Bab 1: Dia yang Mempunyai Nama Sama dengan Tsubasa Ozora
“Tenang saja, aku di sini baik-baik saja. Bu, ayolah, kau kan tahu sendiri, musim dingin di sini hampir sama seperti di rumah, mana mungkin aku sampai kedinginan?” Dai Zhiwei memegang gagang telepon, bersandar pada pagar atap, sambil menatap pemandangan jendela apartemen di seberang.
“Iya, Bu, aku tahu. Kali ini, saat Imlek, aku pasti akan membawa Tingting pulang. Beberapa hari yang lalu dia bahkan bilang ingin membelikan Ibu tas kulit bermerek. Iya! Yang sering disebut-sebut di internet itu, LV. Sebenarnya tidak terlalu mahal, kok.”
“…”
“Oh, soal bosku? Dia orangnya ramah sekali, sangat baik. Kemarin saja dia bilang kalau harus lembur saat Imlek, aku bisa dapat bonus akhir tahun lebih banyak, tapi kurasa juga nggak seberapa, sih...”
Saat ini adalah Tahun Baru 2021, sebulan lagi menuju Imlek. Bagi orang-orang yang merantau, hal yang paling dirindukan adalah rumah, meski mungkin rumah itu biasa saja atau bahkan sederhana.
Pulang kampung saat Imlek adalah perasaan yang tak pernah bisa dilepaskan oleh siapa pun di negeri ini.
“Iya, nanti aku masih ada kerjaan yang harus diselesaikan... Iya, jaga kesehatan, ya, Ibu dan Ayah. Kau juga tahu, di luar negeri tidak ada libur, kami wartawan juga cuma bisa tetap di sini... Sudah ya, Ibu, aku tutup dulu, dadah!”
Baru saja menutup telepon, Dai Zhiwei menghembuskan napas panjang. Wajah yang tadi penuh semangat langsung berubah lesu. Ia menggaruk-garuk rambutnya dengan kesal, lalu mengumpat pelan, “Sial!”
Dai Zhiwei lulusan jurusan Bahasa Mandarin, mengambil jurusan tambahan Jurnalistik. Saat lulus, ia memperoleh dua gelar, lalu memilih tetap tinggal di kota tempat kuliahnya dan bekerja sebagai wartawan sepak bola di sebuah kanal olahraga daring, pekerjaan yang sudah digelutinya selama tiga tahun.
Sebagai wartawan sepak bola, sebenarnya Dai Zhiwei belum bisa dibilang sukses. Ia paling suka Liga Inggris, tapi tidak punya banyak akses ke kabar eksklusif, jadi terpaksa sering mengarang berita-berita sensasional, seperti hari ini Mourinho dan Pogba adu mulut, besok Courtois dikabarkan berselingkuh dengan rekan setimnya di Real Madrid.
Imajinasi adalah modal bertahan hidup bagi wartawan olahraga di negeri ini.
Namun, karena karya-karyanya lebih banyak berupa rekayasa tanpa fakta, hingga usia mendekati 30 tahun, Dai Zhiwei masih belum melihat masa depan cerah. Soal pacar dan bonus akhir tahun yang tadi ia ceritakan di telepon pun hanyalah kebohongan belaka.
“Haaah...”
Dai Zhiwei menghela napas, membuang kaleng bir Budweiser yang kosong ke tempat sampah, lalu membuka sebuah komik tua yang halamannya sudah menguning—“Kapten Tsubasa”.
Banyak generasi 90-an di negeri ini yang menyukai sepak bola karena Ronaldo, Beckham, atau karena timnas negeri ini untuk pertama kalinya masuk Piala Dunia tahun 2002. Namun, Dai Zhiwei jatuh cinta pada sepak bola justru berkat “Kapten Tsubasa”.
Ada alasan khusus: dalam versi terjemahan Kantonis, nama tokoh utama Kapten Tsubasa adalah Dai Zhiwei.
