Bab Seratus Dua Puluh Sembilan: Interogasi Malam terhadap Hantu Perempuan Li Xiaohong
Semua orang yang mendengar itu langsung berteriak bahwa ajaran tersebut benar-benar sekte sesat. Pastor Wu melihat keadaan mulai tidak menguntungkan dan segera hendak menjelaskan.
Jiang Li kembali menghentikannya. Ia menembakkan satu peluru ke udara agar suasana tenang, lalu meminta seorang perempuan yang menggendong bayi di antara kerumunan untuk naik ke panggung.
Jiang Li berkata kepada Pastor Wu, “Aku juga mendengar bahwa agama Katolik mengajarkan manusia terlahir dalam dosa. Sekarang aku bertanya kepadamu, apakah bayi yang belum genap setahun ini memiliki dosa?”
Mendengar itu, Pastor Wu berusaha menenangkan diri lalu menjawab, “Manusia terlahir dalam dosa. Hanya dengan memercayai Tuhan dengan tulus seseorang dapat menebus dosanya dan masuk surga setelah meninggal. Bayi itu tentu saja tidak terkecuali.”
Mendengar jawaban tersebut, Jiang Li segera memasang perangkap. “Kalau begitu, beranikah kau menunjuk hidungnya dan berkata, ‘Kau berdosa’, lalu memberitahu kami semua dosa apa yang telah diperbuatnya?”
Pastor Wu terdiam dan tampak bimbang cukup lama. Pada akhirnya ia mengumpulkan keberanian, menunjuk bayi itu, lalu berkata, “Tuhan berada di atas sana. Kau berdosa. Hatimu dipenuhi sifat egois, serakah, dan sombong. Kau telah menyimpang dari kehendak Tuhan. Selama kau percaya kepada Tuhan dengan tulus, Tuhan akan mengampuni dosamu.”
Kali ini semua orang yang hadir tak mampu lagi menahan diri. Mereka segera hendak memanjat panggung untuk menghajar Pastor Wu. Bagaimana mungkin? Di satu sisi mereka mengatakan Tuhan akan menurunkan bencana untuk memusnahkan umat manusia, di sisi lain mereka menunjuk anak kecil sambil menuduhnya serakah dan sombong. Bukankah itu benar-benar sekte sesat?
Li Renjie dan Annie melihat situasi yang memanas. Mereka sudah lama menyingkir ke sudut dan sama sekali tidak berani mengucapkan sepatah kata pun.
Melihat keadaan hampir tak terkendali, Jiang Li kembali menembakkan senjatanya sebagai peringatan. Ia juga memerintahkan para prajurit untuk menenangkan warga. Setelah kerumunan kembali tenang, ia berkata, “Situasinya sudah jelas. Mengenai apakah gereja ini perlu dibuka kembali, silakan kalian putuskan melalui pemungutan suara. Aku akan sepenuhnya menghormati keputusan kalian.”
Begitu Jiang Li selesai berbicara, entah siapa yang memulai. Orang-orang di bawah panggung mulai berseru bersahut-sahutan, “Jangan dibuka! Jangan dibuka!”
Lambat laun, suara-suara itu berubah menjadi teriakan yang semakin serempak dan lantang. Kerumunan pun bergolak hebat, sampai-sampai beberapa genting di atap rumah sepanjang jalan berjatuhan.
Entah berapa lama berlalu sebelum kerumunan akhirnya tenang. Jiang Li tersenyum kepada Pastor Wu dan berkata, “Pastor Wu, kau juga sudah melihatnya sendiri. Warga kota sangat menolak agama Katolik. Jadi, sebaiknya kalian pergi saja!”
Pastor Wu menatap orang-orang di bawah panggung, lalu melihat orang-orang di atas panggung. Pada akhirnya, ia hanya bisa membawa anak buahnya pergi dengan kepala tertunduk.
Seketika, sorak-sorai menggelegar kembali terdengar dari bawah panggung. Jiang Li memandang semua orang sambil tersenyum. “Baiklah, baiklah. Masalah ini sudah selesai. Kalian semua boleh pulang.”
