[099] Membalas Budi dengan Kebaikan
“Aku tidak akan pernah lupa bocah brengsek itu, meski dia sudah jadi abu. Sungguh keterlaluan, orang sejenis itu benar-benar membuatku marah hanya dengan mengingatnya. Tapi kudengar sekarang dia sudah dipenjara, bukan? Katanya sih, dia kena batunya karena menyinggung orang besar.”
“Itu adalah Wen Xiaoyu,” lanjut Chen Dongdong di sampingnya, “Dulu Si Anjing Hitam itu kena masalah karena menyinggung Wen Xiaoyu dan keluarga Wen, makanya dia dihabisi dan sekarang masih mendekam di penjara. Ingat nggak, waktu dulu sekali, saat aku membantu di rumah, ada kejadian Anjing Hitam membawa anak buahnya membuat keributan di bar kita? Aku langsung mengenali dia saat itu. Dia memang sengaja mencari gara-gara dengan Wen Xiaoyu dan kelompoknya, bersama Zheng Chenglong juga. Aku waktu itu jadi pelayan di ruang sebelah, dan kedua belah pihak bertarung dengan sangat sengit. Karena keributan itu, banyak orang ketakutan dan lari menjauh supaya tidak kena imbas. Aku sendiri waktu itu kebetulan lewat, bahkan belum sadar sedang terjadi perkelahian, tiba-tiba banyak orang berlarian ke arahku. Aku pun terjatuh, aku bahkan nggak tahu siapa yang menabrakku. Ketika aku jatuh itu, gerombolan preman itu mendekat dan hampir menginjakku. Coba bayangkan kalau aku benar-benar kena injak, entah apa jadinya aku yang cuma sembilan puluh jin ini.”
Chen Dongdong tertawa kecil, seolah teringat sesuatu, “Aku tidak akan pernah lupa pemandangan itu. Wen Xiaoyu berada tak jauh dariku. Ia berteriak, ‘Awas!’, tapi aku tidak sempat bereaksi. Melihat aku tak berdaya, dia langsung mendorong salah satu preman, lalu mengangkatku dengan satu tangan dan memelukku. Saat itu juga, seorang preman lain mengayunkan botol bir ke arahnya. Aku ada di dadanya, kalau kena pasti aku yang celaka. Tapi dia langsung membalikkan badan, melindungiku sepenuh tubuhnya. Kepalanya sampai berdarah, tapi dia tetap dengan lembut melepas pelukannya, menempatkanku di belakangnya, lalu berbalik menghadapi kerumunan itu, berkelahi dengan mereka. Momen itu, tidak akan pernah kulupakan.”
“Aku tahu dia bukan sengaja ingin menolongku. Tapi kenapa aku punya perasaan baik padanya? Karena aku tahu, dia berbeda dari kebanyakan anak orang kaya. Dia menolongku dan membantu tanpa pamrih, bahkan mungkin dia sendiri sudah melupakanku.”
Chen Dongdong menghela napas panjang, “Kalian pasti sudah pernah dengar cerita tentang perkelahian di bar kita. Coba diingat lagi, aku pernah bilang ada orang yang menolongku, kalian sempat bertanya-tanya, kan? Aku saat itu memang tidak bilang siapa, karena kupikir kami tidak akan pernah ada hubungan lagi. Bahkan setelah itu, kalau kami bertemu pun, dia tidak pernah mengenaliku. Kupikir semua sudah berlalu. Sampai hari ini, saat kulihat dia muncul di toko kita, melihat keadaannya yang sekarang, betapa susah payahnya dia mencuci piring dan sayur, tapi tetap dicoba meski hasilnya tak sempurna. Bahkan untuk sekadar tersenyum pada pelanggan pun dia kesulitan, namun tetap berusaha. Dia menghidangkan mie tanpa nampan, sampai tangannya melepuh, tapi tidak mau melepas, takut mienya jatuh. Semua kepedihan itu dia telan sendiri. Jujur, Ma, aku kasihan padanya. Hidupnya tidak mudah. Dari kecil hidup serba mewah, sekarang harus merasakan derita begini, Pa, jangan terlalu keras padanya, beri dia kesempatan.”
