Bab 159 Rumah
He Daquan berjalan mendekati Nyonya Tua Chen, lalu berbisik, "Bukankah masih ada Ibu? Berikan uang tabungan rumah kepada anak, setelah utang ini kulunasi, aku masih bisa bangkit kembali."
Nyonya Tua Chen tampak sangat keberatan. "Bagaimana jika kamu kalah lagi?"
He Daquan menjadi cemas. "Ibu, urusan nanti dipikirkan nanti saja. Jika benar-benar tidak bisa, aku berjanji tidak akan berjudi lagi, dan akan mencari pekerjaan dengan jujur untuk mencari uang secara mantap."
Nyonya Tua Chen tidak memiliki pilihan lain. Para penagih utang sudah mendatangi rumah, sehingga ia hanya bisa memilih untuk mempercayai putranya. Ia pun berbalik untuk mengambil uang.
Namun, beberapa saat kemudian, ia berlari keluar dengan panik, memukuli He Daquan beberapa kali, lalu meraung putus asa, "Hanya kamu yang tahu tempat penyimpanan uang di rumah ini. Apakah kamu mencuri uang keluarga kita? Sekarang uang di rumah tinggal lima liang perak saja, dengan apa kamu mau membayar utang-utang itu!"
He Daquan teringat bahwa beberapa hari yang lalu ia memang mengambil uang untuk menjamu teman-temannya makan, bahkan pergi ke Gedung Tianwai untuk menyantap hidangan laut. Hatinya langsung berdegup kencang.
Melihat ekspresi putranya itu, tidak mungkin Nyonya Tua Chen tidak mengerti apa yang terjadi.
Ia tiba-tiba jatuh lemas bersimpuh di tanah, menangis tersedu-sedu, "Malang sekali nasibku ini. Uang lima puluh liang semuanya telah kamu ambil, sekarang yang tersisa di rumah hanya tinggal lima liang, bagaimana cara kita menjalani hidup ke depannya!"
He Daquan dengan panik menoleh kepada Cao Li. "Kak Cao, di rumahku hanya tersisa lima liang saja, bisakah kamu memberikan kelonggaran beberapa hari lagi padaku?"
Cao Li mencibir. "Tidak ada uang? Kalau begitu, jangan salahkan aku jika menyuruh orang mengangkut barang-barang di sini. Aku tahu betul kamu sempat mendapatkan sedikit rezeki nomplok dan membeli banyak perabotan berharga di rumah ini. Semuanya, angkut ke luar! Omong-omong, geledah juga ke setiap sudut, cari tahu apakah masih ada uang yang tersimpan!"
"Baik!"
Para pria berbadan kekar itu segera menerobos masuk ke dalam rumah.
Nyonya Tua Chen berniat maju untuk menghentikan mereka, tetapi sebagai seorang wanita paruh baya, ia sama sekali bukan tandingan para pria berbadan kekar itu. Ia hanya bisa berdiri di sisi sambil cemas setengah mati.
He Daquan mendesak dengan panik, "Kak Cao, di rumahku benar-benar sudah tidak ada uang lagi. Barang-barang itu adalah satu-satunya harta yang kami miliki. Jika kamu mengambil semuanya, lalu dengan apa aku akan melamar istri nanti?"
Cao Li meliriknya dengan tatapan penuh penghinaan. "Dengan keadaanmu yang seperti ini, masih berani memikirkan untuk menikah? Siapa yang sudi dipersunting oleh seorang penjudi yang terlilit utang?"
He Daquan tertegun hingga tak bisa berkata-kata. Saat ia hendak membela diri, ia melihat para pria berbadan kekar itu telah mengangkat keluar meja, kursi, dan berbagai perabotan rumahnya.
Seorang pria berbadan kekar berlari keluar dari kamar Nyonya Tua Chen sambil membawa sebuah kotak perhiasan. "Bos, di dalam kotak perhiasan ini masih ada cukup banyak perhiasan perak."
Nyonya Tua Chen terkejut. Ia merangkak bangkit dari lantai dengan tergesa-gesa dan menerjang maju untuk merebut kotak perhiasan tersebut.
"Kalian letakkan kembali! Itu adalah barang yang akan kuberikan untuk melamar istri cucuku kelak, cepat kembalikan padaku!"
Pria itu mendorong Nyonya Tua Chen dengan kasar, lalu berjalan cepat menghampiri Cao Li dan menunjukkan kotak perhiasan itu kepadanya. "Kakak, lihatlah."
Cao Li mengambil perhiasan tersebut, memperkirakan beratnya, lalu mengerutkan kening. "Barang-barang ini paling-paling hanya senilai sepuluh liang perak. Ditambah lima liang yang mereka pegang serta meja dan kursi itu, kita masih kurang lima belas liang untuk melunasi seluruh utangnya."
He Daquan memohon dengan sangat iba, "Kakak Cao, mohon ampuni aku untuk kali ini saja. Uang lima belas liang ditambah meja dan kursi itu sudah lebih dari cukup untuk memenuhi angka dua puluh liang. Ambil saja semuanya dan pergi dari sini."
Cao Li mendengus dingin. "Sudah kubilang kurang, ya tetap kurang! Sebenarnya kamu yang berutang pada rumah judi, atau rumah judi yang berutang padamu?"
He Daquan tahu bahwa mereka tidak akan melepaskannya dengan mudah. Dengan perasaan gentar ia bertanya, "Aku benar-benar sudah tidak punya uang lagi."
Cao Li melirik ke arah rumah keluarga He. "Rumahmu ini sepertinya masih cukup berharga."
Hati He Daquan bergidik ngeri; ia tidak menyangka bahwa mereka ternyata telah mengincar rumah tempat tinggalnya!