Bab Dua Belas: Menggigitmu Sampai Mati
Huang Xiao bergulat dalam hati selama beberapa waktu, lalu mengeluarkan ‘Pemutus Dewa’ dan berlari menuju dua makhluk buas itu.
Baik Burung Garuda Bersayap Emas maupun Ular Raksasa melihat Huang Xiao, tetapi mereka kini tidak punya waktu untuk menghiraukannya. Tubuh Huang Xiao melompat tiba-tiba, mendarat di tubuh Ular Raksasa, lalu menggunakan ‘Langkah Ular’ dan berhasil tetap stabil di atas tubuh ular yang berguling, hingga akhirnya tiba di bagian vital ular itu.
Awalnya Ular Raksasa tidak mempedulikan Huang Xiao, menganggap manusia kecil itu tak berarti apa-apa. Namun begitu Huang Xiao sampai di bagian vitalnya, ular itu segera menjadi waspada, karena itulah titik paling mematikan baginya.
Huang Xiao memilih membantu Burung Garuda Bersayap Emas. Bagaimanapun, burung itu telah hidup bersamanya cukup lama dan tak pernah menyakitinya. Sedangkan jika Ular Raksasa membunuh Burung Garuda, kemungkinan besar dirinya juga akan dibunuh atau ditelan hidup-hidup oleh Ular Raksasa. Huang Xiao tidak percaya Ular Raksasa akan membiarkannya hidup.
Jadi, ia hanya punya satu pilihan: bekerja sama dengan Burung Garuda Bersayap Emas untuk membunuh Ular Raksasa. Jika tidak, kematiannya tinggal menunggu waktu.
Seiring semakin cepat dan kuatnya gerakan Ular Raksasa, Huang Xiao mulai kesulitan. Namun dengan teknik ‘Tangan Ular’ yang telah dikuasainya, ia berhasil mencengkeram tubuh ular dengan erat. Huang Xiao menyadari, meski ia telah berlatih ‘Tangan Ular’ dengan baik, menyaksikan langsung teknik melilit dari Ular Raksasa membuatnya mendapatkan pemahaman baru. Pada dasarnya, ‘Tangan Ular’ memang meniru cara ular membelit mangsanya. Melihat teknik asli dari seekor ular yang telah menjadi makhluk gaib, wajar jika Huang Xiao mendapat banyak pelajaran berharga.
Ular Raksasa menyadari tak bisa melepaskan manusia yang menggantung di bagian vitalnya. Namun ia mulai tidak peduli, karena manusia itu tetap tidak bisa melukainya. Fokus utamanya tetap pada Burung Garuda Bersayap Emas yang tengah dililitnya.
Namun tak lama kemudian, Ular Raksasa mengeluarkan suara mendesis yang tajam. Rasa sakit hebat datang dari bagian vitalnya.
Dengan kekuatan Huang Xiao, ia hanya mampu mempertahankan posisinya di titik vital Ular Raksasa, tanpa bisa melukai ular itu. Tapi Huang Xiao masih memegang ‘Pemutus Dewa’, sebuah belati yang ia ayunkan dan tusukkan ke tubuh ular. Sayangnya, tusukan pertama gagal menembus.
Huang Xiao sangat terkejut. Ia tahu betapa tajamnya ‘Pemutus Dewa’; dulu, belati itu bisa menembus batu hanya dengan sentuhan ringan. Kini, meski ia telah menggunakan tenaga, belatinya tertahan oleh sisik Ular Raksasa yang begitu keras.
Tak berhasil sekali, Huang Xiao tidak menyerah. Kekuatan tadi belum maksimal karena ia tak menyangka sisik ular sekeras itu.
Tusukan kedua, Huang Xiao mengerahkan seluruh tenaganya. Belati akhirnya menembus setengah bagian tubuh ular di titik vital, membuat Ular Raksasa merasakan sakit.
Ular Raksasa semakin menggila, tubuhnya meliuk-liuk dengan liar. Huang Xiao mencengkeram gagang belati dengan kuat, tak melepaskannya meski tubuh ular terus bergerak.
Tak lama, Ular Raksasa mulai mengurangi gerakannya yang liar. Ia menyadari, semakin ia bergerak, rasa sakit dari belati itu semakin menjadi-jadi.
Melihat Ular Raksasa berhenti sejenak, Huang Xiao segera menekan dan menusukkan belati hingga seluruhnya menembus tubuh ular.
Rasa sakit membuat Ular Raksasa melonggarkan lilitannya pada Burung Garuda Bersayap Emas. Burung itu segera menggunakan paruh emasnya yang besar untuk mematuk tubuh ular dengan keras. Setiap patukan mampu merobek sepotong besar daging berdarah dari tubuh Ular Raksasa, membuat ular itu mengerang dengan suara menyayat hati.