Komik ini adalah bajakan. Meski saat dibuka tercium bau kertas murahan, Dai Zhiwei tetap menjaga dan menyimpannya dengan hati-hati.
Halaman judulnya sudah menguning dan robek; tulisannya pun hampir pudar.
“Kau bahagia dengan hidupmu?
Apa benar seumur hidupmu akan kau jalani seperti ini?”
Dai Zhiwei gelisah, berdiri dan menendang kaleng bekas bir dengan keras.
Pantulan suara kaleng menghantam dinding menggaung di ruangan kosong itu, tapi tak ada satu pun yang menjawabnya.
...
Berputar-putar di kepalanya yang berat banyak pertanyaan, wajah-wajah yang terasa akrab sekaligus asing, potongan-potongan memori yang seolah pernah dialami, berputar-putar dalam benak namun seperti bayangan samar yang tak bisa digapai.
Dai Zhiwei tiba-tiba membuka mata, mendadak dunia terasa berputar. Ia memejamkan mata lagi, menstabilkan diri sampai rasa pusingnya berlalu, baru kemudian perlahan-lahan membuka matanya. Tanpa sadar, ia berdiri dari kursinya, namun pikirannya masih kacau.
Di depannya ada sebuah ruangan kecil, tampak seperti ruang ganti. Belasan pemuda tampak bersemangat berbincang. Beberapa orang melirik ke arahnya dengan pandangan penuh iri.
“Hei! Zhiwei, jangan seperti itu dong!” Seorang pemuda tampan mendekatinya, menepuk pundaknya.
Dai Zhiwei yang masih melamun terkejut, menoleh ke arah lelaki itu, pikirannya berputar cepat, “Ini... ini Zhang Linpeng, kan? Kenapa dia bicara seperti itu padaku? Rasanya sangat akrab?”
“Bisa kasih tahu aku, ini di mana?” Dai Zhiwei merasa asing dengan semua yang ada di sekitarnya, sempat mengira dirinya diculik, sehingga ia bertanya spontan.
Orang di depannya sempat tertegun, lalu tertawa, “Zhiwei! Kau bercanda, ya? Atau karena terlalu senang? Bukankah pelatih Ka bilang kau mungkin akan diturunkan babak kedua, ya sudah biasa, kan? Ini Stadion Tianhe, markas kita!”
“Stadion Tianhe?” Dai Zhiwei menggumam. Tentu saja ia tahu tempat itu, markas Guangzhou Evergrande di Liga Super Tiongkok. Tapi kenapa dia bisa ada di sini?
“Hei! Zhiwei, mau melamun sampai kapan? Babak kedua sebentar lagi dimulai. Atau kau takut jadi bahan tertawaan kalau main jelek, ya?”
“Babak kedua?” Dai Zhiwei masih linglung.
“Sudah, Linpeng! Jangan bercanda terus sama Zhiwei, semua orang pasti pernah main debut profesional, tidak ada yang langsung jago.” Seorang pria lain menimpali.
“Zheng Zhi?”
Sebagai kapten tim Guangzhou Evergrande, Zheng Zhi menepuk leher Dai Zhiwei, “Zhiwei, walau kau baru saja naik ke tim utama tahun ini, kita semua pernah mengalami hal yang sama. Kau tampil bagus di tim cadangan, jangan gugup. Liga Super itu sebenarnya biasa saja.”
“Baik, Kapten.” Setelah mendapat kepastian, Dai Zhiwei meminta maaf lalu bergegas masuk ke toilet, menatap wajah muda dan tampannya di cermin, perasaan aneh membuncah dalam dirinya.
Dai Zhiwei kini bukan lagi dirinya yang dulu, melainkan kembali ke penampilan dan tubuhnya saat masih kuliah.
Tiba-tiba, ia merasa dunia berputar hebat, seolah ada sesuatu yang memaksa masuk ke dalam pikirannya. Kalau saja kedua tangannya tak segera berpegangan pada dinding, mungkin ia sudah jatuh menubruk kloset.
