Bab Enam: Sebuah Kesepakatan
“Kau telah melukai agen-agen kami, lalu malah memerintahku seolah-olah aku bawahannmu. Apakah ini tata krama orang Krypton?” Di hadapan desakan Heisenberg, Hill sedikit ragu saat melontarkan pertanyaan itu.
“Bukan, tata krama orang Krypton adalah menginvasi planetmu bahkan sebelum kau sempat bicara!” Heisenberg menanggapi dengan seringai sinis, lalu setelah berpikir sejenak, ia mengatupkan bibirnya karena bosan.
“Mari kita bicara dengan cara lain. Aku baru saja diterjang tiga ratus dua puluh dua peluru, anggap saja kau menenangkan seorang makhluk berbahaya sepertiku. Bawakan minuman keras.”
“Caramu menenangkan memang sederhana, tapi aku lebih ingin bilang tidak, karena aku tidak merasa kau menghormatiku ataupun Bumi!” jawab Hill dengan tegas.
“Bahkan jika itu berarti kau akan mati?”
“Bahkan jika aku harus mati!” Baru saja Hill selesai bicara, pintu ruang istirahat tiba-tiba terbuka lebar.
Nick Fury yang tampak sedikit berkeringat melangkah masuk dengan langkah lebar, langsung menuju ke tengah antara Heisenberg dan Hill. Ia menatap Heisenberg dalam-dalam, dan ketika melihat sorot mata Heisenberg yang acuh tak acuh, ia menarik napas dalam-dalam.
Ketika ia menghembuskannya, ia sudah siap untuk merendah. “Senang sekali bisa bertemu denganmu lagi, Tuan Heisenberg. Setelah Anda meninggalkan kantorku tadi malam, aku kira Bumi tak mampu menahan Anda.”
Sambil berkata demikian, Nick Fury duduk di sofa sebelah kiri Heisenberg. Begitu ia duduk, ia masih saja bergumam, “Terima kasih, Tuan Heisenberg, karena setelah menikmati keindahan Bumi, Anda tetap memilih kembali ke negara kami. Walaupun sempat terjadi sedikit insiden, aku yakin perjalanan berikutnya akan membuat Anda benar-benar merasa diterima!”
Nick Fury lalu menjentikkan jarinya ke arah Hill yang berdiri tak jauh. “Hill, bisa tolong bawakan minuman untukku dan Tuan Heisenberg? Aku masih berhutang satu gelas padanya!”
Begitu ucapannya selesai.
“Puhahahaha!” tawa Heisenberg terdengar keras.
“Emmm,” hanya itu reaksi Hill.
Dengan kasat mata, kekecewaan di wajah Hill makin jelas, sampai-sampai Heisenberg sempat khawatir perempuan itu akan menangis tiba-tiba.
Melihat itu, Nick Fury merasa sedikit bingung. “Ada apa?” tanyanya pelan.
Hill menggeleng, walau jelas ia merasa tidak nyaman. “Tidak apa-apa, aku akan ambil minuman.”
“Ha-ha, Direktur Fury benar-benar terlalu sopan. Dan Agen Hill, terima kasih banyak padamu!” ujar Heisenberg seraya Hill bangkit mencari minuman.
Heisenberg merasa langkah Hill terlihat penuh keraguan dan ketidakrelaan, dan imajinasi atas sikap Hill itu membuatnya makin senang.
Lihatlah, betapa bahagianya jadi orang berkuasa! Selama kau cukup kuat, kau bisa melakukan hal-hal yang tak pernah kau bayangkan sebelumnya. Dan hal-hal itu akan memberimu kebahagiaan dan kepuasan yang tak pernah didapat dari hal biasa!
Kini, Heisenberg benar-benar puas. Sangat puas.
Ia pun melayang, tubuhnya mengapung dan mendarat di sebelah Nick Fury, hanya sekitar tiga puluh sentimeter darinya.
Sambil tersenyum, ia berkata, “Nick, mumpung hanya ada kita berdua, aku ingin bicara hal yang serius.”
“Silakan,” Nick Fury mengangguk.
“Tadi malam... aku terbang mengelilingi Bumi sekitar tujuh ribu putaran. Kira-kira segitu.”
“Lalu?” Nick mengusap keringat di dahinya.
“Setelah melihat langsung kehidupan di berbagai penjuru Bumi, aku jadi cukup suka gaya hidup orang Amerika yang penuh pesta pora dan gemerlap itu.”
Sambil berkata demikian, Heisenberg menggosokkan ibu jari, telunjuk, dan jari tengahnya.
