Bab 148 Kemampuan Pas-pasan, Suka Cari Sensasi
Beberapa orang langsung berpura-pura berbisik satu sama lain, suasananya seramai pasar tradisional.
Chi Yu mengedar pandangan dan melihat ada kursi kosong di sebelah Yan Qiwu. Ia berniat untuk duduk di sana, tetapi Ling Yuan menarik lengannya. "Jangan duduk di situ, asapnya terlalu pekat."
Pria itu mengambil sebuah bangku dan meletakkannya di belakang kursinya, lalu menepuknya pelan. "Duduklah di sini."
Zhou Mubai seolah tidak tahan melihatnya. Ia menyenggol bahu Liang Zitao dengan bahunya dan berbisik kecil, "Sekarang aku percaya pada perkataanmu."
"Apa?"
"Kakak Jiu bucin."
Jiang Xishu sudah berteman dengan Zhou Mubai selama bertahun-tahun. Ia juga mendekatkan kepalanya dan berkata, "Bai Bai, kamu harus terbiasa. Setelah melihatnya berkali-kali, kamu akan kebal."
Awalnya Jiang Xishu juga merasa itu adalah hal yang tidak masuk akal. Namun, setelah sering makan bersama mereka, kini ia sudah tidak terkejut lagi.
Pandangan hidup Zhou Mubai mulai runtuh. "Tidak disangka, sama sekali tidak disangka. Kakak Jiu ternyata adalah orang yang seperti itu."
Tanpa diduga, ketika ia menoleh, ia melihat sepupu mudanya yang biasanya dingin dan arogan juga sedang membujuk Yan Qiwu dengan penuh kelembutan untuk memakan makanan yang ia panggang.
Ia menutup matanya dengan tangan dan bergumam, "Dunia ini benar-benar terasa tidak nyata."
"Tidak bisa dibiarkan!" Tiba-tiba ia menepuk paha sendiri, membuat Liang Zitao yang duduk di sampingnya terkejut bukan main. Pria itu buru-buru menarik tangannya dan bertanya berturut-turut, "Nyonya besar, ada apa?"
Zhou Mubai tadinya ingin melontarkan serangkaian kata untuk menyebut sepasang kekasih menyebalkan itu, memikirkan siapa sebenarnya yang sedang mereka pamerkan kemesraannya. Namun, setelah dipikir-pikir lagi, ia merasa dirinya sendiri seperti ikut terhina, sehingga kata-kata yang sudah sampai di ujung lidah itu berubah menjadi, "Karena semua orang sedang senang, bagaimana kalau kita minum?"
Ling Yuan bertanya, "Mau minum apa?"
Zhou Mubai menjawab, "Erlguotou."
Liang Zitao langsung membekap mulutnya. "Ada banyak anak perempuan, lebih baik kita minum bir saja untuk membasahi tenggorokan."
Wei Zi mengangkat tangannya. "Aku setuju, usul Bai Bai."
Song Che menarik gadis itu mendekat. "Gadis kecil sepertimu, untuk apa minum Erlguotou."
Kedua nona besar ini bukannya tidak tahu bahwa kapasitas alkohol mereka sangat buruk. Mereka adalah tipe orang yang tidak pandai minum tetapi hobi minum. Selesai minum pasti akan mabuk dan membuat keributan, siapa yang berani membiarkan mereka minum Erlguotou?
"Baiklah, bir saja."
Ling Yuan mengetuk meja sebagai penentu keputusan. Ia mengeluarkan ponselnya dan melakukan panggilan. Tidak lama kemudian, Paman Chang menyuruh orang-orang mengangkat beberapa dus bir ke sana.
Song Che berkata dengan manis, "Repot-repot ya, Paman Chang."
Paman Chang tersenyum sambil melambaikan tangan. Setelah meletakkan minuman tersebut, ia pergi bersama orang-orangnya.
Wei Xingze memandangi jajaran botol bir itu. "Karena kita minum, bagaimana mungkin permainan tertinggal?"