“Jadi, ini namanya terlahir kembali?” Setelah beberapa saat, Dai Zhiwei akhirnya bisa mengurai ingatan baru yang memenuhi benaknya.
Kini, awal kehidupan Dai Zhiwei sama persis dengan kehidupan sebelumnya, hanya saja sejak SMP jalur hidupnya berubah. Dulu setelah lulus SMP ia masuk SMA unggulan, tetapi di kehidupan ini ia justru lolos seleksi ke Akademi Sepak Bola Genbao, dan menjelang usia 18 tahun direkrut Guangzhou Evergrande dengan biaya pelatihan 300 ribu yuan untuk masuk tim cadangan. Awal tahun ini, ia tampil bagus di tim cadangan sehingga dipromosikan ke tim utama, menjadi bagian dari tim yang berlaga di Liga Super dan Liga Champions Asia.
“Zhiwei, kamu sudah baikan? Jangan terlalu tegang, cuma debut di tim utama saja kok!” Terdengar suara Zhang Linpeng dari luar toilet.
Dai Zhiwei menahan keterkejutannya, berpikir sejenak lalu menjawab, “Kak Zhang, aku sudah lebih baik, dua menit lagi aku keluar!”
“Oke!”
Setelah menenangkan diri dari temannya yang paling dekat di tim, Dai Zhiwei menatap wajah tampannya di cermin, merasa aneh antara familiar dan asing.
Air dingin yang membasuh wajahnya membuat pikirannya lebih jernih. Layar ponsel di kantong celananya menunjukkan jelas tanggal hari ini: 9 Maret 2015—hari pertama setelah ia terlahir kembali.
Dai Zhiwei tidak tahu kenapa tiba-tiba ia terbangun di tahun 2015. Dalam novel-novel web, biasanya tokoh utama terlahir kembali setelah mengalami kecelakaan tragis, tapi dirinya hanya tidur dan bangun begitu saja?
Ia meraba wajah mudanya yang tampan, mengangkat bajunya. Tidak lagi terlihat perut buncit akibat bir yang menemaninya enam tahun terakhir, kini perutnya berotot dengan enam kotak, tubuh gemuk 160-an jin sudah berubah menjadi tubuh proporsional setinggi 175 cm.
“Andai aku terlahir kembali jadi anak pejabat, pasti lebih enak. Bukankah novel-novel tentang dunia birokrat banyak yang begitu?” Bahkan dalam situasi ini, Dai Zhiwei masih sempat mengeluh.
Tapi...
“Eh? Kok... kok ponsel di saku celanaku ini Huawei P20? Tahun segini, sudah ada tipe itu?”
Saat ia menatap ponsel di tangannya, Dai Zhiwei tertegun.
Saat itulah ia mendengar suara musik.
Ketika suara bel pintu terdengar, Dai Zhiwei sama sekali tak bereaksi—di waktu seperti ini, hampir semua orang ada di ruang ganti, toilet pun kosong. Ia jadi kaget setengah mati.
Suara nyaring itu masih berlanjut, barulah ia sadar—jangan-jangan itu suara dering ponsel?
“Ponsel ini?”
Dai Zhiwei ragu-ragu menyalakan sistem operasi ponsel itu, namun tak ada panggilan masuk. Ia jadi curiga jangan-jangan ada yang sedang menjahilinya, atau ia salah menekan sesuatu.
“Ding!” Tiba-tiba terdengar suara di telinga Dai Zhiwei.
“Data pribadi telah terbaca, sistem berhasil terhubung!”
Suara berat penuh magnet kembali terdengar di telinganya, membuat Dai Zhiwei terkejut.
Ia buru-buru menunduk, menatap layar ponsel dengan seksama. Seluruh layar bersinar keemasan hingga sulit ditatap langsung, lalu perlahan meredup. Dai Zhiwei mendekat ingin melihat lebih jelas.
“Apa sebenarnya yang sedang terjadi? Apakah ini ‘golden finger’?”