Bab 9 Dia tidak sudi menerima takdir seperti ini!
Keesokan harinya, Nyonya Tong memanggil ketiga putrinya dengan wajah berseri-seri.
"Ulang tahun Nyonya Tua Pei jatuh pada bulan ini. Sejak aku menginjakkan kaki di kediaman ini, aku sudah memikirkan hal tersebut. Akhirnya, aku mendapatkan kepastian dari Nyonya Ketiga Pei bahwa kalian bertiga boleh ikut hadir untuk memberikan penghormatan."
Mendengar hal itu, kedua saudari Tong Jiayu tampak begitu gembira. Sejak mereka tiba di kediaman ini, mereka hanya sesekali dipanggil oleh para putri keluarga Pei untuk sekadar menghibur diri, namun belum pernah sekalipun menghadiri perjamuan di ibu kota, apalagi perjamuan ulang tahun Nyonya Tua Pei. Jika mereka tampil menawan di sana, mereka berkesempatan untuk menarik perhatian para nyonya besar dari berbagai keluarga terpandang.
Yang hadir untuk memberikan penghormatan bukan hanya kerabat perempuan, tetapi juga keluarga besar Pei serta para bangsawan ibu kota. Tidak sedikit pula pemuda dari keluarga ternama yang akan hadir. Nyonya Tong telah menanti kesempatan emas seperti ini. Ia berpesan kepada para pelayan, "Siapkan putri-putriku dengan sebaik mungkin. Segera ambil pakaian dan perhiasan yang sudah dipesan di Toko Jinyu."
"Baik, Nyonya."
Kedua saudari Tong Jiayu mengerumuni Nyonya Tong dengan tawa ceria, sementara Tong Anyi berdiri di ambang pintu seolah tidak dianggap. Tatapan Nyonya Tong akhirnya tertuju padanya, namun jauh lebih dingin dibandingkan saat memandang kedua putri kandungnya, bahkan terselip nada peringatan.
"Di perjamuan Nyonya Tua, putra mahkota kediaman Pei tentu akan muncul. Kau tahu apa yang harus kau lakukan?"
"Putri mengerti," jawab Tong Anyi sambil membungkukkan badan dengan senyum patuh.
Melihat sikapnya, Nyonya Tong merasa cukup puas. Semalam, pelayannya telah memastikan di pintu belakang bahwa Tong Anyi diantar pulang menggunakan kereta mewah. Dengan begitu, ucapannya bisa dipercaya. Namun, sekalipun Tong Anyi berniat bermain curang, itu tidak masalah. Waktunya tidak banyak lagi; jika ia tidak bisa memikat putra utama keluarga Pei, ia akan mencarikan keluarga lain yang bisa membantu bisnis keluarga Tong untuk menikahi Tong Anyi.
Perjamuan ulang tahun Nyonya Tua Pei adalah acara terbesar di kediaman Pei. Nyonya rumah bersama para menantu dari cabang kedua dan ketiga telah lama mempersiapkannya. Perjamuan itu bahkan terdiri dari puluhan meja. Reputasi keluarga Pei di ibu kota sangat besar, terlebih putra utama mereka sejak kecil telah menjadi teman belajar kaisar. Bahkan kaisar sendiri pun akan mengutus orang untuk mengirimkan hadiah. Kehormatan sebesar itu membuat kedua saudari Tong Jiayu terperangah. Mereka bergumam penuh iri, "Alangkah baiknya jika keluarga kita juga bisa memiliki pijakan kokoh di ibu kota."
"Bukankah Ibu sudah berjanji akan mengatur agar kita bisa menikah dengan keluarga terpandang?"
Tong Anyi yang berjalan selangkah di belakang hanya tersenyum tipis. Berbeda dengan harapan kedua saudarinya, ia tidak memiliki ekspektasi apa pun terkait pernikahan masa depannya.
Waktu berlalu dengan cepat hingga hari perjamuan pun tiba. Sejak pagi, Qiu He sudah membangunkan Tong Anyi untuk mandi dan bersiap. Saat membentangkan pakaian, Qiu He tertegun. Pakaian itu…
"Nona…"
"Ada apa?" Tong Anyi keluar dari balik tirai dan ikut mematung saat melihat pakaian yang disiapkan Nyonya Tong untuknya.
Indah memang, namun terlalu…
Meski hanya seorang pelayan kecil, Qiu He memberanikan diri berkata dengan hati-hati, "Nona, pakaian ini terasa terlalu vulgar. Jika mengenakan ini, Nona pasti akan menjadi bahan tertawaan."
Kata vulgar saja masih terlalu halus; pakaian itu benar-benar tidak pantas. Gaun merah muda dengan kain luar yang transparan. Nyonya Tong hanya memikirkan bagaimana cara menarik perhatian para pria, tanpa mempedulikan betapa memalukannya penampilan itu di mata para nyonya besar! Bahkan sosok setenang Tong Anyi pun merasa wajahnya memucat.
Ibu angkatnya memang cerdik dan penuh perhitungan, namun kali ini ia terlalu terburu nafsu. Jika ia dipermalukan, apa untungnya bagi reputasi keluarga Tong? Ataukah ia memang sengaja ingin menyalahkan Tong Anyi, menyebutnya sebagai anak angkat yang sulit diatur?
Meski terbiasa menerima nasib, Tong Anyi tidak sudi menerima nasib yang seperti ini! Jika ia muncul di perjamuan dengan pakaian ini, reputasinya di ibu kota akan hancur lebur. Ia tidak akan pernah bisa menikah dengan keluarga terhormat dan hanya akan berakhir menjadi pajangan di kediaman pria hidung belang.
"Nona, apa rencana Anda?" Qiu He sudah cukup lama melayani Tong Anyi dan tahu bahwa majikannya bukan orang yang hanya bisa pasrah.
Tong Anyi menarik napas dalam. "Qiu He, ambilkan jarum dan benang."
"Baik!"
Keterampilan menyulamnya biasa saja, tetapi jahitan Qiu He sangat rapi. Tong Anyi menghitung waktu dan mengajari Qiu He cara merombak pakaian tersebut.
"Nona, modelnya bisa diubah, tapi warnanya…" Warna itu pun tidak menunjukkan kesan anggun.
"Tidak apa-apa, aku masih muda, warna ini masih bisa kupakai." Warna merah muda memang kurang formal, namun tergantung siapa yang memakainya. Hanya saja, kain luar yang transparan itu benar-benar tidak boleh dipakai. "Ambilkan gaun sulam putihku saja."
Qiu He membantunya berpakaian. Bagian dalam yang sudah dirombak kini terlihat sopan dan rapi, namun bagian luarnya…
"Jubah luar ini sudah Nona pakai bertahun-tahun, terlihat agak lusuh," ucap Qiu He dengan nada sedih.
"Mari mulai merias wajah."
Tong Anyi tidak memedulikan kemewahan pakaian. Ia sadar dirinya hanyalah putri dari keluarga pedagang, untuk apa berpura-pura? Ia menatap cermin, memilih jepit rambut secara asal, dan Qiu He menambahkan pita di ujung rambutnya, membuatnya tampak semakin lugu dan bersih.
Saat Tong Anyi berdiri dan menyatukan kedua tangannya di pinggang, Qiu He sampai tertegun melihatnya.