Bab 145 Siapa menantu perempuan yang jelek?
Meskipun mereka belum resmi berpacaran, sebenarnya sejak saling mengungkapkan perasaan, mereka sudah menganggap diri mereka sebagai pasangan. Hanya saja, di hadapan orang lain, mereka belum menembus lapisan tipis yang memisahkan keduanya.
Bagaimanapun juga, benih-benih cinta monyet sudah mulai tumbuh.
Di keluarga lain, bukankah orang tua akan mengamuk jika mendengar anak mereka berpacaran terlalu dini?
“Cucu kesayangan Kakek sudah besar dan sudah punya anak laki-laki yang disukai. Kakek juga lega. Hanya saja, kau harus memahami bahwa cinta hanyalah sebagian dari hidupmu. Masa depan juga sangat penting. Jangan sampai karena perasaan kecil seperti ini, kau melupakan hal-hal yang seharusnya kalian lakukan di usia sekarang. Jangan menganggap Kakek cerewet, ya. Kau seorang gadis, jadi kau juga harus tahu cara melindungi dirimu sendiri. Mengerti?”
Kakek Chi merasa dirinya cukup pandai menilai orang. Tatapan Ling Yuan jernih, bukan tatapan orang licik. Namun, nasihat yang harus diberikan tetap harus diberikan, begitu pula peringatan yang perlu disampaikan.
Tugas utama mereka sekarang adalah belajar, bukan berpacaran. Mereka juga harus memiliki batas yang jelas mengenai apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan.
Chi Yu mengangguk patuh. “Kakek tenang saja, aku tahu semuanya. Nilai-nilaiku bukan hanya tidak menurun, malah meningkat. Kakak tingkat juga pintar sekali. Kalau ada yang tidak kupahami, aku selalu bertanya kepadanya. Dia sudah banyak membantuku.”
Kakek Chi sangat lega. “Kakek memang tahu kalian anak-anak baik. Anak-anak baik seharusnya saling mengingatkan dan maju bersama. Kakek tidak menyetujui hubungan yang membuat nilai belajar menurun seperti di televisi, atau ketika salah satu pihak justru menjadi beban bagi yang lain. Hal-hal yang berkaitan dengan masa depan seperti ini, beberapa tahun lagi ketika menoleh ke belakang, mereka pasti akan menyesal. Pada akhirnya, yang tersisa bukan pertengkaran tanpa akhir, ya berpisah dan menempuh jalan masing-masing.”
“Kakek, aku tahu.”
“Cucu kesayangan Kakek begitu patuh. Kakek masih menantikanmu masuk universitas yang bagus dan mengharumkan nama keluarga Chi. Kalau dipikir-pikir, ayahmu juga cukup membanggakan, hanya saja nasibnya kurang baik.”
Ketika Chi Zhao disebut, keduanya sama-sama terdiam.
Di hari-hari awal tahun baru, Chi Yu tidak ingin Kakeknya terus larut dalam kesedihan. Dengan sengaja, ia mengalihkan pembicaraan, “Kakek, apakah Ruan Xingchen pernah menghubungi Kakek lagi?”
Kakek Chi menjawab, “Pernah. Dia bahkan mengirim sejumlah uang, tetapi sudah Kakek kembalikan. Namun, dia bilang akan menanggung biaya kuliahmu kelak. Untuk yang itu, Kakek tidak menolak. Nanti kau putuskan sendiri. Kalau benar-benar kesulitan dan tidak ingin merepotkan ibumu, carilah dia. Kakek rasa dia memang sungguh-sungguh ingin memberi sedikit kompensasi kepada kita. Kalau kita menolaknya, dia juga pasti merasa tidak enak. Soal ayahmu, dia tidak bisa sepenuhnya disalahkan. Siapa yang menyangka akan terjadi kecelakaan seperti itu? Lagi pula, ayahmu sedang melihat kita dari langit. Dia juga tidak ingin kita terus seperti ini. Kau harus belajar melepaskannya.”
Chi Yu mengangguk. “Kakek, aku tahu. Sekarang aku sudah tidak menyalahkannya lagi.”
Hari sudah sangat larut. Kakek Chi tak kuasa menahan kantuk dan menguap.
Chi Yu segera berkata, “Kakek, tidurlah. Besok kita bicara lagi.”
“Besok cucu kesayangan Kakek sudah harus kembali ke sekolah. Entah kapan kita bisa berbicara lagi, mungkin baru saat Hari Buruh nanti. Jadi Kakek ingin mengobrol lebih lama denganmu.”
“Nanti kita lihat waktunya. Kalau masih bisa mendapatkan tiket, aku akan pulang saat Festival Qingming untuk berziarah ke makam Ayah.”
“Kau sibuk belajar. Tidak apa-apa kalau tidak pulang, tidak harus memaksakan diri. Ayahmu pasti mengerti.”
Walaupun Chi Yu berkata demikian, Kakek Chi tetap merasa senang. Sambil mengenakan kacamata bacanya, ia menandai tanggal-tanggal di kalender.
Begitulah orang-orang tua. Selama ada seseorang yang menemani, mereka sudah merasa bahagia.
“Ya, aku mengerti. Kakek cepatlah tidur.”
Malam itu berlalu tanpa kejadian apa pun. Keesokan harinya, Chi Yu bangun lewat pukul lima pagi. Setelah merapikan barang bawaan dan menyiapkan sarapan, barulah ia membangunkan Kakeknya.
Sarapan yang dibuatnya juga sederhana. Ia hanya memasak sepanci kecil bubur daging tanpa lemak, menggoreng dua butir telur, dan menyiapkan sepiring mi goreng.
