Rencana Rahasia Xiang Ruqing
Dia sebenarnya ingin menangis, jadi dia selalu memesan makanan paling pedas, lalu tersedak minyak cabai hingga air matanya mengalir deras. Namun ia malah merasa puas, karena itu bisa menyamarkan kesedihannya sendiri.
Pada malam musim dingin yang membeku, setelah pelajaran malam berakhir, Xia Chuyu diam-diam menarik Tao Shenglin keluar dari gerbang belakang sekolah, sementara sopir menunggu di depan, merokok dengan dahi berkerut, menunggu sang tuan muda dan nona. Xia Chuyu mengenakan mantel panjang, meringkuk di sisi Tao Shenglin, bersama-sama mereka menghabiskan sate kambing, kue beras panggang, dan sayap ayam. Minyak dari kuas kecil menetes di atas bara yang menyala, mengeluarkan suara desisan.
Keesokan harinya, Tao Shenglin selalu sakit perut dan wajahnya dipenuhi jerawat. Tapi kulit Xia Chuyu tetap putih dan bersih.
Ia pun selalu memandang rendah Tao Shenglin, “Tao Shenglin, kamu benar-benar payah, makan bakaran saja nggak kuat, nggak berguna, nggak berguna, hahaha!”
Tao Shenglin menyadari bahwa ternyata ia begitu memalukan, merindukan masa muda yang tak akan pernah kembali.
Xia Chuyu tidak bergerak. Tangannya berusaha melepaskan diri, dan karena Tao Shenglin tidak menahan, ia pun menarik tangannya dan pergi dengan langkah mantap.
Tao Shenglin buru-buru menyusul, namun ekspresi Chuyu sangat datar, seperti angin yang lewat. Ia berkata, “Mobilnya sudah datang, kamu pulang saja.”
Ia duduk di deretan kursi paling belakang bus, di dekat jendela yang lebih tinggi dari kursi lainnya. Remaja itu berdiri di bawah angin senja, memandang dari kejauhan sampai akhirnya ponsel di sakunya berdering. Ia melirik sebentar, lagi-lagi nomor itu. Ia langsung menekan tombol tutup.
Di seberang sana, sang putri yang ditelepon, Xiang Ruqing, jelas merasa kesal. Ia merasa jarang-jarang dirinya yang memulai menghubungi seorang laki-laki, tapi malah mendapat respon dingin, benar-benar kejadian langka.
“Ruqing, ayo masuk, minum bareng!” Temannya memotong niatnya menelpon lagi.
Xiang Ruqing menutup ponsel. “Sebentar lagi.”
Setelah beberapa putaran minum, obrolan mulai mengarah ke gosip terbaru.
“Ruqing,” seorang laki-laki dengan wajah nakal meletakkan tangannya di bahu Xiang Ruqing, “Seorang temanku kenal Qin Ci, mau nggak aku minta dia bantu ngajarin teman sekelasmu yang sok itu?”
Langsung ada yang menimpali, “Iya, kan dia baru saja dikontrak oleh Li Lin, dan Qin Ci itu orang yang menaikkan nama Li Lin. Kesempatan bagus malah direbut cewek itu begitu saja. Kami benar-benar nggak rela buat kamu.”
Xiang Ruqing meneguk minuman “Bunga Teratai”-nya, “Hajar saja! Tentu harus dihajar! Dengar ya, Jiu Shaodong, kalau kamu bisa bikin dia jatuh, aku pasti akan bilang banyak hal baik soal kamu ke ayahku!”
Mendapat janji dari Putri Besar Xiang, laki-laki itu langsung tersenyum lebar, semua orang tahu ayah Xiang Ruqing, orang yang dihormati baik di dunia hitam maupun putih. Suasana di ruang privat itu pun kembali ramai dengan obrolan besar, Xiang Ruqing bersandar malas di sofa, membuka galeri foto diam-diam yang baru-baru ini ia potret.
Satu per satu, semuanya adalah Tao Shenglin.
Tak lama kemudian, giliran Xia Chuyu resmi melapor ke Gu Antang.
Saat itu, semua orang di kampus sibuk menyiapkan koreografi akhir semester, sementara Chuyu, karena prestasinya di lomba besar, langsung mendapat nilai A+ untuk semua mata pelajaran praktik dari sekolah. Ia jadi hampir kewalahan dengan celotehan Shui Ling, seperti “Kenapa aku nggak punya nasib jadi bintang sepertimu?”, “Padahal aku juga nggak jelek,” “Badan juga oke banget,” disertai ekspresi merenung dan bergaya di depan cermin, membuat Chuyu selalu kewalahan.