Song Che bertanya, "Mau main apa?"
Wei Zi berkata, "Bagaimana kalau kita bermain *Truth or Dare*?"
Zhou Mouyun mengedar pandangan sekeliling. *Cih*, melihat pasangan-pasangan ini, *Truth or Dare* sama sekali tidak menantang. "Bagaimana kalau bermain estafet bunga dengan tabuhan genderang?"
Yan Qiwu bertanya dengan rasa penasaran, "Bagaimana cara mainnya?"
"Semua orang melingkar. Ketika penabuh mulai memukul genderang, bunga akan dioper. Saat tabuhan berhenti, siapa pun yang memegang bunga adalah orang yang 'beruntung' dan harus menampilkan sesuatu. Setelah pertunjukan selesai, bunga akan dioper mulai dari orang yang 'beruntung' itu, dan seterusnya untuk putaran berikutnya."
Semua orang menyetujui permainan ini secara bulat.
Zhou Mubai mengangkat tangan. "Lalu, siapa yang jadi penabuh genderangnya?"
Chi Yu berkata, "Menurutku kita bisa bergiliran menjadi penabuh, jadi semua orang punya kesempatan untuk ikut bermain."
Karena Zhou Mouyun yang mengusulkannya, ia pun menjadi penabuh genderang yang pertama.
Begitu tabuhan genderang berbunyi, semua orang mengoper bunga secara perlahan. Ketukan genderang mulai berpacu cepat, dan kecepatan tangan mengoper bunga pun meningkat. Tiba-tiba Zhou Mouyun menghentikan tabuhannya secara mendadak, dan bunga itu mendarat tepat di tangan Song Che. Pria itu meleparnya ke samping seperti kentang panas.
Orang yang duduk di sampingnya adalah Wei Zi. Gadis itu mengira permainan selesai karena Song Che yang memegang bunga, sama sekali tidak menyangka pria bejat itu begitu licik. Setelah bunga berada di tangannya, pria itu masih sempat melemparnya ke arah Wei Zi. Gadis itu sama sekali tidak sempat bereaksi, dan akhirnya, ia dengan sangat menyedihkan menjadi orang "beruntung" yang pertama.
Wei Zi mencubit lengan pria itu sekuat tenaga. "Akan kuberi perhitungan nanti."
Kemudian ia berdiri, mendehemkan suaranya, dan berkata, "Aku akan menampilkan tarian jalanan untuk kalian."
Wei Zi sudah belajar tarian jalanan sejak kecil dan telah memenangkan cukup banyak penghargaan.
Tarian jalanan pada dasarnya adalah jenis tarian yang bertema cepat dan bebas. Tarian yang dibawakan Wei Zi sama seperti karakternya: lincah, penuh semangat, dan bebas tanpa beban. Ketika ia melakukan gerakan *HeadSpin*, semua orang tidak kuasa untuk ikut bertepuk tangan.
Usai menari satu babak, Wei Zi berkucuran keringat karena kepanasan. Song Che bersikap rendah hati membawakan teh dan air, serta membantu menyeka keringat di kening gadis itu.
Wei Zi meliriknya dengan ekor matanya. "Jangan dikira dengan cara begini aku bisa memaafkanmu."
Song Che berkata, "Kamu adalah junjunganku, hukum saja sesukamu."
"Tunggu, dengarkan perintah selanjutnya."
"Siap laksanakan."
Putaran baru permainan dimulai. Kali ini orang yang "beruntung" adalah Zhou Mouyun. Tanpa banyak bicara, ia menuangkan satu gelas penuh dan menghabiskannya dalam beberapa teguk besar seolah sedang minum air putih. Semua orang langsung bersorak memuji.
Setelah belasan putaran permainan, orang-orang lain sudah melewati beberapa ronde minum, sementara Chi Yu dan Ling Yuan masih belum pernah menjadi orang yang "beruntung".
