Bab 128: Apa yang Sedang Dicurigai?
Setelah sarapan, Lu Xiao mengantar Lin Song sampai di depan pintu rumah sakit. Sebelum turun dari mobil, Lin Song sengaja berbalik dan memperhatikan Lu Xiao lekat-lekat untuk beberapa saat.
Menyadari tatapan itu, Lu Xiao tiba-tiba memiringkan tubuhnya, menyandarkan satu lengannya di setir, lalu ikut menatap Lin Song sambil tersenyum.
"Kenapa hari ini menatapku seperti itu? Apa kau tiba-tiba merasa tidak bisa jauh-jauh dariku walau sebentar saja?"
Lin Song tidak berhasil menemukan keanehan apa pun di wajah Lu Xiao, jadi dia sengaja mencibir, "Dasar narsis!"
Lu Xiao tertawa kecil, mencondongkan tubuhnya lebih dekat, "Kalau begitu, cium dulu si narsis ini sebelum kau pergi."
Lin Song mengulum bibir, tersenyum tipis, lalu mencium pipi Lu Xiao. Setelah itu, dia mencoba bertanya dengan hati-hati, "Kau... mimpi apa semalam? Bisa ceritakan padaku?"
Mendengar itu, Lu Xiao tertegun sejenak sebelum akhirnya tersenyum. Dia mengangkat tangan dan mengusap pipi Lin Song, "Aku tidak ingat jelas. Namanya juga mimpi buruk, siapa pun pasti pernah mengalaminya. Begitu bangun, semuanya langsung terlupakan."
Lin Song menatap Lu Xiao beberapa saat, lalu perlahan mengangguk. Dia tidak bertanya lebih lanjut, hanya berpesan, "Ingat, kirimkan aku pesan. Sedang apa pun, harus lapor."
Lu Xiao menatapnya dengan pandangan penuh kelembutan, "Baik, aku mengerti. Ini namanya inspeksi mendadak, aku harus proaktif melaporkan kegiatanku."
Meskipun hati Lin Song masih merasa tidak tenang, dia belum bisa menunjukkan kekhawatirannya terlalu jelas di depan Lu Xiao.
Dia mengangguk seolah puas, lalu mencium sisi pipi Lu Xiao yang satunya.
"Sudah, aku mau masuk kerja. Hati-hati di jalan, segera kirim pesan begitu sampai."
Lu Xiao mengangguk setuju. Lin Song pun turun dari mobil dan berjalan menuju rumah sakit sambil terus menoleh ke belakang.
Sesampainya di depan gedung poliklinik, Lin Song kembali menoleh karena merasa cemas.
Mobil Lu Xiao masih terparkir di tempatnya. Jendela mobil terbuka lebar, dan Lu Xiao sedang menyandarkan lengannya di bingkai jendela sambil menatap ke arahnya.
Menyadari Lin Song kembali menoleh, dia melambaikan tangan sambil tersenyum.
Lin Song segera mengeluarkan ponsel dan mengirim pesan: 【Kenapa belum pergi?】
Setelah mengirimnya, dia mengangkat ponselnya dan menggoyangkannya ke arah Lu Xiao, lalu mengetuk-ngetuk layar ponsel dengan jarinya.
Lu Xiao segera menunduk, mengutak-atik ponselnya sejenak, lalu kembali mendongak dan tersenyum padanya.
Ponsel Lin Song bergetar. Dia segera membukanya.
Lu Xiao: 【Aku akan pergi setelah melihatmu masuk ke dalam.】
Lin Song kembali menoleh, melambaikan tangan dengan senyuman, lalu segera berbalik. Begitu memunggungi Lu Xiao, senyumnya seketika luntur.
Terakhir kali mereka menginap di vila, dia kebetulan melihat Lu Xiao mengalami mimpi buruk hingga bermandi keringat ketakutan.
Ditambah kejadian kali ini, jika dihitung dari frekuensi mereka menghabiskan malam bersama, tampaknya hal itu terjadi cukup sering.
Lin Song merenung sejenak, dan menyadari satu hal: Lu Xiao mungkin sangat sering mengalami mimpi buruk, jika tidak, mana mungkin dia bisa memergokinya dua kali dalam waktu sesingkat ini.
Ditambah lagi dengan kotak obat yang dia temukan di kamar Lu Xiao semalam, serta pertemuan pertama mereka di Rumah Sakit Anxin, semuanya terasa memiliki benang merah.
Hati Lin Song semakin tenggelam. Semua ini baru sebatas dugaan. Untuk memastikan kebenarannya, selain bertanya langsung pada Lu Xiao, satu-satunya orang yang bisa dia tanyai adalah Cheng Jun.
Dengan perasaan gelisah, Lin Song menghabiskan waktu paginya dengan sulit. Begitu jam makan siang tiba, dia langsung mencegat Cheng Jun di depan ruang praktiknya.
"Cheng Jun, aku ingin mentraktirmu makan siang."
Cheng Jun tertegun, lalu tersenyum padanya, "Boleh saja. Kalau begitu biar aku telepon Yan Xi untuk ikut, kau tidak keberatan, kan? Oh ya, panggil juga Lu Xiao, dia toh sedang luang."
