Bab 140: Kok Bisa Begitu Kurus?
Chi Yu mengikuti Ling Yuan masuk ke dalam mobil. Begitu duduk, pria itu menggenggam tangannya dengan telapak tangan yang besar. Tangan gadis itu terasa begitu lembut, membuat Ling Yuan enggan melepaskannya.
Sebenarnya, setelah satu bulan tidak bertemu, Chi Yu juga merindukannya. Pertemuan mereka tadi berlangsung terburu-buru, baru sekarang ia memiliki waktu untuk memperhatikan pria itu. Sang pemuda pun sedang menunduk menatapnya, dan pandangan mereka pun bertemu.
Pemuda itu sedikit mencondongkan tubuh, menatapnya cukup lama. Setelah sekian saat, ia berbisik pelan, "Kenapa kau jadi kurus sekali?"
Nada suaranya sangat lembut.
"Kakak senior, kau tampan sekali." Chi Yu teringat pemandangan saat melihatnya di pintu tadi, ia tak kuasa menahan diri untuk memuji.
"Memangnya kapan aku tidak tampan?" Ling Yuan mengangkat tangan, menyisir rambut yang menjuntai di dahi Chi Yu ke belakang telinganya, lalu menyentuh pipi gadis itu yang seputih porselen. "Pipi ini juga sudah menipis. Ah, bersaing dengan begitu banyak siswa jenius pasti melelahkan. Karena kau sudah bekerja keras, biar aku beri hadiah. Makanlah sesuatu dulu."
"Makan apa?"
Ling Yuan mengeluarkan tas besar berisi berbagai camilan dan mulai menghitungnya satu per satu, "Ada dendeng sapi, dendeng babi, leher bebek—semua ini dibuat sendiri oleh Bibi Huang, bersih dan higienis. Ada juga roti, kacang tanah, yogurt... kau ingin makan yang mana?"
Chi Yu terdiam.
"Tadi kau sengaja mengatakannya, ya?"
"Mengatakan apa?"
"Sengaja bilang aku kurus, lalu memancingku makan agar aku tumbuh menjadi babi gemuk."
Ling Yuan tertawa geli mendengarnya. "Mana ada orang yang menyebut dirinya sendiri babi gemuk? Jadi, kau mau makan atau tidak?"
"Mau, tentu saja mau. Aku akan mencicipi semuanya, tidak boleh menyia-nyiakan masakan Bibi Huang."
Karena salju baru saja turun, jalanan sedikit licin, sehingga sopir melajukan mobil dengan tidak terburu-buru, namun tetap stabil. Chi Yu dan Ling Yuan duduk di kursi belakang, menyantap camilan sambil berbincang mengenai kejadian yang mereka alami selama sebulan terakhir. Suasana terasa hangat dan akrab.
Setelah memakan dua potong dendeng sapi, Chi Yu merasa mulutnya agak kering. Ia mengambil sebotol yogurt, membuka tutupnya, dan menyendok isinya dalam jumlah besar ke dalam mulut. Yogurt itu terasa sangat dingin, persis seperti makan es krim, hingga ia sempat menggigil sejenak.
Ling Yuan segera mengambil botol yogurt itu. "Kalau terlalu dingin, jangan dimakan."
Chi Yu baru saja hendak memprotes, namun saat ia mendongak, tubuhnya tiba-tiba ditarik ke dalam dekapan yang hangat.
Untuk sesaat, ia seolah mendengar detak jantungnya sendiri, terdengar begitu jelas. Telapak tangan yang hangat mengusap bagian belakang kepalanya. Mereka berada begitu dekat hingga aroma jeruk nipis yang segar dan tajam memenuhi indra penciumannya.
"Ada sisa yogurt di sudut bibirmu."
Pemuda itu berbisik, aroma tubuhnya yang bersih kembali menyerbu indra Chi Yu. Jantung gadis itu seketika berdegup kencang bak genderang, napasnya pun mulai tidak beraturan.
Ia menahan dada pria itu dengan kedua tangannya dan berbisik pelan, "Jangan terlalu dekat, sopir sedang melihat."
Ling Yuan memeluknya erat. "Tidak apa-apa, dia tidak bisa melihat."
Dari sudut matanya, Chi Yu menyadari ada sekat pembatas yang memisahkan kursi depan dan belakang. Hatinya yang tadi tegang kini melonggar. Ia membiarkan dirinya terbungkus dalam kehangatan pria itu, merasa seperti seorang musafir yang telah lama berlayar dan akhirnya menapakkan kaki di tanah yang kokoh; ada perasaan pulang ke rumah yang begitu menenangkan.
Dekapan pemuda itu sangat hangat, cukup untuk menghalau dinginnya musim salju. Ia memeluk Chi Yu dengan hati-hati, seolah-olah sedang melindungi harta karun yang paling berharga.
Di telepon, Ling Yuan sering bertanya apakah ia merindukannya, namun setelah bertemu, mereka tidak mengucapkan sepatah kata pun tentang rasa rindu itu. Meski begitu, Chi Yu tahu bahwa mereka tidak perlu mengatakannya. Sebab, setiap tindakan mereka sudah cukup untuk menceritakan betapa mereka saling merindukan.
