Bab Seratus Dua Belas: Sang Pahlawan Kembali
Pada akhir Perang Dunia Kedua, April 1944, Amerika menjatuhkan dua bom nuklir eksperimental di wilayah Tokyo, Jepang!
Senjata pemusnah massal yang sanggup memengaruhi tatanan perang dunia dan menggentarkan seluruh negara itu untuk pertama kalinya menampakkan diri di muka Bumi. Ledakan yang menyapu tanpa pandang bulu serta radiasi yang tak berperikemanusiaan jauh melampaui bencana alam dan wabah penyakit apa pun yang pernah terjadi sebelumnya!
Seluruh dunia terguncang!
Di bawah hantaman bom nuklir, Jepang yang sejak awal sudah dipaksa Kael untuk bersiap menyerah akhirnya benar-benar tak lagi menunda waktu. Dalam sehari setelah pengeboman nuklir, Jepang mengumumkan kepada seluruh dunia bahwa mereka menyerah tanpa syarat!
Jepang mundur dari medan perang Asia. Itu berarti Perang Dunia Kedua dalam sejarah umat manusia di Bumi Marvel akhirnya resmi berakhir.
Rakyat di seluruh dunia bersorak-sorai. Masa damai yang telah lama mereka nantikan akhirnya tiba.
Di setiap jalan besar dan gang kecil di kota-kota Amerika, lampion digantung dan hiasan dipasang. Kembang api meledak di segala penjuru, perayaannya bahkan lebih meriah sepuluh kali lipat daripada perayaan Natal. Sebagian besar rakyat berpesta selama tiga hari tiga malam tanpa tidur.
Namun, selama masa itu, mereka tentu tidak melupakan pahlawan terbesar perdamaian dunia—pahlawan perang, Kael!
Setelah Perang Dunia Kedua berakhir, jutaan rakyat menunggu dengan penuh harap selama tiga hari. Namun, militer Amerika di New York tetap tidak menyampaikan kabar apa pun mengenai kepulangan Kael.
Tak terhitung media yang hendak melakukan wawancara ditolak di luar Gedung Putih dan pangkalan militer. Mereka bahkan dilarang keras menanyakan masalah tersebut. Di tengah kegembiraan yang meluap-luap, rakyat akhirnya mulai menyadari adanya sesuatu yang tidak beres.
“Kenapa Jenderal Kael belum juga kembali?”
“Sekalipun penerbangan pesawat angkut yang menjemputnya mengalami keterlambatan, sekarang seharusnya dia sudah tiba di Amerika, bukan?”
“Tuhan, mengapa pahlawan super kita belum kembali...”
“Bagaimana dengan Jenderal Chester? Militer tidak mau memberikan penjelasan?”
Dari para lanjut usia hingga anak-anak, rakyat Amerika setiap hari menantikan kepulangannya. Dalam waktu singkat, topik perdamaian setelah berakhirnya Perang Dunia Kedua tersingkir oleh kabar bahwa “Pahlawan Kael belum kembali”. Negara-negara lain pun ikut mengamati dan memperbincangkannya.
Para anggota dewan tingkat tinggi Amerika merasa tak mungkin lagi menyembunyikan hal tersebut dari rakyat. Mereka tengah bersiap menyusun alasan untuk menutupinya ketika, tanpa diduga, sebuah informasi mulai beredar entah dari mana.
“Ketika militer Amerika menjatuhkan dua bom nuklir di Tokyo, Jepang, Mayor Jenderal Kael masih bertempur di sana. Tak seorang pun mengirim pesawat angkut untuk menghubungi dan menjemputnya terlebih dahulu!”
Begitu informasi itu mulai tersebar di New York, para petinggi Amerika segera menyadari ada yang tidak beres dan berusaha menekannya. Namun, mereka tetap meremehkan betapa besar perhatian rakyat New York terhadap segala sesuatu yang berkaitan dengan Kael.
Kurang dari setengah hari kemudian, informasi itu meledak di seluruh daratan Amerika bagaikan bom nuklir raksasa. Meskipun masih setengah percaya, jutaan rakyat langsung geger dan menimbulkan keributan besar.
“Tuhan, kalau memang benar begitu, jangan-jangan Mayor Jenderal Kael...”
“Pahlawan perang tidak mungkin terbunuh. Bagaimana mungkin dia mati di tangan bangsanya sendiri!”
“Bangsa sendiri? Kurasa para petinggi negara tidak pernah menganggapnya sebagai bagian dari mereka.”
“Gedung Putih belum mengeluarkan pernyataan. Jangan-jangan itu berarti mereka mengakuinya.”
“Masalah ini harus diberi penjelasan dan pertanggungjawaban kepada rakyat!”
Pada pagi hari kedua setelah informasi itu tersebar, rakyat dalam jumlah besar membanjiri Kota New York. Warga setempat bahkan membentuk kelompok-kelompok penggerak secara spontan. Sambil mengangkat berbagai macam poster, mereka menggelar aksi unjuk rasa di jalan-jalan hingga melumpuhkan seluruh lalu lintas kota. Lautan manusia mengepung Gedung Putih dan gedung-gedung perkantoran para anggota dewan di sekitarnya hingga tak dapat ditembus.
Para petinggi Amerika panik. Mereka segera mengerahkan seluruh aparat kepolisian dan pasukan militer di New York untuk menjaga ketertiban serta meredam kerusuhan. Namun, mereka mendapati banyak tentara dan polisi yang mengajukan cuti mendadak. Sebagian bahkan mengundurkan diri, mengenakan jaket-jaket berwarna mencolok, mengangkat poster-poster berisi tuntutan, lalu bergabung dalam aksi unjuk rasa.
