Jilid Pertama, Bab 3: Mei Diaoyong? Kubilang, “Ukirlah bunga plum dengan gagah berani!”
Halaman 1 dari 3
Senyum dingin tersungging di sudut bibir Mei Diaoyong. “Mimpi saja! Hari ini, salah satu dari kita harus mati!”
Setelah berkata demikian, ia menyambar sebatang akar kayu di dekatnya, laksana harimau lapar menerkam mangsanya.
Melihat hal itu, Xiao Hongling mencabut pedangnya dan berdiri melindungi Ye Liangchen. “Klan Mei, jangan bertindak seenaknya. Ini wilayah kekaisaran, tepat di bawah kaki putra langit. Kau tidak boleh berbuat kejahatan di sini.”
Mata Mei Diaoyong memancarkan amarah. Giginya bergemeletuk keras, lalu ia memaksakan kata-kata keluar dari sela-selanya. “Xiao Hongling, jangan ikut campur dalam urusan orang lain!”
Kemudian ia menambahkan dengan sengit, “Ini adalah dendam pribadi antara aku dan Ye Liangchen. Kalau kau tahu diri, cepat minggir dan enyah dari sini. Kalau tidak, jangan salahkan aku karena bertindak kasar kepadamu!”
Ye Liangchen langsung naik pitam, bagaikan singa jantan yang dibuat murka. “Cari mati! Kau berani menghina kakak iparku? Hari ini juga akan kucabut nyawa anjingmu!”
Sambil berkata demikian, ia tanpa ragu mengangkat kaki kanannya dan mengerahkan seluruh tenaga untuk menendang sela paha Mei Diaoyong.
Dalam sekejap, waktu seolah membeku dan seluruh dunia mendadak menjadi sunyi senyap.
Sesaat kemudian terdengar suara benturan berat. Suaranya memang tidak keras, tetapi cukup membuat bulu kuduk berdiri.
Ketika semua orang memperhatikan dengan saksama, barulah mereka menyadari bahwa buah zakar Mei Diaoyong telah hancur dihantam tendangan Ye Liangchen!
Mei Diaoyong yang malang menutupi bagian bawah tubuhnya dengan kedua tangan. Wajahnya sepucat kertas, sementara keringat sebesar kacang mengucur deras dari dahinya. Dari mulutnya terdengar jeritan mengerikan seperti babi disembelih.
“Ah—!”
“Buah zakarku!”
“Buah zakarku hancur!”
Ia berguling-guling di tanah, tubuhnya terus mengejang. Raut wajahnya menunjukkan penderitaan yang luar biasa.
Setelah beberapa lama, barulah para rekannya tersadar. Sambil menunjuk Ye Liangchen dengan suara gemetar, salah seorang dari mereka berkata, “Kau… kau berani memukul Tuan Muda Mei? Bahkan menendang bagian terpentingnya?”
Ye Liangchen menyipitkan mata. Sorot dingin yang membuat orang bergidik berkilat di dalamnya, sementara sudut bibirnya terangkat membentuk lengkungan penuh penghinaan. Ia menjawab dengan dingin, “Hmph, memukulnya saja bukan satu-satunya hal yang berani kulakukan. Aku bahkan berani membunuh kalian semua. Percaya?”
Begitu kata-kata itu terucap, tekanan tak kasatmata tiba-tiba meledak dari tubuhnya dan seketika menyelimuti semua orang yang berada di sana.
Mei Diaoyong dan para rekannya merasakan ketakutan serta tekanan yang belum pernah mereka alami sebelumnya.
Saat itu, Xiao Hongling angkat bicara. Suaranya sedingin salju. “Klan Mei, jika kau terus bertindak tanpa alasan seperti ini dan kabar tentang kejadian ini tersebar, aku khawatir reputasi ayahmu akan hancur seketika.”
Mei Diaoyong, yang sedang menanggung rasa sakit luar biasa, mendadak tertegun mendengar ucapan Xiao Hongling. Setelah sadar kembali, ia meraung kepada para rekannya, “Apa yang kalian tunggu? Cepat bawa aku menemui tabib!”
