Bab 101: Baiklah, Mari Kita Coba
Lin Song mendelikkan matanya ke arah Lu Xiao. Sambil berkata dengan keras kepala, "Siapa juga yang mencemaskanmu," ia membentangkan selimut dan menyelimutkannya ke tubuh Lu Xiao, yang hanya tersenyum patuh dan membiarkan dirinya diselimuti.
Setelah selesai dan hendak duduk, tiba-tiba ia teringat sesuatu. Ia langsung berbalik dan berlari keluar lagi.
Tak lama kemudian, ia kembali dengan tergesa-gesa membawa sebuah botol termos dan bantalan penghangat di tangannya.
Ia memasukkan bantalan penghangat itu ke dalam selimut, meletakkannya di bawah lengan Lu Xiao yang sedang diinfus, lalu merapikan selimutnya agar lebih rapat. Setelah itu, barulah ia duduk di samping pria itu sambil mendekap botol termosnya.
"Aku punya air hangat di sini. Kalau mau minum, beri tahu aku," kata Lin Song pada Lu Xiao sambil menunjuk botol termos di dekapannya.
Lu Xiao menatapnya lekat-lekat selama beberapa saat, lalu menyahut pelan, "Baiklah."
Setelah sibuk seharian, Lin Song kini benar-benar merasa lelah.
Ia menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, menggerakkan lehernya ke kiri dan ke kanan untuk melemaskan otot, lalu menguap kecil.
"Kalau kamu mengantuk, tidurlah sebentar. Aku bisa menjaga diriku sendiri," kata Lu Xiao.
Mendengar ucapan Lu Xiao, Lin Song segera menggelengkan kepala. Menatap wajah pria itu yang masih memerah karena demam, ia berkata, "Aku tidak mengantuk. Kamu yang sedang sakit, istirahatlah."
Sambil berkata demikian, ia mendongak untuk memeriksa botol infus, lalu mengeluarkan ponselnya dan membuka game puzzle pencocokan gambar yang sudah lama terpasang di sana.
Lu Xiao tahu Lin Song keras kepala; percuma saja membujuknya lagi. Jadi, ia hanya bisa memperhatikannya dalam diam.
Hingga setelah melihat dengan mata kepala sendiri gadis itu gagal melewati level yang sama beberapa kali berturut-turut, ia akhirnya tidak tahan untuk tidak menginterupsi, "Yang itu! Yang itu!"
Lin Song menoleh dan menatapnya sekilas, lalu tanpa berkata apa-apa, ia mematikan ponselnya, menyimpannya, dan bersandar di kursi sambil memejamkan mata untuk beristirahat.
Lu Xiao: "..."
Setelah mereka duduk dalam keheningan selama beberapa saat, Lu Xiao tiba-tiba berkata dengan suara lemah, "Lin Song, kepalaku pusing sekali, aku hampir tidak kuat duduk..."
Mendengar itu, Lin Song membuka matanya dan menatap Lu Xiao dengan ekspresi yang seolah bertanya, *Lalu kamu mau apa?*
"Itu..." Lu Xiao terbatuk pelan beberapa kali, matanya tampak sayu seolah sulit untuk tetap terbuka. "Kepalaku benar-benar pusing. Boleh aku meminjam bahumu untuk bersandar sebentar?"
Lin Song mengerutkan kening menatapnya. "Bukankah tadi kamu baik-baik saja dan menyuruhku istirahat?"
Lu Xiao membuka matanya sejenak untuk menatap Lin Song, lalu memejamkannya lagi perlahan. Dengan tangan yang tidak diinfus, ia memijat keningnya. "Tadi memang tidak apa-apa, tapi baru saja kepalaku mulai berputar. Mungkin karena demam tingginya baru terasa sekarang?"
Lin Song menghela napas pasrah. Ia menggeser bahunya yang berada di dekat Lu Xiao agar lebih dekat, lalu memberi isyarat dengan matanya agar pria itu bersandar.
Dengan mata setengah terpejam dan tampak sangat lemah, Lu Xiao perlahan merebahkan kepalanya di bahu Lin Song. Sudut bibirnya diam-diam melengkung membentuk senyuman tipis.
Setelah duduk dengan tubuh kaku entah berapa lama, rasa kantuk mulai menyerang Lin Song. Kepalanya terasa berat dan tanpa sadar terkulai ke samping, tepat mendarat di atas kepala Lu Xiao. Helaian rambut pria itu yang agak kaku menusuk pipinya, membuatnya langsung tersentak sadar dan kembali duduk tegak.
Pipinya terasa agak gatal, membuat tangannya refleks mengusap bagian tersebut.
Beberapa saat kemudian, Lin Song menyadari Lu Xiao tidak bergerak sama sekali. Khawatir pria itu tidak sadarkan diri karena demam tinggi, ia kembali mengulurkan tangan untuk memeriksa suhu dahinya.
Tak disangka, tangannya tiba-tiba ditangkap oleh Lu Xiao, lalu ditarik ke bawah dan digenggam erat dalam telapak tangannya.
Telapak tangan pria itu terasa hangat dan sedikit basah oleh keringat.
Lin Song bagaikan tersengat aliran listrik. Ia refleks mencoba menarik tangannya, tetapi genggaman Lu Xiao justru semakin erat.
"Apa kamu sudah merasa mendingan?" tanya Lin Song lirih.
Lu Xiao tidak menjawab. Ia hanya mempererat genggaman tangannya dan menelusupkan kepalanya lebih dalam ke ceruk leher Lin Song. "Lin Song, kepalaku masih pusing sekali..."
Lin Song kehabisan kata-kata. Saat mencengkeram tangannya tadi, tenaga pria itu kuat sekali. Namun begitu ditanya, ia langsung bersikap seolah-olah sudah sangat lemah dan tidak berdaya sama sekali.
Mengingat pria itu memang sedang demam, Lin Song enggan memperdebatkannya lagi.
Lin Song mendongak, memperhatikan cairan obat di dalam tabung infus menetes satu demi satu. Hatinya belum pernah merasa setenang dan sedamai ini.
Tiba-tiba ia membuka suara dan memanggil namanya dengan lembut, "Lu Xiao."
Lu Xiao tidak menyahut. Lin Song tidak tahu apakah pria itu sebenarnya terjaga namun berpura-pura tidur karena takut trik pura-pura sakitnya terbongkar, atau memang sudah terlelap hingga tidak mendengar panggilannya.
Lin Song terdiam sesaat. Tanpa memedulikan apakah Lu Xiao bisa mendengarnya atau tidak, ia berbisik pelan, "Bagaimana kalau... kita mencobanya saja?"
Belum sempat suaranya mereda, Lu Xiao tiba-tiba menegakkan kepalanya dari bahu Lin Song. Ia setengah memutar tubuhnya, menatap gadis itu dengan binar terkejut sekaligus gembira. Dengan bibir yang kering dan pecah-pecah, ia tersenyum lebar dan bertanya, "Lin Song, apa katamu tadi? Tolong katakan sekali lagi."
Lin Song memegang bahunya yang baru saja disandari Lu Xiao. Dengan pandangan yang canggung terarah ke lantai, ia bergumam pelan, "Kalau tidak dengar, ya sudah."
Ia terdiam sejenak,