Perkembangan dan Kemajuan Wen Xiaoyu
Sejak kembali dari pertemuannya dengan Dong Ye, Wen Xiaoyu jarang lagi bersama Zheng Chenglong menghabiskan waktu di klub malam. Dia benar-benar menekuni pekerjaannya, mencintai profesinya. Setelah Dong Ye mengatakan tak ingin lagi bertarung, bahkan sekali pun ia tak pernah lagi menginjakkan kaki di sasana tinju, dan sepenuhnya fokus bekerja di perusahaan perfilman milik ayahnya.
Wen Xiaoyu adalah orang yang cerdas dan cepat memahami, selama mengikuti ayahnya, ia mengalami kemajuan pesat. Ia belajar dengan sungguh-sungguh dan memperlakukan semua orang dengan rendah hati dan penuh hormat. Perubahan sikapnya membuat semua orang di sekitarnya merasa takjub.
Saat ayahnya harus dinas keluar kota selama setengah bulan, ia langsung menyerahkan pengelolaan perusahaan pada Wen Xiaoyu. Tentu saja, semua keputusan tetap di bawah kendali ayahnya. Wen Xiaoyu hanya menjalankan dan memastikan semuanya terlaksana di lapangan.
Tugas itu tidak bisa dibilang mudah, tapi juga bukan sesuatu yang mustahil. Selama ayahnya tidak ada, Wen Xiaoyu mampu mengatur segala urusan perusahaan dengan sangat teratur dan menyeluruh. Ia benar-benar bekerja keras, sering lembur, bahkan dua hari dua malam tanpa tidur. Setiap ada hal yang tidak ia pahami, ia selalu bertanya dengan sopan pada para senior di perusahaan.
Meskipun ia menangani beberapa urusan jauh lebih lambat dibanding ayahnya—lima atau sepuluh kali lebih lambat—pada akhirnya semua urusan bisa ia selesaikan. Bahkan, dalam sebuah negosiasi kerja sama perfilman, ayahnya hanya menargetkan keuntungan lima belas persen, namun Wen Xiaoyu yang untuk pertama kalinya memimpin negosiasi berhasil membawa pulang keuntungan dua puluh persen, jauh melampaui ekspektasi ayahnya.
Terutama saat rapat, performa dan kepiawaian bicara Wen Xiaoyu benar-benar mengubah pandangan seluruh perusahaan terhadap dirinya.
Walau ayahnya tidak berada di perusahaan, ia mengetahui segala hal yang terjadi. Melihat putranya bekerja keras setiap hari, semangat dan kebahagiaannya pun semakin bertambah. Apalagi, ia melihat perubahan sikap orang-orang di sekitarnya terhadap Wen Xiaoyu, mulai dari pengakuan hingga pujian. Ia merasa bangga, karena itu adalah anaknya sendiri.
Perubahan ini berdampak besar pada suasana hati dan semangat ayahnya. Dalam urusan bisnis di luar kota, ia pun semakin percaya diri, dan segala sesuatunya berjalan lancar.
Ketika ayahnya kembali ke Kota Z, hal pertama yang ia lakukan adalah menuju kantornya. Ia mendapati Wen Xiaoyu tertidur di atas meja kerjanya, dengan lingkaran hitam di bawah mata. Perasaan bangga dan haru bercampur dalam dirinya.
Ia duduk di samping Wen Xiaoyu, menatap tumpukan dokumen yang telah rapi tersusun.
Tak lama, sekretarisnya masuk dan mengacungkan jempol.
“Tuan Muda Wen tadi malam pun tidak pulang ke rumah,” katanya.
Ayahnya merasa sangat gembira. Bagi seseorang yang biasanya sangat serius dan kaku, senyum di wajahnya kali ini tak bisa ia sembunyikan—kebahagiaan yang datang dari lubuk hati terdalam.
Saat itu, alarm ponsel Wen Xiaoyu berbunyi. Ia segera duduk tegak, tanpa menyadari ayahnya sudah ada di sana. Ia langsung menyalakan komputer dan mulai membandingkan dokumen dengan serius.
Ayahnya menatap anaknya dengan perasaan puas, merasa hidupnya tidak sia-sia. Semua yang telah ia kerjakan selama ini tidaklah percuma; putranya akhirnya benar-benar berubah. Kebanggaan yang tak terlukiskan membuncah dari lubuk hatinya.
