Bab Lima Puluh Satu: Pertemuan di Salon
“Maaf, kami datang terlambat, sungguh tidak sopan!” Begitu memasuki ruangan, Cheng Kai langsung mengangkat kedua tangannya meminta maaf; alasan ia meminta Han Hao membatalkan tiket adalah demi pertemuan malam ini.
Setelah acara tender, tiba-tiba Cheng Kai mendapatkan ide untuk mengorganisasi sejumlah media pusat agar melakukan liputan ke berbagai daerah. Ia bahkan sudah menyiapkan nama acaranya: “Ziarah ke 22 Raksasa Industri Nasional Tiongkok,” sebagai respons terhadap perusahaan-perusahaan yang menggelontorkan dana besar di acara tender televisi nasional.
Gagasan ini langsung didukung oleh beberapa kawan dari media pusat. Melalui kontak pribadi, mereka pun mengadakan pertemuan semi-formal ini untuk sekaligus membahas pelaksanaan idenya.
Mengapa media pusat begitu antusias dengan kegiatan ini? Selain temanya memang segar dan bernilai berita, ada faktor lain yang tak kalah penting: stasiun televisi nasional mendulang uang setiap hari, dan sebagai sesama insan media, mereka tentu saja tergiur—bahkan bisa dibilang iri.
Gelombang wirausaha kembali menguat, semua pekerjaan kini berorientasi pada pembangunan ekonomi, sehingga mencari pemasukan bagi lembaga juga menjadi cara penting untuk menyejahterakan pegawai. Di seluruh negeri sedang marak bisnis; banyak pemerintah daerah langsung atau tidak langsung mendirikan perusahaan untuk bersaing di pasar. Pendapatan utama media, selain subsidi pemerintah, tentu saja berasal dari iklan. Jika 22 perusahaan itu bisa membuat televisi nasional berpesta pora, maka media lain pun wajar berharap bisa kebagian remah-remahnya.
Mereka yang hadir malam itu memang tokoh-tokoh media yang memegang kekuasaan: wakil redaktur pelaksana Ruang Redaksi Harian Rakyat, kepala Departemen Berita Ekonomi Domestik Kantor Berita Nasional, produser acara “Ruang Waktu Timur” di stasiun TV nasional, kepala Departemen Ekonomi Harian Ekonomi, dan lain-lain.
Semua berkumpul, berdiskusi, membentuk forum diskusi terbatas di lingkaran media pusat. Han Hao tersenyum ramah kepada para tokoh pers penguasa suara bangsa yang diperkenalkan oleh Cheng Kai, saling bertukar kartu nama dan menjalin relasi.
Cheng Kai memang orang yang bisa dipercaya; ia bekerja dengan profesional, dan tentu saja, banyak hal ia lakukan demi menghormati Hu Yiming. Dalam lingkup seperti ini, banyak orang rela membayar mahal pun belum tentu bisa ikut, namun Cheng Kai sengaja mempertemukan Han Hao dengan mereka.
“Kalian semua guru saya, malam ini saya hanya datang sebagai murid untuk belajar.”
Sikap Han Hao tidak jumawa, juga tidak inferior. Ia sama sekali tak tampak seperti pengusaha desa yang tiba-tiba kaya mendadak, melainkan lebih menyerupai seorang wirausaha terpelajar. Aura intelektual menguar dari dirinya, semakin kentara saat berbaur dengan kaum cendekiawan tingkat tinggi.
Setelah sepakat dengan agenda ziarah tersebut, forum diskusi pun dimulai. Setiap peserta diberi waktu lima menit untuk berbicara, lalu lima menit untuk sesi tanya jawab bebas tema. Mereka menyebutnya sebagai perjalanan pertukaran gagasan.
Benar saja, para intelektual ini membahas persoalan fundamental bangsa: Apakah petani sungguh menderita? Apakah investasi asing baik atau buruk? Bagaimana caranya bertukar pengalaman dengan rekan luar negeri? Antara pembangunan ekonomi dan perlindungan lingkungan, mana yang harus diutamakan? Bagaimana kondisi riil pemerintahan daerah?
Setiap topik adalah hasil pengalaman atau pengamatan langsung para jurnalis senior ini, dan mereka dengan terbuka membagikannya kepada rekan sejawat.
Cheng Kai juga naik panggung, membawakan materi tentang penanganan krisis hubungan masyarakat, terutama bagaimana instansi pemerintah menghadapi peristiwa besar yang terjadi secara mendadak.
Han Hao harus mengakui, dalam waktu singkat satu jam lebih, wawasannya terbuka lebar. Mereka yang memegang kendali suara bangsa memang luar biasa.
“Han Hao, giliran kamu berbicara di depan.”
Setelah semua selesai, Cheng Kai mendorong Han Hao naik ke panggung. Selain karena Han Hao yang membiayai forum ini, Cheng Kai juga ingin sahabatnya tampil di hadapan para tokoh media.