—
Chi Yu kembali ke keluarga Liang terlebih dahulu untuk memberitahu Bai Yang hasil kompetisinya, lalu segera bergegas kembali ke sekolah tanpa membuang waktu. Ia telah tertinggal pelajaran selama satu bulan penuh, jadi ia harus belajar dengan sekuat tenaga dan memanfaatkan setiap detik yang ada.
Kesibukan itu membuat setengah bulan berlalu begitu saja. Masa-masa ini terasa tenang. Satu hal yang patut dicatat adalah setelah Chi Yu kembali dari kamp pelatihan, ia mendapati Wei Zi benar-benar pindah ke sekolahnya dan bahkan mengajukan diri untuk tinggal di asrama yang sama.
Wei Zi adalah siswi jurusan IPS dan ditempatkan di kelas yang sama dengan Jiang Xishu. Dengan begitu, asrama mereka dihuni oleh dua siswi IPA dan dua siswi IPS—pembagian yang sangat seimbang, sehingga Jiang Xishu tidak perlu lagi merasa sendirian.
Karena Chi Yu meraih juara pertama, pihak sekolah dan penyelenggara memberikan hadiah uang. Ia menyisihkan setengah uang tersebut untuk biaya hidup dan tabungan kuliah, sementara sisanya ia kirimkan kepada Kakek Chi.
Awalnya, Kakek Chi mengira uang itu pemberian dari Bai Yang dan memintanya untuk mengembalikan uang tersebut. Setelah Chi Yu menjelaskan bahwa itu adalah uang beasiswa, sang kakek memujinya berulang kali, "Cucuku yang baik hebat sekali, masih sekolah saja sudah bisa mencari uang. Kakek tidak ke mana-mana, tidak butuh banyak uang. Uang peninggalan ayahmu masih ada padaku. Kau di luar sana butuh biaya untuk makan dan kebutuhan lainnya, simpan saja uang itu untuk dirimu sendiri."
Chi Yu menjawab dengan manja, "Aku masih punya, Kakek. Jangan terlalu hemat, kalau perlu beli sesuatu ya beli saja. Nanti aku bisa mencari lebih banyak uang lagi."
Hati Kakek Chi terasa sangat hangat, "Baik, baik, Kakek menunggu cucuku yang hebat ini mencari nafkah."
"Ya."
Ia sangat merindukan kakeknya selama ini, sampai-sampai ingin segera libur dan terbang pulang. "Kakek, setelah ujian selesai, aku akan pulang menjengukmu, ya?"
"Cucuku yang sibuk belajar, apa sempat untuk pulang?"
"Sempat, kok. Aku juga berencana pulang untuk merayakan Tahun Baru. Setelah ujian selesai aku akan segera membeli tiket, nanti aku akan menelepon Kakek lagi. Kakek, aku ingin makan daging babi masak kecap buatanmu."
Kakek Chi tertawa riang, "Baik, baik, tunggu kau pulang, Kakek akan buatkan daging babi masak kecap untukmu."
...
Waktu berlalu dengan cepat. Setelah ujian akhir semester selesai, siswa kelas dua dan tiga tidak bisa langsung libur karena harus mengikuti kelas tambahan selama dua minggu.
Yan Qiwu merasa sangat senang selama masa ini, ia terus merencanakan liburan musim dingin dan mengajak Chi Yu pergi bermain bersama.
Chi Yu memberitahunya, "Tahun Baru ini aku tidak di Kota Feng, aku harus kembali ke Kota An untuk menemani kakekku."
Yan Qiwu merasa kecewa, "Kalau begitu, kapan kau kembali?"
"Setelah Tahun Baru aku langsung kembali. Sekolah sudah mulai masuk pada hari kelima Tahun Baru, mungkin aku baru akan kembali pada hari keempat."
"Baiklah! Aku ingin sekali ikut pulang bersamamu."
"Pulang ke mana?" sebuah suara ceria terdengar dari depan jendela mereka.
Yan Qiwu berkata, "Kakak Kesembilan, Yu-yu bilang dia akan pulang kampung untuk merayakan Tahun Baru."
Ling Yuan tidak terkejut, "Aku tahu."
Ia bahkan sudah diam-diam membeli tiket.
Yan Qiwu merasa kesal. Ia tadinya ingin menggoda pria itu, tetapi Ling Yuan tampak begitu tenang dan tidak terburu-buru. Ia melirik pemuda yang berdiri di belakang Ling Yuan dan melambaikan tangan, "Kakak Senior Zhou."
Zhou Muyun menjawab, "Ada apa?"
"Bagaimana kalau saat libur nanti kita pergi bermain ke rumah Yu-yu?"
Sebelum Zhou Muyun sempat menjawab, Chi Yu berkata, "Lebih baik tunggu liburan musim panas tahun depan saja. Libur kita kali ini tidak sampai sepuluh hari, perjalanan ke sana akan sangat melelahkan. Lagipula, setelah sampai di rumah aku masih ada urusan lain, mungkin tidak sempat menemani kalian bermain."
Yan Qiwu pun terpaksa membatalkan rencananya dengan perasaan menyesal.