Bab 26: Melihat Nasibmu yang Malang, Aku Akan Menemanimu!
Setelah kejadian malam itu, Lin Song sama sekali tidak lagi mengingat apa pun. Namun, setiap kali ia berusaha mengenang kembali apa yang terjadi sebelum ia meninggalkan kedai minuman malam itu, ia selalu merasa itu hanya ilusi semata, sebab Lu Xiao saat itu sungguh begitu lembut.
Lu Xiao yang seperti itu, seolah hanya ada di dalam mimpi atau khayalannya, takkan pernah menjadi nyata.
"Hidangannya sudah lengkap, silakan dinikmati, anak-anak muda."
"Terima kasih."
Lin Song tersadar dari lamunannya di tengah percakapan antara Lu Xiao dan pemilik kedai. Ia mengedipkan mata memandang sang pemilik, yang membalas dengan senyuman sebelum berlalu.
"Tadi sedang melamun apa?"
Lu Xiao menggeser dua piring sate bakar ke hadapan Lin Song. Melihat Lin Song menatapnya dengan ekspresi sedikit bingung, ia menjelaskan, "Barusan kamu seperti tidak fokus."
"Oh, iya ya?" Lin Song tersenyum canggung, mengambil satu tusuk sate dan mulai makan, berusaha menutupi kegugupannya. "Tidak sedang memikirkan apa-apa."
Lu Xiao tidak mengejar lebih jauh. Sebenarnya, ia tahu persis apa yang barusan melintas di benak Lin Song, namun ia paham, bersikap terburu-buru seperti dulu hanya akan menimbulkan efek yang sebaliknya.
Lu Xiao meneguk segelas minuman lagi, lalu menatap Lin Song sambil bertanya, "Mau minum sedikit bersama?"
Lin Song menggigit daging sate, menggelengkan kepala. "Tidak, terima kasih."
Gerakan tangan Lu Xiao terhenti, ia memandang Lin Song lalu tersenyum, sebelum kembali mengangkat gelas dan meneguk isinya.
Ia memutar gelas di tangan, mulai menggoda Lin Song, "Kenapa? Takut kalau minum terlalu banyak nanti kehilangan kendali, lalu melakukan sesuatu yang bikin orang salah paham?"
Orang ini... kenapa hampir tiap kali bicara selalu mengingatkannya pada apa yang pernah ia lakukan?
"Bukan, bukan begitu," Lin Song tersenyum kikuk, "Hari ini memang tidak ingin minum saja."
"Tidak mau minum bersamaku?"
Lu Xiao menggelengkan kepala dan tertawa geli, "Baiklah, kalau begitu kali ini biar aku saja yang minum, kamu temani saja."
Selesai berkata, ia kembali menenggak segelas minuman.
Lin Song duduk diam menatap Lu Xiao sejenak, masih belum bisa benar-benar memahami pria itu.
Hari ini, dia sendiri yang menelepon dan menagih janji makan bersama. Tak disangka, begitu tiba, ia malah belum makan apa-apa, malah langsung minum tiga gelas berturut-turut. Apa dia sedang banyak pikiran? Atau, ada sesuatu yang tak sanggup ia ucapkan dalam keadaan sadar, makanya terburu-buru ingin membuat dirinya mabuk.
Tapi apapun alasannya, cara minum seperti itu tetap saja tidak baik.
Lin Song diam-diam menghela napas, mengambil dua tusuk sate lalu menyerahkannya pada Lu Xiao.
"Minum dalam keadaan perut kosong itu tidak baik untuk lambung. Kalau memang mau minum, makanlah dulu sedikit," ujarnya.
Lu Xiao menatapnya beberapa saat, Lin Song mengangkat dagu, dan kembali menyodorkan sate di tangannya.
Tiba-tiba Lu Xiao tersenyum dan menerima sate itu.
Sambil memandang sate di tangannya, ia berkata pada Lin Song, "Tahukah kamu?"
Lin Song menatap ke arahnya, pandangan mereka bertemu.
Kedua sudut bibir Lu Xiao terangkat lebar, menampilkan dua lesung pipit yang dalam. Tak disangka, selain memiliki lesung pipit di pipi, laki-laki ini ternyata juga punya lesung pipit di sudut mulutnya, Lin Song tanpa sadar menatap lebih lama pada lesung pipit itu.
"Kamu orang kedua yang pernah mengingatkan aku, minum saat perut kosong bisa merusak lambung."
"Ya? Siapa orang pertama?" Lin Song berkedip, menundukkan pandangan ke atas meja, lalu bertanya santai.
Saat itu Lu Xiao sedang menggigit sate, matanya menunjukkan kelembutan, "Adikku."
Lin Song langsung tertarik, "Kamu punya adik? Kandung?"
Dalam benak Lin Song, orang seusianya dan Lu Xiao kebanyakan berasal dari keluarga anak tunggal, sejak kecil dimanja orang tua. Tidak banyak yang seperti dirinya.