Untuk memperoleh rasa hormat dari kaum intelektual yang angkuh, seseorang harus mampu menunjukkan kapasitas di ranah pengetahuan. Jika tidak, ia hanya akan dipandang sebagai pihak yang bertugas membayar tagihan, bahkan bukan teman sekadar kenal.
“Pembangunan industri nasional kita tidak mungkin terjadi dalam semalam. Kita harus menghormati hukum perkembangan ekonomi yang objektif. Industri otomotif Jepang dan Korea Selatan pun bermula dari meniru. Setelah mampu meniru, baru dapat meningkatkan kualitas, lalu dari peningkatan itu lahir inovasi sendiri. Tidak dapat disangkal, dengan mengimpor jalur produksi dan teknologi asing secara besar-besaran, kita memang mampu melakukan lompatan jauh, dari produk era lima puluhan langsung melaju ke tren tahun sembilan puluhan. Namun kita tidak boleh selamanya menjadi pabrik perakitan produk asing. Kita harus memanfaatkan peluang, belajar dan menerapkannya, lalu menciptakan merek nasional sendiri agar konsumen benar-benar mendapat keuntungan.”
Han Hao kemudian mencontohkan mesin sepeda motor. Katanya, dengan banyaknya pabrikan lokal yang meniru, harga mesin impor sudah turun 25%. Kini harga sepeda motor mencapai belasan hingga puluhan juta rupiah, namun ia yakin pelan-pelan akan turun ke tingkat yang dapat dijangkau masyarakat.
“Bagaimana sebenarnya definisi merek nasional mandiri? Apakah harus semua komponennya dibuat oleh bangsa sendiri, dan semua teknologi harus hasil rancangan kita sebelum layak disebut demikian? Menurut saya, dalam era ekonomi global, selama dipimpin oleh bangsa sendiri, memanfaatkan sumber daya dunia, dan hak kekayaan intelektualnya milik kita, itu sudah sah disebut sebagai merek mandiri. Kalaupun seluruh komponen berasal dari luar negeri, asalkan integrasi dan desainnya dilakukan putra bangsa, tetap sah disebut produk nasional, sebab kemampuan integrasi adalah bentuk hak kekayaan intelektual tertinggi. Lihat saja, suku cadang pesawat Boeing dibeli dari seluruh dunia, namun tetap diakui sebagai kebanggaan Amerika…”
Awalnya Han Hao agak gugup, namun semenjak Cheng Kai mengabari bahwa ia akan mengikuti forum ini, ia sudah mempersiapkan naskah. Tak disangka, persiapan itu benar-benar berguna. Semakin ia berbicara, semakin percaya diri, dan semua isi hatinya terlontar begitu saja.
Saat membahas hak kekayaan intelektual, Han Hao merasa agak bersalah; di satu sisi ia lantang bicara soal hak cipta, namun di sisi lain ia sendiri telah meniru produk luar negeri secara besar-besaran. Memulai dari nol memang mustahil. Jalan pintas lewat adaptasi adalah strategi negara berkembang untuk mengejar ketertinggalan, dan itu adalah jalan yang harus ditempuh.
Tak disangka, pemimpin Hua Xia Motor yang berani menggelontorkan dana besar di televisi nasional ini, ternyata bukan sekadar orang kaya baru; ia benar-benar memiliki pengetahuan dan visi.
“Saya ingin bertanya, benarkah Anda baru 20 tahun dan belum pernah kuliah?”
Kepala Berita Ekonomi Dalam Negeri Kantor Berita Nasional, Li Guo’an, langsung mengangkat tangan di sesi tanya jawab. Dari rumor yang beredar, bos muda ini disebut-sebut tidak pernah sekolah tinggi dan tiba-tiba saja jadi miliarder.
“Saya akan berusia 21 tahun, dan saat ini kuliah semester dua di Institut Teknologi Laut Zhehai. Saya berstatus semi-kuliah semi-bekerja, karena kampus mengizinkan. Saking sibuknya, semester lalu saya gagal beberapa mata kuliah. Mungkin dosen penguji semester ini pun sudah hafal saya tanpa perlu cek identitas.”
“Haha—”
Jawaban Han Hao yang jenaka membuat semua yang hadir tertawa.
“Saya pernah membaca tulisan Anda, Pak Li. Saya sangat setuju dengan gagasan Anda yang mendorong kebijakan pengembangan industri mobil pribadi di Tiongkok. Negara-negara maju semuanya bertumpu pada roda, baik Amerika, Eropa Barat, Jepang, maupun Korea Selatan. Mereka semua teladan kita. Jika Tiongkok ingin menjadi negara sejahtera, pada akhirnya mobil akan menjadi kebutuhan rumah tangga. Zaman tandu sudah lewat, saatnya roda-roda besi membawa kita melaju ke masyarakat sejahtera.”
“Saya perhatikan, walau Anda bergerak di bidang sepeda motor, pembicaraan Anda selalu mengarah ke mobil. Apakah Anda punya rencana masuk ke industri otomotif?”