Halaman 1 dari 3
Halaman 2 dari 3
Setelah Mei Diaoyong dan rombongannya pergi dengan wajah tertunduk, barulah saraf Ye Liangchen yang menegang mulai mengendur.
Xiao Hongling menoleh kepadanya. Tatapannya mengandung sedikit pujian. “Meskipun tindakanmu hari ini terlalu gegabah, setidaknya kau masih bertindak seperti seorang pria.”
Ye Liangchen menggaruk kepalanya dengan canggung, lalu terkekeh bodoh. “Siapa pun yang tidak menghormati kakak iparku, akan kuajak bertarung sampai mati.”
Xiao Hongling meliriknya dengan tatapan genit sekaligus kesal. “Masih saja bicara soal bertarung sampai mati. Kalau kau berhenti membuat masalah untukku dan keluarga Ye, aku sudah sangat bersyukur.”
“Namun, harus kuakui, kau menangani masalah hari ini dengan cukup cerdik. Hanya saja, jangan lagi melibatkan diri dalam perselisihan semacam ini.”
Ye Liangchen kembali menggaruk kepalanya sambil tersenyum lebar. “Kakak ipar, jangan khawatir. Aku juga tidak ingin mencari masalah. Aku hanya tidak tahan melihat sikapnya yang begitu sombong.”
Xiao Hongling menghela napas pelan. Pandangannya menyapu kerumunan yang masih berbisik-bisik di sekitar mereka. Sambil mengertakkan gigi, ia berkata lirih, “Tempat ini tidak cocok untuk berlama-lama. Setelah pulang nanti, akan kuurus kau baik-baik!”
Baru saja mereka berbalik, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki.
Sesosok pemuda berpakaian putih datang dengan langkah anggun.
Ye Liangchen sedikit mengernyit dan mengamati pendatang itu dengan rasa ingin tahu. “Boleh tahu siapa Tuan?”
Pemuda berpakaian putih itu tersenyum tipis, lalu memandang Xiao Hongling. “Nona Xiao, lama tak berjumpa. Kudengar Nona mengalami sedikit masalah di tempat ini, jadi aku datang untuk melihat keadaanmu.”
Xiao Hongling sedikit mengernyit. “Terima kasih atas perhatianmu, tetapi masalahnya sudah selesai.”
Pemuda berpakaian putih itu mengangguk, kemudian mengalihkan pandangan kepada Ye Liangchen. Tatapannya mengandung sedikit rasa menyelidik. “Jadi, kau adalah Ye Liangchen, pewaris keluarga Ye? Menarik juga dirimu.”
Ye Liangchen merasa heran, tetapi demi sopan santun ia tetap mengangkat tangan memberi salam.
Pemuda berpakaian putih itu tidak banyak bicara. Setelah mengucapkan, “Sampai bertemu lagi,” ia pun pergi.
Ye Liangchen memandangi punggungnya yang semakin menjauh, lalu bergumam, “Kakak ipar, orang itu aneh sekali.”
Xiao Hongling tampak berpikir keras. Keningnya sedikit berkerut dan sorot matanya memancarkan keseriusan. Ia memperingatkan dengan tegas, “Jangan meremehkan orang itu. Ingat baik-baik, jangan mudah mencari gara-gara dengannya agar kau tidak mendatangkan masalah dan bahaya yang tidak perlu bagi dirimu sendiri.”
Setelah mengucapkan hal itu, ia menghela napas pelan, seolah-olah cukup gentar terhadap pemuda tadi.
Xiao Hongling perlahan mengulurkan tangan ramping dan putih seperti giok. Dengan gerakan terampil sekaligus anggun, ia menjewer telinga Ye Liangchen.
Ye Liangchen terkejut oleh tindakan yang mendadak itu, tetapi tidak berani melawan sedikit pun. Ia hanya bisa mengikuti Xiao Hongling dengan patuh menuju keluar.
Kebetulan, pemandangan itu dilihat oleh orang-orang yang sedang lewat. Mereka semua menoleh, menampilkan wajah terkejut sekaligus geli.