“Uang, wanita, mobil mewah, jam tangan mahal—semua itu dulu tak pernah kumiliki atau kejar. Tapi sekarang, kurasa semua itu cocok untukku, karena aku ini tahanan yang sudah dikurung ribuan tahun, dan sangat ingin membuang dendam di hati, menyambut hidup baru yang lebih baik!”
Plak!
Heisenberg menepuk pundak Nick Fury, dan Nick meringis menahan sakit, sementara Heisenberg terkekeh.
“Aku orang yang tak suka repot, dan sudah jadi kakek tua berumur ribuan tahun. Aku tak ingin lagi berjuang seperti anak muda hanya demi memenuhi nafsu. Tapi aku juga tak mungkin hidup seperti pertapa. Jadi, aku hanya bisa merepotkan orang lain agar memberiku hidup yang sesuai dengan kekuatan dan statusku.”
Heisenberg kembali menepuk bahu Nick Fury.
“Kalau begitu, menurutmu, siapa yang sebaiknya ku repotkan?”
“Aku tidak akan menolak!” Nick Fury langsung berdiri dan menggenggam tangan Heisenberg.
“Badan Perisai sebagai lembaga di bawah PBB, menerima anggaran ribuan miliar dolar setiap tahun! Percayalah, tak ada organisasi di Bumi yang lebih kaya dari kami. Kami mampu memenuhi segala permintaanmu! Tentu saja, selama permintaanmu masih wajar.”
“Ha-ha, kalau begitu aku puas. Bisakah kau siapkan tempat tinggal untukku?”
“Tentu, kau ingin lingkungan seperti apa?” Nick Fury kembali berbicara dengan lancar.
“Jika kau ingin angin laut yang lembut, kami bisa membangun istana di Selat Malaka untukmu. Jika kau suka salju abadi, kami bisa mendirikan rumah nyaman di Kutub Utara atau Selatan. Jika kau menyukai semangat musim semi, Hutan Norwegia akan memperlihatkan keindahan bunga-bunga sesungguhnya. Kalau kau suka panen musim gugur, daun maple Kanada akan memperlihatkan lautan merah yang menawan!”
“Aku...” Sungguh, saat Nick Fury melontarkan kata-kata itu, Heisenberg benar-benar melongo.
Apa benar dia Direktur Badan Perisai? Jangan-jangan dulunya dia pemandu wisata? Kata-kata itu pasti sudah dipersiapkan sebelumnya, kan? Pasti!
Dalam sekejap, pemandangan yang dideskripsikan Nick Fury seolah bermekaran di benak Heisenberg. Ia bahkan benar-benar ingin mengunjungi tempat-tempat itu.
Semua pemandangan itu adalah keindahan yang tak pernah ia alami sebelum menyeberang ke dunia ini...
Namun, Heisenberg tiba-tiba menyadari sesuatu yang aneh.
Tunggu, ada yang tidak beres di sini! Apa ya?
Heisenberg berpikir sejenak, lalu mengernyitkan dahi dan bertanya, “Kau... yakin tidak ingin menempatkanku di daerah terpencil?”
“Tentu saja tidak, mengapa harus begitu!” Nick Fury sempat tertegun, lalu buru-buru menyeka keringat imajinernya dan menambahkan, “Aku hanya ingin memperkenalkan keindahan empat musim di planet ini padamu. Jika kau tak berminat, kau bebas mengajukan permintaan lain.”
“Permintaan... Tentu saja bisa. Bagaimana kalau kau memberiku sebuah bar? Aku suka suasana bar.”
“Baik, tak masalah. Kota apa yang kau suka? Bagaimana dengan New York?”
“Di New York saja. Pilih lokasinya di sekitar perbatasan antara Queens dan Hell’s Kitchen.”
“Akan segera aku urus. Percayalah, paling lambat malam ini, bar yang kau inginkan sudah siap. Namun...”
Setelah memberikan janji, Nick Fury tampak agak ragu.
Setelah berpikir sejenak, akhirnya ia bertekad dan berkata, “Tapi aku punya satu permintaan. Bisakah... baiklah, aku bicara terus terang. Aku berharap bisa melakukan tes fisik padamu—hanya tes kekuatan dasar dan kecepatan. Kalau kau berkenan, kau juga bisa menggunakan alat kami untuk menguji kemampuan khusus yang mungkin kau miliki. Bagaimana menurutmu?”
Begitu selesai bicara, Nick Fury tampak sangat tegang, karena bahunya masih dalam genggaman Heisenberg.
Andai ia membuat Heisenberg marah, tangan Heisenberg yang mampu menghancurkan kaca anti-peluru itu bisa saja meremukkan dirinya!
Untungnya, Heisenberg hanya mengernyit, lalu mengangguk setuju.
