Bab 6: Untuk Apa Kau Membutuhkan Sebanyak Itu?
Song Chuman menahan tawa, kalau memang tidak bisa menggunakan peribahasa, sebaiknya jangan mempermalukan diri sendiri. Song Hesiu sudut bibirnya berkedut, “Kau mau bilang mengambil selangkah, menuntut sejengkal? Itu semua uangku yang membeli, aku minta semuanya, apa itu keterlaluan?”
“Kamu!”
Song Hesiu menatap penuh sindiran pada keluarga cabang kedua dan ketiga yang menatapnya tajam, “Bagaimanapun juga, ada orang yang sudah mengincar nyawa putriku, masa aku masih harus meninggalkan makanan untuk mereka?”
Song Xiangqian berkata dengan kesal, “Sudahlah, semua kuberikan padamu.”
Song Hema berprotes, “Ayah, lalu kami makan apa?”
Song Xiangqian membentak, “Kita beli lagi saja!”
Walau enggan, Song Hema akhirnya mengalah.
Song Chuman berkata, “Ayah, kita masih punya tanah di rumah, semua itu juga dibeli dari uang hasil kerja ayah, tidak masuk akal kalau tidak dibagi ke kami.”
Sebagian besar tanah di tepi laut adalah tanah beralkali dan asin, banyak tanaman tidak cocok ditanam di sana, dan penduduk setempat pun tidak tahu caranya. Banyak tanah yang memang direncanakan pemerintah sebagai lahan pertanian, dan pemerintah tidak mengizinkan warga membangun rumah di atasnya. Katanya, tunggu hasil penelitian dari pemerintah, suatu saat nanti tanah itu pasti bisa digunakan untuk bertani.
Namun, puluhan tahun berlalu, tak ada hasil penelitian apapun, semua orang merasa tanah itu tak berguna.
Tapi ia tahu cara menanam, bahkan bisa memperbaiki tanah beralkali dan asin.
Song Hesiu sedikit ragu, “Tapi...”
Tanah itu tak berguna, apa pun yang ditanam tak akan tumbuh.
Song Chuman berkata, “Ayah, kalau itu milik kita, seharusnya kita minta.”
Song Hesiu mengangguk, lalu menoleh ke orangtuanya, “Setahu saya, keluarga kita punya lima mu tanah.”
Song Xiangqian menjawab dengan tidak sabar, “Kuberikan dua mu saja, cukup kan.”
Toh, tak berguna juga.
Setiap tahun selalu saja ada yang bertanya ke pemerintah kapan tanah itu bisa ditanami, dan jawabannya selalu malas-malasan, katanya beberapa tahun lagi. Namun, sudah puluhan tahun berlalu, pemerintah hanya sekadar menenangkan warga.
Song Hesiu berkata, “Dulu tanah itu dijual murah oleh pemerintah, dan semua dibeli dengan uangku. Sudah kosong bertahun-tahun, tidak bisa ditanam, jadi aku ingin semuanya.”
Song Xiangqian mengernyit, “Tanah yang tak bisa ditanami, buat apa kamu minta sebanyak itu?”
Song Hesiu menjawab, “Itu uangku yang dipakai membeli, rumah dan barang lain tidak kuambil, jadi tanahnya tentu kuambil semua.”
Song Xiangqian hanya ingin keluarga cabang utama yang merepotkan ini segera pisah, “Baik, aku setuju.”
Song Hema dan Song Hewei juga tidak berkata apa-apa, tanah yang tak bisa ditanami dan tidak boleh dibangun rumah, mau diapakan, mereka juga tidak berminat.
Song Chuman tersenyum senang, kalian tunggu saja nanti menyesal!
Li Cuicui mendengus, “Walaupun sudah pisah keluarga, tapi uang bakti bulanan tetap harus kalian berikan. Menurutku, sebulan satu tael perak, beras kualitas terbaik seratus kati, garam tiga kati, gula tiga kati, daging babi segar sepuluh kati, kain linen satu gulung.”
Song Chuman benar-benar kehabisan kata-kata, semua ini, dulu merupakan penghasilan ayah selama lebih dari sebulan.
Sebagian besar orang di desa hanya makan beras kualitas rendah, tubuhnya sendiri sampai usia enam tahun belum pernah makan beras kualitas terbaik, dan sekarang tiba-tiba diminta seratus kati.
Sepuluh kati daging? Dulu saat semua uang ayah diserahkan ke Li Cuicui, Li Cuicui saja tidak rela membeli sepuluh kati daging sebulan untuk dimakan.
Belum lagi kain linen, biasanya Li Cuicui hanya membeli beberapa hasta kain baru saat menjelang tahun baru, kini sekali bicara langsung minta satu gulung.
Song Hesiu juga tidak puas dengan syarat yang diajukan Li Cuicui, “Sekarang aku tidak punya pekerjaan, tidak bisa memberi sebanyak itu. Nanti aku hanya bisa memberi sebisaku. Kalau kalian tidak setuju, ya sudah, aku juga tidak jadi pisah keluarga dan tetap bergantung pada kalian.”
Wajah Li Cuicui langsung berubah muram.