Wen Xiaoyu merasa haus, dan ketika hendak meminta sekretaris menuangkan air, ia baru menyadari kehadiran ayahnya. “Ayah, kapan pulang? Kenapa tidak memberi tahu dulu?”
Ia langsung berdiri dengan sigap. Segala perasaan haru sang ayah tetap tersembunyi, hanya nampak wajah serius dan tegas. “Kalau mau tidur, kenapa tidak tidur di rumah?”
Ayahnya memasang wajah kaku. “Aku ingin melihat seberapa baik kamu menangani urusan yang selama ini aku percayakan padamu.”
“Empat kasus sebelumnya menurutku sudah bagus, sudah dibahas dengan tim di rapat, dan tak ada masalah, hanya menunggu persetujuan akhir dari Ayah. Dua kasus lainnya menurutku kurang baik, jadi aku tunggu keputusan Ayah. Semua catatan rapat sudah aku siapkan, Ayah.”
Ayahnya duduk, membuka satu berkas dari tumpukan dokumen yang telah diproses. Dalam hati, ia sangat gembira, namun tetap menjaga ekspresi datar. Hasil kerja Wen Xiaoyu jauh lebih baik dari yang ia bayangkan, tapi ia tetap sengaja mengerutkan alis. “Hmm, lumayanlah, cukup baik.”
Wen Xiaoyu menggaruk kepala, tersenyum polos. “Aku akan terus berusaha, Ayah!”
Ayahnya mengangguk. “Kudengar setengah bulan ini kamu belum sempat istirahat. Ambil cuti beberapa hari, istirahatlah yang cukup.”
“Selain itu,” ia mengeluarkan sebuah kartu bank dari sakunya, “negosiasi jaminan film baru perusahaan sudah selesai, dua belas miliar, satu miliar lebih banyak dari waktu bersama Tuan Zhang. Aku akan memberi bonus pada semua karyawan. Sekarang kamu juga bagian dari perusahaan, kartu ini milikmu. Tapi hati-hati, jangan sembarangan dihabiskan, anak nakal!”
Ucapan terakhir itu secara tidak sadar memperlihatkan kegembiraan hatinya.
“Hidup Ayah!” Wen Xiaoyu berseru, wajahnya penuh kegembiraan.
Ayahnya langsung menegur dengan tegas, “Apa tadi kau panggil aku?”
“Direktur Wen, Direktur Wen!” Wen Xiaoyu buru-buru mengoreksi diri, lalu mengambil kartu bank itu sambil tertawa.
Ia memang pintar, tahu bahwa angka di dalam kartu itu pasti tidak sedikit, apalagi baru saja berhasil menutup sebuah kesepakatan besar.
Ketika Wen Xiaoyu melihat angka di ATM, ia menutup mulutnya, “Gila, aku jadi kaya raya!”
Dengan caranya memandang dunia, jika ia sampai berkata demikian, tentu isi dalam kartunya luar biasa besarnya.
Ayahnya kali ini sungguh memberi banyak. Dengan anak seperti Wen Xiaoyu yang begitu bekerja keras, tentu saja ia tak akan pelit memberi hadiah.
Gembira bukan kepalang, Wen Xiaoyu menggenggam kartu bank itu dan melompat-lompat di tempat, berteriak kegirangan hingga menarik perhatian satpam bank.
Ia menggenggam kartu itu, keluar dari bank, dan langsung mengemudi menuju salah satu toko tato paling terkenal di Kota Z dengan kecepatan tinggi...
Saat Wen Xiaoyu berusia delapan belas tahun, ia mengenal Dong Ye yang dua tahun lebih tua darinya. Tak terasa, sudah lima tahun berlalu. Setiap ulang tahun Dong Ye selalu dirayakan dengan pesta mewah.
Tahun ini pun sama. Puluhan pria dan wanita berkumpul di hotel termewah di Kota Z, menyanyikan lagu ulang tahun, meniup lilin. Dong Ye tampak begitu bahagia, bahkan ia sendiri mengangkat gelas dan bersulang bersama semuanya.
Usai dari hotel, rombongan melanjutkan ke bar paling mewah di Kota Z. Karena sudah sedikit mabuk, Dong Ye malam itu terlihat sangat lepas, menari bersama semua orang. Jarang-jarang Dong Ye semeriah itu.
