Bab Lima Puluh Tiga: Satu Malam
Klub Burung Penjelajah, aula utama.
Lampu gantung klasik di dinding dan langit-langit menerangi ruang dansa dengan terang benderang, alunan musik yang merdu mengalir lembut bagaikan air di seluruh aula, sementara para pria bersetelan jas dan para wanita bergaun menari dengan anggun, larut dalam suasana hiburan yang jauh dari hiruk-pikuk peperangan.
Seandainya klub ini tidak disewa secara privat, ditambah lagi dengan kehadiran penari profesional yang menyamar sebagai tamu, kemunculan Kyle dengan setelan tuksedo di ruang dansa pasti akan mengundang perhatian dan kehebohan luar biasa dari orang banyak.
Kyle, perwira mayor termuda Amerika, pahlawan yang menjadi lambang kekuatan dan penaklukan negeri itu. Sejak organisasi Hydra dimusnahkan hingga ke akar-akarnya, namanya kembali menjadi legenda yang diperbincangkan di setiap penjuru Eropa dan Amerika.
Menyebutnya sebagai "legenda" memang terdengar berlebihan, tapi kenyataannya ia mampu mengubah peta pertempuran Eropa seorang diri, membuat Jerman yang terkenal dengan kekuatan militer pada Perang Dunia II terluka parah. Bagi para tentara Amerika dan sebagian penggemar fanatik, Kyle adalah pahlawan sejati, ketenarannya bahkan melampaui para jenderal.
Di Eropa suasananya memang masih terkendali. Namun di Amerika, dari sepuluh iklan wajib militer, enam di antaranya menampilkan Kyle secara khusus, dan empat sisanya adalah rekaman dokumenter aksi Kyle bersama Kapten Steve di medan perang.
Bisa dibayangkan betapa kuatnya aura pahlawan perang yang kini melekat pada Kyle.
—
Harapan yang sempat pudar kini menyala kembali, pemuda percaya diri itu akhirnya menepati janji.
Berdiri di tengah ruang dansa, Carter hanya bisa menatap Kyle yang melangkah keluar dari kerumunan penari, tanpa mampu berkata apa-apa.
Kyle pun terdiam, tidak tahu harus berkata apa. Ia akhirnya menarik napas dalam-dalam dan berkata, “Maaf, aku tidak bisa membawa Steve kembali.”
Begitu kalimat itu terucap, suasana yang semula ringan dan menyenangkan langsung berubah menjadi berat.
Carter melangkah mendekat dan menggeleng pelan, “Ini bukan sepenuhnya salahmu. Kita juga tak bisa memprediksi apa yang akan terjadi di pesawat tempur.”
“Tidak, seharusnya aku bisa memperkirakan sedikit. Aku terlalu meremehkan Schmidt, kukira...” Belum sempat Kyle menyelesaikan kalimatnya, Carter kembali menggeleng, suaranya lembut, “Sudahlah, semuanya sudah berlalu.”
Setelah berkata demikian, Carter mengulurkan telapak tangannya ke depan, di matanya tersirat sedikit harapan, bibirnya yang merah terbuka pelan, “Bukankah Steve memintamu datang mewakilinya untuk mengajakku berdansa? Kenapa baru sekarang? Sudah dua minggu berlalu.”
“Lautan cukup jauh, makanya aku terlambat,” Kyle mencari-cari alasan, lalu setelah ragu sejenak, ia meniru gaya sopan Howard dengan mengulurkan tangan, menggenggam tangan Carter yang lembut.
“Kau tidak bisa menari, biar aku yang ajari, asal jangan injak sepatuku,” ujar Carter, hendak mengajak Kyle berdansa mengikuti irama musik di aula.
“Itu tidak perlu,” Kyle tertawa kecil. Sungguh, di dunia ini, tak banyak keahlian umum yang tidak ia kuasai; kalaupun ada, ia tinggal mengambilnya melalui kartu kemampuan.
Terlebih lagi, kartu kemampuan hijau “Tari Malam”, yang ia dapat dari Carter sendiri, sampai sekarang baru kali ini bisa digunakan.
Saat itu, musik lembut di aula berhenti, digantikan lagu cepat dan penuh semangat.
Kyle segera mengambil inisiatif, memimpin tarian dengan teknik nyaris sekelas profesional. Dengan kendali kekuatan yang sempurna, ia merangkul pinggang Carter dengan satu tangan, mengangkatnya sedikit dan memutar tubuhnya mengikuti irama.
Carter menyesuaikan langkah dengan cepat, gaun merahnya berputar indah.
