Bab 26 Begitu Banyak Hasil Laut?
Song Hesiu tidak meragukan perkataan putrinya, karena memang tidak ada alasan bagi sang putri untuk berbohong kepadanya. "Wah, bagus sekali! Sebegitu banyak, keluarga kita bisa makan untuk waktu yang lama."
"Benar," jawab Song Cuman. "Kalau tidak habis dimakan dalam waktu dekat, kita bisa menjemurnya sampai kering. Nanti kalau ingin makan, tinggal direndam dalam air, dan bentuknya akan kembali seperti semula."
Song Hesiu sangat gembira, "Jadi ini sama saja dengan jamur kering, benar-benar harta yang berharga."
Baru setelah itu, ia memperhatikan bahwa ember kayu milik putrinya ternyata sudah penuh dengan hasil laut. Ia menatap dengan kagum, "Cuman, kamu hebat sekali, bisa menemukan sebanyak ini."
Song Hesiu melirik ember miliknya sendiri, wajahnya pun memerah sedikit.
Sebagai orang dewasa, ia ternyata kalah dari seorang anak kecil.
Song Cuhwai memandang kakaknya dengan penuh kekaguman.
Kakak benar-benar luar biasa!
Song Cuman melirik ember mereka, masing-masing hanya berisi tiga atau empat kerang saja.
Ia pun tidak membuang waktu, langsung meletakkan ember kayunya di samping, "Ayah, ember ini terlalu berat, jadi ayah jaga saja di sini. Tunggu kami satu perempat jam, kami akan segera kembali."
Usai bicara, ia mengambil ember dari tangan Song Hesiu, lalu menarik tangan adiknya dan pergi ke tempat lain untuk mencari hasil laut.
Song Hesiu memandang punggung anak-anaknya, menghela napas, dan akhirnya hanya bisa menerima nasib menjaga ember.
Seperti sebelumnya, Song Cuman bertugas menunjukkan, sementara adiknya menggali.
Ia ingin agar adiknya ikut berpartisipasi, supaya tidak terbiasa bermalas-malasan.
Setelah satu perempat jam, kakak beradik itu kembali bertemu Song Hesiu.
Melihat tiga ember kayu yang penuh dengan hasil laut, Song Hesiu sangat terharu.
Jika dijual, keluarga mereka bisa menabung uang.
Demi menjaga kesegaran hasil laut, mereka bertiga segera pulang. Semua hasil laut dituangkan ke dalam baskom kayu, agar lebih leluasa bergerak.
Namun, baskom kayu itu masih terlalu kecil, sampai meluber ke luar. Song Cuman pun memindahkan sebagian kembali ke ember.
Ketika Song Hesiu mengantar anak-anaknya ke mulut gua, ia langsung pergi ke rumah Yang Qingru untuk meminjam gerobak.
Jarak antara ibu kota dan Desa Ikan Hijau, jika berjalan cepat, hanya butuh sekitar setengah jam.
Shu Wan menatap baskom dan tiga ember kayu yang penuh dengan hasil laut, lalu berkata dengan takjub, "Kali ini kalian panennya luar biasa, sepertinya tidak ada satu keluarga pun di desa yang bisa menandingi hasil kalian."
Song Cuman tertawa, "Ibu, apakah makan siang sudah siap? Kalau ayah sudah pulang, kita langsung ke kota. Selagi masih hidup, kita buru-buru jual."
Saat ini kekuatan mentalnya sangat sedikit, dan hari ini ia sudah banyak menggunakannya.
Ia pun tak tahu berapa lama kekuatan mental yang ia berikan pada hasil laut tadi bisa membuat mereka tetap hidup.
Shu Wan mengangguk, "Ibu sudah buat bola nasi kecil, di dalamnya ada daging gurita."
Tak lama setelah bicara, Song Hesiu pun datang mendorong gerobak.
Yang Qingru juga tiba.
Ia memang hendak ke kota, dan khawatir keluarga Song yang lemah dan masih kecil tidak punya tenaga untuk mendorong gerobak ke kota, juga takut mereka akan di-bully orang.
Lagipula, Song Hesiu pernah menyinggung seseorang di kota.
Keluarganya juga ikut mencari hasil laut, tapi hasilnya tidak banyak; seluruh keluarga hanya mampu mendapat sedikit, bisa dihitung jari, dan tak bisa dijual dengan harga tinggi.
Yang bisa dimakan, dimakan sendiri; yang tidak, dijadikan bahan kering.
Nanti, hasil panen dikumpulkan dan dijual ke pedagang yang membawa barang ke kota, untuk dijual ke daerah yang jauh dari laut.
Melihat begitu banyak hasil laut, Yang Qingru terkejut, "Astaga, sebanyak ini hasil laut? Kalian temukan semua saat mencari di pantai?"