Bab Tiga Puluh Satu: Kerja Sama yang Menyenangkan
“Apa ini produk mesin? Kelihatannya proses pembuatannya sangat luar biasa.”
Sebagai ahli manufaktur paling unggul di kalangan ilmuwan, Howard langsung menyadari bahwa benda ini bukan barang biasa hanya dengan melihat casing logam iPhone yang begitu halus. Ia mengambil ponsel itu, menimbang beratnya, lalu mulai memainkannya ke kiri dan kanan dengan penuh rasa ingin tahu.
“Aku menyebutnya ‘ponsel’.”
Kyle tersenyum tipis, mulai menjelaskan layaknya seorang tenaga penjual, “Jangan lihat bodinya yang kecil, pada kenyataannya ini adalah alat yang menggabungkan ratusan fungsi. Dilengkapi dengan pembuka kunci sidik jari, pengenalan wajah, perintah suara sederhana, kamera dan perekam video, penyimpanan dan dekompresi data, pengiriman pesan, alarm waktu, kalkulator, perekam suara, game, pemutar musik, layanan telepon, mesin pencari dan masih banyak lagi.”
“Hanya alat sekecil ini, bisa memiliki fungsi praktis secanggih itu?” Howard sangat terkejut, ia segera memeriksa dengan penuh kehati-hatian.
Kyle tersenyum dalam hati, melihat seorang jenius manufaktur paling cerdas di dunia pada masa itu terkagum-kagum pada sebuah ponsel, nyaris membuatnya tak bisa menahan tawa.
Ponsel ini sebenarnya hanyalah kartu barang dengan kualitas hijau, salah satu barang umum yang ia dapatkan dari undian pengorbanan sebelumnya.
Awalnya Kyle merasa, di masa Perang Dunia Kedua seperti sekarang, bahkan menara sinyal telepon dan internet pun belum tersebar luas, sehingga mendapatkan ponsel rasanya tidak banyak gunanya.
Hingga pertemuannya dengan Howard di pesawat waktu itu, sebuah ide tiba-tiba muncul di benaknya.
Ponsel memang tidak berguna baginya sekarang, tapi bagi seorang pembuat dan penemu jenius seperti Howard, itu adalah hal yang benar-benar lain.
Bagaimanapun juga, ponsel di abad dua puluh satu memang sudah menjadi barang umum, tapi di tahun 1943, itu adalah produk teknologi canggih yang melompati lebih dari setengah abad.
Howard mulai mengoperasikan ponsel, matanya semakin berbinar melihat layar yang menyala, jarinya menari cepat menjalankan berbagai perintah.
Hal ini benar-benar mengejutkan Kyle, sebab ia bahkan belum sempat menjelaskan cara kerja ponsel, namun Howard, berkat naluri tajamnya terhadap produk teknologi, langsung bisa menguasai penggunaan ponsel sejak pertama kali menyentuhnya.
Tak heran, ayah dari pria yang kelak bisa menciptakan kecerdasan buatan dan baju zirah baja, memang memiliki kemampuan adaptasi teknologi yang luar biasa.
Kyle membiarkan Howard mencoba ponsel itu sepuasnya, sebagian besar aplikasi di ponsel sudah dihapus sebelumnya, catatan waktu juga telah diubah. Namun, sekalipun Howard menemukan sesuatu yang mencurigakan, Kyle tak terlalu peduli.
Percobaan itu berlangsung selama sepuluh menit penuh.
Kyle menuangkan gelas keempat, barulah Howard mematikan layar ponsel.
Ia mengusap dagu, tenggelam dalam pikirannya, lalu dengan serius menatap Kyle, “Layar beresolusi warna, sistem sentuhan yang sangat presisi, serta aneka perangkat lunak yang kini tak mungkin kami ciptakan. Mesin yang kau sebut ponsel ini pasti berasal dari dunia dengan tingkat teknologi jauh di atas planet kita. Atau, dari masa depan.”
“Soal asal-usulnya, maaf aku tidak bisa memberitahu banyak. Tapi aku bisa menjamin beberapa hal.”
Menghadapi keraguan Howard, Kyle tersenyum dan mengangkat tiga jari, “Pertama, asal-usulnya sepenuhnya aman. Kedua, dunia ini belum memiliki ponsel kedua. Ketiga, alat ini hanya akan memberimu keuntungan tanpa kerugian. Selama kau bisa memahami sepenuhnya teknologi canggih dalam mesin ini, Industri Stark bisa punya modal cukup untuk menjadi pelopor manufaktur teknologi setelah perang selesai.”