Barulah saat itu para petinggi Amerika tersadar betapa besar pengaruh Kael.
Sebagai pahlawan perang yang mengakhiri Perang Dunia Kedua dan menjadi awal dari perdamaian dunia, wibawanya telah mencapai puncak mengerikan yang bahkan membuat para dewa harus menghindari ketajamannya. Ketika kabar memalukan semacam ini tiba-tiba beredar, bagaimana mungkin jutaan rakyat tidak murka dan menjadi gila karena amarah?
Di lantai teratas Industri Stark, Howard yang tampil seperti seorang pria terhormat dalam setelan jas bersandar pada pagar balkon. Ia memandangi jalanan di bawah yang dipenuhi lautan manusia, lalu menyalakan sebatang rokok dalam diam.
“Dengan kekuatan seorang diri, kau bisa menandingi para dewa—dan kau benar-benar berhasil melakukannya. Tapi kenapa, seperti Steve, kau pergi dan tak pernah kembali?”
“Aku bahkan sudah membayangkan, kalau suatu hari punya anak, aku pasti akan memintamu menjadi wali baptisnya.”
“Rencana kita untuk berpesta minum setelah perang, menciptakan kecerdasan buatan, mengembangkan unsur energi baru, serta membangun kerajaan bisnis di bidang senjata dan teknologi... semuanya harus batal juga?”
Howard bergumam pada dirinya sendiri sambil terus mengembuskan napas berat. Ia menundukkan kepala dan mengisap rokoknya seorang diri. Asap yang dikeluarkannya pun diterbangkan angin.
“Bip—”
Pada saat itu, telepon di saku jasnya berdering.
“Mengganggu saja.”
Dengan kesal, Howard mematikan rokoknya. Namun, seolah tiba-tiba teringat sesuatu, seluruh tubuhnya membeku selama setengah detik di tengah bunyi dering itu.
Tunggu.
Sekarang, selain orang itu, siapa lagi yang mungkin meneleponnya?
Howard tersentak. Dengan tangan tergesa-gesa, ia mengeluarkan telepon genggam model lama dari sakunya. Setelah menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri, barulah ia menjawab panggilan itu dengan jari yang sedikit gemetar.
“Howard?”
Dari seberang telepon terdengar suara Kael yang selalu terdengar dingin.
“Kael, ternyata benar-benar kau!” Howard tertawa terbahak-bahak. Matanya sedikit berkaca-kaca, lalu ia mencium telepon genggam model lama itu dengan penuh semangat.
“Jangan menjijikkan begitu. Salurkan birahimu kepada para kelinci betinamu saja,” kata Kael dengan rasa ngeri yang samar. Pria tua terhormat itu semakin tidak senonoh setelah dua minggu tak bertemu.
“Aku hanya terlalu gembira, Kawan!” ujar Howard dengan perasaan campur aduk antara kesal dan haru. “Perang sudah berakhir lebih dari seminggu, tetapi kau belum juga kembali. Kukira kau benar-benar terkena bom nuklir itu!”
Kael berkata, “Maaf, tapi aku memang terkena.”
Howard terdiam.
Setelah ragu sejenak, ia mencoba bertanya, “Kael, sekarang kau manusia atau hantu?”
“Omong kosong. Kau ilmuwan, tapi percaya pada hantu dan dewa?” Kael menjawab dengan nada tak senang. “Aku sekarang berada di luar pusat Kota New York. Orang-orang terlalu banyak, lalu lintas lumpuh, dan aku tidak bisa masuk. Kirim pesawat khususmu untuk menjemputku.”
Dalam perjalanan menuju Jepang, Kael sudah mengetahui bahwa Howard mulai mengubah rancangan pesawat angkut kecil setelah mereka sempat membahas gagasan dan struktur helikopter. Ia bahkan telah menciptakan pesawat semimungil yang praktis sebagai kendaraan khusus.
Tak bisa disangkal, manfaat memiliki seorang sahabat ilmuwan dengan pikiran jenius, wawasan jauh ke depan, serta kemampuan praktik yang sempurna akhirnya terlihat jelas pada saat seperti ini.
“Lalu lintas Kota New York lumpuh karena rakyat membuat keributan demi dirimu,” keluh Howard kepada telepon. Setelah mengetahui Kael telah kembali dengan selamat, kemurungan dan kesedihan yang sebelumnya menyelimutinya lenyap tanpa jejak.
Howard tertawa kecil. “Aku dengar presiden baru, para anggota dewan, dan petinggi militer telah dipaksa oleh aksi unjuk rasa terbesar dalam sejarah untuk berkumpul di alun-alun depan Gedung Putih. Mereka akan mengadakan konferensi pers dan memberikan penjelasan secara terbuka.”
“Informasi itu...” Kael baru saja membuka suara ketika Howard sudah tahu apa yang hendak ditanyakannya. Ia tersenyum dan berkata, “Benar. Informasi itu sengaja disebarkan olehku dan Nick Fury. Kami ingin memanfaatkan kekuatan rakyat untuk menekan para petinggi Amerika dan menuntut keadilan untukmu!”
Hati Kael menghangat. Ia terdiam sejenak, lalu berkata dengan suara dingin melalui telepon, “Kemarikan helikoptermu. Antar aku langsung ke alun-alun Gedung Putih. Sudah waktunya membersihkan beberapa tikus kecil yang bermain licik dari balik layar.”
Sekarang ia telah kembali. Untuk apa ia membutuhkan keadilan?
Di dunia ini, siapa pun yang memiliki kepalan tangan paling kuat, dialah yang memegang kebenaran.