Bab 31: Rumah Tangga yang Tidak Sempurna
Dengan perasaan berat, Lin Song membersihkan diri dengan saksama, bahkan sekalian mencuci rambutnya. Selesai mandi, ia mengeringkan rambut dengan handuk sambil berjalan kembali ke tempat tidur. Ia mengambil ponsel, menggigit bibir, ragu-ragu apakah akan mengirim pesan pada Lu Xiao untuk menanyakan kejadian semalam.
Namun ia takut, jika benar ia mengatakan sesuatu yang tidak sepantasnya atau melakukan hal yang salah semalam, Lu Xiao akan mengejeknya. Karena itu, ia urung bertindak.
Tiba-tiba, terdengar ketukan di pintu, diiringi suara ceria seorang perempuan.
“Lin kecil, sudah bangun belum? Nenek Huang tadi pagi minta aku memasakkan bubur millet, bagus buat perut. Katanya kalau kamu sudah bangun, suruh kamu ke sana sarapan bersama.”
Lin Song mengenali suara itu, asisten rumah tangga yang bertugas menyiapkan makan sehari-hari Nenek Huang.
Ia segera menjawab, “Sudah bangun, Tante. Tolong bilang ke Nenek Huang, saya segera ke sana.”
Setelah itu Lin Song membuang niatnya mengirim pesan pada Lu Xiao. Ia mengambil jaket santai dari lemari, mengenakannya, lalu keluar menemui Nenek Huang untuk sarapan.
Saat Lin Song tiba di ruang makan, di meja sudah tersaji dua mangkuk bubur millet yang masih mengepulkan asap. Nenek Huang duduk di tepi meja, memegang untaian tasbih kayu cendana tua, matanya terpejam, bibirnya melafalkan sesuatu.
Lin Song tidak ingin mengganggu. Ia duduk diam-diam di samping meja, menunggu dengan tenang.
Beberapa saat kemudian, barulah Nenek Huang membuka mata. Melihat Lin Song, ia tersenyum ramah, meletakkan tasbih di atas meja, lalu bertanya, “Nak, sudah sedikit lebih baik hatimu?”
Lin Song terkejut, matanya membesar, ia tersenyum, “Bagaimana Nenek tahu kalau suasana hati saya tidak baik?”
“Nenek tua ini tahu segalanya!” sahut Nenek Huang dengan senyum penuh rahasia, seolah semua sudah ia mengerti, lalu menyodorkan mangkuk bubur pada Lin Song.
Lin Song menerimanya, menyesap perlahan. Suhunya pas, wangi bubur menguar lembut.
“Enak sekali!” Lin Song tak kuasa menahan pujian.
Nenek Huang menatapnya dengan senyum hangat, “Kalau enak, makan yang banyak. Nenek sengaja minta Xiao Liu memasakkan untukmu. Semalam kamu minum banyak, hari ini harus jaga perut baik-baik.”
Sambil berkata demikian, sang nenek menegur lembut, “Nak, lain kali jangan minum sebanyak itu, apa pun masalahnya pasti bisa berlalu. Jangan sakiti tubuh sendiri.”
Sudah bertahun-tahun tak ada yang menasihatinya seperti itu. Mendengarnya, Lin Song tiba-tiba merasa haru, ia memegang mangkuk dengan kedua tangan, menyesap buburnya, mengangguk-angguk pelan, sementara matanya terasa perih menahan tangis.
Ia berusaha berkedip, menahan perasaan haru, lalu meletakkan mangkuk. Ia tersenyum pada Nenek Huang, “Saya mengerti, Nek. Lain kali tidak lagi. Nenek juga lekas makan, nanti buburnya keburu dingin.”
Nenek Huang menambah lauk di mangkuk Lin Song, lalu mengambil sendok, ikut menikmati buburnya.
“Nak, pemuda yang mengantarmu pulang semalam, benar-benar baik, ya!” Nenek Huang tiba-tiba teringat, mengedipkan mata pada Lin Song, “Orangnya jujur, tampak bertanggung jawab, dan memperlakukanmu dengan baik. Tak ingin dipertimbangkan?”
Sang nenek memang sengaja mengamati gerak-gerik pemuda itu semalam, bahkan menunda masuk kamar hanya untuk menguji karakternya. Setelah ia pergi, pemuda itu pun tak berlama-lama di kamar Lin Song, segera pamit.
Ternyata dugaannya tepat, pemuda itu tahu sopan santun dan menjaga jarak.
