Bab 120 Siapa Istrimu?
Lin Song tertegun sejenak, lalu sedikit mendongak menatap Lu Xiao dengan tatapan yang tampak menghindar.
"Apa yang aneh? Bukankah di punggungmu juga ada bekas luka?"
Lu Xiao mengangkat alisnya: "Kau membandingkan dirimu denganku?"
Lin Song tersenyum tipis sembari memeluk Lu Xiao dalam diam, meski hatinya terasa campur aduk.
"Cepat katakan, sebenarnya bagaimana itu bisa terjadi?" desak Lu Xiao sekali lagi.
Melihat tidak ada jalan keluar, Lin Song menghela napas panjang dan berkata dengan pasrah: "Hari saat kami meninggalkan Katale untuk pergi ke ibu kota Bebod guna menaiki pesawat, mobil yang kami tumpangi terkena serangan udara di jalan."
Mendengar hal itu, Lu Xiao menunduk menatapnya dengan kening berkerut dalam: "Kalian juga mengalami serangan udara pertama itu? Jadi, ini luka akibat serpihan bom?"
Sambil berkata demikian, ia membalikkan bahu Lin Song untuk memeriksanya dengan saksama.
Lin Song berseru, "Aduh," lalu mendorongnya, "Sudah, jangan dilihat, jelek!"
Setelah Lu Xiao kembali duduk tegak, ia perlahan bercerita: "Saat hampir sampai di Bebod, mobil kami berhenti di sebuah pom bensin yang cukup besar untuk mengisi bahan bakar. Kebetulan sekali bom jatuh tepat di sana saat itu. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri sopir dan mobil itu lenyap seketika."
"Kami yang tidak berada di dalam mobil pun tidak luput dari nasib nahas itu. Jaraknya terlalu dekat, kami semua terhempas oleh gelombang ledakan hingga tak sadarkan diri."
"Aku koma selama beberapa hari. Serpihan bom menancap di bahuku dan telah diangkat, aku bahkan tidak tahu prosesnya. Rumah sakit ibu kota memeriksa kewarganegaraanku, menghubungi kedutaan, lalu menghubungi ibuku, setelah itu aku dipulangkan ke tanah air."
Saat mengatakan ini, mata Lin Song dipenuhi kesedihan.
"Lu Xiao, kau tahu? Yao Jing sudah tiada... Dia berada di mobil yang sama denganku. Saat itu kami berdiri berhadapan sambil berbincang. Ketika gelombang ledakan menghantam, dia menarikku dan menutupi separuh tubuhku dengan tubuhnya, itulah sebabnya aku..."
Suara Lin Song mulai tercekat, ia tak sanggup melanjutkan kata-katanya.
Melihat itu, Lu Xiao mendekapnya erat ke dalam pelukan, membelai kepalanya dengan lembut dan penuh rasa iba: "Sudahlah, jangan dibahas lagi. Semua ini salahku, seharusnya aku tidak bertanya."
Lin Song bersandar di pelukan Lu Xiao, meneteskan air mata dalam diam tanpa sepatah kata pun.
Lama kemudian, ia bergumam sendiri: "Setelah sadar di tanah air, hal pertama yang kulakukan adalah menanyakan keadaan kepada organisasi. Aku mendapat kabar bahwa selain aku dan Yao Jing, empat rekan kami yang lain, dua tewas dan dua terluka."
Ia mengeratkan pelukannya pada Lu Xiao dan berbisik meminta maaf: "Maafkan aku, Lu Xiao. Pernah ada masa di mana aku menyalahkanmu atas musibah mereka. Aku selalu berpikir, seandainya saja kau tidak datang menemuiku sebelum keberangkatan, seandainya waktu kami tidak terbuang karenamu, mungkin mobil kami bisa terhindar dari pemboman itu, dan tidak ada satu pun dari mereka yang akan tewas."
"Namun, setelah kupikir lagi, apa salahmu dalam hal ini? Akulah yang salah. Seharusnya sebelum itu aku menjelaskan semuanya kepadamu dengan jelas, alih-alih memilih untuk pergi begitu saja."
Lin Song tiba-tiba menangis tersedu-sedu dalam dekapan Lu Xiao, tubuhnya gemetar, dan kata-katanya pun terbata-bata: "Ya, aku... aku yang mencelakai mereka. Aku tidak pantas untuk bahagia."
Mendengar pengakuan itu, Lu Xiao menatapnya dengan penuh kasih sayang, mengusapkan pipinya ke dahi Lin Song, lalu menempelkannya dengan lembut.
"Jadi itu sebabnya kau merasa bersalah kepada mereka jika bersamaku, sehingga kau terus mendorongku menjauh?" tanyanya lembut.
Lin Song mengangguk di pelukannya, "Salah satunya karena itu."
Lu Xiao menghela napas, mengangkat tangannya untuk menghapus jejak air mata di wajah Lin Song, lalu berbisik: "Bodoh, ini bukan salahmu atau salahku. Kita hanyalah bagian paling kecil dalam peristiwa ini. Yang salah adalah mereka yang menghalalkan segala cara demi menghancurkan perdamaian."
