Kisruh dalam Upacara Pemotongan Pita
Setelah mengoleskan salep, ia berdiri, merapikannya, lalu memasukkan semuanya ke dalam tas milik Xia Chuyu. "Cara pemakaiannya sudah dijelaskan rinci di lembar dosis yang kuberikan padamu. Yang berwarna putih susu dipakai siang hari, yang bernuansa mint digunakan saat malam, minyak pohon teh dalam botol biru dipakai pagi, siang, dan malam. Sementara masker perbaikan ini untuk mencegah bekas luka," jelasnya satu per satu. Chuyu memegang botol porselen itu, membolak-baliknya di tangan. Obat-obatan hasil racikan Gu Antang memang selalu dikemas dalam porselen halus nan indah, membuatnya tak sadar mengingat apotek di kota Buddha tempat ia pertama bertemu dengannya, dan guci obat yang dulu hendak dijualnya dengan harga tinggi.
"Dua minggu ini, kau cukup beristirahat saja, tidak perlu ke Gu Antang atau ke pusat latihan tari. Tugasmu hanya memastikan luka memar di sini, sini, dan sini cepat sembuh," ucapnya sambil menunjuk satu per satu luka di tubuh Chuyu, membuatnya berulang kali minta ampun dan menghindar.
Akhirnya ia menuruti saran itu, menjalani dua minggu penuh hari-hari tenang seperti sedang bertapa.
Hingga suatu malam sepulang kelas, saat ia sedang membuka-buka situs di asrama, barulah ia tersadar kontrak Gu Yuanhao dan Anthony sebentar lagi akan resmi ditandatangani.
Tanpa menunda lagi, esok paginya ia langsung melapor ke Gu Antang.
Nian Xiao yang melihatnya tampak terkejut, "Mengapa kamu datang? Bukankah masa cutimu belum selesai?"
"Aku dengar perusahaan sedang sangat sibuk akhir-akhir ini, jadi aku ingin membantu," jawabnya.
Nian Xiao tersenyum, "Baiklah, langsung saja lakukan serah terima dulu."
Seluruh ruangan dipenuhi berkas-berkas hasil fotokopi, upacara peresmian dijadwalkan Sabtu ini. Kerja sama dengan pabrik obat Inggris-Spanyol ini penuh lika-liku, namun akhirnya berhasil disepakati. Seluruh perusahaan menganggapnya sebagai urusan paling penting. Tak lama, Nian Xiao sudah menyiapkan name tag dan daftar tugas untuk Chuyu.
Sabtu pun tiba.
Hari ini angin bertiup kencang, bahkan udara pun terasa jauh lebih hangat. Spanduk besar di dinding berkibar kencang tertiup angin. Xia Chuyu baru saja membantu memindahkan satu kotak, lalu menutupi matanya dari terik matahari, menyipitkan mata ke arah atap gedung. Ia bertanya pada petugas lapangan di sampingnya, "Bukankah Kak Maggie bilang jendela di atap harus ditutup? Angin hari ini begitu kuat, aku merasa agak tidak aman."
"Kamu terlalu khawatir, hanya buka beberapa jendela, tidak akan terjadi apa-apa!" jawab orang itu santai sambil tersenyum.
Chuyu ingin bertanya lebih lanjut, tapi rekannya sudah berlalu. Lin Yuqi menghampirinya, menyodorkan sebotol air, "Bibirmu hampir pecah, cepat minum."
Ia mengucapkan terima kasih. Benar saja, Lin Yuqi kembali mengeluh padanya seperti biasa. Dalam waktu singkat berinteraksi, Xia Chuyu merasa gadis ini kurang bersemangat bekerja, pikirannya lebih banyak tercurah pada status, penampilan, dan bagaimana atasan memperlakukan pegawai dengan berbeda.
"Kau lihat sendiri kan, kami para magang hanya dijadikan tenaga kasar! Urusan profesional tak boleh kami sentuh, bahkan papan nama saja berbeda, mereka bisa masuk ke ruangan itu dengan kartu, kami cuma boleh berdiri di luar panas-panasan, ingin mengintip pun tak boleh!"
Xia Chuyu jongkok, menghitung jumlah hadiah acara di dalam kotak. Matahari terus merangkak naik tanpa kenal lelah, angin bertiup kencang, ia harus berkali-kali menegakkan papan promosi yang jatuh. Padahal upacara masih dua jam lagi, tapi area berbentuk setengah lingkaran itu sudah dipenuhi sampai dua pertiga. Lin Yuqi terus mengomel, dan Chuyu menenangkannya, "Lihat saja ke sana, wartawan dan penonton sudah banyak. Kita harus lebih waspada, jangan sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan!"