Ucapan Nenek Huang hampir membuat Lin Song tersedak bubur. Ia berusaha tetap tenang, membersihkan tenggorokan, tersenyum pasrah, menjelaskan, “Aduh Nenek, jangan menjodoh-jodohkan kami. Kami hanya teman biasa, lagipula, dia tidak suka perempuan seperti saya.”
Ucapan itu membuat Nenek Huang tak mengerti, ia bertanya, “Seperti apa kamu itu? Kalau bukan kamu, lantas seperti apa yang dia suka?”
Lin Song bingung bagaimana menjelaskan pada Nenek Huang apa yang sebenarnya terjadi antara dirinya dan Lu Xiao. Namun setiap kali teringat komentar Lu Xiao terhadapnya, hatinya terasa perih.
Ia menunduk, mengaduk-aduk bubur di mangkuk, lalu berkata getir, “Dia lebih suka perempuan yang cocok jadi istri dan ibu rumah tangga, Nek. Apakah saya terlihat seperti itu?”
Nenek Huang menatap Lin Song sejenak, lalu tertawa, “Anak bodoh, soal cocok tidaknya jadi istri, itu harus dirasakan dengan hati, bukan dilihat dari luar oleh orang lain.”
Haruskah dirasakan dengan hati?
Tapi apakah ia pernah mencoba memahami dirinya? Hanya dengan mudah melontarkan penilaian seperti itu…
Mengingat itu, Lin Song merasa makin sedih.
Keesokan harinya setelah mabuk di Cataleya, ia terbangun di tempat tinggalnya sendiri. Tak perlu menebak, pasti Lu Xiao yang mengantarkannya pulang.
Setelah bangun, ia melihat secarik kertas di atas meja dari Lu Xiao sebelum pergi. Hatinya langsung berbunga-bunga.
Dia memintanya menemuinya, katanya ingin berbicara lagi.
Apakah ini berarti sikap Lu Xiao mulai melunak?
Malam itu, sepulang kerja, Lin Song sengaja berdandan rapi, lalu langsung menuju tempat tinggal Lu Xiao dan teman-teman seperjuangannya dari Cina.
Sepanjang perjalanan, hatinya penuh kegembiraan.
Saat sampai di depan rumah Lu Xiao, ia melihat Lu Xiao dan seorang temannya sedang bercakap-cakap sambil memasak di halaman.
Baru saja ia hendak mengetuk pintu, ia mendengar namanya disebut dari dalam. Langkahnya pun terhenti.
“Itu Lin Song, dokter Lin yang cantik itu, kami semua tahu dia tertarik padamu, Lao Lu, kau benar-benar tidak tertarik sedikit pun?”
Lin Song berdiri di balik pintu, hanya terpisah satu daun pintu. Jantungnya berdegup keras, seandainya tak menahan diri, rasanya sudah meloncat keluar.
Apa jawaban Lu Xiao?
Ia diam di luar, menunggu dengan harap sekaligus takut.
Waktu terasa sangat lambat. Ia tidak tahu mengapa Lu Xiao tak segera menjawab. Ia mulai gelisah, dan ketika nyaris tak tahan menunggu, suara yang sangat ia kenal dan rindukan akhirnya terdengar.
“Kamu saja yang matanya tajam!” Suaranya datar, dingin, seperti membalas ejekan temannya.
Apa maksudnya?
“Eh, Lao Lu, jangan mengelak! Kalau kamu memang tak suka Dokter Lin,” suara temannya terdengar bercanda, “aku yang akan mengejarnya, dia tipeku.”
Lin Song tak menyangka akan mendengar hal seperti itu dari luar pintu, sampai menutup mulutnya karena kaget.
Mungkin karena sebelumnya saat berusaha mendekati Lu Xiao, ia sering datang ke sini, lewat jalur teman-temannya, sehingga orang salah paham.
Dari dalam, Lu Xiao diam saja. Temannya masih melanjutkan.
“Menurutku, dia juga tak punya kesan buruk padaku. Soal penampilan, pangkat, dan latar belakang keluarga, aku tak kalah denganmu. Kalau kau tak suka, aku akan kejar, pasti bisa berhasil, kan?”
Temannya tertawa kecil, “Sekalian membantumu, sama-sama senang.”
Perasaannya pada Lu Xiao, baginya hanyalah beban?
Belum sempat Lin Song merenung lebih jauh, suara dingin Lu Xiao kembali terdengar.
“Perempuan seperti dia, memang bersinar indah, tapi kurang cocok untuk jadi pendamping orang seperti kita.”
“Jangan dipikirkan lagi, tunggu saja masa tugas selesai, pulanglah, cari jodoh yang sederajat dan menikahlah dengan gadis yang cocok.”