Song Che menatap keduanya, bola matanya berputar cepat. "Kakak Jiu, apakah kamu dan Adik Chi Yu harus duduk terpisah? Kalian berdua duduk berdampingan terus, aku selalu merasa ada yang aneh."
Ling Yuan mengangkat sebelah alisnya. "Mana yang aneh."
Song Che tidak dapat menjelaskannya secara spesifik, ia hanya merasa pasti ada udang di balik batu antara kedua orang ini. Ia berdiri dan nekat memindahkan sebuah bangku untuk duduk tepat di antara Chi Yu dan Ling Yuan. "Aku mau duduk di sini."
Ling Yuan: "……"
Dengan adanya Song Che yang menjadi pengacau di tengah-tengah, orang "beruntung" pada putaran berikutnya benar-benar jatuh pada Chi Yu.
Chi Yu pun bersikap sportif. Tanpa banyak bicara, ia mengambil gelas minumnya dan meneguknya dalam-dalam.
Dan pada putaran berikutnya, bunga itu teroper ke tangan Ling Yuan. Pria itu juga tidak banyak bicara, langsung mengangkat gelasnya dan meminumnya sampai habis dalam sekali teguk.
Wei Zi merasa keberatan. "Eh, kenapa aku merasa kalian berdua ini datang hanya untuk mencari alasan menumpang minum? Kalau mainnya begini, lebih baik kita langsung adu minum saja secara terang-terangan. Menurutku di putaran berikutnya kalian tidak boleh hanya minum tanpa suara, kalian harus menampilkan sesuatu."
Begitu pelopor pertama sudah berkata demikian, yang lain tentu saja tidak keberatan.
Ketika bunga pada putaran baru mendarat di tangan Song Che, Zhou Mouyun menahannya. "Apa yang ingin kamu tampilkan?"
Song Che bertanya, "Kenapa, kamu mau menggantikanku tampil?"
Zhou Mouyun berkata, "Aku ingat tahun lalu kamu pernah menari tarian goyang pinggul, kan?"
Tahun lalu saat hari ulang tahun Song Che, beberapa teman baik berkumpul untuk minum bersama. Song Che yang sudah mabuk berat menari mengikuti video di internet dengan menggoyangkan pinggulnya. Saat itu videonya bahkan sempat direkam oleh Zhou Mouyun.
Setelah Song Che sadar dari mabuknya, ia menggunakan berbagai ancaman dan bujukan agar Zhou Mouyun menghapus video tersebut.
Song Che melipat tangan di depan dada, menatapnya dengan waspada. "Apa yang mau kamu lakukan?"
"Bagaimana kalau kamu menarikan tarian itu lagi untuk kami nikmati?"
Song Che menolak. "Tidak mau."
Zhou Mouyun menggodanya. "Jika kamu mau menari sekarang, nanti saat giliranku mendapat bunga, aku juga akan menari. Bagaimana?"
Bagaimana mungkin Song Che tertipu olehnya? Ia menolak mentah-mentah, "Tidak mau."
Liang Zitao ikut memprovokasi, "Kondektur Song, menarilah. Aku akan menari bersamamu."
Begitu mendengar tentang pria macho yang menari, mata Wei Zi langsung berbinar-binar. Ia bahkan mendorong kakaknya sendiri untuk ikut maju, kebiasaan menjebak kakaknya itu sudah sangat lihai. "Kak, kamu juga ikut maju ya. Semakin banyak orang akan semakin meriah."
Zhou Mubai melirik ke arah Ling Yuan, berniat ingin menyuruhnya ikut serta, tetapi saat ia beradu pandang dengan tatapan dingin pria itu, ia menciutkan lehernya. "Kalian beberapa orang tidak usah menunggu operan bunga lagi, lebih baik langsung bentuk kelompok dan mulai menari sekarang."
Jiang Xishu melihat Wei Xingze yang dikhianati oleh adiknya sendiri, menutup mulutnya rapat-rapat sambil tertawa geli.