Bab 165 Garis Keturunan Rendahan
"Dua Senior, menurut pandangan saya, sebaiknya kali ini kita tidak usah ikut campur?" Liaochen berjalan ke sisi Master Kongcheng dan Master Kongliang lalu berkata.
Kongcheng mendesah pelan dan berkata, "Sudahlah, sudahlah. Perebutan Kitab Tianmo kali ini, Shaolin kita tidak akan ikut campur, kecuali jika Guru Kepala Biara mengirim orang ke mari, jika tidak..."
Di akhir kalimatnya, Kongcheng menggelengkan kepala tanpa berdaya. Bagaimanapun, persiapan kali ini kurang matang, dan yang lebih tak disangka lagi, bahkan sebelum sempat melihat Zhang Hu, mereka sudah terluka oleh kelompok Lu Jing ini. Tinggal di sini rasanya hanya akan berujung pada kematian sia-sia.
Pada saat ini, Huang Xiao telah menghimpun kembali tenaga dalamnya. Meskipun ia belum mampu meredam invasi hawa dingin, ia setidaknya sanggup menahan agar rasa dingin itu tidak merembes keluar dari tubuhnya. Dengan begitu, ia setidaknya tampak seperti manusia normal. Jika tidak, tubuhnya akan memancarkan aura es yang sangat mengerikan.
Kemudian, Huang Xiao mengeluarkan sebutir pil dari balik jubahnya dan menelannya. Sesaat sebelumnya, sirkulasi qi di dalam tubuhnya kacau balau, ditambah lagi meridiannya mengalami kerusakan, sehingga ia tidak berani meminum pil obat. Kini setelah kondisinya mulai stabil, ia meminum pil penyembuh luka.
"Saudara Hong, Saudara Dugu, kalian berdua hendak pergi bersama kami, atau tetap tinggal di sini?" Liaochen memandang kedua orang itu dan bertanya.
Hong Yi dan Dugu Sheng saling berpandangan, lalu tanpa ragu menjawab, "Kami berdua ingin terus ke sana untuk melihat-lihat."
Liaochen sedikit banyak memahami isi hati mereka, namun ia tetap memperingatkan, "Kalau begitu berhati-hatilah pada diri kalian sendiri, kali ini ada banyak sekali pendekar hebat berkumpul."
Selanjutnya, ia beralih kepada Huang Xiao dan berkata, "Saudara Huang, kau sedang terluka parah saat ini, bagaimana jika kembali ke Kota Huaqing bersama kami dan memikirkan langkah selanjutnya di sana?"
Huang Xiao merasa ragu di dalam hatinya. Tentu saja di dalam lubuk hatinya ia sangat ingin membunuh Bai Tianqi. Bahkan jika ia tidak bisa membunuhnya, ia berharap dapat menemukan kesempatan di tengah kekacauan ini untuk menyingkirkan Bai Tianqi. Hanya saja, luka-lukanya saat ini terlalu parah. Dengan kemampuan tingkat tiga yang tersisa, siapa yang bisa ia bunuh di tempat ini? Bahkan untuk melindungi diri sendiri pun ia tidak mampu.
Waktu yang tersisa baginya paling lama hanya setengah bulan. Menemukan Zhao Xin'er hanya dalam beberapa hari rasanya sesulit mendaki langit. Ia hanya mengetahui bahwa lokasi kasar 'Paviliun Tianshan' berada di suatu tempat di Salju Abadi Wilayah Barat. Tempat yang begitu jauh itu, jika ditempuh seorang diri saja sudah memerlukan waktu sekitar setengah bulan. Kemungkinan besar ia sudah tewas di tengah jalan sebelum sempat tiba di sana.
"Puncak Changchun Lembah Buyao di Dali?" Huang Xiao teringat akan tempat secercah harapan yang pernah disebutkan oleh sang kepala lembah kepadanya. Jika ia memacu kudanya dengan kencang, ia bisa tiba di Negeri Dali dalam waktu lima atau enam hari. Namun, dengan sisa waktu yang amat singkat itu, apakah ia mampu menemukan 'Puncak Changchun Lembah Buyao' tersebut? Sekalipun menemukannya, apakah tempat itu mampu memulihkan luka-lukanya? Bisa dikatakan, dalam kondisi separah ini, bahkan 'Lembah Dewa Medis' pun tidak berdaya. Apakah mungkin masih ada ilmu kedokteran yang lebih hebat daripada 'Lembah Dewa Medis' di dunia ini?