Zheng Chenglong semakin menjadi-jadi—memeluk seorang gadis di satu tangan, menenteng setumpuk uang di tangan lainnya, sambil berfoto dan memamerkan kekayaannya. Di sisi lain, Da Mao dan Hulusi menari bersama pasangan mereka.
Luo Hao sibuk mondar-mandir melayani semua orang, sesekali menyelipkan uang ke sakunya sendiri dengan riang.
Saat pesta sedang berlangsung, Dong Ye mulai merasa ada yang tidak beres, sebab sejak masuk ke bar, Wen Xiaoyu tiba-tiba menghilang. Ia mencoba menelpon, namun tak pernah tersambung. Ia meminta Luo Hao mencarinya, tapi setelah berkeliling dua kali, tetap tak menemukan. Akhirnya, Dong Ye sendiri yang cemas, bangkit dan mencari-cari sosok Wen Xiaoyu.
Ketika ia sedang berkeliling, tiba-tiba lampu bar yang semula gemerlap dengan irama DJ, mendadak gelap gulita. Orang-orang kebingungan, suasana jadi riuh dan tak menentu.
Tak lama kemudian, di tengah panggung, sebuah sorot cahaya menyorot, mencolok di antara kegelapan.
Di bawah cahaya itu, duduklah seorang pemuda yang tampak bersih dan rapi, mengenakan setelan jas putih dengan dasi kupu-kupu merah, wajah tampan dan mata yang bersinar tajam.
Ia memiliki aura yang kuat. Hampir seketika sorot lampu menimpa dirinya, semua orang langsung terdiam.
Ia duduk di kursi, dengan mikrofon di depannya dan gitar di pelukannya. Ia berdeham pelan, “Hari ini, adalah ulang tahun ke-25 kekasihku, Dong Ye. Lagu ini, aku persembahkan untuknya.”
Wen Xiaoyu mulai memetik gitar, penuh konsentrasi. Suaranya berat, lembut, penuh pesona, “Karena bermimpi kau pergi, aku terbangun dalam tangis, menatap angin malam di jendela, bisakah kau rasakan cintaku~”
Seiring alunan lagu, layar besar di belakang Wen Xiaoyu menampilkan foto-foto dirinya dan Dong Ye—dari pertemuan pertama, genggaman tangan pertama, hingga setiap momen dalam lima tahun bersama, satu per satu diputar di layar, ditemani kata-kata pengakuan cinta yang tulus dari hati Wen Xiaoyu.
Seluruh bar hening, semua orang mendengarkan dengan khidmat, menikmati setiap detiknya. Wen Xiaoyu bak pangeran elegan, bersinar di bawah sorot mata semua orang.
“Berapa banyak yang pernah mengagumi wajah mudamu, tapi siapa yang mau menanggung kejamnya waktu? Berapa banyak yang datang dan pergi dalam hidupmu, tahukah kau, seumur hidup, aku akan selalu di sisimu, tahukah kau, seumur hidup, aku akan selalu di sisimu~”
Lagu berakhir, layar besar di belakangnya menampilkan foto mereka berdua berciuman di bawah senja.
Wen Xiaoyu berdiri, mengambil mikrofon.
Sebuah cahaya lain menyorot Dong Ye, yang berdiri linglung penuh haru, air mata telah membasahi matanya, mengenang setiap kenangan bersama.
Wen Xiaoyu melangkah mendekatinya, menatap penuh cinta, lalu berucap dengan penuh ketulusan, “Apapun yang kau sukai, akan aku lakukan. Apapun yang kau inginkan, akan kuberikan.”
Ia mengeluarkan sertifikat kepemilikan rumah. “Ini adalah apartemen favoritmu, di lantai dan tipe yang kau suka, dan atas namamu.”
Ia mengeluarkan kunci mobil, “Ini mobil merek favoritmu, tipe dan warna yang kau suka, dan juga atas namamu.”
Lalu ia mengangkat kartu bank, “Ini semua tabungan lelaki yang paling mencintaimu, semuanya di kartu ini, dan namamu tertera di sana.” Ia membuka pakaian di bagian dada, di situ tergambar tato daun, di bawahnya tertulis dalam bahasa Inggris: “Dong Ye, hidupku.”
“Inilah hatiku, namamu yang terpatri.”
Melihat tato itu, seketika suasana menjadi gempar, banyak gadis yang matanya langsung berkaca-kaca.