Bab Seratus Dua Puluh Lima: Pembelian
Setelah mendengarkan penjelasan Murray, Bister terdiam. Ia sangat bersimpati padanya dan tersentuh oleh ketulusan perasaan tersebut. Kalimat tentang berjuang mati-matian demi cinta itu sangat menggugah hatinya, tetapi semua itu belum cukup untuk membuatnya melanggar tabu dan melewati garis merah. Mempelajari pola sihir memberinya kebahagiaan, dan ia merasa belum siap untuk menyentuh hal-hal yang ditabukan.
"Biarkan aku memikirkannya," ujar Bister setelah lama terdiam. Murray dan Felix tahu bahwa ini bukanlah perkara sepele.
Bister sedang tidak ingin pergi ke arena pertarungan saat ini; ia butuh seseorang untuk diajak bicara. Tanpa pikir panjang, ia kembali ke vila. Urusan Murray membuatnya merasa sedikit kacau. Ia mendatangi kediaman Keith, tetapi setelah mengetuk pintu cukup lama, tidak ada jawaban. Ketika ia pergi ke laboratorium tempat Caesar dan Tiger membawanya tempo hari, tempat itu sudah kosong. Pada akhirnya, ia mencari Dida, tetapi Dida juga tidak ada. Sepertinya mereka telah berangkat.
Bister akhirnya kembali ke vila. Keempat wanita itu tidak pergi bertanding ke arena sehingga mereka pulang lebih awal. Melihat Bister duduk di sofa dengan raut wajah penuh kekhawatiran, mereka merasa cemas dan menghentikan pekerjaan masing-masing untuk mendekatinya.
"Ada apa? Apa yang terjadi?" tanya Alice dengan nada cemas.
"Kalian duduklah, aku punya pertanyaan untuk kalian," kata Bister dengan serius. Untuk pertama kalinya, keempat wanita itu melihat ekspresi seperti itu di wajahnya.
"Jika orang yang paling kalian sayangi dan cintai tiba-tiba meninggal dunia, apa yang akan kalian lakukan?" ucap Bister sambil menunduk.
"Siapa yang meninggal?" tanya Minette.
"Hanya sebuah pertanyaan, tidak ada siapa pun yang pergi," jawab Bister sambil tersenyum dipaksakan.
"Tentu saja kami akan sangat bersedih jika orang yang begitu penting pergi meninggalkan kami," kata Skadi dengan bingung.
"Sekarang ada cara untuk menghidupkannya kembali, tetapi itu adalah sebuah tabu, sesuatu yang dilarang. Apa yang akan kalian lakukan?" Bister akhirnya mengungkapkan inti pertanyaannya.
"Tabu?" Keempat wanita itu tampak ragu. Hal-hal berbau tabu selalu membawa risiko besar, dan berdasarkan didikan keluarga serta guru mereka, mereka dilarang keras untuk menyentuhnya.
"Aku tidak tahu tabu seperti apa itu, tetapi jika ada kesempatan, aku pasti akan melakukannya," kata Catherine dengan tegas.
"Benar, aku juga akan melakukannya," sahut Alice. Kedua wanita lainnya juga mengangguk setuju.
"Kenapa?" Bister menatap mereka dengan ragu. Itu adalah sebuah tabu, mengapa mereka bisa begitu bertekad?
"Karena dia adalah orang yang kucintai," jawab Catherine dengan sungguh-sungguh.
"Orang yang dicintai? Benar, untuk orang yang dicintai, apa lagi yang perlu ragu?" Bister tiba-tiba tertawa sambil bergumam pada dirinya sendiri.
"Terima kasih, Catherine." Tanpa ragu di hadapan ketiga wanita lainnya, Bister mengecup pipi Catherine. "Aku ada urusan sebentar, akan segera kembali," ujarnya seraya bergegas pergi.
"Sejak kapan dia begitu berani secara langsung?" Skadi menatap bingung ke arah Bister yang berlari keluar.