Meski luka-luka itu belum mengenai bagian vital, namun semakin banyak luka membuat kekuatan Ular Raksasa menurun. Namun, hingga saat ini Burung Garuda Bersayap Emas masih belum bisa keluar dari lilitan.
“Celaka!” Huang Xiao tiba-tiba menyadari Ular Raksasa membawa dirinya dan Burung Garuda Bersayap Emas menghantam dinding batu di sisi jurang. Sebenarnya, tujuan utama ular itu adalah dirinya. Karena ia berada di titik vital, ekor Ular Raksasa tak bisa menjangkau, dan tak bisa melemparnya keluar, maka ular itu ingin menghantamkan dirinya ke dinding, membunuhnya secara langsung.
Huang Xiao bereaksi cepat, melompat ke atas kepala Ular Raksasa yang besar. Ia mencengkeram erat bagian daging lunak di atas kepala ular, agar tidak terlempar jatuh.
Saat itu, Huang Xiao menyadari reaksi Ular Raksasa menjadi lebih liar dari sebelumnya. Bahkan ketika ia menusuknya dengan belati, reaksi ular tidak sekeras ini.
“Jangan sampai terlempar!” Huang Xiao tahu, jika ia terlempar, pasti akan dicabik-cabik oleh Ular Raksasa.
Ia mencengkeram lebih kuat pada daging lunak di kepala ular. Bagian ini ternyata tidak sekeras sisik di bagian tubuh lainnya, melainkan sangat lembut.
Setelah melawan Ular Raksasa selama hampir satu jam, tenaga Huang Xiao semakin menipis. Ia sudah mulai kehabisan tenaga karena terus menerus mengerahkan kekuatan, sementara Ular Raksasa masih penuh energi tanpa tanda-tanda melemah.
“Gigit saja, gigit sampai mati!” Huang Xiao sudah kehabisan cara. Belati ‘Pemutus Dewa’ masih tertancap di titik vital Ular Raksasa. Bahkan jika ia memegang belati, ia belum yakin bisa menusukkannya ke kepala ular. Tanpa belati, Huang Xiao hanya bisa menggunakan giginya sebagai senjata. Satu-satunya bagian yang bisa ia gigit adalah daging lunak di kepala ular.
Dengan satu gigitan keras, Huang Xiao menyadari bagian itu lebih rapuh dari yang ia bayangkan. Begitu digigit, daging langsung terbelah, dan ia merasakan aliran panas mengalir deras ke mulutnya. Tanpa sempat bereaksi, aliran panas itu masuk ke tenggorokan dan menuju perutnya.
“Hmmmm…” Begitu aliran panas itu sampai di perut, Huang Xiao merasakan sakit seperti terbakar hebat. Karena mulutnya masih mencengkeram kepala ular, ia hanya bisa mengerang, tidak mampu berteriak.
Rasa sakit itu hampir membuat Huang Xiao pingsan, namun ia tetap bertahan. Ia tahu, ia tidak boleh terlepas dari kepala ular, karena Ular Raksasa semakin mengamuk, suara desisnya menggema ke seluruh penjuru, ekornya menghantam batu dan dinding jurang, menyebabkan batu-batu beterbangan dan bumi terasa bergetar.
“Aku akan mati… Tenagaku habis. Entah terjatuh dan dihantam batu sampai mati, atau digigit ular, atau mati karena racun darah ular ini, semuanya sama saja. Sudahlah, waktu jatuh dari jurang dulu aku tidak mati, Allah memberiku kesempatan hidup beberapa hari lagi, itu sudah cukup.” Huang Xiao membatin, merasakan sakit terbakar di perutnya mulai menyebar. Kini ia bisa merasakan panas yang mengalir dan menghantam tubuhnya dari dalam, rasa sakitnya seolah mencabik-cabik dagingnya.
“Betapa beracunnya darah ular ini!” Huang Xiao berpikir bahwa darah ular itu beracun, sebab hanya racun yang bisa membuatnya begitu menderita.
Huang Xiao sudah mencapai batasnya, kini rasa sakit di dalam tubuhnya membuatnya tak mampu lagi mengerahkan tenaga.
‘Brak!’ Tubuh Huang Xiao akhirnya terlempar dari kepala Ular Raksasa, berguling di tumpukan batu sejauh puluhan meter sebelum akhirnya berhenti.
Ular Raksasa mengerang dan menerkam Huang Xiao. Ia membenci manusia di hadapannya, tak menyangka manusia yang dianggapnya tidak berarti ternyata telah memberinya luka mematikan.