Ada sebersit keterkejutan di matanya—tak disangka, di luar keahlian bertarung di medan perang, Kyle ternyata sangat piawai menari.
Kyle menggenggam tangan Carter dengan satu tangan, sementara tangan lain melingkar di pinggang rampingnya, bergerak mengikuti musik yang semakin menggebu.
Dengan tubuh atletis dan sempurna, tuksedo di tubuh Kyle membuatnya jauh menonjol dibanding para pria lemah dari kota. Ia kehilangan sedikit aura dingin dan garang dari seragam tempurnya, berganti nuansa hangat dan tampan.
Bersama Carter yang malam itu tampil memesona, penampilan mereka sungguh memukau. Gerakan tarian mereka kompak dan lincah, aksi-aksi sulit dilakukan dengan mudah, gerakan tangan dan langkah mereka selaras dengan irama lagu.
Entah sejak kapan, mereka berdua jadi pusat perhatian di tengah aula, mata semua orang menatap kagum dan terpana.
Hingga lagu berakhir, Kyle perlahan menopang pinggang ramping Carter, menstabilkan tubuhnya, sementara Carter menempelkan kedua telapak tangannya di dada Kyle yang bidang.
Seakan terkesima oleh kesempurnaan tarian itu, hadirin pun serempak bertepuk tangan.
“Sampai di sini saja, ya,” ujar Kyle sambil mengangkat bahu dan menarik kembali tangannya.
Ada kilatan kecewa di mata Carter, namun ia hanya bisa perlahan menurunkan tangannya, lalu berkata heran, “Tak kusangka kau bisa menari.”
“Sebelum jadi tentara, aku belajar dari orang tua di rumah,” jawab Kyle santai, lalu dengan terus terang bertanya, “Ada lagi yang ingin kau lakukan? Kebetulan malam ini aku senggang.”
“Besok kau akan ke garis depan lagi, kan? Lagi pula, memang sudah setengah bulan kau tak kembali ke markas,” gumam Carter, lalu memberanikan diri, “Kalau begitu, ayo kita minum bersama.”
“Minum, kau dan aku?” Kyle menatap Carter heran. Bukankah biasanya minum-minum itu hanya dilakukan di antara rekan sesama pria? Untuk apa pria dan wanita minum bareng?
Ia berpikir sejenak, lalu dengan ragu berkata, “Jangan-jangan kau benar-benar seperti yang dikatakan Steve, menyukaiku?”
Carter tertegun, menghindari tatapan penuh selidik dari Kyle, lalu melambaikan tangan, “Mana mungkin, kau terlalu berpikir jauh.”
“Syukurlah,” Kyle menghela napas lega dan tersenyum, “Kupikir Steve berbohong padaku. Meski ia tak berkata begitu pun, aku tetap akan menjagamu.”
“Aku tak butuh kau jaga,” Carter melirik dingin, “Jadi, kau mau minum atau tidak?”
Kyle mengangguk, “Tentu. Mumpung malam ini bisa santai, kenapa tidak?”
“Asal kau jangan mabuk, aku tak sanggup menahan tubuh sebesar itu,” Carter mendengus.
“Mana mungkin,” Kyle menggeleng bosan, sama sekali tak khawatir.
Tubuhnya sebagai prajurit super memiliki metabolisme empat kali manusia biasa, masa hanya dengan sedikit minuman ia bisa tumbang?
***
Keesokan paginya.
Angin sepoi berhembus melalui tirai tipis, sinar matahari keemasan menembus kamar.
Kyle perlahan sadar dari tidurnya, kepalanya masih terasa sedikit pusing akibat sisa mabuk semalam.
Ternyata benar-benar mabuk.
Kyle terbaring telentang di ranjang sambil menyeringai pahit, sungguh malu sebagai prajurit super. Ia mengira tak akan mabuk, makanya ia terus mencoba berbagai minuman beralkohol tinggi, hingga saat sadar dirinya mabuk, sudah terlambat.
Tapi karena ini masa istirahat, mabuk sekali untuk melepas tekanan perang rasanya tak masalah. Jika sedang dalam masa tugas atau siaga, bahkan setetes pun ia takkan sentuh.
“Ngomong-ngomong, semalam benar-benar merepotkan Carter.”
Kyle menarik selimut, melihat tuksedo yang biasa dipakai sudah tak ada, diganti piyama sederhana dari klub.
Ia samar-samar ingat, semalam Carter dibantu beberapa pelayan bersusah payah membawanya ke kamar, bahkan membantu mengganti pakaiannya.
Lalu, setelah itu ia tak ingat apa-apa lagi.