Setelah kerumunan bubar, Paman Kesembilan menghampiri Jiang Li dan menepuk bahunya. “Sepertinya selama pergi ke ibu kota provinsi sebelumnya, kau mendapat banyak pengalaman. Kau tampaknya sangat memahami agama asing ini!”
Jiang Li tersenyum. “Lumayan. Bukankah sudah kukatakan bahwa aku pergi menyamar? Tentu saja aku harus mempelajari sebanyak mungkin aib mereka.”
“Oh, benar juga, Guru. Dua orang di belakangmu itu murid baru?”
Mendengar itu, Paman Kesembilan tersenyum. “Oh, ya. Aku belum memperkenalkan mereka. Ini A Xing dan Xiao Yue. Mereka baru datang berguru bulan lalu dan sekarang masih menjadi murid luar. Kali ini kubawa mereka keluar agar mereka menambah pengalaman.”
Kemudian ia berkata kepada A Xing dan Xiao Yue, “Ini kakak seperguruan kalian, Jiang Li. Cepat beri salam dan berkenalan dengannya!”
Keduanya segera maju dan memberi hormat kepada Jiang Li. “Salam, Kakak Jiang. Kami baru bergabung sebagai murid. Jika ada sesuatu yang tidak kami pahami atau tanpa sengaja menyinggung aturan, mohon dimaklumi.”
Jiang Li melambaikan tangan sambil tersenyum. “Jangan terlalu tegang. Bersikap santai saja. Karena masalah ini sudah selesai, mari kita lihat pabrik arak yang dibicarakan itu!”
Paman Kesembilan mengangguk dan membawa A Xing serta Xiao Yue ke rumah makan untuk menemui Li Youcai. Jiang Li mengatakan beberapa patah kata kepada dua regu prajurit itu, lalu menyuruh mereka kembali ke markas.
Setelah bertanya kepada beberapa orang sepanjang perjalanan dan akhirnya menemukan rumah makan yang dimaksud Paman Kesembilan, Jiang Li melihat gurunya keluar dengan wajah menghitam. Ia tahu Li Youcai pasti telah bersikap kurang ajar dan menyinggung Paman Kesembilan.
Namun, ia tetap berpura-pura tidak tahu. “Guru, ada apa? Pembicaraannya tidak berjalan lancar?”
Paman Kesembilan mendengus dingin. “Orang itu bukan orang baik. Tubuhnya dipenuhi dosa. Entah sudah berapa banyak kejahatan yang dilakukannya.”
Mendengar itu, Jiang Li menyuruh seseorang menyelidikinya. Ia segera menemukan bahwa Li Youcai adalah orang yang kejam dan tak berperikemanusiaan. Setiap kali berbuat jahat, ia selalu berusaha membungkam semua orang yang terlibat.
Sebelumnya, ia berhasil lolos dari pengadilan karena tidak ada penggugat. Namun, setelah mengetahui hal itu, Jiang Li tentu tidak bisa membiarkannya begitu saja.
Ia segera memerintahkan orang-orang untuk mendatangi berbagai tempat dan mengumpulkan bukti kejahatan Li Youcai. Namun, setelah sibuk sepanjang hari, yang mereka dapatkan hanyalah dugaan dan desas-desus. Tidak ada bukti nyata ataupun saksi mata. Hal itu membuat Jiang Li cukup pusing.
Membunuhnya memang mudah, tetapi membunuhnya tanpa menanggung akibat karma sama sekali tidak mudah. Setelah berpikir cukup lama, tiba-tiba sebuah gagasan muncul di benaknya. Ia menepuk kepalanya dan tersenyum. “Aku punya cara.”
Setelah mengambil keputusan, Jiang Li langsung memerintahkan orang-orang untuk membawa Li Youcai ke panggung pengadilan. Ia kemudian mengundang beberapa saksi yang keterangannya lebih langsung. Bersamaan dengan itu, ia mengerahkan satu regu prajurit untuk mengepung rumah Li Youcai dari segala arah, lalu memulai persidangan.
Ketika warga kota mendengar Jiang Li hendak mengadili seseorang, terlebih lagi orang yang selama ini diselimuti banyak desas-desus seperti Li Youcai, mereka berbondong-bondong keluar untuk menonton tanpa peduli hari sudah gelap.
