Cahaya bintang tak pernah bersinar dengan terang yang sama.
Di saat-saat paling sulit ketika ia sangat membutuhkan penghiburan, ia selalu bertemu dengannya, seolah-olah hal itu sudah menjadi kebiasaan.
Xia Chuyu membuka pintu mobil dan duduk diam di sampingnya.
Pemandangan malam yang indah melesat di balik jendela, namun di matanya semua tampak seperti diselimuti kabut tipis. Ia selalu ingin mendekati mimpinya selangkah demi selangkah dengan kemampuannya sendiri, tidak peduli berapa banyak usaha yang harus ia curahkan. Latar belakang dan pengalaman hidup memang tak bisa dipilih, jadi ia tak pernah mengandalkan koneksi keluarga, pun memang tak ada orang seperti itu yang bisa ia sandarkan. Namun kini, ia menyadari ada secercah rasa iri yang kelam terhadap Qin Ci—jaringan relasinya, auranya yang memukau, posisinya yang tinggi, juga caranya yang begitu mudah meniadakan segalanya dari seseorang.
"Coba angkat kepalamu dan lihat bintang-bintang," ucap Gu Yuanhao sambil meliriknya, suaranya datar.
"Bintang-bintang?"
Ia pun menuruti, menengadahkan kepala, lalu mendengar pria itu kembali bertanya, "Menurutmu, bintang mana yang paling terang?"
Meski ia tak paham maksud di balik pertanyaan itu, setidaknya pikiran yang mengganggu tadi bisa teralihkan sejenak. Xia Chuyu memicingkan mata, memperhatikan dengan saksama, "Sepertinya yang di sebelah timur itu lebih terang."
Gu Yuanhao mengangguk setuju, lalu bertanya lagi, "Menurutmu, kenapa bintang-bintang itu tampak lebih terang? Jangan bilang karena ukurannya lebih besar atau suhunya lebih tinggi."
Chuyu tidak menjawab. Gu Yuanhao tersenyum samar, "Sebenarnya kamu juga pasti tahu, karena bintang-bintang itu lebih dekat dengan kita, makanya tampak lebih terang daripada yang lain."
"Sebenarnya itu juga inti dari apa yang ingin kusampaikan padamu. Orang yang paling berbakat belum tentu bisa meraih pencapaian yang paling layak ia dapatkan, sementara mereka yang bersinar dengan mudah kadang hanya karena punya jalan lain, atau mungkin hanya karena mereka mulai lebih awal, atau kebetulan lebih beruntung darimu. Tak perlu iri, apalagi bersedih. Selama setiap langkah yang kamu ambil tak membuatmu menyesal, apalagi yang bisa mengalahkanmu?"
"Jadi, dia hanya lebih dekat pada keberhasilan daripada aku," Xia Chuyu seolah mulai diyakinkan.
"Jika kamu berusaha keras dan memang punya bakat, walaupun di perjalananmu ada tikungan tajam dan hambatan, pada akhirnya kamu tetap akan meraih keberhasilanmu. Gangguan orang lain hanya bersifat sementara. Balas dendam terbaik yang bisa kamu lakukan adalah berjuang dua kali lebih keras. Akan tiba saatnya kamu berdiri di tempat yang bahkan dia pun tak akan pernah bisa capai."
Xia Chuyu memandang laki-laki di sampingnya nyaris dengan tak percaya. Apakah semua perubahan yang rumit hari ini sudah ia ketahui begitu cepat?
Sebelum ia sempat bertanya lebih lanjut, Gu Yuanhao sudah lebih dulu bicara, tegas dan tak bisa dibantah, "Sudah sampai, ayo turun."
Ia merapikan kancing jasnya, punggungnya yang tegap tampak perkasa di hadapan Chuyu. Cahaya bintang membalut sosoknya dengan kehangatan dan kelembutan, membuat Xia Chuyu tak bisa mengalihkan pandangannya.
Angin yang menerpa cukup kencang, dan ruang di depannya terasa lapang.
Tempat itu sunyi sekali, lingkungannya juga sangat baik. Setelah berjalan beberapa ratus meter ke dalam, Chuyu melihat deretan rumah bertingkat tiga atau empat yang tertata rapi, tampak baru selesai direnovasi dan siap dibuka. "Di mana ini?" tanyanya.
Gu Yuanhao memunguti beberapa sampah di tanah dan membuangnya ke tempat sampah terdekat, lalu menunjuk ke arah bangunan-bangunan itu. "Sebulan lagi, Gu Antang akan mengadakan upacara peresmian di sini. Masih ingat kontrak dengan Tuan Anthony di London yang dulu kamu batalkan?"