Huang Xiao merasa kurang yakin di dalam hatinya, namun saat ini ia hanya dihadapkan pada dua pilihan: pertama adalah menunggu kematian, dan yang kedua adalah pergi ke Dali untuk mencari secercah harapan yang nyaris mustahil itu.
Jika ia kembali ke Kota Huaqing bersama rombongan Shaolin, mau tidak mau kondisinya akan diketahui oleh Kakak Perguruan Tertuanya, dan pada saat itu luka-lukanya tidak akan bisa disembunyikan lagi darinya.
Oleh karena itu, ia menggelengkan kepala dan berkata, "Para Master sekalian, junior tidak bisa ikut bersama kalian. Junior masih memiliki sedikit urusan pribadi, jadi tidak akan kembali ke Kota Huaqing."
Huang Xiao memutuskan untuk pergi ke selatan menuju Dali, entah untuk menghindari Kakak Perguruan Tertuanya, ataupun demi mencari secercah harapan untuk bertahan hidup. Singkatnya, ia tidak ingin orang lain merasa khawatir dan bersedih karenanya. Mungkin, mencari tempat di mana tidak ada seorang pun yang mengenalnya untuk menghembuskan napas terakhir adalah pilihan yang tidak buruk.
"Saudara Huang, tenangkan dirimu dan pulihkanlah lukamu. Begitu urusan ini selesai, aku dan Saudara Dugu akan pergi mencarimu ke Sekte Qingniu!" ujar Hong Yi.
"Benar, seandainya kau tidak terluka separah ini, jika kita bertiga bergabung, kita sama sekali tidak perlu takut pada siapa pun. Sungguh disayangkan," desah Dugu Sheng.
Setelah Huang Xiao menempuh perjalanan sejenak bersama rombongan Shaolin, ia berpisah dan berbelok seorang diri menuju ke selatan ke arah Dali.
Perebutan Kitab Tianmo tidak berhenti meskipun rombongan Shaolin telah pergi. Ketika Dugu Sheng dan Hong Yi tiba di bagian dalam Lembah Hu'ao, tampak Zhang Hu sedang duduk bersila di atas sebuah platform batu menonjol di tebing curam yang tingginya sekitar sepuluh tombak dari permukaan tanah. Ia duduk di sana, memandang rendah orang-orang yang berada di dalam lembah. Tidak ada secercah kepanikan pun di wajahnya, sebaliknya ia tertawa terbahak-bahak dan berkata, "Sungguh tak menyangka, aku bisa memicu gejolak di sebagian besar dunia persilatan. Ini benar-benar membuat namaku tercatat dalam sejarah! Hari ini, sekalipun aku mati, hidupku tidak akan sia-sia! Ha ha... Kalian menginginkan Kitab Tianmo? Kalau begitu, buktikanlah lewat tindakan kalian. Siapa pun di antara kalian yang membunuh paling banyak dan paling kejam, jika aku merasa berkenan di hati, mungkin pusaka mazhab iblis ini akan kuberikan kepadanya."
"Zhang Hu, hingga saat ini kau masih berniat memecah belah hubungan kami? Asalkan kau dengan patuh menyerahkan Kitab Tianmo kepada orang tua ini, aku akan menjamin keselamatan nyawamu!" Seorang lelaki tua berusia sekitar enam puluh tahun maju ke depan dan berkata.
"Ucapan semacam itu sudah kudengar beberapa hari yang lalu. Jika aku menuruti ucapanmu, mana mungkin ada rezeki sebaik ini untuk kalian? Lagi pula, kau ini makhluk apa, dari sekte mana, hingga berani melontarkan kata-kata sombong seperti itu? Siapa di antara orang-orang di sini yang bukan berasal dari mazhab besar yang namanya termasyhur di dunia persilatan, ataupun dari sekte besar kaum sesat?" Zhang Hu mendengus dingin dan berkata.
"Kurang ajar! Jangan harap kau diberi anggur baik malah memilih anggur hukum!" Seorang pemuda berusia sekitar dua puluh tahun mengenakan jubah putih yang berdiri di samping lelaki tua itu melangkah maju dan membentak.
"Darimana datangnya bocah bau ini? Adakah tempat bagimu, seorang junior, untuk berbicara di sini?" Zhang Hu melirik pemuda itu sekilas, lalu mencemooh.
"Tuan Muda, jangan emosi, harap bersabar!" Lelaki tua itu melihat majikannya tampak hendak mengamuk, sehingga ia buru-buru membujuk.
