dari Kota Berkabut yang menerima tugas dari Bus untuk menyelidiki jejak kekuatan misterius.
Berkas itu juga mencatat bahwa di Kota Baru terdapat beberapa kelompok yang menggunakan kekuatan gaib, dengan pusat aktivitas di sekitar Jalan Kelima dan Taman Sentral.
Di Jalan Kelima, ada sebuah gedung tak kasat mata. Jika diperhatikan, kadang muncul dan menghilang sejumlah orang yang tampak seperti seniman jalanan.
Sementara di Taman Sentral, situasinya berbeda. Di sana konon banyak hewan yang aneh dan langka. Beberapa orang pernah melihatnya, tapi kebanyakan tidak menyadari.
Selain itu, berkas itu juga memuat kisah-kisah legenda aneh dari Kota Baru. Tiap cerita disertai beragam petunjuk, sebagian berupa jejak kejahatan, lainnya dicurigai berkaitan dengan kekuatan misterius.
Ou Xiaolu memperhatikan beberapa catatan penting di berkas itu, jarinya mengetuk pelan permukaan kertas.
“Gedung tak kasat mata yang kau sebutkan, aku sudah tahu. Bahkan aku pernah keluar hidup-hidup dari sana. Sekarang aku mau bertanya, di gedung itu ada pasukan kuat yang melindungi kelahiran seseorang yang penting. Kuncinya adalah benda di sampingku ini… telur.
Kau lihat sendiri, telur seperti ini sangat langka. Aku tidak boleh membiarkan mereka merebutnya dariku. Adakah saran?”
“Itu tergantung kekuatan masing-masing pihak. Tapi kulihat kalian hanya berdua, sepertinya tidak cukup kuat,” jawab Hattori, memandang Ou Xiaolu dengan keraguan.
Sebagai detektif yang bergantung pada pengamatan, Hattori segera menyadari tatapan tidak percaya dari Ou Xiaolu. Ia pun dengan gusar berkata, “Kenapa? Kau tidak percaya padaku?”
“Bukan begitu, aku hanya ingin tahu, dari semua kelompok yang kau catat di sini, adakah yang bermusuhan dengan kelompok gedung itu? Di berkas ini tidak ada penjelasan. Sebagai detektif hebat, masa kau tak memperhatikan hal itu?”
“Aku sudah memperhatikan, tapi aku tak bisa menyelidiki lebih dalam. Yang kutahu, pasti di antara kelompok itu ada yang bermusuhan dengan penghuni gedung tersebut.”
Ou Xiaolu mengangguk, “Begitu ya, baiklah. Aku akan coba telusuri sesuai petunjukmu.”
Selesai berkata, Ou Xiaolu pun pergi bersama Xiaoyu. Setelah mereka menjauh, Xiaoyu yang sejak tadi memeluk telur karang matahari tiba-tiba bertanya, “Apa detektif itu memang ada yang aneh?”
“Benar, ingatannya telah diubah, bahkan kini ia punya nama sendiri. Menarik sekali,” jawab Ou Xiaolu sambil tersenyum, lalu menjentikkan jari. Seketika, sebuah kartu muncul di tangannya.