“Aku mengerti.” Howard kembali terdiam, berpikir mendalam.
Kyle pun tak terburu-buru. Ia hanya memperhatikan para bangsawan dan wanita anggun yang menari dengan bebas di depannya, sembari menikmati anggur jadul dengan cita rasa khas.
“Tuan, bolehkah aku berdansa dengan Anda?”
Selama itu, beberapa gadis dan wanita bangsawan mendekati Kyle, toh ia memang terlihat muda, tampan, dan tubuhnya yang atletis sangat cocok dengan setelan jas, membuat pesonanya sulit untuk diabaikan.
“Maaf, aku sedang ada urusan dengan temanku.”
Kyle menolak dengan ramah dan sopan, membuat beberapa gadis kecewa dan mundur, meski ada juga yang tetap memberanikan diri meninggalkan kartu nama mereka.
Setelah cukup lama, Howard bertanya dengan hati-hati, “Untuk investasi ponsel ini, berapa persen saham Industri Stark yang kau inginkan?”
Pertanyaan itu menandakan pembicaraan bisa berlanjut.
Kyle pun diam-diam merasa lega, meski di permukaan ia tampak tenang. Memang, ia cukup yakin dengan ponsel itu, tapi ini dunia Marvel, di mana senjata energi baru, perangkat anti-gravitasi, tank laser, hingga pesawat tempur otomatis sudah bermunculan, belum lagi berbagai teknologi hitam lainnya. Ia sendiri tak yakin bisa mempengaruhi Howard.
“Aku ingin empat puluh persen,” kata Kyle.
“Empat puluh?” Howard yang baru hendak menyesap minuman langsung terbatuk, terkejut sampai-sampai tersedak, “Kau… kau benar-benar meminta harga setinggi langit!”
“Karena ini kerja sama, tentu aku tak hanya berinvestasi dengan ponsel ini saja.” Kyle tetap tenang, lalu mengeluarkan kartu truf kedua dari sakunya, “Ponsel yang kubawa hari ini hanya sebagai modal awal. Aku masih punya barang lain yang tak kalah hebat.”
“Bisa kau jelaskan sedikit kegunaan barang itu?” Howard kembali bersemangat; kejutan yang diberikan Kyle malam itu sudah sangat luar biasa.
“Hanya bisa kukatakan, benda itu adalah gerbang pertama menuju kecerdasan buatan.”
Begitu Kyle selesai bicara, tubuh Howard langsung menegang, gelas di tangannya nyaris terjatuh ke atas meja, dan anggur pun tumpah ke mana-mana.
Di era ketika komputer saja masih dalam tahap riset, sistem pun masih berupa prototipe, apa makna kecerdasan buatan?
Itu adalah lambang masa depan!
“Jika semua yang kau katakan benar, berarti yang kau investasikan memang benar-benar masa depan!” Howard begitu bersemangat hingga tubuhnya bergetar.
Kyle tersenyum dan balik bertanya, “Dengan latar belakang seperti itu, apakah empat puluh persen saham Industri Stark masih terlalu tinggi?”
“Tidak, sama sekali tidak! Bahkan jika kau minta lima puluh persen pun, aku akan memberikannya!” Keraguan Howard sebelumnya langsung sirna, ia tak punya alasan untuk menolak.
Uang, nama besar, kekuasaan, dan wanita, semua memang disukainya, tapi jika dibandingkan dengan penemuan, semuanya jadi tak berarti!
“Aku hanya butuh empat puluh persen. Lebih baik kau tetap jadi pendiri dan pemegang saham utama,” ujar Kyle sambil tersenyum. Industri Stark hanya akan berkembang pesat sesuai jalur waktu jika tetap sepenuhnya di bawah kendali Howard.
Investasinya ini ibarat memelihara ayam yang bertelur emas, keuntungan tak terbatas di masa depan, tak perlu lagi khawatir soal uang.
“Kalau begitu kita sepakat. Kau investasi dengan ponsel dan satu barang lagi, sebagai imbalan empat puluh persen saham Industri Stark.” Howard tertawa puas, memesan segelas minuman lagi lalu mengangkatnya tinggi-tinggi, “Semoga kerja sama kita berjalan lancar.”
“Semoga kerja sama kita berhasil,” jawab Kyle sambil mengangkat gelasnya juga.
Keduanya bersulang satu sama lain, lalu meneguk habis minuman mereka.
Tak ada yang tahu, di depan bar sebuah pesta dansa bawah tanah inilah, kesepakatan saham terbesar dalam sejarah salah satu perusahaan terkemuka di masa depan telah terbentuk.