Bab Tiga Puluh Enam: Serbuk Pembakar Jiwa
“Eh?” Bai Tianki tiba-tiba berdiri dari kursinya. Tadi dia sudah merasa sangat memperhitungkan Xuan Zhenzi, makanya dia menyuruh Zhang Ming dan Hu Guyi untuk bekerja sama. Namun, ternyata dia masih saja meremehkan Xuan Zhenzi.
“Apa...?” Zhang Ming mundur beberapa langkah sebelum bisa berdiri tegak, wajahnya penuh keheranan. Harus diketahui, kemampuannya adalah yang kedua di Sekte Huaqing, hanya gurunya yang melampauinya. Bahkan di dunia persilatan, kekuatan Zhang Ming pun jarang ada tandingannya.
Xuan Zhenzi itu hanyalah ketua dari sekte kecil yang tak terkenal, meskipun ia bisa meracik beberapa pil obat dan memiliki keistimewaan, Zhang Ming tak pernah menyangka kekuatan Xuan Zhenzi ternyata di atas dirinya.
“Mundur!” Melihat Zhang Ming masih ingin bertindak, Bai Tianki membentaknya, lalu tertawa keras, “Bagus, tak kusangka kau menyembunyikan kekuatan sedalam ini. Dengan kemampuanmu, selain aku, dalam radius seribu li, tak ada yang bisa mengalahkanmu.”
“Tuan Bai, aku tak ingin bermusuhan dengan Sekte Huaqing. Aku bahkan bisa melipatgandakan pasokan pil obat untuk kalian. Bagaimana kalau urusan ini kita anggap selesai?” kata Xuan Zhenzi.
“Saat ini aku hanya menginginkan ‘Pil Enam Puluh Tahun’!” Bai Tianki berkata dengan suara dingin, “Sudah bertahun-tahun aku berlatih dalam pengasingan. Walau aku belum menembus tingkat atas, tetap saja kemajuanku pesat. Biarkan aku merasakan sendiri ilmu ‘Kekuatan Kehidupan Abadi’ milik Sekte Sapi Hijau.”
“Walau aku tak ingin melukai siapa pun, kalian terus memaksa, jadi aku pun takkan membiarkan kalian semena-mena.” Xuan Zhenzi berdiri dari kursinya. “Kau, Bai Tianki, terkenal dengan ‘Tapak Petir’-mu. Aku ingin merasakannya juga.”
“Huh, menghadapi kau, aku tak perlu menggunakan ‘Tapak Petir’. Ilmu silat biasa saja cukup mengalahkanmu,” Bai Tianki mendengus. Selama puluhan tahun ia menjelajahi dunia persilatan dan mendirikan Sekte Huaqing, semua itu menjadi kebanggaannya.
Huang Qiao sedari tadi berada di paviliun puluhan langkah dari rumah kecil itu. Zhang Long pun dengan sungguh-sungguh melayani para tamu, karena itulah pesan ayahnya dan dia tak berani lalai.
“Hai…” Melihat sikap Liu Dacheng, terutama kemesraan antara Hu Qingqing dan Zhang Long, Huang Qiao hanya bisa menghela napas dalam hati. Ternyata dugaannya keliru. Meski Hu Qingqing dan Liu Dacheng tumbuh bersama, belum tentu mereka sepasang kekasih sejak kecil. Huang Qiao jadi merasa kasihan pada Liu Dacheng. Mungkin nanti Liu Dacheng hanya akan terluka hatinya.
Tiba-tiba, dari rumah kecil itu terdengar suara ledakan keras.
“Ada apa itu?” Huang Qiao dan yang lain menoleh ke arah rumah kecil, tak tahu apa yang terjadi.
Sebelum mereka sempat bereaksi, sesosok bayangan menerobos keluar dari rumah, diikuti tiga bayangan lagi dan suara teriakan, “Xuan Zhenzi, kau takkan bisa lari!”
“Guru...?!” Huang Qiao akhirnya melihat dengan jelas, itu gurunya sendiri. Di belakangnya ada Hu Guyi, lalu Zhang Ming, dan seorang pria tua yang tak dikenalnya, pastilah itu Bai Tianki, ketua Sekte Huaqing.
Xuan Zhenzi melompat cepat ke arah Huang Qiao, tanpa sempat berkata apa-apa, ia langsung menarik Huang Qiao dan membawanya kabur keluar.
“Ada apa sebenarnya?” Huang Qiao dibawa berlari kencang keluar dari Sekte Huaqing. Para murid Sekte Huaqing dan tamu dari dunia persilatan yang datang pun kebingungan, tak tahu apa yang terjadi.