Suasana sekitar jadi lebih hening, kedua orang tua Chen Dongdong pun diam tak bicara. Beberapa saat kemudian, Ayah Chen berkata dari samping, “Nak, kenapa kau tidak bilang dari awal soal ini? Buatku, sehebat apapun latar belakangnya, tidak ada urusanku. Tapi kalau dia pernah menyelamatkan anakku, itu sudah cukup. Kau tahu sendiri, aku orang yang tahu balas budi. Tenang saja, mulai besok aku akan memperbaiki sikap terhadap mereka.”
“Terima kasih, Pa. Dan satu hal lagi, tenang saja, Wen Xiaoyu bukan tipe orang yang akan tinggal di sini dan makan gaji buta. Dia pasti akan berusaha bekerja dengan baik.”
Ayah Chen tersenyum, mengelus kepala putrinya. Melihat ayahnya seperti itu, hati Chen Dongdong jadi lebih tenang. Ia masih teringat jelas bagaimana Wen Xiaoyu dulu melindunginya. Ia tersenyum tulus, meski penampilannya biasa saja, dengan rambut pendek yang rapi dan senyum polos yang sangat menggemaskan, membuat orang mudah iba, belum lagi gigi taring kecilnya yang manis itu.
Ayah Chen pun segera sibuk dengan urusannya. Ibu Chen meraih lengan Chen Dongdong sambil berkata, “Dongdong, kalau kau ingin membalas budi, Mama pasti mendukung. Tapi kalau kau ingin lebih dari itu, Mama tidak setuju, paham? Mama sangat mengenalmu, Dongdong. Pria seperti dia bukan untuk keluarga kita, tak peduli siapa dia. Kalian berdua tidak cocok, mengertilah. Jangan sakiti dirimu sendiri.”
“Ma, lihat dirimu, mulai berpikiran aneh lagi. Aku tahu batasanku, aku tahu lelaki itu tak akan jadi milikku. Aku mengerti, Ma.” Chen Dongdong menggenggam tangan ibunya, mengelus pipinya, lalu memeluknya erat. “Jangan banyak pikiran, tidak akan terjadi apa-apa…”
Sesampainya di rumah, Wen Xiaoyu melihat ibunya tidur lelap di sofa, lalu ke dapur melihat makanan dan secarik kertas pesan. Sungguh, melihat ibunya tidur dengan damai, semua lelahnya terasa terbayar. Ia juga melihat botol obat di atas meja, isinya hampir habis. Satu botol itu saja harganya delapan ratus lebih, dan belum cukup untuk sebulan.
Wen Xiaoyu duduk di sofa, perasaannya campur aduk. Ia memperhatikan luka melepuh di jarinya akibat air panas, mengingat semua yang terjadi hari itu. Lama termenung, ia tersenyum getir, mengambil botol obat itu. Ia tahu, apapun yang terjadi, ia harus terus bertahan. Kini dia adalah harapan keluarganya, juga harapan ibunya.
Ia ingin ibunya bisa hidup seperti dulu lagi, jadi ia harus bekerja keras, harus berusaha lebih keras lagi. Ia teringat masa kecilnya yang penuh kenakalan dan betapa besar kasih sayang ibunya, betapa banyak pengertian dan perhatiannya. Ia sungguh menyesal.
Wen Xiaoyu benar-benar kelelahan. Setelah menggendong ibunya ke kamar, ia kembali ke sofa tanpa sempat mencuci muka, lalu langsung tertidur. Untunglah, warung mie tempatnya bekerja pagi hari tidak buka. Jam buka hanya dari pukul sebelas pagi sampai sembilan malam. Sore hari biasanya tidak ada kegiatan, jika ada urusan, bisa keluar, asal kembali sebelum jam empat.