Lin Song menatap Cheng Jun tajam sesaat, lalu perlahan menggeleng, "Sebaiknya jangan panggil Yan Xi. Aku sengaja meminta Qiao Yi membawanya pergi makan agar aku bisa bertanya sesuatu padamu secara pribadi. Kurasa kurang nyaman jika ada Yan Xi."
Mendengar itu, senyum tipis di wajah Cheng Jun memudar. Dia mengangguk, "Baiklah, kalau begitu hanya kita berdua."
Di ruang privat sebuah restoran dekat rumah sakit, Lin Song tidak menunggu makanan datang dan langsung bertanya pada intinya, "Mengapa Lu Xiao datang ke Rumah Sakit Anxin waktu itu? Jangan katakan padaku alasannya adalah cuti dan ingin membantu menertibkan tim keamanan rumah sakit, aku tidak percaya."
Dia meminum airnya dengan perasaan gelisah, "Lagi pula, pekerjaannya tidak mungkin mengizinkannya cuti selama itu tanpa alasan yang jelas. Selain itu, seperti yang pernah kutanyakan padamu sebelumnya, sepengetahuanku masa tugasnya di Kataler seharusnya baru berakhir musim semi tahun depan, tapi dia sudah kembali ke dalam negeri setengah tahun lebih awal. Semua ini tidak masuk akal."
Cheng Jun menyandarkan tubuhnya ke kursi, melipat tangan di depan dada, menatap Lin Song dengan bibir terkatup rapat. Suaranya tetap tenang dan datar, "Jadi, setelah mengatakan semua ini, apa yang sebenarnya kau curigai, Dokter Lin?"
Lin Song menarik napas dalam-dalam lalu menggeleng perlahan, "Bukan saatnya aku memberitahumu apa yang kucurigai, tapi kau yang seharusnya memberitahuku apa yang terjadi pada Lu Xiao. Sekarang aku adalah kekasihnya, aku punya hak untuk tahu kebenarannya."
Cheng Jun menatap Lin Song dengan helaan napas pasrah. Dia tidak menjawab, malah balik bertanya, "Apa kau sudah bicara pada Lu Xiao mengenai semua dugaanmu ini?"
Lin Song menggeleng, "Awalnya statusku tidak memungkinkan untuk bertanya, lalu aku sempat lupa, dan sekarang aku merasa tidak bisa bertanya langsung padanya."
"Kalau begitu, kau seharusnya bertanya padanya lebih dulu," ucap Cheng Jun pelan.
Mendengar jawaban itu, Lin Song yakin bahwa Cheng Jun pasti mengetahui sesuatu, hanya saja dia enggan mengatakannya.
Karena itu, dia terpaksa menceritakan apa yang dilihatnya semalam, "Aku melihat Paroxetine di tempat tidur Lu Xiao."
Cheng Jun seketika menatapnya, namun tetap bungkam.
Lin Song menambahkan, "Aku sudah lebih dari sekali melihatnya terbangun karena mimpi buruk di tengah malam, bermandi keringat, dengan tatapan penuh ketakutan."
Suaranya sempat terhenti sejenak, lalu dia melanjutkan, "Cheng Jun, aku juga seorang psikolog. Dengan bukti-bukti ini, ditambah latar belakang lingkungannya, menurutmu apakah aku tidak bisa menyimpulkan apa yang terjadi?"
Mendengar itu, Cheng Jun akhirnya tidak bisa lagi diam.
Dia menunduk, memegang gelas airnya sambil menggoyangkannya perlahan.
"Dugaanmu benar. Lu Xiao mengalami beberapa kejadian saat menjalankan tugas di Kataler. Saat ini, dia menderita gangguan stres pascatrauma ringan."
Meskipun sudah menduga hal itu sejak awal, saat mendengarnya langsung dari mulut Cheng Jun, Lin Song merasa sekujur tubuhnya lemas hingga dia menyandarkan punggung ke kursi.
"Namun, kau tidak perlu khawatir. Dia terus kooperatif menjalani pengobatan. Dari hasilnya sejauh ini, kondisinya cukup optimis. Seharusnya hal ini tidak terlalu memengaruhi kehidupannya, hanya saja kariernya mungkin akan sedikit terdampak."
Lin Song bisa melihat bahwa Cheng Jun berkata jujur, namun dia tetap tidak bisa menahan rasa cemasnya terhadap Lu Xiao.
Saat mereka makan, dia terus mengejar Cheng Jun untuk menanyakan kondisi detail Lu Xiao.
Dari mulut Cheng Jun, akhirnya dia tahu bahwa karena masalah inilah Lu Xiao tidak bisa lagi menjalankan tugas di Kataler dan dipulangkan ke negara asalnya.
Setelah kembali ke tanah air, dia juga tidak bisa berpartisipasi dalam tugas normal timnya, sehingga kariernya berada di persimpangan jalan.
Atasan lamanya yang merasa berat hati melihat Lu Xiao meninggalkan kesatuan, akhirnya memberikan izin khusus agar Lu Xiao bisa mengambil cuti panjang untuk menjalani terapi psikologis secara profesional.