Baru setelah mereka melihat Bai Tianki yang mengejar dari belakang, mereka sadar pasti ada sesuatu yang besar terjadi.
“Siapa orang berjubah itu?”
“Iya, secepat itukah ilmu meringankan tubuhnya?”
“Sepertinya ia menyinggung ketua sekte...”
“Itu Xuan Zhenzi, ketua Sekte Sapi Hijau? Tak mungkin, ilmu silatnya setinggi itu?”
“Itu dia? Kau yakin?”
...
“Guru?” Dari teriakan di belakang, Huang Qiao cukup mengerti situasinya. Rupanya Bai Tianki memang hendak menyingkirkan gurunya. Tapi kenapa Hu Guyi bisa bersekongkol dengan orang Sekte Huaqing?
“Jangan bicara!” Kalau sendirian, Xuan Zhenzi mungkin bisa lolos, tapi kini ia membawa Huang Qiao, sehingga kekuatannya terkuras lebih besar.
“Guru, sebaiknya Anda pergi dulu saja. Jika membawa saya, kita berdua takkan bisa lolos.” Huang Qiao menyadari ketiga pengejar itu semakin dekat, tahu dirinya hanya menjadi beban bagi gurunya.
Namun, Xuan Zhenzi tak menghiraukannya dan tetap berlari.
Tiba-tiba, tubuh Xuan Zhenzi terhuyung, nyaris jatuh kalau saja ia tak segera menyeimbangkan diri.
“Guru?” Wajah Huang Qiao berubah pucat. Xuan Zhenzi yang berhenti itu menekan dadanya, lalu memuntahkan darah berkali-kali. Darah itu berwarna hitam pekat dan tercium bau anyir menyengat.
“Anda terluka?” Huang Qiao tak menyangka gurunya yang terluka itu masih membawanya berlari sejauh ini, pasti kini kondisinya makin parah.
Terdengar tawa keras, Bai Tianki yang pertama kali mengejar akhirnya tiba di depan Xuan Zhenzi dan Huang Qiao, disusul Zhang Ming dan Hu Guyi.
“Hebat sekali, sungguh hebat. Kalau saja aku tak berhati-hati, mungkin kau sudah bisa lolos,” kata Bai Tianki dengan nada puas melihat kondisi Xuan Zhenzi.
“Paman Hu, apa yang sedang Anda lakukan?” Meski sudah mulai mengerti, Huang Qiao tetap sulit mempercayai, hubungan akrab dengan gurunya bisa berubah jadi pengkhianatan.
“Huang Qiao, jika kau masih menganggapku pamanmu, lebih baik kau menasihati gurumu agar melihat situasi dengan jelas,” kata Hu Guyi sambil tertawa.
“Tak tahu malu!” Huang Qiao meludah, lalu menopang tubuh Xuan Zhenzi. “Guru, Anda tidak apa-apa?”
“Huang Qiao, kali ini gurumu yang menyeretmu ke dalam masalah.” Xuan Zhenzi benar-benar tak menyangka dirinya keracunan, dan hingga kini dia pun belum tahu kapan dan racun apa yang masuk ke tubuhnya. Meski tak ahli benar soal racun, sebagai peracik pil ia tahu cukup banyak, racun biasa takkan mempan padanya.
“Guru, Anda istirahat saja, biar saya yang menghadapi mereka!” Huang Qiao berdiri di depan gurunya.
“Minggir, kau bukan tandingan mereka, mereka semua pendekar kawakan,” Xuan Zhenzi mendorong Huang Qiao ke samping, lalu melangkah maju dan menatap ketiganya. “Racun yang ampuh!”
“Ampuh? Kalau tidak, mana mungkin aku susah payah mendapatkannya? Kau bisa membuatku menggunakan racun ini, itu sudah kehormatan bagimu. Sekalian kuberitahu, racun ini namanya ‘Serbuk Pembakar Hati’,” kata Bai Tianki.
“Serbuk Pembakar Hati?” Xuan Zhenzi tertegun, lalu tertawa keras. “Bagus, tak kusangka ternyata racun misterius dari ‘Lembah Dewa Racun’. Mati karena ‘Serbuk Pembakar Hati’ memang kehormatan bagiku.”
“Demi Pil Enam Puluh Tahun, demi menembus tingkat atas, aku rela menggunakan racun ini. Untung aku berhati-hati, sungguh tak kusangka kekuatanmu sedemikian tinggi. Meski baru masuk tingkatan atas, aku pun bukan tandinganmu. Sayang sekali, kau sudah keracunan ‘Serbuk Pembakar Hati’. Tanpa aku bertindak pun, hari ini kau takkan lolos dari maut,” Bai Tianki tertawa puas.