Jadi, saat mendengar Lu Xiao punya adik, ia sedikit terkejut.
"Bukan saudara kandung, tapi kami tumbuh besar bersama, rasanya lebih dekat dari saudara sendiri."
"Bukan saudara kandung?" Lin Song mengulang, lalu bertanya lagi, "Sepupu?"
Lu Xiao tidak langsung menjawab, ia menunduk, menghabiskan sate, kemudian menatap Lin Song dan mengecap bibir.
"Aku bukan anak kandung orang tuaku, aku diadopsi. Qi-qi anak kandung mereka, seumuran denganmu."
"Ah?"
Lin Song tampak terkejut, tidak tahu harus berkata apa. Akhirnya, ia hanya bisa berkata pelan, "Maaf, aku tidak tahu..."
"Tidak apa-apa," Lu Xiao tersenyum, "Aku yang memilih menceritakannya, bukan karena kamu bertanya."
Lin Song tak melanjutkan, hanya diam menatap Lu Xiao menuang minuman lagi ke dalam gelas, meneguknya perlahan, lalu menaruhnya kembali.
Kemudian pandangannya tertuju ke meja, seakan-akan ia sedang tenggelam dalam kenangan yang panjang.
"Ayah kandungku juga seorang tentara. Tak lama setelah aku lahir, saat menjalankan sebuah misi khusus, ia hilang. Tak pernah ditemukan, hidup ataupun mati. Saat itu, status kematiannya tidak dapat dipastikan, bahkan gelar pahlawan pun tidak didapat."
"Ibuku tidak bisa menerima kenyataan itu, ia menangis berhari-hari, sampai-sampai aku pun tidak diurus. Kebetulan saat itu ibuku yang sekarang datang menjenguk ayahku di barak, lalu ayah menitipkan aku padanya untuk beberapa hari saja."
Sampai di sini, Lu Xiao menggeleng dan tersenyum pahit, "Tak disangka, titipan sementara itu jadi belasan tahun."
"Lalu ibu kandungmu?" Lin Song bertanya tanpa sadar.
Entah sejak kapan, Lu Xiao sudah menghabiskan segelas minuman lagi. Ia menunduk, suaranya pelan, "Pergi entah ke mana, tak ada yang tahu. Sudah belasan tahun tak ada kabar."
Lin Song mendengar itu, tak bisa berkata apa-apa. Ternyata, bukan hanya ia saja anak yang mengalami ketidakberuntungan, Lu Xiao pun punya kisah hidup yang mengharukan.
Sama-sama anak yang ditinggalkan keluarga, Lin Song seakan menemukan sedikit rasa sepenanggungan pada Lu Xiao, hatinya pun jadi lebih lembut.
Saat Lu Xiao kembali mengangkat gelas, Lin Song juga mengambil miliknya, mengetukkan perlahan pada gelas Lu Xiao, "Aku temani kamu, tapi jangan banyak-banyak."
Lu Xiao tersenyum tipis, lalu kembali menenggak minuman.
"Tadi katanya tidak mau minum hari ini?" Setelah meneguk, Lu Xiao bertanya.
Lin Song juga meminum habis isinya, lalu tersenyum pada Lu Xiao, menuangkan minuman lagi untuk mereka berdua.
"Melihat kisah hidupmu, jadi ingin menemanmu," kata Lin Song, nadanya menggoda.
Lu Xiao tertawa ringan, "Haruskah aku berterima kasih padamu?"
Lin Song menggeleng, menatap Lu Xiao sambil tersenyum, namun perlahan senyumnya memudar.
Ia menundukkan bulu matanya, jemarinya memainkan tusuk sate bekas di meja, lalu berbisik, "Sebenarnya, aku juga mengasihani diriku sendiri."
"Sama-sama anak yang ditinggalkan, kamu ditinggal ibumu, aku didorong ke sana-sini oleh kedua orang tuaku," ia menegakkan kepala, menatap Lu Xiao, "Menurutmu, siapa di antara kita yang lebih malang?"
Lu Xiao terdiam mendengar pertanyaan itu.
Malam tadi, sebelum pulang kerja, saat merokok di sudut atap, ia tanpa sengaja mendengar percakapan Lin Song dengan ibunya. Tapi saat mendengar sendiri Lin Song berkata ia anak yang ditinggalkan, dan bertanya siapa yang lebih malang, ia merasa sangat sedih—bahkan lebih sedih daripada saat mengetahui dirinya ditinggalkan ibu kandung.
Di atap, saat melihat punggung Lin Song yang sendirian, ia sangat ingin memeluknya, menawarkan pundaknya untuk bersandar. Namun ia sadar, ia tidak punya posisi, ia juga takut Lin Song malah menjauh.
Setelah Lin Song pergi, ia baru mengirim pesan suara, mengajaknya makan bersama seperti yang pernah dijanjikan.
Sebenarnya, bukan soal makan bersama, ia hanya ingin menemani Lin Song dengan cara seperti itu.