“Hanya tes fisik ringan, bukan?”
Heisenberg menyeringai, lalu melanjutkan, “Baiklah, anggap saja ini transaksi pertama kita. Kau siapkan bar yang memuaskan untukku, aku akan memperlihatkan sebagian kemampuanku, agar kalian bisa mencari cara untuk mengontrolku!”
“Tidak, tidak, kami hanya ingin memperluas pengetahuan kami,” jawab Nick Fury dengan nada santai.
“Kau adalah teman kami. Di Bumi, hanya temanlah yang bisa duduk bersama minum dan berbincang seperti ini.
Mana mungkin kami punya pikiran berbahaya terhadap teman sendiri?”
“Heh,” Heisenberg mencibir dan berkata, “Terserah kau mau bilang apa. Bar itu harus segera siap. Aku ingin bar di lantai paling atas gedung, dengan atap terbuka. Ingat itu?”
“Tentu, pasti ada atap terbuka!” Nick Fury mengangguk berjanji, tepat saat Agen Hill datang membawa minuman.
Nick Fury dan Heisenberg menoleh ke Hill, dan salah satu dari mereka membuat Hill memonyongkan bibir kesal.
“Aku tak tahu apa yang kalian suka, jadi aku hanya membawa bourbon,” ujarnya dengan mata yang sedikit melirik.
Heisenberg menerima nampan dari tangannya, menuang bourbon ke satu gelas.
Kemudian, ia langsung menyerahkan sisa botol bourbon yang masih setengah penuh kepada Nick Fury.
Ia sendiri mengangkat gelas kecilnya dan menyentuhkannya ke botol besar Nick Fury.
“Bersulang, teman!”
Setelah berkata begitu, Heisenberg menenggak habis minumannya, lalu menatap Nick Fury dengan penuh minat.
Wajah Nick Fury saat itu hitam legam, seperti telur rebus yang sudah basi.
Tapi ia tetap mengangkat botol, meski dengan susah payah.
“Bersulang!” katanya, lalu memaksa diri menenggak habis sisa bourbon di botol itu.
Ketika ia meletakkan botol kosong itu, wajah Nick Fury sudah benar-benar buruk.
Namun ia hanya menggeleng, lalu bertanya pelan pada Heisenberg, “Bolehkah kita mulai tesnya sekarang?”
“Suka-suka saja.”
“Baik, ikuti aku!” Nick Fury kini jauh lebih pendiam, mungkin hatinya benar-benar sedang buruk.
Ia berdiri untuk memandu Heisenberg, sementara Hill mengikuti dari belakang tanpa melirik Heisenberg sama sekali.
Mereka masuk lift, turun, keluar dari Gedung Tiga Sayap, lalu naik mobil khusus.
Ketiganya melewati taman milik Badan Perisai, menuju Akademi Badan Perisai.
Di tengah tatapan penasaran para siswa, Heisenberg mengikuti Nick masuk ke gedung akademi, lalu menuju ruang bawah tanah.
Setelah berbelok-belok, akhirnya Heisenberg melihat sebuah arena latihan yang sangat luas.
Meski berada di bawah tanah, arena itu sangat lapang, kira-kira seluas tiga lapangan sepak bola.
Tinggi langit-langitnya sekitar sembilan meter—cukup tinggi untuk bertarung dengan leluasa.
Namun saat itu, hanya ada satu orang di arena tersebut.
Seorang pria bertubuh kekar mengenakan celana jeans sederhana dan kaos putih.
Ketika Heisenberg masuk, pria itu sedang menghajar sebuah samsak dengan brutal.
Duar!
Duar-duar-duar!
Tinju kiri kanan, lalu kaitan, tendangan, lutut, dan akhirnya bantingan.
Samsak berdiri itu dipermainkan seperti boneka kain.
Kedatangan Heisenberg dan dua lainnya tidak mengganggu pria itu sama sekali.
Bahkan ketika mereka sudah berdiri lima atau enam meter di belakangnya, pria itu tetap melanjutkan latihannya.
Setelah sekitar dua puluh detik, pria itu mengulangi gerakan tadi, lalu berbalik dan mengangguk pada Nick Fury.
“Samsak zaman sekarang memang bagus. Kalau di zamanku dulu, sekali latihan langsung rusak,” katanya, lalu menatap Heisenberg yang tersenyum.
“Nick Fury, Agen Hill, sudah lama tidak bertemu. Dan yang ini...” Ia menunjuk ke arah Heisenberg.
“Siapa nama Anda?”
“Heisenberg,” jawab Heisenberg sambil mengulurkan tangan kanan.
Pria itu membalas jabatan tangannya.
“Steve Rogers. Senang berkenalan denganmu!”