Tak disangka, Han Hao tanpa sengaja mengungkapkan keinginannya. Li Guo’an tanggap, langsung menanyakan hal itu.
“Saat ini saya fokus pada sepeda motor. Soal apakah nanti dua roda menjadi empat, biarlah waktu yang menjawab.”
“Industri otomotif tidak sesederhana itu. Saya menyaksikan sendiri perjalanan industri mobil di Tiongkok. Negara sudah mengerahkan segala daya, hasilnya pun masih terbatas. Untuk perorangan, saya pribadi tidak terlalu optimistis. Meski hanya menambah dua roda, tingkat kesulitannya sangat berat, bahkan negara pun kewalahan. Kalau masuk ke komponen otomotif masih mungkin, seperti Grup Wansiang di provinsi kalian yang telah menguasai sebagian besar pasar dalam negeri. Mereka saja yang sudah puluhan tahun di bidang ini, belum berani membuat mobil sendiri. Bisa dibayangkan betapa sulitnya.”
Li Guo’an melihat Han Hao sebagai anak muda yang potensial, ia menasihati agar jangan sembarangan masuk ke dunia otomotif. Sudah terlalu banyak yang gagal. Industri sepeda motor masih tergolong sunrise industry, dan jika Hua Xia Motor bisa berkembang di sini, itu pun sudah luar biasa.
Han Hao berterima kasih atas nasehat tulus tersebut, namun impian membuat mobil tetap menyala dalam hatinya, bahkan semakin membuatnya bersemangat. Apakah benar bisa atau tidak, hanya waktu yang akan membuktikan. Lagi pula sejak awal ia sudah bertekad, terlalu dini untuk menyerah sekarang.
Han Hao pun menjawab pertanyaan lain dari para peserta. Kini, mereka tak lagi memandangnya hanya sebagai penyandang dana, melainkan mulai menaruh hati dan ingin menjadikannya sahabat.
“Nanti kalau ada kesempatan, silakan berkunjung ke Hushan. Saya akan menjamu kalian dengan sepenuh hati.”
Saat berpisah, Han Hao menyapa para tokoh media itu.
“Kakak-kakak semua, tahun depan semua kuota iklan pribadi kalian saya tanggung, jangan sampai diberikan ke orang luar!” kata Cheng Kai sambil mengepalkan tangan kepada para jurnalis senior itu.
Karena lembaga harus mencari pemasukan, hampir setiap wartawan kini mendapat target pencarian iklan. Padahal tugas utama wartawan adalah meliput dan menulis, kini ditambah tugas mencari iklan, sungguh terasa janggal. Namun dalam situasi zaman, setiap instansi berlomba mencari pemasukan, mau tak mau kaum intelektual pun harus rela menodai telapak tangan mereka dengan aroma uang.
Kehadiran Cheng Kai sangat tepat, ia menjembatani konflik antara idealisme dan kebutuhan uang, serta dengan sukarela menanggung urusan iklan, sehingga para jurnalis dapat bekerja tanpa beban.
Dengan begini, ia bisa mempererat hubungan dengan kawan-kawan media pusat, sekaligus mengamankan sumber daya eksklusif untuk perusahaannya.
Aksi “Ziarah ke 22 Raksasa Industri Nasional” memang mengandung unsur berita berbayar, namun karena dikoordinasi oleh Cheng Kai, para wartawan pusat hanya perlu fokus melakukan liputan ke lapangan. Sedangkan urusan iklan, semua ditangani Cheng Kai. Semua sudah paham, saling menguntungkan.
Yang dilakukan Cheng Kai bukan berita berbayar, melainkan penanaman berita, itulah yang ia banggakan sebagai keahliannya.
Hua Xia Motor juga akan memasang iklan di media-media ini, meski tidak sebesar di televisi nasional, namun tetap ada kontribusi.
“Memang penting merangkul televisi nasional, tapi jangan lupa, media lain yang lebih kecil pun perlu dirangkul juga. Jika tidak, mereka bisa saja merusak. Di Amerika, media disebut kekuatan keempat, setelah legislatif, yudikatif, dan eksekutif. Potensi kekuatannya sangat besar. Siapa pun yang meremehkan, pasti berakhir tragis.”
Setelah memenangkan tender di televisi nasional, Han Hao kembali menandatangani kontrak baru dengan perusahaan Cheng Kai, dengan harga enam ratus ribu setahun, menunjuk mereka sebagai konsultan eksklusif citra perusahaan, bertanggung jawab atas semua urusan media dan citra Hua Xia Factory.
Ternyata uang itu tidak sia-sia; Cheng Kai selalu membimbing Han Hao kapan pun ada kesempatan, tentunya karena Han Hao memang layak dibimbing.
Setelah semua urusan selesai, Han Hao segera kembali ke Hushan, karena ada urusan penting di pabrik yang harus ia putuskan.