Saat itu, obor tertancap di sekeliling panggung pengadilan. Sebuah meja kecil diletakkan di atas panggung. Jiang Li duduk di belakangnya, menghantam permukaan meja dengan satu tangan, lalu menunjuk Li Youcai dengan tangan yang lain.
“Li Youcai, apakah kau mengakui kesalahanmu?”
Li Youcai terkejut hingga tubuhnya tersentak. Ia berlutut di tanah dan meratap, “Aku tidak bersalah! Aku sama sekali tidak melakukan kejahatan!”
Melihatnya menolak mengakui kesalahan, Jiang Li meminta para saksi berbicara satu per satu. Namun, semua kesaksian mereka hanyalah ungkapan seperti, “Aku pernah mendengar,” “Menurutku,” atau “Aku menduga.” Li Youcai pun terus menggertakkan gigi dan menolak mengaku.
Melihat keadaan itu, Jiang Li tidak memaksanya. Ia hanya menatap Li Youcai dengan dingin. “Aku tahu kau selalu bekerja dengan sangat rapi. Biasanya kau bahkan tidak meninggalkan seorang pun yang masih hidup. Namun, apakah kau mengira dengan begitu aku tidak punya cara untuk menghadapimu?”
Kemudian ia berseru lantang, “Hadirkan penggugat!”
Dua prajurit Tao lalu mengangkat sebuah peti mati dan meletakkannya di bawah panggung. Semua orang saling berpandangan dengan bingung. Bukankah yang akan dihadirkan adalah penggugat? Mengapa yang dibawa justru sebuah peti mati?
Namun, Li Youcai langsung berkeringat dingin. Ia mengenali peti mati itu dalam sekali pandang. Di dalamnya terdapat Li Xiaohong, perempuan yang beberapa hari sebelumnya telah mati akibat perbuatannya. Hantu mengerikan yang selama ini menghantuinya juga tidak lain adalah arwah perempuan itu.
Melihat semua orang tidak memahami keadaan, Jiang Li menjelaskan, “Kalian mungkin belum tahu. Orang di dalam peti mati ini adalah Li Xiaohong. Beberapa waktu lalu, ia dibunuh oleh Li Youcai.”
“Namun, karena menyimpan dendam dan menolak bereinkarnasi, ia datang mengadukan perkaranya kepadaku, kepala distrik ini. Karena sekarang tidak ada saksi, aku akan membiarkan korban sendiri menceritakan penderitaannya.”
Setelah itu, ia berkata kepada Paman Kesembilan yang masih terpaku, “Guru, cepat siapkan altar dan lakukan ritual. Biarkan Li Xiaohong menjelaskan di hadapan semua orang ketidakadilan yang menimpanya, agar aku dapat menetapkan kejahatan Li Youcai.”
Paman Kesembilan baru tersadar seperti orang yang baru terbangun dari mimpi. “Baik... baik. Aku akan segera menyiapkan altar.”
Sambil berkata demikian, Paman Kesembilan mulai menata altar ritual dan memanggil arwah Li Xiaohong. Begitu muncul, Li Xiaohong langsung melesat ke arah Li Youcai dengan niat membunuhnya dan membalas dendam.
Jiang Li segera berteriak, “Guru, cepat hentikan dia!”
Bukan karena Jiang Li merasa Li Youcai tidak pantas mati. Namun, jika Li Xiaohong membunuh Li Youcai saat itu juga, Jiang Li pasti akan menanggung karma akibat kematian seseorang.
Selain itu, seluruh rencana yang disusunnya hari itu juga akan kehilangan makna.
Bahkan sebelum Jiang Li selesai berbicara, Paman Kesembilan telah bergerak. Saat melihat Li Xiaohong terbang menuju Li Youcai, ia segera menahannya dan mengendalikan arwahnya.
Setelah situasi terkendali, Jiang Li meminta A Xing dan Xiao Yue mengeluarkan daun jeruk bali untuk membuka mata batin semua orang yang hadir, agar mereka dapat menyaksikan sendiri persidangan tersebut.