Bab 26: Pertimbangan Ying Zheng

Ayahku adalah Kaisar Pertama Qin Tak perlu menyebut nama 2313kata 2026-03-04 15:37:46

Aku bangkit berdiri untuk menenangkan diri. Seorang kusir telah lebih dulu mengambil tirai kereta dari tanganku. Aku melangkah turun dengan menginjak bangku kecil, lalu menatap bangunan istana sederhana di hadapanku. Dalam hati aku menghela napas pelan: “Ying Zheng, sungguh kau orang yang rumit. Jika dibilang haus kekuasaan, saat ke Gunung Li dulu kau bisa makan bekal bersama kami, istana di Chengshan pun tak semewah yang dibayangkan. Tapi jika dibilang kau sederhana dan tanpa nafsu duniawi, kau begitu rajin membangun istana, membangun makam di Gunung Li, hampir di setiap wilayah ada istanamu...”

Aku melangkah menuju pintu gerbang. Seorang petugas sudah menunggu di sana, dan ketika melihat kedatanganku, ia menundukkan badan memberi salam, “Salam hormat, Yang Mulia.”

“Tak perlu formalitas,” jawabku.

Petugas itu kembali berdiri tegak dan berkata, “Atas perintah Kaisar, hanya Yang Mulia yang boleh menghadap. Yang lain menunggu di luar istana.”

Lalu ia menuntunku masuk ke dalam.

Tak lama kemudian, kami tiba di kamar tidur Ying Zheng. Di luar dugaanku, hampir semua pejabat tinggi, mulai dari tiga pejabat agung hingga sembilan mentri dan para pejabat lainnya, telah berkumpul di ruangan itu. Ying Zheng masih duduk bersimpuh di tengah ruangan, hanya saja kini ia bersandar pada bantal.

Ying Zheng yang ada di hadapanku ini, walau baru setengah tahun tak bertemu, sudah tampak begitu renta. Tubuhnya yang kurus seolah tak sanggup menopang mahkota tinggi di kepalanya. Wajahnya pucat, bibirnya nyaris tanpa warna.

Meski aku bukan Fusu yang dulu, sebagian kenangan dan perasaan Fusu tetap tersisa dalam diriku. Melihat pemandangan ini, mataku pun memanas, dan air mata mengalir tanpa bisa kutahan. Meski hukum Qin tidak menuntut untuk bersujud, namun menghormat pada orang tua adalah hal yang biasa. Aku membungkuk dan bersimpuh di lantai, suaraku bergetar, “Anakanda Fusu memberi hormat pada Ayahanda Kaisar. Semoga ayahanda panjang umur! Semoga Qin berjaya selama-lamanya!”

Nada suara Ying Zheng tak lagi sedingin biasanya, melainkan hangat dan lembut, “Bangunlah, Fusu. Duduklah di sampingku.”

Ia tak memanggilku Putra Mahkota. Mungkin karena ajalnya sudah dekat, perasaan kebapakan yang selama ini ia pendam mulai melunak.

Aku berdiri dan duduk di atas alas di sisi Ying Zheng.

Ying Zheng mengangkat tangan dan berkata, “Biarkan Li Si dan Feng Jie tetap tinggal. Yang lain, tunggu di luar.”

Setelah semua keluar, Ying Zheng tiba-tiba berkata, “Ajalku sudah dekat, hatiku tak tenang.”

Ketiga orang di dalam ruangan, aku sebagai anak dan dua pejabat yang telah menemaninya menyatukan negeri selama bertahun-tahun, seketika mata kami memerah. Baru saja kami hendak menghiburnya, Ying Zheng mengangkat tangan, “Aku tahu keadaan tubuhku sendiri.”

Lalu ia memandang Li Si dan Feng Jie, “Setelah aku tiada, kalian harus mendampingi Fusu dengan baik.”

Keduanya segera membungkuk, “Siap, Baginda.”

Kemudian Ying Zheng menoleh padaku, diam sejenak lalu bertanya, “Jika kelak kau menjadi Kaisar Qin generasi kedua, apa yang akan kau lakukan?”

Aku agak bingung, karena perkataannya bisa bermakna dua hal.

Pertama, soal pemerintahan. Jika aku menjadi kaisar kedua, bagaimana aku akan mengatur negeri, strategi apa yang akan kuterapkan. Dulu, Ying Zheng tidak menyukai Fusu terutama karena perbedaan pandangan politik. Jika setelah naik takhta aku tiba-tiba mengubah kebijakan, siapa yang bisa menebak dampaknya bagi Qin?

Kedua, soal mengendalikan para pejabat dan bangsawan. Setelah Ying Zheng wafat dan aku naik takhta, akankah para pejabat dan keluarga bangsawan tunduk padaku? Mereka telah berjasa menyatukan negeri, adakah prestasi yang lebih besar dari itu? Apakah aku kelak mampu menundukkan para pejabat dan jenderal yang sombong itu?

Memikirkan semua itu, aku tak memberi jawaban langsung, “Hamba melapor pada Ayahanda Kaisar, semoga Ayahanda panjang umur. Hamba tak berani membayangkan seperti apa Qin tanpa Ayahanda. Hamba hanya ingin melaporkan apa yang telah hamba lakukan selama ini.”

Ying Zheng mengangguk. Rupanya, berbicara saja sudah menjadi hal yang sulit baginya.