"Zhang Hu, identitas kami setidaknya bisa kau tebak. Orang tua ini adalah Pengawal Sekte Tianmo, Fang Qing. Selama kau menyerahkan Kitab Tianmo, orang tua ini dapat menjamin kau bisa bergabung dengan 'Sekte Tianmo', dengan kedudukan yang setara dengan diriku, serta memiliki kekuasaan besar di dalam sekte," ucap Fang Qing.
"Cih!" Begitu Fang Qing selesai berbicara, terdengar seorang lelaki tua tidak jauh dari sana berkata dengan nada meremehkan, "Tua Bangka Fang, sombong sekali ucapanmu! Berani-aninya kau mengatasnamakan 'Sekte Tianmo', apakah kau menganggap kami semua ini tidak ada?"
Di sekeliling lelaki tua itu tampaknya masih ada beberapa kubu kekuatan lain. Begitu mendengar ucapannya, mereka langsung bersorak mengamini.
Wajah Fang Qing menjadi gelap, lalu ia berkata, "Hanya mengandalkan kalian? Jika bukan karena pertimbangan bahwa kita berasal dari satu akar yang sama di 'Sekte Tianmo', kalian sudah sejak lama dibasmi hingga bersih! Hari ini masih berani berbicara sombong? Apakah kalian mencari mati?"
"Hari ini Kitab Tianmo ini pasti akan menjadi milik Tuan Muda ini. Jika kalian sebelumnya tidak merasa tunduk, baiklah! Tunggu sampai Tuan Muda ini mendapatkan Kitab Tianmo, barulah kita lihat alasan apa lagi yang bisa kalian ucapkan!" Pemuda berjubah putih itu memindai orang-orang di seberangnya dengan tatapan dingin dan berkata.
"Wah, wah, bukankah ini Tuan Muda Fang Heng? Tak disangka Fang Ketian ternyata memiliki keberanian juga, sampai-sampai berani membiarkanmu keluar. Apakah dia tidak takut kau bisa keluar tapi tidak bisa kembali?" Lelaki tua itu tertawa mengejek.
"Tua Bangka Gu, berani sekali kau menyebut nama ayahku secara langsung! Kau mencari mati!" Fang Heng menunjuk ke arah Gu Tu sambil membentak.
"Ha ha... Konyol sekali! Menyebut nama secara langsung memangnya kenapa? Garis keturunan kalian asalnya hanyalah faksi paling hina di dalam 'Sekte Tianmo', namun sekarang justru berkhayal menduduki posisi Ketua Sekte Tianmo. Benar-benar tidak tahu diri!" Sambil berbicara, Gu Tu memancarkan aura menakutkan dari tubuhnya. Jelas sekali ia sangat marah.
"Hina?" Fang Qing melontarkan kata itu dengan lembut, lalu ekspresinya menegang seraya menatap tajam ke arah Gu Tu dan berkata, "Gu Tu, hingga saat ini kalian masih belum mampu mengenali situasi dan tetap keras kepala. Benar, pada masa lalu faksi kalian memiliki kedudukan yang sangat tinggi di dalam 'Sekte Tianmo'. Akan tetapi, zaman telah berubah, dan hari ini kalian semua telah mengalami kemunduran. Ini bisa menyalahkan siapa? Hanya bisa menyalahkan keturunan kalian sendiri yang tidak becus! Para leluhur kalian pada masa itu semuanya memiliki kesaktian yang luar biasa, mewariskan begitu banyak jurus silat, begitu banyak pil obat, serta harta kekayaan emas dan perak yang berlimpah. Lantas, berapa bagian dari kesaktian mereka yang berhasil kalian warisi sekarang? Sebaliknya, leluhur keluarga Fang ku pada masa itu hanyalah seorang penjaga pintu yang berkedudukan rendah di 'Sekte Tianmo'. Latar belakang kami tentu saja jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan kalian. Namun, waktu dapat mengubah segalanya. Hari ini, yang tersisa dari kalian hanyalah harga diri yang menyedihkan itu, dan kalian hanya bisa mengenang kejayaan seribu tahun yang lalu. Sungguh menyedihkan, sungguh mengenaskan, sungguh patut dikasihani!"
"Cih, cih, cih, menarik sekali, sungguh menarik. Seandainya tidak datang ke mari, bagaimana mungkin aku bisa mendengar rahasia semacam ini? Ini benar-benar rahasia, rahasia dari 'Sekte Tianmo'." Dugu Sheng berbisik pelan kepada Hong Yi di sampingnya.