"Tidak bisa dibiarkan, kenapa dia hanya mencium Catherine? Nanti saat kembali, dia harus menggantinya untuk kami," kata Alice dengan serius.
Bister yang berlari keluar kembali menuju laboratorium Murray. Kali ini ia mencari tempat sepi dan langsung menggunakan pola sihir teleportasi. Ia tidak berniat repot-repot memecahkan kunci sihir lagi. Kilatan emas muncul, dan Bister sudah berada di dalam laboratorium Murray. Di sana masih hanya ada mereka berdua. Kemunculan Bister yang tiba-tiba benar-benar mengejutkan keduanya hingga hampir meledakkan laboratorium, tetapi setelah melihat itu adalah Bister, mereka menjadi tenang. Penilaian mereka terhadap kemampuan pola sihir Bister kembali meningkat pesat: melukis di dalam kehampaan! Pola sihir teleportasi! Semua itu adalah ilmu yang telah hilang.
"Aku setuju," kata Bister langsung pada intinya begitu melihat mereka berdua. Keduanya diliputi kegirangan yang luar biasa.
"Berikan aku salinan dari semua data yang kalian kuasai, lalu hancurkan tempat ini, terlalu mencolok. Jenazah Lisa juga harus dipindahkan ke tempat penyimpanan lain. Setelah itu, kalian pergilah mandi dan istirahat, pertempuran panjang akan segera dimulai," perintah Bister lugas. Jika ingin melakukannya, perencanaan harus matang.
"Baiklah, barang-barang yang berguna tidak banyak, semuanya ada di sini, silakan Anda ambil," ucap Felix sambil menyerahkan beberapa buku dan gulungan peta.
"Aku akan menyembunyikan jenazah Lisa di tempat yang lebih aman. Aku juga tahu tempat ini terlalu mudah ditemukan, tapi sebelumnya kami benar-benar tidak punya pilihan lain," kata Murray dengan nada tak berdaya.
"Ngomong-ngomong, di mana kau mendapatkan benda itu?" tanya Bister penasaran sambil melirik terminal yang digunakan Murray. Jika memiliki benda seperti itu, segalanya akan jauh lebih mudah.
"Benda ini bisa dibeli di rumah lelang seharga 200.000 poin. Ada juga yang lebih bagus, yang terbaik bahkan dilengkapi fungsi komunikasi. Jika Anda butuh, yang ini bisa kuberikan untuk Anda," jelas Murray.
"Rumah lelang ya, aku memang jarang ke sana. Nanti kalau ada waktu aku harus pergi," pikir Bister sejenak.
"Baiklah, belilah terminal yang bisa digunakan untuk saling menghubungi. Aku juga akan membelinya nanti dan kita akan menggunakannya untuk berkomunikasi. Untuk sementara, usahakan jangan sering bertemu. Kalian bereskan dulu tempat ini agar tampak seperti laboratorium biasa. Jika ada hal darurat, aku akan datang," pesan Bister kepada mereka berdua.
"Lalu bagaimana jika kami memiliki hal darurat dan ingin mencari Anda?" tanya Murray ragu-ragu.
"Kalian pergilah ke blok vila 1401, tapi aku harap kalian tidak perlu datang kecuali terpaksa," jawab Bister setelah berpikir sejenak. Mereka sedang melanggar tabu saat ini, jadi ia harus ekstra berhati-hati.
Setelah membahas beberapa detail lagi, Bister meninggalkan tempat itu, tetap menggunakan pola sihir teleportasi. Pandangan Murray dan Felix terhadap Bister kini sudah hampir seperti memuja seorang dewa. Sesuai perintah, mereka segera membereskan laboratorium dengan cepat karena tempat itu memang terlampau berbahaya.