Keesokan harinya saat bekerja, Wen Xiaoyu sudah jauh lebih cekatan dalam menghidangkan makanan dan mencuci piring dibanding hari pertama. Sikap Ayah Chen terhadap Wen Xiaoyu juga berubah, jauh lebih ramah dan sabar dalam mengajari hal-hal dasar. Hal ini membuat Wen Xiaoyu dan Luo Hao agak canggung, tapi Wen Xiaoyu tetap bersemangat. Apapun pekerjaan yang ia lakukan, ia kerjakan sepenuh hati, ingin menyelesaikannya dengan baik.
Sekitar pukul tiga sore, Wen Xiaoyu duduk sendirian di warung kecil itu, mengantuk. Ponselnya bergetar, ternyata dari pengacaranya yang mengajaknya bertemu. Wen Xiaoyu buru-buru berpamitan pada Ayah Chen, naik sepeda pergi. Untung jaraknya tidak terlalu jauh, ia pun sampai di tempat yang dijanjikan dalam waktu belasan menit.
Ia menunggu sebentar, lalu sebuah mobil Audi berhenti di sampingnya. Jendela diturunkan, tampak pengacaranya. Pengacara itu memberi isyarat, Wen Xiaoyu segera masuk ke mobil. Di dalam, Wen Xiaoyu tersenyum, “Halo, ada apa mendesak sekali memanggil saya? Apakah semua berkas sudah siap? Kita bisa mengajukan gugatan ke pengadilan sekarang?”
Pengacara itu tersenyum tipis, menggeleng, “Begini, Tuan Wen, saya sangat mengerti perasaan Anda, tapi tolong jangan terburu-buru. Banyak hal harus dilakukan tahap demi tahap. Saya memanggil Anda hari ini, karena ada hal lain yang ingin saya sampaikan.”
Sambil bicara, pengacara itu mengeluarkan setumpuk uang dari sakunya dan meletakkannya di hadapan Wen Xiaoyu. “Ini untuk Anda, Tuan Wen.”
“Uang? Untuk apa Anda memberi saya uang? Urusan pengacara, justru saya yang bayar Anda, kenapa malah Anda yang mengembalikan uang?”
“Ini uang muka yang pernah Anda berikan pada saya. Saya kembalikan sekarang. Awalnya saya kira saya punya waktu, tapi belakangan keluarga saya ada masalah, jadi saya harus segera meninggalkan kota ini. Dengan begitu, saya tidak bisa menangani kasus Anda lagi. Maaf, Anda bisa mencari pengacara lain.”
“Tidak jadi? Saya sudah menunggu begitu lama, dan sekarang Anda bilang tidak jadi? Kenapa tidak dari awal? Apa benar ada masalah?” Wen Xiaoyu mulai emosi. “Lagi pula, ini kan bukan main-main, Anda mau terima ya terima, mau tidak ya tinggal tidak? Tidak bisa begitu! Anda harus tangani, saya tidak mau uangnya kembali! Sudah Anda terima, tidak bisa dikembalikan! Saya tahu Anda terkenal di Kota Z dalam urusan hukum, kalau Anda tidak mau, saya harus minta tolong siapa?”
“Tenang, Tuan Wen. Saya benar-benar ada urusan, maafkan saya. Uang ini saya kembalikan, tolong terima. Juga, tolong jaga emosi Anda.”
“Jangan anggap saya bodoh. Pasti bukan karena urusan keluarga.” Wen Xiaoyu memang orang yang cerdas, ia mulai merasa ada firasat buruk. “Saya bilang, Anda sudah terima uang saya, Anda harus tangani kasus saya. Kalau tidak, mengembalikan uang muka saja tidak cukup.”
“Anda ingin menuntut seorang pengacara?” Pengacara itu tersenyum tipis, membuat Wen Xiaoyu terdiam. Lalu pengacara itu mendorong uang di depannya. “Tuan Wen, saya minta maaf atas pelanggaran kontrak ini. Tapi jika Anda bawa kontrak kita ke pengadilan, Anda juga tidak akan menang. Kalau tidak percaya, silakan tanya siapa saja, selama Anda masih punya tenaga untuk mengurus banyak hal sekaligus!”