Sejak kejadian itu, belum pernah ada orang yang mengatakan hal ini kepadanya.
Peristiwa tersebut selama ini membelenggu hati Lin Song, membuatnya sesak napas. Sekarang, setelah mendengar ucapan Lu Xiao, ia tiba-tiba merasa terbebaskan. Ia pun kembali terisak pelan.
Lu Xiao memeluknya lagi dan meminta maaf: "Aku juga salah. Seharusnya saat itu aku tidak mengucapkan kata-kata brengsek itu. Jika tidak, kau tidak akan pergi menemuiku, tidak akan marah, dan kejadian itu tidak akan terjadi."
Mengingat hal itu, Lin Song menyeka air matanya, tiba-tiba duduk tegak dari pelukan Lu Xiao, menyelimuti dirinya dengan selimut, lalu menatap Lu Xiao dengan kesal.
"Memang kau salah! Kau bilang aku 'cantik di luar tapi kurang dalam urusan rumah tangga'. Bukankah itu artinya kau menganggapku hanya bermodal tampang dan tidak cocok dijadikan istri?"
Ia mendorong bahu Lu Xiao, "Lalu kenapa kau masih bersikeras ingin menikahiku? Bukankah aku tidak cukup," ia menekankan setiap suku kata, "ber-u-rus-an ru-mah tang-ga?"
Melihat tingkahnya, Lu Xiao menggelengkan kepala sambil tertawa kecil. Tak disangka, mereka yang tadinya sedang bermesraan dan ia sedang menghiburnya, kini justru menjadi sasaran kemarahan gadis itu.
Tak ada pilihan lain, ia harus terus meminta maaf dan membujuknya.
"Maafkan aku, maafkan aku. Semuanya salahku. Mulutku memang jahat, aku terlalu angkuh dan sombong, hingga mengucapkan kata-kata itu."
Sambil berkata demikian, ia dengan lembut meraih tangan Lin Song dan menyodorkan pipinya sendiri, "Ayo, Sayang, pukul saja sampai kau tidak marah lagi!"
Lin Song tertawa geli, tangannya mendorong pelan pipi Lu Xiao, "Pergi sana, siapa istrimu?"
Lu Xiao berdecak, menarik tangan Lin Song dan mengecup punggung tangannya, lalu mengangkat alisnya: "Kau bukan istriku? Kau sudah menerima mahar dari ibuku, dan sekarang kau berbaring bersamaku. Kalau bukan kau, siapa lagi?"
"Kalau begitu aku kembalikan, lagipula bukan aku yang memintanya," Lin Song mengerucutkan bibir, memiringkan kepala dengan dagu terangkat, tampak angkuh.
"Hmm? Apa katamu?"
Mata Lu Xiao menyipit, tubuhnya condong mendekat, lalu ia menjatuhkan Lin Song ke tempat tidur dan menggelitik pinggangnya.
"Masih mau bilang mau mengembalikannya?" ia mendengus, "Sekali diterima, jangan harap bisa dikembalikan!"
Lin Song tertawa terkekeh-kekeh mencoba menghindar, "Lu Xiao, kenapa kau begitu sombong? Bukankah kau sendiri yang bilang kita coba jalani dulu, dan kalau menyesal bisa berhenti? Kenapa aku merasa sedang melangkah masuk ke dalam jebakanmu?"
Lu Xiao terkekeh, menghentikan gelitikannya, lalu mengangkat tangan merapikan helai rambut di dahi Lin Song dengan ekspresi sedikit sedih.
"Lin Song, situasi dulu dan sekarang berbeda. Aku juga orang yang serakah. Sekarang aku tidak ingin hanya sekadar mencoba, aku ingin kita memiliki masa depan yang lebih panjang."
Mendengar ucapan Lu Xiao, Lin Song terdiam, hanya menatapnya dengan linglung. Ia ingin mengatakan sesuatu yang manis agar Lu Xiao merasa senang, namun jauh di lubuk hatinya, ia masih merasa takut akan masa depan mereka yang tak pasti.
Ketakutan itu mungkin berasal dari trauma keluarganya terhadap pernikahan, yang membuatnya tidak bisa merasa tenang.
Ia pun merangkul leher Lu Xiao dan berbisik lembut: "Lu Xiao, bisakah kau memberiku waktu? Menurutku pernikahan adalah hal yang sangat sakral. Itu seharusnya menjadi sesuatu yang terjadi secara alami saat perasaan dua orang telah mencapai puncaknya. Aku tidak ingin membuat keputusan hanya karena impulsif dan untuk menyenangkanmu."
Ia terdiam sejenak, menatap Lu Xiao dengan malu-malu, "Lagipula, ini sama sekali bukan lamaran..."
Lu Xiao menatap Lin Song dengan tertegun, lalu tertawa terbahak-bahak.
Ia menumpukan kedua lengannya di sisi kepala Lin Song, mencium bibirnya, dan berucap dengan lembut: "Baiklah, aku mengerti. Kalau begitu, aku akan menunggu sampai kau merasa siap, lalu aku akan melamarmu secara resmi."