Bister langsung kembali ke vilanya. Suasana hatinya kini jauh lebih baik, tetapi di luar dugaan, keempat wanita itu tidak melakukan apa-apa dan hanya duduk menunggu di sofa ruang tamu.
"Kalian tidak perlu berkultivasi?" tanya Bister dengan rasa penasaran.
"Kami ingin perlakuan yang adil, makanya kami menunggumu di sini," jawab Minette sambil tersenyum.
"Perlakuan yang adil? Makanan kalian kan sama saja?" tanya Bister bingung.
"Soal kau mencium Catherine tadi! Kau juga harus mencium kami! Si kepala batu!" seru Alice dengan penuh semangat.
"Hanya karena itu?" tanya Bister tanpa daya. Ketiga wanita itu mengangguk dengan penuh penekanan.
Bister memijat pelipisnya dengan sebelah tangan. Wanita benar-benar makhluk yang sulit dipahami. Kendati demikian, ia tetap melangkah mendekat dan mengecup lembut pipi ketiga wanita lainnya. Keempat wanita itu lantas kembali ke kamar masing-masing untuk berkultivasi dengan wajah berseri-seri penuh kebahagiaan.
Bister tidak tidur semalaman. Ia mempelajari dokumen-dokumen yang diberikan oleh Murray. Setelah mempelajarinya, ia baru menyadari bahwa menghidupkan kembali orang yang sudah mati sungguh perkara yang sangat sulit. Ia mulai mengagumi Frankenstein; jika saja ia bisa mendapatkan catatan pria itu, mungkin semuanya akan menjadi sedikit lebih mudah.
Meskipun tidak tidur semalaman, Bister tetap bugar, bahkan bisa dibilang agak bersemangat. Keempat wanita itu pun bangun pagi-pagi sekali.
"Aku mau pergi ke rumah lelang untuk membeli beberapa barang, kalian tertarik ikut?" tanya Bister kepada keempat wanita yang sedang sarapan.
"Tertarik!" jawab mereka serempak hingga makanan di mulut mereka nyaris menyembur keluar.
"Kalau begitu nikmati sarapan kalian, aku mau merapikan barang-barang dulu." Usai berkata demikian, Bister berbalik ke kamarnya untuk membereskan buku-buku catatan itu. Meskipun kecil kemungkinan ada orang yang melihatnya, lebih baik tetap berhati-hati.
Mendengar ucapan Bister, keempat wanita itu langsung mengabaikan jaim, melahap sarapan mereka dengan cepat, lalu bergegas kembali ke kamar untuk berdandan.
"Apa yang mau kau beli?" tanya Alice penuh rasa penasaran saat kelima orang itu santai berjalan berdampingan di jalan setapak.
"Nanti juga tahu. Kalian sendiri, ada yang ingin dibeli?" balas Bister sambil tersenyum.
"Ada, ada! Kalau bisa, ramuan untuk meningkatkan kecepatan kultivasi, lalu Kakak Sulung ingin sepasang pedang kembar tingkat setengah dewa, Kakak Kedua ingin sepasang meriam tangan yang bagus, Kakak Ketiga paling ingin pedang pusaka milik pendekar kegelapan itu, tapi sebelum itu Kakak Ketiga juga harus mengganti pedangnya dengan yang baru. Terakhir, aku ingin jubah terbang, dan tentu saja arena dewa pertarungan yang sudah kami inginkan sejak dulu. Pokoknya banyak sekali, kami sudah mengincar semuanya, tapi sayangnya kami tidak punya poin sebanyak itu," urai Alice bersemangat bagaikan menghitung harta karun, sebelum akhirnya nada suaranya berubah lesu.
Tanpa terasa, mereka telah tiba di depan rumah lelang.
"Ada yang bisa kami bantu?" Seseorang staf langsung menyambut begitu mereka melangkah masuk.
"Kami mencari Miny," kata Minette sambil tersenyum. Dari penampilan mereka, sepertinya keempat wanita itu sudah menjadi pelanggan tetap dan sering datang ke tempat ini.