Sebagian orang mulai berbisik-bisik, sementara yang lain tak kuasa menahan tawa kecil, seolah-olah pemandangan di hadapan mereka sangat menghibur.
Halaman 2 dari 3
Halaman 3 dari 3
Namun, Xiao Hongling sama sekali tidak memedulikannya. Ia tetap melangkah tegap sambil menyeret Ye Liangchen hingga keduanya perlahan menghilang dari pandangan orang-orang.
Tak lama kemudian, mereka pun tiba di kediaman keluarga Ye.
Dengan wajah penuh amarah, Xiao Hongling menjewer telinga Ye Liangchen dan tanpa banyak bicara menyeretnya menuju aula leluhur.
Sepanjang perjalanan, Ye Liangchen meringis kesakitan sambil terus memohon ampun, tetapi Xiao Hongling sama sekali tidak tergerak.
Tepat pada saat itu, mereka kebetulan berpapasan dengan Tuan Besar Ye yang sedang berjalan-jalan santai.
Begitu melihat sang kakek, mata Ye Liangchen langsung berbinar, seolah-olah melihat secercah harapan di tengah kegelapan. Ia segera berteriak meminta pertolongan, “Kakek, cepat selamatkan cucumu ini!”
Tuan Besar Ye menghentikan langkahnya. Pandangannya jatuh pada Ye Liangchen yang telinganya sedang dijewer Xiao Hongling. Mula-mula ia sedikit tertegun, kemudian wajahnya menampilkan senyum penuh kasih yang juga mengandung sedikit nada menggoda.
Xiao Hongling pun menyadari kehadiran Tuan Besar Ye. Ia segera menyapanya dengan hormat, “Salam, Kakek!”
Suaranya jernih dan merdu, laksana kicauan burung yang baru keluar dari lembah.
Tuan Besar Ye berkata dengan santai, “Ling’er, kesalahan apa lagi yang dilakukan bocah ini sampai membuatmu begitu marah?”
Mendengar pertanyaan sang kakek, wajah cantik Xiao Hongling seketika menjadi dingin. “Kakek, Kakek tidak tahu. Orang tak berguna ini ternyata masih sempat bersenang-senang di luar! Ia benar-benar telah mempermalukan keluarga Ye!”
Semakin berbicara, semakin besar kemarahannya. Sepasang matanya yang indah menatap tajam Ye Liangchen.
Dituduh seperti itu, Ye Liangchen langsung memerah karena panik. Ia buru-buru melambaikan tangan dan membela diri. “Aduh, kakak ipar tersayang, aku sungguh tidak melakukan apa-apa! Aku hanya sedang tidak enak hati, jadi mencari tempat untuk minum beberapa gelas demi mengusir kejenuhan. Aku benar-benar tidak melakukan hal-hal konyol itu!”
Namun, jelas bahwa penjelasannya tidak mampu meyakinkan Xiao Hongling.
Xiao Hongling kembali mengerahkan tenaga di tangannya dan memutar telinga Ye Liangchen setengah putaran. Ye Liangchen begitu kesakitan hingga tak kuasa menahan jeritan mengerikan seperti babi disembelih.
Melihat pemandangan itu, sorot puas atas kemalangan orang lain melintas di mata Tuan Besar Ye.
Bagaimanapun, bagi cucu yang bertindak semaunya dan tak pernah membiarkan siapa pun hidup tenang, membiarkannya sedikit menderita juga merupakan hal yang baik.
Setelah menghukum Ye Liangchen, Xiao Hongling melirik sekilas dengan mata indahnya, lalu menoleh kepada Tuan Besar Ye. “Kakek, apakah masih ada urusan? Jika tidak, aku akan membawa si lancang yang tidak tahu batas ini ke aula leluhur untuk menerima hukuman keluarga.”
Tuan Besar Ye buru-buru melambaikan tangan. “Tidak ada… tidak ada. Perlukah Kakek mengganti tongkat berdurimu dengan yang baru? Duri pada tongkat yang kemarin sudah agak tumpul.”
Ye Liangchen membelalakkan mata dengan tak percaya.
Benarkah itu ucapan yang bisa keluar dari mulut kakek kandungnya sendiri?