Melihat anggukannya, aku melanjutkan, “Selama Ayahanda tidak di Xianyang, hamba banyak berpikir dan bertemu dengan banyak orang. Itu sangat membuka wawasan hamba.

Dulu hamba terlalu terpengaruh ajaran Ru. Jangan salah paham, Ayahanda, yang hamba maksud bukan ajaran Ru itu sendiri yang membahayakan, melainkan kesalahan hamba sendiri. Sederhananya, hamba terlalu kaku belajar, hanya membaca tanpa memahami penerapannya. Tidak tahu memadukan dengan kondisi nyata, hanya bisa mengikuti aturan, tidak paham mendalami keahlian maupun teknik tertentu.

Beberapa waktu ini, hamba bertemu dengan Perdana Menteri Feng, Shusun Tong, Kepala Penjaga Gunung Li, Zhang Han, para pengrajin, juga bergaul dengan berbagai macam orang di Xianyang. Hamba mempelajari hukum, sejarah negara, catatan wilayah, juga berbagai kitab dari mazhab Mo, pertanian, militer, hukum, dan lainnya. Banyak yang hamba pelajari.

Pernah pada hari titik balik musim dingin, hamba membicarakan hal ini pada Ibu Suri: Ilmu pengetahuan itu seperti air danau tempat hamba pernah tercebur; saat kemarau bisa mengairi, ketika hujan bisa menampung, dapat menghidupi, bisa juga menenggelamkan. Setiap aliran pemikiran punya kelebihan dan kekurangan, tergantung siapa yang mempelajarinya, untuk kebaikan atau keburukan.

Ayahanda jangan marah, hamba tak ingin berbohong pada Ayahanda. Hamba tak akan sepenuhnya meninggalkan ajaran Ru, tapi juga tidak akan memaksakan. Hamba akan menerapkannya di waktu dan tempat yang tepat, dan takkan lagi keras kepala. Hamba akan terus belajar dari Ayahanda dan para pendahulu.”

Ying Zheng mendengar penjelasanku dan tersenyum, sesuatu yang sangat jarang ia lakukan.

Aku buru-buru menunduk, “Ayahanda, jika ada kata-kata hamba yang keliru, mohon Ayahanda jangan sungkan menegur, jangan sampai Ayahanda marah.”

Ying Zheng menatapku dengan penuh rasa sayang, “Anakku berubah seperti ini, aku sangat senang, mana mungkin aku marah. Bagus, sangat bagus. Aku pernah dengar setelah kau tercebur ke danau, kau berubah menjadi orang yang berbeda, bahkan watakmu pun berubah. Tak kusangka, ternyata kau mendapat pencerahan seperti ini. Pasti ini anugerah dari langit, agar Qin tetap punya penerus.”

Aku memberi hormat, “Dulu hamba memang kurang bijaksana, sering membuat Ayahanda marah.”

Ying Zheng mengangguk, tak menjawab, perlahan senyumnya memudar, lalu mengernyit dan berkata, “Urusan di Chengshan sudah aku tangani. Kau tak perlu tahu detailnya, dan jangan bertanya lagi di kemudian hari.”

Aku mengangkat kepala dan menatap Ying Zheng, lalu segera menjawab, “Hamba akan mematuhi perintah Ayahanda.”

Dalam hati aku mengingat-ingat, “Oh, benar, tadi aku memang tidak melihat Kepala Istana Li dan Hu Hai. Besar kemungkinan Kepala Istana Li sedang berbuat sesuatu. Hanya saja, Hu Hai masih berusia sepuluh tahun, seharusnya tidak terlibat langsung. Mungkin Kepala Istana Li menggunakan namanya saat membuat surat perintah palsu. Ying Zheng jelas tak ingin melihat pertikaian saudara, jadi lebih baik mengurus semua yang terlibat dan menganggap peristiwa itu tidak pernah terjadi.

Tapi Kepala Istana Li hanyalah pejabat istana, ia tak sehebat Zhao Gao. Li Si baik-baik saja, jelas ia tidak terlibat. Jadi dari mana Kepala Istana Li punya kemampuan melakukan semua itu? Apa lagi-lagi melibatkan sisa-sisa pendukung negara-negara lama?

Sudahlah, kalau Ying Zheng sudah bisa tenang dan menyuruhku tak usah bertanya lagi, pasti sudah selesai. Aku pun tak perlu memikirkannya lagi.”

Soal itu, baru bertahun-tahun kemudian, menjelang kematian Li Si, ia menjelaskan segalanya padaku. Namun saat itu aku sudah tak peduli lagi.

Tak lama setelah itu, Ying Zheng memberi perintah, “Panggil semua orang di luar istana kembali, juga Kepala Urusan Hukum.”

Petugas di samping segera menjalankan perintah.

Tak lama kemudian, para pejabat yang tadi keluar dan Kepala Urusan Hukum kembali ke tempat masing-masing. Dengan bantuan pelayan di sampingnya, Ying Zheng perlahan duduk tegak, wibawanya kembali seperti sediakala. Dengan suara tegas, ia berkata, “Akhir-akhir ini aku merasa kurang sehat, sering lelah. Kalian semua adalah pilar negeri Qin, aku punya satu dekrit, dengarkan baik-baik.”

Ia lalu mengambil gulungan dekrit dari meja kecil dan menyerahkannya kepada Kepala Urusan Hukum.