"Silakan tunggu sebentar," ujar staf tersebut sambil berbalik pergi. Tak lama kemudian, seorang wanita berpenampilan profesional muncul. Dari segi wajah ia tergolong biasa saja, namun ia sangat pandai berhias dan tahu cara menonjolkan kelebihannya, sehingga penampilannya sangat sedap dipandang.
"Kak Miny, kami datang," sapa Catherine kepada wanita bernama Miny itu.
"Kalian gadis-gadis nakal, apa yang ingin kalian beli kali ini? Mari naik ke atas dulu, nanti kita bicarakan detailnya," ajak Miny sambil tersenyum ramah.
"Kalian begitu akrab dengannya?" bisik Bister kepada Skadi sambil berjalan mengikuti mereka.
"Selama dua tahun ini, setiap kali kami datang ke sini untuk berbelanja, kami selalu mencarinya. Kau juga pernah melihatnya dulu," jawab Skadi.
Bister berusaha mengingat-ingat. Sepertinya ia memang hanya pernah sekali datang ke rumah lelang itu, dan itu sudah sangat lama sekali. Rinciannya sudah tidak diingikannya lagi, jadi ia berhenti memikirkannya.
Mereka tiba di sebuah ruangan pribadi, dan Miny memerintahkan pelayan untuk membawakan teh serta kue-kue kecil.
"Kali ini apa yang ingin kalian beli?" tanya Miny tersenyum.
"Bukannya kami, tapi dia," jawab Minette sambil menunjuk ke arah Bister.
"Aku ingin menanyakan harga sebuah terminal, yang seperti di area komunikasi perajin, dan lebih baik jika memiliki fungsi komunikasi," kata Bister langsung.
"Apakah Anda ingin memasangnya di asrama?" Miny langsung menggunakan bahasa yang lebih sopan karena menyadari transaksi besar akan segera terjadi. Belanjaan keempat wanita itu selama dua tahun pun belum tentu bisa menandingi transaksi tunggal ini.
"Ya. Jenis yang Anda inginkan adalah yang paling mahal, mencakup seluruh fungsi terminal di dalam akademi. Mengingat hubungan dengan gadis-gadis ini, aku berikan diskon khusus untuk Anda: 600.000 poin," jelas Miny dengan lancar.
Pruuuk! Keempat wanita yang sedang meminum teh nyaris menyemburkannya bersamaan. Bister langsung mengincar barang bernilai tinggi begitu berbelanja.
"Berapa harga arena dewa pertarungan?" tanya Bister setelah berpikir sejenak.
"Arena dewa pertarungan memiliki spesifikasi standar seharga 500.000 poin." Miny merasa amat bersemangat. Apakah pria ini bernilai akan membeli arena dewa pertarungan juga? Belanjaan kali ini bisa menyamai target penjualannya selama dua bulan.
"Apakah kau tahu senjata-senjata yang diincar oleh mereka berdua... ah, mereka berempat?" tanya Bister sambil menunjuk keempat wanita itu.
"Tahu, setiap kali datang mereka selalu melihat-lihat apakah barang itu sudah terjual," jawab Miny sambil tersenyum menatap keempat wanita tersebut.
"Totalnya kira-kira berapa poin?" tanya Bister. Keempat wanita itu pun ikut merasa tegang; mereka tahu betul bahwa barang-barang yang mereka inginkan sangatlah mahal.
"Biar kuberhitung dulu," kata Miny sambil mengeluarkan sebuah alat hitung kecil. "1,2 juta poin," sebutnya cepat. Keempat wanita itu menghela napas bersamaan. Entah berapa lama waktu yang mereka butuhkan untuk mengumpulkan poin sebanyak itu.
"Berapa harga ramuan pembantu kultivasi terbaik yang ada di sini, dan bagaimana efektivitasnya?" Bister melanjutkan pertanyaannya tanpa kunjung mengatakan barang apa yang sebenarnya hendak dibeli.