Meskipun Kakek Chi mengeluh bahwa mi gorengnya terlalu asin, hatinya sebenarnya sangat gembira. Cucu perempuannya begitu berbakti—sedikit asin memangnya kenapa? Tinggal minum lebih banyak air. Orang lain bahkan belum tentu bisa mendapat kesempatan untuk menyantap masakan seperti ini. Ia pun makan dengan lahap.
Ling Yuan datang menjemputnya lewat pukul tujuh. Sebelum berangkat, Kakek Chi berkali-kali berpesan ini dan itu, baru kemudian melepaskannya dengan berat hati.
Chi Yu juga merasa agak sedih. Kakeknya semakin tua dan tinggal sendirian. Jika terjadi sesuatu, ia tidak akan bisa segera pulang.
Melihat keadaannya, Ling Yuan menghiburnya dan berkata bahwa jika ada waktu luang nanti, ia akan lebih sering menemaninya pulang untuk menjenguk Kakek.
Tinggal satu semester lagi sebelum Ling Yuan mengikuti ujian masuk universitas. Waktunya begitu terbatas, mana mungkin Chi Yu mengganggunya? Namun, mendengar Ling Yuan mengatakan hal itu, hatinya tetap terasa hangat.
Sesampainya di Kota Feng, Chi Yu dan Ling Yuan langsung kembali tenggelam dalam kesibukan belajar. Begitu tiba di sekolah, ruang kelas para siswa tingkat akhir sudah dihiasi papan hitung mundur seratus hari menuju ujian masuk universitas. Hari ujian semakin dekat dari hari ke hari. Bahkan para siswa berandalan yang biasanya bersikap seenaknya pun mulai serius, duduk tegak di bangku masing-masing dan mengulang pelajaran.
Karena ujian tinggal lebih dari seratus hari lagi, Ling Xiao belakangan ini tidak lagi membiarkan Ling Yuan ikut campur dalam urusan perusahaan. Ia ingin putranya memusatkan seluruh perhatian untuk mempersiapkan ujian. Kemudian ia teringat rencana memanggang makanan pada Festival Lampion yang pernah dibicarakannya dengan Nenek Ling, lalu mencari waktu untuk menyampaikannya kepada Ling Yuan.
Tentu saja Ling Xiao tidak mengatakan bahwa Kakek dan Neneknya ingin bertemu Chi Yu. Ia hanya berkata bahwa Nenek ingin suasana yang lebih meriah, sehingga Ling Yuan bisa mengundang beberapa teman ke rumah dan berkumpul bersama mereka. Dengan begitu, di tengah kesibukan belajar, mereka juga bisa sedikit bersantai.
Ling Yuan dengan senang hati menyetujuinya, tetapi ia hanya mengundang beberapa teman dekat.
Teman-teman dekat Ling Yuan hanyalah mereka yang biasa bermain bersamanya: Zhou Muyun, Song Che, Liang Zihao, dan Wei Xingze untuk anak laki-laki. Untuk anak perempuan, tentu saja Chi Yu harus diundang. Namun, tidak mungkin hanya dia seorang yang datang. Nanti ia akan melihat pendapat Chi Yu; siapa pun yang ingin diundang gadis itu, akan ia undang.
Ketika Ling Yuan memberitahukan hal tersebut kepada Chi Yu, reaksi pertamanya adalah menolak.
“Bolehkah aku tidak datang?”
“Kenapa?”
Ling Yuan mengira Chi Yu akan menjadi orang yang paling mudah diundang. Ia sama sekali tidak menyangka akan mengalami kegagalan telak.
Chi Yu bergumam tidak jelas. Lama sekali ia tidak mampu mengemukakan alasan.
Tiba-tiba Ling Yuan seolah mendapat ilham. Ia tak dapat menahan tawa. “Oh, ternyata… ada seseorang yang takut, ya?”
Chi Yu bersikeras menyangkal. “Aku takut apa?”
“Menantu jelek pada akhirnya tetap harus bertemu dengan mertuanya, kan?”
Chi Yu menghentakkan kaki. “Siapa yang kau bilang menantu jelek?”
Sebenarnya ia gugup. Pergi ke rumah Ling Yuan berarti bertemu dengan keluarganya.
Ia menyukai Ling Yuan, tetapi menyukai seseorang bukanlah perkara sederhana. Itu berarti pertemuan antara dua keluarga.
Keluarga Ling Yuan hidup berkecukupan, sementara Kakek dan Neneknya sama-sama menduduki posisi tinggi. Kondisi keluarga Chi Yu jauh berbeda dari mereka. Rasa rendah diri pun muncul dengan sendirinya. Ia khawatir keluarganya akan membuat keluarga Ling Yuan memandang rendah dirinya.
“Chi Yu kecil, pernahkah aku mengatakan ini kepadamu?”
Ling Yuan seolah mampu membaca isi perutnya. Bahkan apa yang sedang dipikirkannya pun dapat ditebaknya. “Ayahku sangat menyukaimu. Kakek dan Nenek memang belum pernah bertemu denganmu, tetapi dengan kehebatanmu, mereka pasti juga akan menyukaimu.”
Suara pemuda itu tenang, disertai sedikit kemalasan. Tanpa sadar, Chi Yu mengangkat kepala dan menatapnya.
Ling Yuan tersenyum. “Kau masih ingat saat terakhir kali bertemu Ayahku, kan? Ayah memberimu penilaian yang sangat tinggi. Tentu saja, mungkin itu karena dia menyayangiku sehingga menyukai orang yang kusukai. Namun, yang lebih penting, kau memang sangat hebat dan memiliki daya tarik yang membuat orang ingin mendekatimu.”
“Tapi…”
“Jangan berkata ‘tapi’. Selama aku menyukaimu dan kau juga menyukaiku, hal-hal lainnya bukan masalah. Jangan terlalu mengkhawatirkan semuanya, ya?”