Bab 42: Perlakukan Saja Secara Wajar
"Aku rasa bukan begitu. Waktu aku lewat depan rumah Kepala Desa, kudengar kalau kedua anak kembar mereka tiba-tiba menjadi sangat kuat, katanya itu juga pemberian Dewi Laut."
"Setelah kau bilang begitu, aku jadi ingat. Pagi tadi, sepertinya aku memang melihat si kembar itu mengangkat satu ember kayu penuh hasil laut hanya dengan satu tangan."
"Astaga, sepertinya keluarga besar Song akan bangkit lagi."
"Kalau Song Chuman bukan pembawa sial, lalu kenapa di hari dia pulang, pamannya langsung menebas neneknya sendiri?"
Xu Caocao berkata, "Waktu itu aku juga ada di tempat kejadian. Song Erlang tiba-tiba seperti kerasukan karena Li Cuicui hendak melukai Song Chuman. Song Hemaomu langsung mengayunkan pisau ke arahnya. Menurutku, itu Dewi Laut yang melindungi Song Chuman, dan lewat tangan Song Hemaomu, ia memberi pelajaran pada Li Cuicui."
Adik ipar Xu Caocao, Tian Xiaoyu, menimpali, "Benar, tadi aku lewat rumah Song Tua, kudengar Li Cuicui memuntahkan darah. Padahal dia sehat, hanya luka di luar saja, kenapa bisa muntah darah? Kurasa pasti karena keluarganya lagi-lagi cari gara-gara dengan Song Chuman dan lagi-lagi dihukum Dewi Laut."
Orang-orang yang hadir langsung tampak serius.
Memang ada kemungkinan begitu.
Song Hemaomu meski terkenal bandel, mana mungkin sampai menebas ibunya sendiri hanya demi keponakan? Sudah pasti itu Dewi Laut yang murka.
"Kalian pikir, kalau Song Chuman tidak dibenci Dewi Laut, lalu kita sering bergaul dengannya, mungkin keberuntungan kita juga akan membaik?"
"Soal itu aku tak bisa pastikan. Song Chujin saja, setelah dekat dengannya, malah jatuh dua kali."
"Menurutku, perlakukan saja anak itu seperti biasa, tak perlu berlebihan."
"Betul, Dewi Laut tahu kalau Aman itu baik hati, makanya dia mendapat balasan. Kita tak boleh memanfaatkan seorang anak. Kalau Dewi Laut sampai tahu, pasti dia akan marah pada kita."
"Itu benar, biasa saja sudah cukup."
Setelah bermusyawarah, mereka menghirup dalam-dalam aroma menggoda yang menguap dari dalam gua, lalu pulang ke rumah masing-masing.
...
Di saat yang sama, di rumah Song Tua.
Setelah Li Cuicui muntah darah dan pingsan, ia baru saja dibawa ke tabib, tapi langsung sadar begitu sampai di sana.
Tak ingin mengeluarkan uang, tanpa pikir panjang ia minta diantar pulang saja.
Setelah beristirahat sejenak, tenaganya mulai pulih, tapi perutnya keroncongan. Dengan kesal ia berteriak ke luar pintu, "Pada ke mana semuanya? Kenapa belum juga diantarkan makanan ke sini?"
"Sebentar, sebentar!"
Gao Siyue buru-buru masuk membawa semangkuk bubur, diikuti Huang Xiaoli yang membantu Li Cuicui duduk, lalu meletakkan meja kecil di atas ranjang.
Gao Siyue menaruh bubur di meja kecil itu.
Sudah terluka pun, mulutnya tetap tajam.
Tabib juga bilang, itu hanya luka luar, tidak mengenai tulang. Muntah darahnya pun mungkin karena emosi, jadi seharusnya tidak apa-apa.
Setiap hari bersikap seperti orang sekarat di ranjang, tak lain cuma ingin menyiksa dua menantunya.
Li Cuicui memandang bubur yang bahkan sumpit pun tak bisa berdiri di atasnya, lalu mengerutkan kening, "Ini apa? Mana dagingnya? Mana lauknya? Kenapa cuma semangkuk bubur? Kalian kira aku pengemis? Aku mau telur kukus, juga daging berlemak!"
Gao Siyue dan Huang Xiaoli saling berpandangan dengan raut bingung.
Song Xiangqian masuk dengan dahi berkerut, membentak, "Sudah, sekarang lagi masa sulit, mana ada daging dan lauk? Makan malam hari ini aku yang atur. Mulai sekarang, urusan makan di rumah ini aku yang tentukan!"
"Kita bahkan belum tahu kapan akan punya penghasilan lagi. Uang yang ada entah cukup sampai kapan. Kau tidak bisa berhemat sedikit?"