"Yang terbaik adalah ramuan kualitas prima, yang dapat meningkatkan kecepatan kultivasi sepuluh kali lipat selama delapan jam penuh, tanpa batasan maupun efek samping. Ditukar dengan 50.000 poin per botol," jelas Miny dengan profesional. Ia mulai merasa sedikit kecewa karena Bister tampaknya hanya bertanya-tanya saja, namun etika kerjanya tetap membuatnya mempertahankan kesopanan.
"Semua barang yang kutanyakan tadi sudah kau catat, kan? Aku mau semuanya. Untuk ramuannya, berikan dulu empat puluh botol," ucap Bister dengan santai.
Suasana di dalam ruangan mendadak sunyi senyap begitu Bister selesai berbicara. Semua orang menatapnya dengan terperangah. Berapa banyak poin yang dibutuhkan untuk itu? Jika dihitung secara kasar, jumlahnya mencapai 4 millones... ralat, 4 juta poin! Apakah Bister benar-benar memiliki poin sebanyak itu? Dari mana ia mendapatkannya?
"Bisakah Anda menunjukkan lencana Anda kepada saya? Saya harus memastikan kecukupan poin Anda," ujar Miny dengan tangan sedikit bergetar. Tanpa banyak bicara, Bister menyerahkan lencananya di area perajin. Sebenarnya ia sendiri tidak tahu persis berapa poin yang dimilikinya, tetapi poin yang ia peroleh dari menjawab berbagai pertanyaan akhir-akhir ini jelas tidak sedikit, diperkirakan mencapai empat hingga lima juta.
Miny menerima dan melihat lencana area perajin itu, membuat perasaannya sedikit lebih tenang karena orang dari area perajin umumnya adalah orang kaya. Miny mengeluarkan sebuah alat portabel kecil untuk memeriksa informasi lencana. Lencana Bister dimasukkan ke dalam alat tersebut, dan keempat wanita itu turut mendekat karena penasaran. Informasi Bister segera tertera di layar, membuat kelima orang itu terdiam kaku di tempat. Bister, Master Pembuat Pola Sihir. Poin: 13,5 juta.
"Tuan Besar, maafkan kelancangan saya, saya akan segera menyiapkan semuanya untuk Anda!" Dengan panik, Miny mengembalikan lencana Bister lalu bergegas keluar ruangan. Status seorang Master Pembuat Pola Sihir sangatlah tinggi, dan tingkat jabatan Miny sebenarnya tidak memenuhi syarat untuk melayani klien setingkat itu andai bukan karena keempat wanita tadi. Terlebih lagi, pembelian Bister kali ini sudah lebih dari cukup untuk memenuhi target kinerjanya selama beberapa bulan ke depan.
"Master Pembuat Pola Sihir? Kapan kau dinilai?" tanya Catherine dengan rasa takjub.
"Belum lama ini, baru dua hari belakangan," jawab Bister santai sambil menyeruput tehnya.
"Lalu bagaimana kau bisa mendapatkan poin sebanyak itu?" kejar Alice penasaran.
"Itu adalah cara khusus para perajin. Kau bisa menganggapnya sama seperti mengambil misi di serikat petualang," jelas Bister.
"Tuan Besar, wanita kecil ini ingin membeli beberapa barang lain, entahlah..." Catherine langsung merapat ke sisi Bister, memeluk lengannya, dan menempelkan dadanya yang penuh dengan erat sambil berkata dengan nada merajuk. Bister menatap keempat wanita itu, yang semuanya kini memandangnya dengan tatapan memelas.
"Terserah kalian mau beli apa, poinnya masih banyak, ambil saja yang kalian inginkan," kata Bister pasrah. Keempat wanita itu langsung bersorak gembira dan berlari keluar, meninggalkan Bister seorang diri di dalam ruangan.