Setelah kedua orang itu memasuki bagian dalam Lembah Hu'ao, mereka menyamar dan membaur di wilayah yang dikuasai oleh orang-orang dari tiga aliran dunia persilatan. Sebelumnya, meskipun orang-orang dari tiga aliran tersebut telah dihancurkan oleh kekuatan 'Sekte Tianmo', faksi musuh tidak mampu langsung membunuh mereka semua sekaligus. Bisa dikatakan bahwa situasi saat ini berada di bawah kendali kekuatan 'Sekte Tianmo'. Atau lebih tepatnya, berada di bawah kendali keluarga Fang.
Berdasarkan percakapan barusan serta situasi di arena, Dugu Sheng dan Hong Yi dapat melihat bahwa meskipun kekuatan 'Sekte Tianmo' terbagi menjadi beberapa faksi, garis besar kekuatannya dapat dibagi menjadi dua kubu utama. Salah satunya adalah pihak Fang Qing, sementara sisanya adalah faksi gabungan Gu Tu dan kawan-kawan. Jelas sekali bahwa kekuatan kelompok Fang Qing jauh lebih unggul dibandingkan faksi-faksi lainnya, sehingga faksi-faksi lain terpaksa harus bergabung agar mampu menandingi mereka.
Tadi, saat menghadapi orang-orang dari tiga aliran dunia persilatan, kedua belah pihak masih bekerja sama secara diam-diam. Namun kini, ketika tiba saatnya untuk merebut Kitab Tianmo, topeng penyamaran itu pun akhirnya robek.
Dari percakapan kedua belah pihak, mereka mengetahui bahwa keluarga Fang yang diwakili oleh Fang Qing seharusnya merupakan faksi terkuat di dalam 'Sekte Tianmo' saat ini. Secara nalar, dengan munculnya faksi yang begitu kuat, lambat laun mereka seharusnya bisa menyatukan faksi-faksi lainnya. Hanya saja, mereka tidak menyangka bahwa leluhur keluarga Fang pada seribu tahun lalu berkedudukan rendah, sedangkan leluhur Gu Tu dan kawan-kawan berkedudukan sangat tinggi di dalam sekte. Meminta mereka untuk tunduk kepada keluarga Fang merupakan suatu penghinaan yang amat besar bagi mereka. Meskipun kekuatan keluarga Fang sangat besar—begitu besar hingga mampu mengalahkan salah satu atau beberapa faksi lain dengan mudah—jika faksi-faksi lain bergabung, keluarga Fang tetap tidak memiliki kemampuan untuk menghadapi mereka sekaligus. Sekalipun berhasil menang, keluarga Fang harus menanggung harga yang sangat mahal, dan mungkin akan terpuruk selamanya. Kebodohan semacam itu tidak akan dilakukan oleh siapapun.
Sebenarnya, situasi seperti ini sering kali muncul di dunia persilatan. Pada akhirnya, faksi yang kuat akan menggunakan cara-cara intimidasi, bujukan, adu domba, dan taktik lainnya untuk memecah belah persekutuan tersebut agar bubar dengan sendirinya, sembari menarik sebagian pihak ke dalam kubu mereka sendiri demi mewujudkan penyatuan dengan mudah.
Akan tetapi, hal tersebut berbeda di dalam 'Sekte Tianmo', karena mereka memiliki harga diri yang sangat tinggi. Jika leluhur keluarga Fang pada mulanya bukan sekadar penjaga pintu, melainkan memiliki kedudukan tinggi di dalam sekte seperti halnya leluhur Gu Tu dan kawan-kawan, mereka mungkin tidak akan terlalu menolaknya. Justru karena latar belakang itulah, sekalipun telah berlalu selama seribu tahun dan keluarga mereka mengalami kemunduran, hal tersebut tidak akan pernah mengubah sifat arogan yang mengakar di tulang sumsum mereka.
Hal ini mungkin sulit dipahami oleh orang kebanyakan, bagaimanapun juga manusia harus tetap realistis. Namun bagi Gu Tu dan kawan-kawan, ini adalah tanda yang diturunkan dari nenek moyang dari generasi ke generasi, yang membuat mereka senantiasa mengingat identitas mereka. Tentu saja, hanya berbekal alasan itu saja belum cukup untuk membuat mereka bersatu padu. Alasan mereka dapat bergabung tentu masih dilandasi oleh faktor-faktor lain.